My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Kesha


__ADS_3

Kania menghela napasnya pelan setelah mendengar penjelasan dari sang mama tentang Kesha. Abang kesayangan nya namun kadang ia benci ternyata begitu menyayangi nya.


Bahkan, dia sangat marah ketika Mama Andin waktu itu mengatakan dengan keras bahwa KANIA BUKAN ANAK KANDUNGNYA!


"Seenggaknya mama harus berusaha menyayangi Kania! Mau bagaimana pun, Kania gak salah! Kania gak tahu apa-apa! Yang salah itu Papa!" tekan Kesha waktu itu, sebelum ia memutuskan untuk pergi dari rumah.


Kania membuka layar ponselnya lalu membuka aplikasi telepon untuk menghubungi seseorang. Seseorang yang sangat menyayangi nya di keluarga ini selain papanya.


Cukup lama Kania menunggu panggilannya di jawab. Namun pada akhirnya, Kania mendesah kecewa. Bukan Kesha yang menjawab teleponnya. Melainkan operator wanita.


"Angkat dong, bang..." Kania mencoba menghubungi nomor Kesha, lagi.


Namun lagi dan lagi, Kania harus mendesah kecewa karena operator wanita itu lagi lagi yang menjawab.


Tak putus asa, Kania kembali menelepon Kesha hingga pada akhirnya, panggilan tersebut diangkat dari seberang sana.


"Bang Kesha!" seru Kania dengan wajah berbinar. Belum ada suara yang membalasnya dari seberang sana. Hanya terdengar helaan napas yang cukup teratur.


"Bang Kesha? Halo?" Kania melirik layar ponselnya untuk memastikan, apakah teleponnya masih tersambung atau tidak!?


Dan, masih tersambung. Kania kembali mengatakan ucapannya, "Bang, halo? Bang Kesha, ini Kania! Ngomong dong, Bang!" mulai kesal karena panggilannya tidak dijawab sama sekali, Kania mencoba meninggikan nada suaranya. Berharap, abangnya akan menjawab jika Kania meninggikan nada suaranya.


"Kabar lo gimana? Lo gak disakitin 'kan, sama mama?"


Kania tersenyum senang. Kesha mulai bicara padanya. Tak mau membuang waktu, Kania kembali berucap,


"Gue gak pa-pa. Lo kemana aja, bang? Lo tinggal dimana sekarang, hah? Kok lo gitu, sih? Bang Kesha mau tinggalin gue? Jawab, bang!" pertanyaan beruntun dari Kania, membuat seseorang diseberang sana menghela napas lelah.


"Gue cuma nenangin diri. Gue masih gak terima sama ucapan mama tempo hari. Nyakitin perasaan gue, lo tahu? Gue aja yang bukan diri lo, sakit hati dengernya! Apalagi lo? Emang lo gak sakit hati?" ucapan Kesha yang mulai terdengar meninggi.


Kania mengembuskan napasnya. Perlahan, ia menyunggingkan senyum manisnya tanpa Kesha ketahui.


"Gue sakit hati!" ucapan Kania, sontak mengheningkan percakapan keduanya.


"Tapi gue harus gimana lagi? Memang itu kenyataannya, kok. Gue mah pasrah aja lah. Gue gak mau ambil pusing. Mama pantes kok, gak sayang sama gue. Orang, ibu kandung gue aja ngerusak hubungan pernikahan mereka." lanjut Kania. Kali ini, ia berusaha menahan isakan kecil yang mungkin akan sedikit terdengar oleh Kesha. Ia tidak ingin abangnya khawatir.


"Lo gak salah, Kania! Yang sa—"


"Udah, bang!" sela Kania. Kali ini, ia tidak dapat membendung air matanya lagi.


"Udah! Itu semua udah berlalu. Mama udah mau nganggap gue lagi. Mama sekarang sayang kok, sama gue. Abang pulang, yah? Please..."


"Gue belum bisa!" ucapan tegas dari seberang sana, mampu melemaskan tubuh Kania hingga akhirnya tubuhnya merosot ke lantai.


"Tapi—"

__ADS_1


"Kalo lo kangen sama gue, lo bisa datang ke apartemen gue. Gue kirimin alamatnya." potong Kesha sebelum Kania menyelesaikan ucapannya.


Detik berikutnya, panggilan terputus sepihak. Kania hanya menatap nanar layar ponselnya yang terbuka karena panggilan mereka berakhir.


Ting!


Notifikasi sms muncul, tertera dari Kesha, Kania langsung membukanya.


"Ternyata, masih ada yang sayang sama gue. Makasih, bang. Maaf, dulu gue benci banget sama lo. Tapi lo malah sayang banget sama gue." Gumam Kania. Senyum kecil terbit di wajahnya.


****


Pagi harinya, Kania mulai bersiap turun ke dapur untuk sarapan pagi. Dikarenakan kampus hari ini libur, Kania akan menghabiskan waktu dengan hanya berdiam di rumah saja. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu dengan bermain video game. Sepertinya akan seru. Pikirnya.


"Gak ngampus, Kan?" pertanyaan dari Mama Andin, ketika Kania menduduki salah satu kursi makan.


Kania melirik sekilas kearah mamanya, lalu tersenyum sembari menggeleng pelan.


"Kan hari libur." kata Kania. Mama Andin hanya beroh-ria menanggapi.


"Nanti malam kamu ikut mama sama papa, ya?" ucap Mama Andin. Kania terlihat menghentikan sejenak acara makannya.


"Kemana?" tanya Kania. Lalu kembali melanjutkan makannya.


"Ke hotel. Kita sekeluarga diajak makan malam bersama, gituh."


Mama Andin sontak menghentikan aktifitas mencuci piring nya, lalu menatap kearah Kania dengan tatapan yang sulit dijabarkan.


"Memang, abang kamu mau ikut? Kamu tahu dimana dia? Mama udah lama nelponin dia, tapi gak pernah diangkat. Mungkin, dia masih marah sama mama." Mama Andin menundukkan wajahnya lesu. Lalu ia kembali melanjutkan aktifitas mencucinya tanpa suara.


Disisi lain, Kania merasa tidak enak karena telah mengungkit tentang Kesha. Kesha yang sudah pastinya anak kesayangan Mama Andin, yang tiba-tiba saja pergi dari rumah tanpa mengabari siapapun.


Apa gue samperin aja, ya, tuh orang? Gumam Kania nyaris tidak terdengar siapa pun.


Hingga sebuah ide muncul untuk mempertemukan kembali Kesha dengan Mama Andin. Senyum manis ia terbitkan, lalu kembali menyantap makanannya.


"Di hotel mana, ma?" tanya Kania tiba-tiba.


Mama Andin sempat terlonjak kaget dengan pertanyaan Kania yang setengah berteriak itu. Lalu Mama Andin menghela napasnya. Tanpa menoleh, wanita paru baya itu menjawab,


"Hotel Rosemary —"


"Rosemary yang mewah itu? Yang khusus buat orang berada itu?" pekik Kania, menyela ucapan Mama Andin.


"Iya."

__ADS_1


"Gila! Siapa sih, yang undang keluarga kita kesana? Itu kan hotel mewah, ma!" Kania masih dalam keterkejutannya.


"Ya, kira-kira aja siapa yang bakal ngundang kita." kata Mama Andin jengah.


"Presiden?" tanya Kania. Sontak Mama Andin tergelak mendengar perkataan anaknya.


"Apa-apa an kamu! Masa iya, presiden ngundang kita? Yang masuk akal dikit, kek."


"Ya... Terus, siapa?"


"Calon keluarga!" ucap Mama Andin, sontak membuat kedua alis Kania bertaut.


"Calon keluarga?" beo nya. Mama Andin mengangguk.


"Enggak ngerti, ah. Mama paling ngasal ngomongnya, iya 'kan?" perkataan Kania dijawab anggukan kepala saja oleh Mama Andin.


Pokoknya, Kania gak boleh tahu. Nanti dia nolak lagi kalo tahu bakal di— hampir aja keceplosan sampe kebablasan. Gerutu Mama Andin dalam hati.


Kania pun memilih menghabiskan sarapan ketimbang memasukan ke dalam hati ucapan Mama Andin padanya beberapa menit lalu.


Setelah selesai sarapan, Kania berjalan kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Setelah mengganti pakaian dengan kaos lengan pendek berwarna putih polos, ditambah jaket levis dan celana jeans hitam yang senada dengan warna jaketnya, Kania lalu melangkahkan kakinya menuju garasi.


Ya, Kania akan kembali menggunakan motor sport kesayangannya yang sudah lama ia tidak memakainya.


"Jangan sampe ketahuan." gumam Kania. Setelah mengeluarkan motornya dari garasi, lalu memakai helm, Kania bersiap keluar dari halaman rumah. Namun sebelum itu, sebuah suara pekikan di belakangnya mampu mengagetkan Kania.


"KANIAAA!!!" itu suara Mama Andin. Sial. Kania harus cepat-cepat keluar dari sini, sebelum Mama Andin berkoar karena dirinya yang tidak mematuhi untuk tidak menggunakan motor sport itu lagi.


Kania menghidupkan motor, lalu mengangkat standar, kemudian menjalankan motornya keluar dari halaman rumah dengan kecepatan biasa.


"Pak, buru buka gerbangnya!" teriak Kania, terdengar tergesa.


Pak Satpam yang menjaga gerbang rumahnya pun menurut. Setelah pintu gerbang dibuka, Kania langsung pasang gas dan menjalankan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Ck, ck, ck. Si Neng Kania hebat juga bawa motornya." gumam satpam itu. Detik berikutnya, Mama Andin terlihat ngos-ngosan ketika dirinya baru sampai di dekat gerbang.


"Aaghh... Tuh, anak bener-bener. Dibilangin gak boleh lagi naik motor, ngeyelll aja bisanya." celoteh Mama Andin sembari berkacak pinggang.


Tatapan awalnya yang menatap jalanan yang kosong, kini beralih menatap satpam penjaga rumahnya.


Pak satpam terlihat gelagapan melihat raut wajah mengerikan majikannya. Lalu ia menundukkan wajahnya lesu ke tanah.


"Harusnya kamu hentikan Kania! Aaghh..." lalu Mama Andin melengos dari hadapan pak satpam itu. Memasuki rumahnya sembari mencak-mencak tidak jelas.


"Kok, jadi saya yang disalahkan?" gumam pak satpam. Sembari menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


To be continue....


Don't forget for like, comment and vote. Thank you...


__ADS_2