My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Raka Yg Terperangah


__ADS_3

"Lo nyinggung gue sekali lagi, gue kasih lo pelajaran yg bakal lo ingat seumur hidup lo!"


Tubuh Keyla bergetar hebat. Bibirnya seolah lumpuh, tak dapat mengeluarkan suara. Ludah sudah berkali-kali ia telan. Mencoba untuk mengalihkan rasa panik dan ketakutannya.


Keyla menyadarkan dirinya. Untuk tidak terus-menerus berdiri mematung. Ia pun berjalan menduduki bangku kosong. Yg jaraknya jauh dari keberadaan Kania dan mahasiwi yg baru saja ia permalukan itu.


Dan akhirnya, kelas pun di mulai dengan banyak nya keheningan.


****


Kelas sudah bubar dari sepuluh menit yg lalu. Pun tidak ada orang lain di dalam kelas, hanya ada dirinya seorang dengan beberapa buku pelajaran sudah ia masukan ke dalam tas punggung nya.


"Kania!" suara sahutan berat yg jaraknya tak jauh darinya, sontak mengalihkan perhatian.


Kania mendongak. Setelah selesai memasukan buku-buku tersebut. "Kak Raka?"


Raka tertegun sekaligus heran. Sejak kapan Kania jadi bersikap lembut padanya? Padahal, kemarin dia sangat agresif dengan kata-kata lo-gue terucap di bibir ranumnya.


"Kamu hari ini ada kelas lagi kah?"


Kania terdiam sejenak. "Enggak! Kenapa?"


"Aku mau ngajakin kamu makan siang di luar! Mau ya? Sekalian, aku di suruh papa aku buat ke rumah Tante Andin!" kata Raka. Membuat kening Kania mengernyit bingung.


"Ngapain lo mau ke rumah gue?" Dan, Ya. Sikap sembrono dan kata-kata lo-gue itu kembali pada diri seorang Kania. Sangat benar jika ini barulah Kania yg asli.


Raka memutar bola matanya malas. "Gak usah kepo deh! Ikut aja yuk!" langsung saja, setelah berucap demikian, Raka langsung menyambar pergelangan tangan Kania untuk segera keluar dan mengikuti langkahnya.


Kania terkesiap kaget. Bingung. Apa yg harus dirinya lakukan setelahnya? Dan lagi. Beberapa pasang mata menatap ke arahnya dengan tatapan berbeda. Tentu saja. Kaum wanita lah yg memerhatikan mereka.


Ada yg menatapnya dengan tatapan iri, kagum dan bahkan. Ada juga yg menggertak tidak jelas di tempat. Seakan Kania baru saja merebut sesuatu yg berharga milik mereka.


Kania terpaku, tentu saja. Lidahnya juga terasa kelu. Tak dapat mengeluarkan kata-kata pedas yg biasanya akan ia lontarkan jika dirinya berhadapan dengan Raka. Dosen yg menyebalkan, menurutnya.


Langkah Raka terhenti di sebuah parkiran kampus—di depan mobil mewah miliknya. Raka membukakan pintu bagian depan untuk Kania, tentu saja. Tatapannya pun beralih menatap kedua manik mata Kania yg berjarak tak terlalu jauh dari pasang mata.


"Masuk, gih" ujar Raka. Dengan seulas senyuman menyungging di wajahnya.

__ADS_1


Seolah tersadar. Kania pun memejamkan kedua matanya. Kemudian, sebelum Raka berbalik pergi menuju pintu bagian kemudi, tangannya lebih dulu ia cekal hingga Raka pun menoleh ke arah Kania dengan tatapan kebingungan.


"Kenapa?" sahut Raka


"A-aku... Emm... Maksudnya... Gue pulang sendiri aja! Gue bawa motor kok!"


Terlihat kedua alis Raka yg kini saling bertaut. Memikirkan sesuatu. Namun entah apa.


"Motor?" tanya Raka. Kania mengangguk.


"Kamu bawa motor?" tanya Raka lagi. Tidak percaya.


Tak lama kemudian, sebuah bayangan tentang mama Andin yg mengatakan—Kania sangat suka balapan motor. Mulai melintasi pikirannya. Raka jadi ingin tahu. Jenis motor apa yg selalu gadis di hadapannya ini kendarai!?


"Motor kamu... Dimana?"


"Tuh..." tunjuk Kania. Mengangkat jari telunjuknya ke arah yg berlawanan dengan posisi berdiri Raka. Raka mengikuti arah telunjuk Kania.


Dalam hati ia ber oh-ria. Hanya motor matik biasa! Pikirnya. Tapi, seolah mengetahui kemana arah pandangan Raka tertuju. Segera, Kania kembali menunjukkan ke arah yg seharusnya.


Kedua mata Raka terbelalak kaget. Ia melotot tidak percaya. Tatapannya kini beralih menatap Kania. "Serius? Motor merah yg itu?" tanya Raka. Mencoba kembali bertanya.


"Ya iyalah! Yg mana lagi. Cuman ada si merah yg itu, yg terparkir disana! Kalo gitu, gue duluan ya!" pamit Kania. Melenggang begitu saja meninggalkan Raka di tempat.


Raka terdiam memaku. Kemudian, ia kembalikan tubuhnya berhadapan dengan motor merah yg di maksud oleh Kania barusan. Ia terus memperhatikan motor tersebut, sampai pada akhirnya. Sang pemilik sudah selesai memarkirkan motor tersebut. Dan berniat menaikinya.


Raka masih terus memperhatikan. Ia ingin lihat, seberapa hebat gadis itu menaiki motor sport itu? Benarkah, Kania jago balapan?


Kania mulai menaiki motornya lalu memakai helm yg senada dengan warna motornya. Ia melirik sekilas ke arah Raka. Kemudian ia tersenyum singkat.


"Gue duluan, ya!!!" teriak Kania. Tak lama kemudian, ia mulai menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Dari kejauhan, Raka berdecak takjub. Benar apa yg dikatakan Mama Andin padanya kemarin! Selain tomboy dan sifatnya yg sembrono, Kania juga jago menaiki motor sport yg ukuran besarnya melebihi besar tubuhnya.


Raka jadi bingung, harus mulai menyadarkan Kania dari mana? Walau dari kenyataan, Kania sudah sadar seratus persen. Hanya saja, sifatnya yg lebih mirip laki-laki. Pastas mama Andin merasa sedikit pusing dengan tingkah putrinya yg satu itu.


Saat di tengah-tengah ia berpikir keras, tiba-tiba saja sebuah ide muncul di benaknya. Ia pun di buat kaget dengan ide tersebut. Namun, ia kemudian tersenyum penuh arti di akhir pemikirannya.

__ADS_1


"Kalo aku bisa nurutin gaya kamu, aku harap suatu saat kamu mau menuruti perintah aku!" gumam Raka. Dengan sebuah senyum miring yg menyungging di wajah tampannya.


****


"Lain kali kamu gak boleh bawa motor ke kampus! Mama gak suka! Apalagi motor yg kamu bawa itu bukan motor biasa. Kenapa gak bawa mobil aja sih ke kampus nya?" celoteh mama Andin tiada henti. Namun di hiraukan begitu saja oleh anak perempuannya. Yg kini tengah menyantap makan siang dengan lahapnya.


"Hem..." jawab Kania malas. Ia lebih di sibukan dengan rasa lapar yg menghujam nafsu makan nya saat ini.


Mama Andin yg melihat tingkah anak perempuan nya, hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia pusing, entah harus berbuat bagaimana untuk membuat Kania tidak lagi bergaya seakan dirinya adalah anak lelaki.


Mama Andin tahu. Gaya Kania yg tomboy banyak di kagumi para mahasiswi di kampus nya. Keren. Itulah pujian mereka untuk Kania. Tapi tak banyak orang yg juga tidak menyukai Kania. Dengan sikap yg sembrono, tentunya. Tapi, gaya tomboy Kania itu malah membuat dirinya susah untuk bergaul dengan lawan jenis. Jika hanya sekedar mengobrol, mungkin bisa! Yg jadi pertanyaan nya adalah, sebagai sandaran hidupnya di masa depan.


Haish...


Kania sungguh keras kepala. Entah bagaimana di masa depan ia akan memiliki suami jika terus seperti ini! Sungguh membingungkan!


Kania



Raka



To be continue...


Mau di up lagi gak nih?😁


tadinya mau aku up crazy, tapi kayaknya gak ada waktu deh! jadi cuman bisa up satu satu😁


komen yg banyak, bisa bikin ceritanya cepet up atau mungkin di banyak in:*


mungkin?


iya, kalo beneran lagi ada waktu luang.


kalo gitu, sampai jumpa di next chapter:*

__ADS_1


__ADS_2