
Setelah menyelesaikan makan siang, Kania langsung merebahkan diri diatas tempat tidur di kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya penuh dengan seseorang dari masa lalu.
Sesekali, ia menghela nafas untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba saja datang menjalar.
"Jadi... Omongan dia setahun yang lalu itu... Palsu?" Kania bergumam. Lalu menghela nafas kembali.
Ia nampak menelan ludahnya susah payah. Kenapa rasanya begitu menyakitkan!? Hingga tanpa terasa, air matanya jatuh begitu saja melalui sudut matanya.
Sebelah lengannya sengaja ia angkat untuk menutupi matanya yang mengeluarkan air mata.
Kania menangis tanpa suara. Hanya air mata yang menemaninya.
****
Paginya, Kania berangkat menuju kampus tanpa melirik terlebih dahulu sarapan paginya.
Ia hanya berpamitan lalu segera pergi dari rumah. Ketika Kania berada di gerbang depan rumahnya, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat disana.
"Pasti itu taksi online-nya." gerutu Kania. Lalu dengan cepat, ia segera membuka pintu gerbangnya yang tertutup, mendekati mobil hitam itu.
Kaca mobil terlihat diturunkan, nampaklah seorang pria paruh baya dengan setelan santai.
"Permisi, apa benar dengan Mbak Kania?" pertanyaan dari pria paruh baya itu ditujukan pada Kania.
"Ya, pak. Itu saya. Bisa langsung berangkat sekarang?" ucap Kania. Lalu memasuki mobil bagian penumpang.
Pria paruh baya itu mengangguk. Setelah penumpangnya telah memasuki mobil, ia langsung menjalankan mobilnya menuju tempat yang sudah disediakan di peta aplikasi.
****
Seorang pria tampan mengenakan setelan jas formal nampak tengah berkumpul di sebuah ruang meeting bersama beberapa klien, beberapa staf dan para manager dari berbagai divisi.
Pria itu nampak gagah menggunakan setelan formalnya. Walaupun raut wajah yang di tampilkannya dingin, tak membuat ketampanannya berkurang.
Malah, pria itu semakin tampan dengan wajah dinginnya.
"Pertemuan kita sampai disini. Meeting selesai." ucapan tegas dari pria tampan itu mampu menghilangkan suasana tegang yang sempat melanda ruangan meeting.
Semua staf, para manager dan beberapa klien akhirnya dapat bernafas dengan lega. Mereka mulai membereskan barang masing-masing. Lalu setelahnya, semuanya keluar satu persatu dari ruang meeting dengan pria tampan itu yang sudah lebih dahulu pergi dari ruangan tersebut.
Pria tampan tadi melangkahkan cepat kakinya menuju lift khusus untuknya. Dengan diikuti seorang pria tampan lain yang memasang wajah ceria yang menjabat sebagai sekertarisnya.
"Hei, lo beneran mau ke Jakarta lagi?" pertanyaan informal dari pria yang menjadi sekertarisnya. Pria tampan yang memasang raut dingin itu mendelik tajam kearah pria itu.
"Ya." lalu pria itu mengalihkan fokusnya menatap pintu lift yang masih tertutup rapat.
"Terus, perusahaan disini siapa dong yang jagain?" pertanyaan lagi dari pria yang menjadi sekertaris pria dingin itu.
"Kenapa gak lo aja!"
__ADS_1
Ting
Lift terbuka, pria dingin itu keluar dari sana tanpa memedulikan orang lain yang masih setia berada di dalamnya.
Terkekeh, pria yang menjadi sekertarisnya itu lalu keluar dari lift dan ikut mengejarnya.
"Ka! Dingin banget si lo, jawabnya."
"Kek gak kenal gue aja lu!" ujaran ketus dari pria dingin itu mampu membuat sekertarisnya memutar bola mata.
"Lo seriusan mau balik Jakarta?" pertanyaan itu kembali di lontarkan.
Sontak, pria dingin itu memberhentikan langkahnya dan berbalik menatap sekertarisnya.
"Lo nanya itu lagi, dan jawaban gue tetap sama." katanya dengan tegas. Kemudian berlalu dari hadapan sekertarisnya.
"Kenapa?" teriakan nyaring dari sekertarisnya, membuat langkah kakinya terhenti.
Pria dingin itu tersenyum tipis tanpa sekertarisnya tahu. Tanpa berbalik, lalu ia menjawab,
"Karena gue mau ngelamar cewek gue!" teriak pria itu, lalu melanjutkan langkahnya.
Ya, pria dingin yang berteriak pada sekertarisnya adalah Raka. Pria yang sebentar lagi akan kembali ke kota asalnya. Yaitu Jakarta. Dan pria yang menjadi sekertarisnya, namanya adalah Fadil. Sekertaris sekaligus sahabat masa kecil Raka.
Fadil tertawa kecil mendengar teriakan dari bos sekaligus sahabatnya. Ia tidak percaya dengan ucapan dari Raka yang menurutnya hanya sebuah bualan belaka.
"Emang dia punya cewek?" gumam Fadil. Lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran sembari tertawa mengejek.
****
"Di... Andreatama Grup!?" ujar gadis itu melirik pria itu sekilas.
"Wah! Sama dong. Berangkatnya bareng, ya?" tawar pria itu yang tak lain adalah Reval. Pria yang menolongnya tempo hari.
"Hem... Boleh!" kata gadis itu. Kania.
"Minggu depan, kan?" tanya Reval, lagi.
Kania berpikir sejenak, "Iya. Minggu depan." jawab Kania lagi.
"Em... Lo udah sarapan?" dan, yah. Reval kembali bertanya pada Kania.
Entahlah. Bahkan diawal pertemuan mereka saja Reval tidak banyak bicara seperti sekarang. Yang ada, Kania lah yang selalu banyak bicara pada Reval.
Seolah dirasuki, pria itu berubah seratus selapan puluh derajat dari sikap awalnya.
"Belom. Takut telat, jadinya gak keburu."
"Kalo gitu... Habis kuliah, lo mau makan siang bareng?" tanya Reval. Kania nampak menimbang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Hm... Oke."
"Ya udah, kita langsung ke kelas, yuk!" ajak Kania yang diangguki Reval.
****
Setelah kuliah mereka selesai dalam dua jam, Reval mengajak Kania menuju sebuah tempat untuk mengisi perut.
Dan saat ini, Kania tengah berada di dalam sebuah mobil milik Reval dengan Reval yang baru saja mengeluarkan mobilnya dari parkiran kampus.
"Lo mau makan dimana?" tanya Reval. Kania menoleh kearahnya.
"Lo tahu tempat nasi goreng terenak gak?" tanya balik Kania. Reval terlihat berpikir sejenak, lalu menjentikkan jarinya ketika sebuah ide melintasi otaknya.
"Gue tahu! Tapi... Lo keberatan gak nih, kalo tempatnya—"
"Gak pa-pa! Gue sering kok makan di tempat kayak gitu," seolah tahu apa maksud dari ucapan Reval, Kania lalu menyela ucapan Reval dan meyakinkan pria itu.
"Pedagang kaki lima, Kan! Lo yakin?" pertanyaan terkejut dari Reval ditanggapi kekehan kecil dari Kania.
"Lo sendiri? Punya mobil, jajannya jajanan kaki lima. Lo yakin?" Kania balik tanya dengan nada mengejek.
"Yeeh... Gini-gini gue merakyat kali. Lo sendiri? Sering makan di jajanan kaki lima?" tanya Reval, lagi. Mengulang pertanyaannya yang tadi
"Em... Dulu sih, iya. Sekarang udah jarang. Banyak sibuknya." jawab Kania. Reval hanya mengangguk beberapa kali sembari beroh-ria.
"Ya udah si, kita udah sampe." Reval memberhentikan mobilnya di sebuah tempat parkiran.
Lalu keduanya pun keluar dari dalam mobil, dan berjalan menuju tempat nasi goreng yang menjadi langganan Reval.
"Tempatnya dimana, Val?" pertanyaan Kania memberhentikan langkah Reval. Lalu Reval berbalik menatap Kania yang berjalan di belakangnya.
"Di depan sana, tuh. Sini!" Reval lalu menarik salah satu tangan Kania dan membawanya menuju tempat pedagang kaki lima.
Sempat Kania memaku di tempat, namun ia segera mengalihkan pemikiran tersebut.
To be continue...
Kania
Reval
Raka
__ADS_1
Fadil