My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Belanja Bareng or Nganterin belanja?[Kania]


__ADS_3

Vanya berjalan gontai menuju parkiran club malam yang terletak tak jauh dari pintu masuk club. Ia akan pergi dari club itu, mengendarai mobil xenia berwarna putih yang selama ini tak pernah ia bawa keluar garasi.


Vanya memasuki mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia terus memikirkan kata-kata Keyla barusan. Tentang perencanaan pembalasan dendam pada Kania.


Sempat berpikir dalam pikirannya, bahwa Vanya akan melakukan hal serupa dengan apa yang diusulkan oleh Keyla barusan. Namun, rasa ragu untuk melakukan pembalasan dendam itu selalu ada dalam hatinya. Apalagi, Kania-lah satu-satunya orang yang mau menerima Vanya apa adanya sebagai sahabat. Kania selalu ada di kehidupan Vanya, susah maupun senang Kania selalu hadir mensuport nya. Tapi, apa yang dilakukan Kania dibelakang Vanya, sukses membuat gadis itu sakit hati. Jika memang Kania mengatakan dari awal, bahwa dirinya juga menyukai Raka. Mungkin Vanya bisa merelakan perasaannya untuk Raka. Toh, Vanya pada saat itu hanya sekedar suka. Tapi sekarang?


Vanya terlanjur mencintai sosok Raka, mengagumi dan bahkan tidak ingin Raka dimiliki orang lain. Ia terlanjur jatuh cinta.


"Gue harus gimana...?" Vanya bergumam, ketika ia saat ini tengah menjalankan mobilnya, menuju rumah.


Ia masih berpikir, apa yang harus ia lakukan kedepannya!?


"Gue sayang sama lo sebagai sahabat gue, Kan... Tapi, disisi lain gue juga sakit hati sama lo. Yang gak pernah jujur tentang perasaan lo sendiri. Gue gak mau balas dendam atas perbuatan lo. Gue gak mau kehilangan lo, sahabat terbaik gue." Vanya terus bergumam, sampai tak sadar, ia sudah hampir sampai di kediamannya.


"Tapi gue juga suka sama Kak Raka. Tapi Kak Raka suka nya sama lo. Gue harus gimana? Haruskah gue benci sama lo?"


****


Malam harinya, Raka mengajak Kania untuk pergi keluar dan mengajaknya jalan-jalan. Bukan sekedar jalan-jalan, tapi mereka juga menyempatkan diri mereka untuk pergi ke mall kota. Yang jaraknya cukup jauh dari jarak rumah mereka masing-masing.


Awalnya Kania menolak habis-habisan, untuk tidak menuruti ajakan Raka. Namun, sebuah iming-iming tentang 'merubah penampilan' membuat Kania hanya bisa mengangguk pasrah.


Saat ini, Kania tengah berjalan mengikuti langkah Raka di belakang. Ia sudah lelah. Sudah hampir dua jam lamanya ia berjalan mondar-mandir dari toko sana ke toko sini. Hanya untuk sekedar melihat atau bahkan membeli pakaian.


Bukan untuk Kania. Melainkan untuk dirinya sendiri.


"Katanya mau bantuin gue berubah? Kok malah belanjanya buat diri sendiri, sih? Ngeselin banget." Kania mengomel di belakang Raka. Bibirnya tak henti-henti terus mengerucut kesal. Terkadang, ia memutar bola mata. Merasa malas dengan tingkah Raka, yang lebih terlihat seperti wanita yang selalu mementingkan fashion dan penampilan.


Menyebalkan.


"Mbak, bisa bungkus kan yang ini?" Raka tidak peduli dengan celotehan Kania. Ia malah sibuk mencari pakaian dan sibuk juga membelinya.


Ish. Kania jadi makin kesal.

__ADS_1


"Iih. Nyebelin banget sih!" Gerutu Kania, sambil mengepalkan kedua tangannya di belakang kepala Raka. Ia merasa gemas sendiri. Ingin rasanya mencabik kepala lelaki itu, tapi ia tak mampu.


"Baik, Mas. Sebentar, ya." tak lama kemudian, seorang pelayan toko yang masih muda dan terlihat begitu cantik datang mendekati Raka. Pelayan itu bahkan berani tersenyum menggoda kearah Raka. Dan Raka menyambut halus senyuman itu. Membuat Kania makin bete dan kesal dibuatnya.


"Ck. Harusnya gue gak ikut kesini. Percuma gue kesini, yang belanja juga bukan gue. Tapi, elo!" Kania terus mengoceh di belakang Raka.


Dan akhirnya, Raka pun menoleh kearah Kania. Mungkin ia merasa sedikit sebal juga dengan tingkah cerewet dari Kania.


Hah, tunggu!


Sejak kapan, cewek dingin, kasar, jutek, dan tomboy itu jadi cewek cerewet!? Biasanya juga paling marah-marah. Atau enggak, jawabnya pasti ketus dan sedikit pedas.


"Perasaan dari tadi, tuh mulut gak berhenti diem, deh? Cerewet juga ya, kamu lama-lama."


Kania mendelik, menatap tajam kearah manik mata Raka. Yang saat ini tengah menatap kearahnya. Kania merasa sedikit kesal, dengan apa yang Raka katakan padanya barusan. Huh, apa yang dia katakan barusan? Cerewet? Kita lihat, siapa yang lebih cerewet disini! Kania atau Raka!?


"Enak aja gue—"


"Oh. Makasih, ya!" kata Raka, sembari menyambut pemberian pelayan toko tersebut dengan ramah.


"Mas-nya ganteng. Boleh minta nomor teleponnya, gak?"


"Hah?" Raka dan Kania sama-sama berteriak, namun tidak terlalu kencang. Hanya berteriak karena kaget, atas apa yang di ucapkan pelayan toko itu. Pelayan toko itu secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya terhadap Raka.


"Maaf, mbak. Saya sudah punya pacar." dengan santai nya, Raka merengkuh bahu Kania. Lalu memeluknya ke pelukannya.


Tentu saja, tingkahnya barusan sukses membuat pelayan toko dan Kania merasa terkejut.


"Eh? Bukan kok, kita buk—"


"Kalo begitu, kita permisi ya, mbak. Mau bayar belanjaan dulu. Kasian, dari tadi pacar saya ngambek. Permisi."


Setelah mengatakan demikian sebagai alat pelarian, Raka dan Kania bergegas meninggalkan pelayan toko itu yang masih terdiam di tempat.

__ADS_1


Pelayan toko itu merasa sedikit kecewa. Ia kira, cewek yang bersama Raka itu bukan pacarnya. Terlihat tomboy dan nakal. Mana mungkin Raka menyukai cewek yang modelnya begitu? Pikir pelayan itu.


****


"Maksudnya apa, bilang sama pelayan toko tadi, kalo gue itu pacar lo?" Kania berbisik disamping Raka, saat keduanya kini tengah mengantri didepan antrian kasir.


"Masa gak ngerti." bisik Raka, membuat Kania nampak berpikir.


"Oh. Iya iya. Gue ngerti. Lo itu cuma jadiin gue tameng, biar gak di gangguin sama mbak yang tadi, kan?" tebak Kania, Raka malah terlihat menatap tajam kearahnya.


"Kata siapa, aku cuman jadiin kamu tameng?"


Kania membulatkan kedua bola matanya. Jika memang bukan karena untuk menjadikannya tameng, lalu untuk apa?


"Terus, maksudnya... Apa dong?" tanya Kania, menatap serius kearah manik mata Raka.


Raka yang ditatap serius oleh Kania, hanya bisa membalasnya dengan kembali menatap kearah gadis itu. Dengan tatapan sama seriusnya.


Tak lama kemudian, Raka tersenyum menyeringai. Membuat Kania merasa sedikit bingung.


"Mau tahu?" sahut Raka. Kania terlihat mengangguk antusias.


"Sini. Aku bisikin di telinga kamu." ujar Raka. Kania nampak berpikir sejenak. Tak lama kemudian, ia pun mengangguk setuju.


Kania mendekatkan tubuhnya sedikit mendekat kearah Raka. Dan lelaki itu ikut melangkah mendekati Kania, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya. Supaya mulutnya dan telinga gadis itu bersejajaran.


Ketika mulut dan telinga mereka sudah bersejajaran, Raka mulai membisikkan sesuatu disana.


"Kepo!" bisik Raka, yang sukses membuat raut wajah gadis itu ditekuk seutuhnya.


Menyebalkan.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2