My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Bayangan dan Ingatan Tentang DIA


__ADS_3

Author mau minta maaf lagi nih!


Up nya selalu telat, beberapa hari yg lalu aku jatuh pingsan di sekolah, jadi bisa di bilang setelah kejadian itu aku sakit. Maaf ya! Selalu mengecewakan! Sekarang di up kok, mumpung udh sembuh jga. Ya udh, lanjut ke cerita aja yah:)


Happy Reading


****


Kania berjalan menyusuri jalanan yg sepi. Tatapan matanya seolah kosong. Ia juga tidak berkedip sama sekali. Suara sahutan seorang laki-laki di belakangnya, tidak membuat ia tersadar dari lamunan itu.


Laki-laki itu berlari mengejar Kania, tanpa gadis itu ketahui.


Greb


Sebuah pelukan erat dari arah belakang, menyadarkan Kania dari lamunannya.


"Kamu mau kemana, hm? Ini udah malem, Kania. Kita pulang, ya?" sahut laki-laki itu, yg bisa di ketahui adalah Raka karena suara khas nya yg begitu mudah di ingat.


"Pulang? Kemana? Bahkan itu bukan rumah gue lagi!" teriak Kania. Raka semakin mengeratkan pelukan itu. Pelukan yg sangat hangat, membuat Kania tak kuasa menahan kesedihan itu lagi.


"Kamu ikut aku aja, ya. Kamu pulang ke rumah aku dulu aja, oke?" ujar Raka, tanpa melepaskan pelukan itu.


"Gue gak mau repotin lo! Gue mau ke kost-an gue aja! Anterin gue kesana, pliss!"


"Oke" Raka melepaskan pelukan itu, kemudian kembalikan tubuh Kania supaya berhadapan dengannya. Raka melihat raut wajah gadis itu yg sayu dengan mata yg memerah. Wajahnya yg basah karena air mata, membuat Raka tidak tega melihatnya terus seperti ini.


Raka mengusap wajah gadis itu. Kania terperangah kaget, ia pun mengangkat wajahnya mulai menatap ke arah Raka. Seulas senyum di wajah laki-laki itu terbit seketika.


Ia membenarkan poni gadis itu. Kedua telapak tangannya menangkup wajah Kania, kemudian ia sedikit mengangkatnya.


Cup.

__ADS_1


Raka mengecup kening Kania. Mencoba untuk menenangkan gadis itu. Kania yg terkejut hanya bisa memaku di tempat.


Sebuah detakan jantung, berdetak kencang tak karuan. Dan itu adalah detakan jantung milik kedua orang yg kini saling berhadapan.


Raka melepas kecupan itu. Ia kemudian kembali merapikan poni gadis itu.


"Maaf aku lancang! Aku cuma gak mau bikin kamu terus-menerus kepikiran yg tadi. Aku gak mau kamu terus-menerus sedih karena keluarga kamu itu. Aku cuma ingin—"


"Lo gak perlu minta maaf! Gue tahu, lo cuma mau nenangin gue kan? Makasih!" sela Kania, kemudian kedua tangannya mulai terangkat memeluk tubuh Raka. Kania sangat berterimakasih pada lelaki itu. Ia tidak peduli dengan kecupan itu. Ia hanya merasa bahwa kecupan itu tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan ketulusan hati Raka yg selalu ada untuk dirinya selama beberapa waktu ini.


"Aku anterin kamu pulang sekarang!" sebuah suara bisikan, menyadarkan Kania. Dengan cepat, Kania pun melepaskan pelukan itu dan menjauhkan tubuhnya dari Raka.


"Maaf!"


****


Kania memasuki kamar kost nya dengan perasaan yg berkecamuk antara canggung, senang dan sedih.


Senyum di wajah gadis itu tiba-tiba luntur. Mengingat bagaimana keluarganya tidak melakukan apapun untuk membujuk dirinya pulang.


"Haah, ngapain sih gue nginget-nginget yg begituan! Bikin setres aja tahu gak!" gumam Kania, berjalan memasuki kamar mandi yg terletak di pojokan kamar.


Kania mulai membasuh wajahnya dengan air beberapa kali. Setelah di rasa cukup, ia bercermin di hadapan cermin panjang yg berada di dalam kamar mandi. Terlihat raut wajah nya yg pucat dan kedua bola mata yg memerah. Kantung matanya pun membengkak. Seolah baru saja di pukuli.


"Lo harus kuat, Kan! Lo cewek kuat! Lo nya aja yg cewek, jiwa lo itu laki! Lo lupa, hm? Pokoknya, apapun yg terjadi, lo harus kuat!" ucap Kania bermonolog di hadapan cermin. Mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian, ia tersenyum. Senyuman penuh paksaan namun berhasil membuat rasa sakit itu berkurang.


Setelah cukup lama berdiam di kamar mandi, Kania pun keluar dengan membawa sebuah handuk kecil di tangannya.


Kania melirik ke arah jam dinding yg berada tak jauh dari jarak pandangan. Pukul sebelas malam tertera di sana. Ia menghembuskan nafas pelan, beralih menuju tempat tidur untuk segera memejamkan kedua matanya untuk menyambut hari esok.

__ADS_1


Namun saat Kania baru memejamkan kedua matanya, sebuah bayangan seorang laki-laki melintasi isi pikirannya. Membuat kedua bola mata Kania membulat sempurna.


"Kok gue jadi kepikiran tuh Dosen, sih?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Kania berusaha merubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi menyamping, ia berusaha untuk terus mencoba menutup matanya. Namun hasilnya tetap sama. Bayangan Raka yg tengah tersenyum manis padanya kembali melintasi isi pikiran gadis itu.


"Ish! Kok kepikiran mulu sih!" gerutu Kania, mencoba memejamkan kedua matanya.


****


Di sisi lain, Raka baru saja keluar dari kamar mandi. Ia baru saja menyelesaikan mandi pada waktu tengah malam begini. Untungnya, saat dirinya keluar dari kamar mandi, ia sudah mengenakan kaos putih pendek polos dengan celana pendek berwarna cokelat.


Raka baru saja akan menaiki tempat tidur. Namun gerakannya terhenti, ketika mengingat seseorang yg baru saja ia antar pulang ke tempatnya.


"Kania, apa kabar ya?" tanya Raka bermonolog. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Berusaha untuk menyingkirkan pertanyaan itu. Tidak mungkin, jika Raka mengirimi pesan pada gadis itu tengah malam begini kan?


Pasti Kania sudah tidur!- pikir Raka. Kemudian menarik selimutnya hingga ujung dada.


Kedua matanya belum terpejam sama sekali. Lelaki itu masih membuka kedua bola matanya, menatap langit-langit kamar. Dengan sebuah pikiran tertuju pada seseorang. Siapa pagi jika bukan Kania?


"Aku harap kamu baik-baik aja!" gumam Raka, masih setia menatap langit-langit.


Raka merubah posisi terlentang menjadi menyamping ke samping kiri. Ia melirik lampu tidur yg menyala di atas meja nakas. Ia tersenyum. Bukan karena lampu tidur itu. Melainkan karena sebuah bayangan indah tentang Kania yg terus melintasi pikirannya.


"Selamat tidur, Kania!" ujar Raka berbicara sendiri. Lalu ia memejamkan kedua bola matanya.


Di waktu yg bersamaan pula, Kania tengah tersenyum menyamping dalam tidurnya. Ia bergumam kecil mengucapkan,


"Semoga mimpi indah, Dosen Ku Yg Bawel!"


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2