
"LO SEBENARNYA MAU NGAJAKIN GUE KEMANA, SIH?" Kania berteriak diatas motor yang dikendarai oleh Raka.
"Ke pantai." jawab Raka, singkat.
"HAH???" teriak Kania, mencoba untuk memasang kembali pendengarannya. Karena sungguh demi apapun, apa yang Raka lontarkan barusan tidak terdengar oleh indera pendengarannya.
"Ck, DASAR BUDEK!!" teriak Raka, membuat Kania membelotot kesal mendengar ucapan itu.
"APA LO BILANG???" teriak Kania
"TUH, KAN! BUDEK, SIH. PANTESAN AJA GAK KEDENGERAN!"
Karena sebal, Kania pun mencubit perut Raka yang terlapisi oleh pakaian.
Raka meringis, saat mendapat cubitan pedas dari Kania. Ia tersenyum dibalik helm yang ia kenakan saat ini. Senyum yang bahkan sangat manis dan tulus, yang belum pernah ia perlihatkan pada siapapun.
Perlahan, motor yang mereka kendarai mulai berhenti. Oh, bukan. Motor itu berhenti, karena Raka yang sengaja mengeremnya di tepian jalan.
"Kok berhenti? Kenapa? Motornya mogok? Bensinnya abis? Tuh, kan... Harusnya kita tadi isi bensinnya agak banyakan tadi... Atau enggak kita—"
"Kita udah sampe!" sela Raka, memotong ucapan Kania.
"U-udah sampe?" tanya Kania. Sedetik kemudian, ia mulai menatap kearah sekeliling jalanan. Dan... Tatapannya tertuju pada sebuah pantai dengan ombak yang sangat indah.
"Wah, udah lama banget gue gak kesini. Rasanya, pas kesini, jadi kangen main lagi kayak dulu." Kania bergumam, kemudian ia turun dari motor yang diikuti oleh Raka setelahnya.
"Kamu udah pernah kesini?"
"Udah!"
"Waktu kecil, sih." kata Kania, kemudian ia berlari menuju pantai dengan terburu-buru. Meninggalkan Raka yang masih mematung ditempat.
"LOH? KOK DITINGGALIN?" teriak Raka, sambil menunjuk dirinya sendiri.
Kania tidak menjawab teriakan Raka. Ia saat ini sibuk berlarian kesana-kemari. Menikmati indahnya pantai berpasir putih dengan suasana sore yang cerah. Sungguh indah.
__ADS_1
****
"Kamu dari tadi diem aja! Kenapa?" sahut Raka, sambil terus melirik kearah Kania yang sedari tadi terus terdiam membisu. Dengan tatapan lurus menghadap laut dan matahari sore yang sebentar lagi akan terbenam.
Kania menggeleng perlahan, untuk menanggapi pertanyaan Raka. "Gue... Ternyata selama ini, perjuangan gue udah sia-sia."
Raka tidak mengerti maksud dari ucapan Kania barusan. Perjuangan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Kania!?
"Maksudnya?"
Kania menarik nafas panjang lalu penghembuskannya perlahan. "Gue udah sia-sia berubah jadi tomboy kayak gini. Awalnya... Gue kayak gini biar bisa menarik perhatian mama Andin. Tapi... Setelah tahu kalo mama Andin bukan mama kandung gue. Gue merasa perjuangan gue untuk merubah diri gue jadi tomboy itu sia-sia! Karena mau sampai kapanpun, gue gak bakal di perhatiin sama dia. Karena gue bukan Kesha, yang selalu jadi anak paling sering dia banggakan."
Raka menatap lesu kearah Kania, seolah dirinya saat ini juga tengah merasakan apa yang selama ini Kania rasakan.
Dan... Satu hal yang Raka ketahui saat ini. Kania berpenampilan seperti anak laki-laki, melainkan bukan tanpa sebab ia melakukannya. Kania hanya ingin merasa diperhatikan oleh mamanya. Mungkin, Kania berpikir. Jika dirinya berubah menjadi laki-laki, ia akan diperhatikan oleh sang mama. Sama halnya dengan Kesha, yang selalu diperhatikan setiap saat.
"Dan gue..." perhatian Raka kembali tertuju pada Kania, yang baru saja berucap menggantung.
"Ingin berubah menjadi seorang cewek yang semestinya. Cukup, perjuangan gue cukup sampe sini. Gue pengen berubah jadi cewek yang berkeseharian feminim. Bukan berpenampilan kayak anak berandalan seperti gue sekarang ini." tatapan Kania kini tertuju pada manik mata Raka. Gadis itu tersenyum kearah Raka.
"Minta tolong apa?"
"Bantu gue. Buat jadi seorang perempuan cantik seperti kebanyakan cewek diluaran sana." dan itulah. Permintaan Kania, yang sanggup membuat Raka sedikit terkejut.
Namun, tak selang berapa lama, Raka pun tersenyum menanggapi permintaan Kania.
"Gampang." ucap Raka, sambil terus tersenyum.
Mendengar jawaban menyenangkan dari Raka, Kania pun merada sedikit senang. Senyum di wajahnya, tak henti-hentinnya terus menyungging.
Wajahnya terlihat sangat cantik ketika ia tengah tersenyum seperti ini. Benar-benar sebuah pemandangan yang langka.
****
Seorang mahasuswi tengah meminum minuman beralkohol di sebuah club malam. Ia tengah sedih saat ini. Ia juga merasa terkhianati oleh seorang sahabat yang selama ini terus berada di sampingnya.
__ADS_1
"Lo jahat! Lo bilang, lo gak suka sama Kak Raka! Tapi buktinya? Lo berduaan naik motor bareng dia? Lo pengkhianat, Kania! Lo pengkhianat besar! Gue benci sama lo." gumam mahasiswi itu, sambil memainkan botol minuman, dengan minuman itu yang sudah tersisa setengahnya.
Mahasiswi itu adalah Vanya. Ia datang sendirian ke club malam, untuk menuntaskan kekesalannya. Mungkin bukan hanya rasa kesal yang berada di dalam jiwanya saat ini. Mungkin, juga rasa benci.
Vanya marah, ketika pada saat itu ia melihat kemesraan dari dua orang yang sama-sama ia sayangi. Satunya adalah sahabat yang selalu ada di kehidupannya. Dan satunya lagi adalah seseorang yang sangat ia cintai.
Mungkin mereka berdua pikir, Vanya tidak tahu tentang kedekatan mereka yang pada saat itu pergi berdua meninggalkan kampus menggunakan motor.
Vanya kesal, marah sekaligus kecewa. Apa yang harus ia lakukan? Sahabat pun kini telah mengkhianatinya. Orang yang ia cintai pun mencintai sahabatnya. Sangat terlihat jelas di wajah Raka ketika ia mulai menatap Kania.
Tanpa Vanya sadari, seseorang tengah berjalan kearahnya. Dengan sebuah seringaian jahat diwajah cantiknya. Seorang perempuan yang sangat membenci Vanya. Namun, perempuan itu kini ingin membantu Vanya untuk membalaskan dendam pada orang yang sudah membuatnya seperti ini.
Perempuan itu mendudukan bokongnya di samping Vanya, tanpa gadis itu ketahui.
"Kasian. Lo... Abis dikhianati ya, sama sahabat lo?" perempuan itu berujar dengan nada meremehkan. Membuat Vanya yang tadinya terus menunduk, kini mulai melirik kearahnya.
"Siapa sih, lo?" bentak Vanya, dengan pandangan yang mulai kabur.
"Heh, lo mabuk, ya? Bagus, deh." ucap perempuan itu, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Heh, ngapain lo gangguin gue? Pergi lo! Pergi! Gue lagi pengen sendiri!" bentak Vanya lagi, perempuan itu malah terkekeh.
"Santai aja kali. Gue disini mau bantuin lo!" ujar perempuan itu, kemudian menunjuk diri Vanya.
"Bantuin gue? Maksudnya?"
"Iya. Gue mau bantuin lo buat balas dendam sama sahabat lo itu. Yang udah berani merebut orang yang lo sayang." perempuan itu meraih botol minuman yang sedari tadi terus di pegang oleh Vanya. Lalu menuangkan isinya ke dalam gelas kosong yang berada tak jauh dari letak botol minuman itu.
"Gue tahu, kok. Lo lagi kesel sama sahabat lo itu. Gue bisa kasih tahu lo, gimana caranya balas dendam. Tapi menggunakan cara yang lebih cantik." tuturnya, kemudian meneguk minuman yang ia tuangkan barusan.
"Lo sebenarnya siapa?"
"Keyla! Lo lupa sama gue? Yang waktu itu hampir rebutan Kak Raka sama lo, dan lo pada saat itu ketawa habis-habisan sama si Kania, buat ngetawain gue!" ujarnya, membuat Vanya terdiam seketika.
To be continue...
__ADS_1