My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Penjelasan


__ADS_3

"Ma, Kania mau ke kamar mandi dulu, ya?" Ucap Kania. Ketika dirinya dan kedua orangtua dari Raka beserta abangnya sudah tidak lagi berada didalam ruang VVIP itu.


"Oh, ya sudah. Mama sama papa duluan ke mobil, ya?" Mama Andin lalu melirik ke arah Raka, setelah dirinya baru saja mengucapkan beberapa kata pada Kania.


Kania yang memang tidak peka akan gerak-gerik sang mama pun melengos pergi menuju kamar mandi. Sedangkan Raka yang diberi kode-kode aneh lewat gerakan mata Mama Andin, kebingungan bukan main.


"Ish. Kamu kok gak peka sih, Ka!" Mama Andin memberengut sebal.


"Tapi kan, Raka enggak ngerti." Ucap Raka jujur kelewat polos.


Mama Andin menghela napasnya yang cukup berat. Ternyata, calon mantunya ini benar-benar kurang peka. Sayang sama muka gantengnya.


"Ikutin sanaaa..." bisik Mama Andin, sembari memberikan kode-kode aneh lagi lewat tatapan matanya.


"Emang, enggak pa-pa?" Tanya Raka. Otaknya langsung konek ketika mendengar ucapan dari Mama Andin barusan.


"Ish! Gak pa-pa lah! Asal gak kecepetan bikin dedek aja,"


Raka terlihat salah tingkah, ketika mendengar penuturan Mama Andin yang terdengar seakan tengah meledeknya. Sebelah tangan kanannya juga terangkat untuk menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Mama Andin terkikik geli melihat gelagat lucu dari Raka. "Mama duluan, ya?" Ucapnya, lalu melenggang tanpa memedulikan Raka yang hendak mengucapkan sesuatu pada wanita paru baya itu.


Sepeninggalan Mama Andin, Raka tampak mendesis, bingung akan apa yang dia lakukan jika dirinya pergi menemui Kania di kamar mandi sana.


Bilang Hai? Kan gak mungkin!? Orang, tadi aja di dalam mereka sempat mengobrol kok.


"Aaarghhh... Sial!" Raka mengacak rambutnya frustasi, sampai dirinya tidak sadar bahwa Kania sudah kembali dari tempatnya.


"Sial kenapa, Kak?"


Sontak, Raka terlonjak mendengar suara seruan itu. Tubuhnya dengan refleks berbalik ke belakang dengan kedua bola matanya yang membulat, dan sudah ada Kania di sana dengan tatapan kebingungan yang ditujukan pada Raka.


Kedua bola mata Raka yang membulat tampak mengerjap beberapa kali. Membuat Kania yang tengah menatapnya semakin keheranan.


"Kak Raka kenapa, sih? Kaget banget, ya?" Ucapan Kania menyadarkan Raka dari lamunannya.


Raka tampak berdeham sembari mengendurkan dasi yang tengah dia kenakan. Lidahnya juga tampak menjilati sendikit ujung bibir bawahnya yang tampak kemerahan.


"Ehm. Enggak. Kamu udah selesai?" Ucap Raka. Senyum manis tiba-tiba saja mengembang di wajahnya.


"U-udah, kok." Jawab Kania sedikit gugup. Wajahnya yang semula menatap Raka, kini beralih menatap samping.


Senyuman yang diberikan Raka padanya benar-benar mematikan saraf.


"Ya udah. Kita ke parkiran. Kamu pulangnya sama aku," Raka lalu meraih sebelah tangan Kania, kemudian menautkan jari-jemari mereka. Setelahnya, keduanya berjalan bersebelahan menuju parkiran hotel.

__ADS_1


Setibanya mereka di area luar hotel, keduanya tidak sengaja melihat Mama Andin dan juga Kesha tengah beradu cakap di dekat mobil mereka.


Kania awalnya ingin tahu apa yang mereka bicarakan dengan menyusul mama dan abangnya ke sana. Namun, niatnya terhenti ketika Raka mengeratkan tangannya di telapak tangan Kania.


Sontak, Kania menoleh pada Raka. "Biarin aja. Mungkin mereka lagi ngobrol sesuatu yang penting. Kamu pulangnya sama aku aja," ujar Raka. Seakan tengah menjelaskan atas kebingungan Kania.


Kania memilih menghela napas lalu mengangguk beberapa kali. Dia memilih menurut apa kata Raka. Bisa jadi apa yang dikatakan Raka barusan memang ada benarnya juga.


"Ayo, kita ke mobil." Ajak Raka yang segera diangguki Kania.


****


"Kesha!" Seru Mama Andin ketika dirinya baru saja keluar dari area restauran dan menemukan Kesha, putranya tengah berdiri sembari bersandar di badan mobil milik lelaki itu.


Kesha yang merasa ada yang baru saja menyahuti namanya, sontak langsung menegakkan tubuhnya dengan sepasang bola matanya yang terlihat menatap sekitar.


Tatapan matanya langsung tertuju pada sosok wanita paru baya dengan menampilkan raut wajah tak terbaca, tengah berjalan pelan menghampirinya.


Wanita paru baya yang tak lain adalah Mama Andin ini pun lantas tersenyum tulus pada Kesha, ketika langkah kakinya telah sampai di hadapan putranya.


Sedangkan Kesha? Lelaki itu hanya menatap datar sang mama yang baru saja memberikan senyuman hangat padanya.


Kesha mendengus pelan dengan wajahnya yang ditolehkan ke samping. Sepertinya, dia masih merasa kesal atas apa yang pernah Mama Andin lakukan beberapa bulan yang lalu pada Kania.


"Nak, kamu masih marah sama Mama?" Sahut Mama Andin. Senyum hangat perlahan mulai pudar dari wajahnya.


"Enggak. Kesha cuman belum bisa menerima apa yang pernah terjadi antara Mama sama Kania. Itu aja, kok." Ucap Kesha.


Mama Andin pun mengangguk lesu. Ini memang salahnya, batin Mama Andin berucap.


"Maafin, Mama–"


"Mama gak perlu minta maaf sama Kesha. Harusnya permintaan maaf Mama itu untuk Kania, bukan Kesha." Ujar Kesha, menyela ucapan Mama Andin.


Mama Andin kembali mengangguk lesu. Tatapan matanya pun berubah semakin menunduk dalam. Membuat Kesha merasa dirinya menjadi seorang anak yang jahat karena telah melukai hati ibu kandungnya sendiri.


Kesha menghela napasnya cukup berat. Dirinya lalu melangkahkan kakinya sedikit agak berdekatan dengan Mama Andin. Kedua tangannya pun dengan sigap memeluk tubuh rapuh mamanya. Helaan napas berat itu kembali Kesha keluarkan.


"Kesha minta maaf. Kesha pasti nyakitin perasaan Mama, ya. Maaf. Kesha egois. Tapi satu hal yang Mama harus tau, Kesha sayang sama Mama." Ucap Kesha setengah berbisik.


Sontak apa yang dilakukan Kesha pada Mama Andin membuat wanita paru baya itu menangis tersedu-sedu. Kedua tangannya pun balas memeluk tubuh Kesha yang sudah lebih dulu memeluk tubuhnya.


****


Mobil yang dikendarai Raka akhirnya tiba juga tepat di depan rumah Kania. Sebelum Kania benar-benar turun dari mobil, dia membuka seat beltnya terlebih dahulu lalu menatap pada Raka yang juga tengah menatapnya dari samping.

__ADS_1


"A-aku pulang dulu, yah," pamit Kania hendak membuka pintu mobil. Namun gerakannya langsung terhenti ketika Raka memegang sebelah pergelangan tangannya.


Raka kembali tersenyum ketika wajah Kania kembali menghadap ke arahnya.


"Kamu semakin cantik, Kania." Ucap Raka tiba-tiba.


"H-hah?!" Kania yang bingung, sontak membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap Raka.


Sama halnya dengan Raka. Lelaki itu juga mulai mendekatkan posisi duduknya hingga tubuh keduanya sedikit berdekatan.


Sebelah tangan Raka terangkat menyentuh pipi Kania dan tangan satunya lagi terangkat untuk menyentuh pucuk kepala Kania.


Cup


Raka mengecup dahi Kania membuat gadis itu mematung di tempat dengan kedua bola mata yang melebar. Aksi tiba-tiba dari Raka ini benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya pun mulai terasa melemas.


Raka lalu menjauhkan wajahnya sedikit dari wajah Kania, lalu kembali tersenyum hangat pada gadis itu.


"Aku kangen kamu. Udah lama kita gak ketemu," ucap Raka pelan.


"Dan sekalinya ketemu, kamu udah banyak berubah semakin dewasa. Semakin cantik dan feminim." Ucapnya lagi, membuat Kania sontak mengalungkan kedua tangannya di leher Raka yang membuat lelaki itu langsung memekik kaget.


Suara isakkan demi isakkan kecil yang keluar dari bibir Kania membuat Raka sedikit cemas. Dia ingin menjauhkan tubuh gadis itu, namun dirinya malah berakhir memeluk tubuh Kania.


"Kamu jahat! Kamu sekalipun enggak pernah ngabarin aku!" Suara bergetar dan sedikit pelan, terucap dari bibir Kania.


"Sekalinya ada kabar walaupun bukan kamu yang ngasih tau ke aku, kamu bikin aku sakit hati tau enggak!" Suara Kania terdengar meninggi, membuat Raka semakin dilanda kebingungan.


"Memangnya kabar tentang apa, hm? Sampai kamu marah kayak gini?" Tanya Raka. Kedua tangannya mengelus lembut punggung Kania yang bergetar.


"Hiks. Kabar tentang kamu yang katanya mau lamar pacar kamu!" Ucap Kania. Membuat gerakan tangan Raka yang tengah mengelus lembut punggung gadis itu terhenti.


"Ak–"


"Disitu aku mikir, terus apa artinya aku bagi kamu? Kamu yang dulu mengatakan secara terang-terangan bahwa kamu mencintai aku. Tapi kabar kamu akan melamar pacar kamu, aku langsung mikir bahwa kamu tuh enggak tulus cinta sana aku! Kamu tuh cuman main-main!"


Kania terdiam cukup lama setelah mengucapkan kalimat demi kalimat itu. Isakkan yang keluar dari mulutnya pun perlahan mulai berhenti.


Raka menghela napasnya cukup berat. "Tapi aku memang mau ngelamar pacar aku yang sekarang lagi meluk-meluk aku, nih. Pacar aku cuma satu. Kania Devanya." Bisik Raka. Tangannya mulai kembali mengelus lembut punggung Kania.


"Jangan salah paham lagi, ya? Aku cuma cintanya sama kamu, Kania." Ucap Raka.


Perlahan, dia mulai menjauhkan sedikit tubuh Kania yang masih memeluk erat lehernya. Pandangan mereka kemudian bertemu. Penampilan Kania yang semula cantik, kini berubah sedikit berantakan.


"Mukanya jadi jelek noh, kalo nangis," ucap Raka sembari menyeka sisa air mata di pipi Kania.

__ADS_1


Kania merengut sebal sembari menepis tangan Raka di pipinya. "Ish! Ngeselin!"


To be continue...


__ADS_2