My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Acara Makan Malam


__ADS_3

Malamnya, Kania tengah berdiri dihadapan cermin panjang yang berada di kamarnya. Ia melihat pantulan dirinya disana yang terlihat anggun dan cantik dengan setelan gaun putih yang melekat pada tubuhnya.


Kania berdecak kagum sembari terus memutar tubuhnya, melihat betapa indahnya gaun putih itu yang telah disiapkan Mama Andin.


"Gaunnya bagus banget. Tapi, apa gak pa-pa kek gini? Kek bukan gue banget," gumam Kania.


Tanpa ia sadari, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Mama Andin dengan gaun berwarna peach formal, berdiri memandangi punggung putrinya yang berdiri di depan cermin.


"Udah cantik," celetuk Mama Andin membuat Kania terlonjak kaget.


Gadis itu kembalikan tubuhnya, menatap was-was Mama Andin yang tengah terkikik geli. Pasti sedang menertawakannya!


"Mama ngagetin," ucap Kania. Lalu menghela napas panjang.


"Udah. Ayo turun! Papa kamu nungguin di bawah," ajak Mama Andin. Membuat kening Kania berkerut.


"Di bawah ada papa?" tanya Kania terkejut. Karena setahunya, papanya sibuk di luar negeri untuk urusan bisnis. Bahkan, sudah hampir tiga bulan papanya itu tidak pulang ke rumah.


"Iya, ayo turun!" ajak Mama Andin sembari menarik salah satu tangan putrinya.


"Tapi... Kapan Papa pulang? Kok Kania gak tahu?" Kania yang masih shock dengan ucapan Mama Andin, memberhentikan langkah kakinya membuat sang mama melirik ke arahnya sembari berdecak.


"Udah. Nanti aja nanyanya. Kasian calon besan nungguin lama di Hotel." ujar Mama Andin lalu kembali menarik tangan putrinya.


"Hah? Ca-calon besan? Mama mau jodohin Kania?" tanya Kania dengan polos. Lalu kembali menghentikan langkahnya.


"Iya. Jadi kit—"


"Enggak! Kania gak mau dijodohin. Enak aja! Kania belum lulus kuliah, Ma. Kania gak mau nikah sekarang!" dengan kesal, Kania memotong ucapan Mama Andin sembari menghempaskan tangannya yang masih berada dalam genggaman sang mama.


Mama Andin menghela napas. Ia merutuki dirinya sendiri yang salah berbicara. Jika sudah begini, Kania akan susah untuk dibujuk lagi.


"Dengerin mama, Kania! Kamu gak akan nikah saat ini juga! Mama cuman mau ngenalin kamu doang, kok! Kalo kamu merasa gak suka, kamu bisa nolak! Serius, deh! Tapi, kalo kamu langsung suka, mama akan dengan senang hati merestui kalian!"


Kania menghela napas berat. Ia mencoba untuk menimbang kembali isi otaknya tentang ucapan Mama Andin barusan.


Lalu Kania kembali menghela napasnya, kemudian menatap manik mata sang mama dengan tatapan serius.


"Janji ya, ma? Kalo Kania gak mau, jangan maksa, lho!" kata Kania. Membuat senyum manis tiba-tiba saja mengembang di wajah Mama Andin.


"Iya, mama janji!" kata Mama Andin, sembari mengangkat satu buah jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


"Tapi, kalo kamu suka... Mama bakal ledekin kamu sampe kamu sendiri nyerah sama ledekan mama," lanjut Mama Andin. Senyum devil kini ia tampilkan pada Kania.


Kania tertawa garing, "Gak akan!" katanya percaya diri.


"Jangan nyesel, ya," ucap Mama Andin lagi. Lalu kembali menarik tangan Kania untuk segera menuruni tangga dan pergi ke hotel yang sudah di tentukan.


****


Ting!


Sebuah dering ponsel memekakkan telinga Kania, ketika dirinya, Mama Andin dan Papa Hendra memasuki sebuah ruang privat di restoran Hotel Rosemary.


Kania yang awalnya sibuk dengan lamunannya tentang dengan siapa ia akan dijodohkan, langsung segera meraih ponsel tersebut yang ia taruh di atas meja restoran.


Bang Kesha

__ADS_1


Gue udh nympe


Ruangannya dimna?


Senyum Kania mengembang setelah membaca isi pesan dari abangnya. Lalu perhatiannya beralih menatap Mama Andin dengan raut wajah ceria.


"Ma!" panggil Kania. Mama Andin yang sibuk dengan lamunannya pun langsung menghentikannya sejenak.


"Hm?" Tanya Mama Andin dengan dehaman.


"Bang Kesha ada di hotel ini. Boleh aku ajak ke sini?" tanya Kania to the point.


Mama Andin langsung mengubah posisi duduknya dengan berdiri tegak, yang diikuti oleh Papa Hendra.


"Se-serius? A-a-abang kamu, ada di hotel ini?" tanya Mama Andin shock.


"Iya. Kania yang ajak,"


"D-dia gak nolak?" pertanyaan Mama Andin di balas gelengan kepala oleh Kania.


"Dia... Tahu, mama sama papa disini?" tanya Mama Andin lagi. Raut wajah Kania berubah bingung.


Kania harus jawab apa?


"Kania?" panggilan tersebut sontak mengagetkan Kania dari lamunannya.


"I-iya?"


"Oh. Bang Kesha tahu, kok. Y-yaudah, Kania jemput dulu Bang Kesha-nya. Takutnya nyasar. Sebentar ya, ma, pa," pamit Kania. Lalu keluar dari ruang privat itu. Meninggalkan kedua orangtuanya yang terdiam memaku.


Papa Hendra berdeham pelan, lalu ikut menduduki kursi semula dengan perasaan campur aduk.


****


"Apa lo bilang? Lo ngajakin gue makan malem di hotel, karena mau nemuin gue sama mama papa?" pekik Kesha setengah berteriak.


Refleks, Kania membungkam mulut abangnya dengan kedua tangannya.


"Jangan berisik! Malu-maluin aja lu," bisik Kania tepat di depan telinga  Kesha.


Kesha pun mengangguk sembari menjauhkan kedua tangan Kania dari wajahnya. Lalu menatap Kania intens setelahnya.


"Kenapa lo gak bilang, kalo lo mau nemuin gue sama mama papa?" tanya Kesha.


Kania terdiam sembari menunduk, "Gue... Takut lo-nya gak mau," ucap Kania pelan. Kesha lalu menghela napasnya, lalu menatap sekeliling. Kemudian perhatiannya kembali pada gadis itu.


"Kata siapa gue gak mau?"


"Maafin gue karena— Apa?" Kania mendongakkan wajahnya, menatap Kesha tidak percaya. Dan yang ditatap hanya tersenyum sembari terkekeh geli.


"Lo gak marah?" tanya Kania setengah berteriak.


"Jangan tereak-tereak! Berisik!" ujar Kesha, spontan Kania tertawa garing.


"Jadi... Lo mau maafin mereka nih, ceritanya?"


"Bukan. Gue mau minta maaf sama mereka, karena gue udah kabur gitu aja dari rumah tanpa mereka tahu. Buat maafin mereka... Kayaknya, gue udah maafin mereka dari dulu," Kata Kesha yang sanggup mengundang senyum manis di wajah Kania.

__ADS_1


Greb


Kania memeluk tubuh abangnya dengan erat, membuat sang empunya kaget dengan berbagai tanya di benaknya.


"Makasih. Lo udah mau maafin mereka," gumam Kania, ditengah pelukannya bersama Kesha.


Kesha mulai mengerti arti dari pelukan barusan. Lalu tangannya terulur untuk membalas pelukan hangat dari Kania.


"Sama-sama. Dan oh ya, kapan kita nyusulin mereka?" tanya Kesha, disela pelukannya bersama Kania.


Kania lalu melepaskan pelukan erat tersebut, lalu beralih meraih salah satu tangan abangnya dan mengajaknya untuk ikut memasuki salah satu ruang privat di Hotel Restoran Rosemary.


"Gue mau nanya boleh," tanya Kesha disela perjalanan keduanya menuju ruang privat.


"Apaan?"


"Kenapa kalian makan malem di hotel mewah kek gini? Tumben, ada acara apaan, sih?" tanya Kesha yang langsung membuat langkah Kania terhenti, lalu beralih menatapnya tajam.


Kesha yang ditatap ngeri seperti itu pun terkejut. Batinnya bertanya, apa gue salah bicara?


"Gue mau dijodohin!" ucap Kania jutek. Raut wajahnya yang semula ceria, kini berubah muram.


Namun berbeda dengan Kesha. Pikirannya melayang ke masa dua tahun lalu, dimana Papa Hendra dan seorang pria paru baya tengah membicarakan pembicaraan serius yang Kesha dengar, pembicaraan tentang masalah perjodohan.


Ehm. Waktu itu, Kesha memang tidak diajak masuk ke dalam obrolan kedua pria paru baya itu. Dia hanya menguping sedikit, namun nyatanya, dia jadi tahu semuanya.


Senyum manis penuh misteri lantas mengembang di wajah tampan Kesha. Dia lalu menatap penuh arti pada Kania, yang membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Abang kenapa, sih? Sakit? Atau kelebihan obat?" tanya Kania takut sembari melangkah mundur beberapa kali.


"Lu tenang aja, Kan!" tiba-tiba saja, Kesha merangkul bahu Kania, membuat gadis itu semakin takut. Takut jika abangnya ini kerasukan makhluk astral.


"Orang yang bakal dijodohin sama lu tuh, ganteng. Tapi lebih gantengan gue," ucap Kesha menggantung.


Kania mencibir, "Idih!"


"Dan yang pastinya!," lanjut Kesha. Masih menggantung ucapannya. "Orang itu adalah sosok yang udah lama banget lo tunggu-tunggu. Lo bakal nyesel, deh, kalo semisalnya lo nolak!" tambah Kesha. Raut wajah Kania berubah bingung.


"Emang, orangnya siapa, sih? Justine Bieber? Dia orang yang paling gue tunggu-tunggu buat lamar gue!" Kesha menatap datar kearah Kania. Laki-laki itu tidak pernah habis pikir, kenapa Kania sangat tergila-gila dengan mantan pacar Selena Gomez itu? Heran!


"Halu lo, tahu gak!" Kesha lalu menjitak kening adiknya, membuat sang empunya meringis sembari mencibir.


"Udah, kita masuk. Di mana ruangannya?" tanya Kesha. Kania pun melanjutkan kembali langkahnya untuk menuju ruang privat yang akan dijadikan tempat pertemuan dua keluarga.


Semoga aja orang yang dijodohin sama gue, bukan duda! Batin Kania berdoa.


To be continue...


Hai!


Lama gk temu ye?


Author update lgi haha. Awalnya aku gk akan update lagi cerita ini, karena keknya gk ada yg mengharapkan cerita ini lgi. Jdi aku biarin aja beberapa hari sampai berbulan2. Hm-_-


Tapi karena merasa aku membiarkan gitu aja tanggung jawab yg harus aku lakuin, jadinya aku up langsung sampai tamat.


Jan lupa tinggalin jejak sblum next>>>

__ADS_1


__ADS_2