My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Keyla And The Geng


__ADS_3

Cek, takutnya banyak terdapat typo!


HAPPY READING❤


****


Bel tanda kelas bubar pun berbunyi. Para mahasiswa yang berada di dalam kelas, berhamburan dari tempat mereka masing-masing.


Dosen yang tengah mengajar di masing-masing kelas pun segera mengakhiri perjumpaan mereka. Dan membubarkan kelas seperti biasa.


Kania dan Vanya berjalan keluar dari dalam kelas. Namun, saat mereka baru saja keluar lewat pintu, beberapa mahasiswi tengah menghadang jalan mereka.


Tatapan mereka penuh dengan tatapan kebencian. Ada juga yang menatap jengah. Ada pula yang menatap dengan tatapan sok berkuasa.


Kania mengerutkan kening. Ia yakin, pasti ada sesuatu yang membuat mereka tertarik menghadang jalan keduanya.


"Ini ada apa, ya?" sahut Kania, membuyarkan keheningan.


"Gue gak punya masalah sama lo! Gue cuman punya masalah sama temen lo! Si Vanya!" tukas salah satu dari mereka, yang tak lain adalah Keyla.


Tatapan Kania, kini tertuju pada Vanya. Gadis itu tengah menatap dengan tatapan terkejut ke arah Keyla and the geng.


"Ma-maksudnya apa?" tanya Vanya, ragu-ragu.


Ketiga mahasiswi si harapannya, tersenyum menyeringai. Membuat berbagai pertanyaan terbesit dalam otak Kania dan Vanya.


"Heh, bisa gak. Lo jauhin Kak Raka!" ucap Keyla, tiba-tiba.


"Gue gak bisa! Gue udah terlanjur suka sama Kak Raka"


Kania tercengang, atas pengakuan Vanya barusan. Ada sedikit rasa sakit dan sesak dalam hatinya. Ketika mendengar bagaimana perasaan yang sesungguhnya dari Vanya kepada Raka.


Keyla berdecih, meremehkan. "Apa lo bilang? Lo suka sama Kak Raka?" Keyla mengulang ucapan Vanya barusan.


"Iya. Kenapa? Lo gak suka!?"


"Ya, jelas gue gak suka! Kak Raka, tuh, cuman milik gue seorang. Seorang Keyla, yang akan menjadi sosok pendamping nya di masa depan!" dua pasang bola mata gadis di hadapan Keyla and the geng, membelalak saking kaget nya. Mereka sama-sama saling pandang. Dengan kedua bola mata, yang masih sama seperti keadaan tadi.


Kania tertawa kecil, ia berusaha menahan tawanya. Namun hasilnya, nihil. Gadis itu hanya bisa tertawa kecil yang di sambut hangat oleh kekehan plus gelengan kepala dari Vanya.

__ADS_1


"Halu lo, ketinggian banget tahu, gak? Ya, gak, Kan?" sahut Vanya, masih terus menggelengkan pelan kepalanya.


Kania mengangguk antusias. "Ya. Emang ya, cewek yang gak mampu buat dapetin seseorang tuh, bisanya cuman ngehalu gak jelas! Contohnya, Si Keyla ini!"


Keyla yang merasa amarahnya terpancing, ia pun mengepalkan sebelah pergelangan tangannya. Niatnya adalah mengompori Vanya, supaya bisa menjauh dari Raka. Tapi, kini situasinya berbalik.


Keyla yang merasa di kompori oleh Vanya dan juga Kania. Wajahnya kini memerah, menahan amarah. Deru nafasnya pun tidak beraturan.


Sialan.


Ini namanya senjata makan tuan!


Berniat buruk pada orang, malah sendiri yang terkena niatan buruk itu. Sungguh menyebalkan.


Kania berdecak beberapa kali. Tatapan matanya, menatap kepada Keyla. Seolah tatapannya ini, tengah meremehkan.


"Haah, Ternyata lo gak seru. Gue kira, kita bakal berantem sambil adu mulut, atau apalah itu. Ternyata gue salah! Baru di omongin begitu, lo udah diem kayak patung. Heh, gue jadi tahu salah satu kelemahan lo!" Kania membuka suaranya. Keyla and the geng tidak berkutik.


Keyla hanya diam, merutuki kebodohannya. Harusnya ia mempersiapkan hal seperti ini dengan persiapan yang matang. Mungkin jika begitu, ia tidak akan merasa malu seperti ini.


"Udah lah! Mending kita ke kantin, yuk, Kan!" Vanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Ia sudah muak, hanya dengan berpapasan dan sedikit berbicara pada ketiga mahasiswi yang sok berkuasa itu.


"Awas aja lo! Gue bakal kasih lo pelajaran, karena lo udah berani bikin gue malu!" gerutu Keyla, yang di angguki anggukan antusias dari Veera.


****


Kania dan Vanya baru saja menyelesaikan acara makan siang mereka di sebuah kafe. Mereka saat ini tengah bercengkrama sambil tertawa ria sesekali. Mood mereka sedang baik hari ini. Mereka merasa puas, melihat Keyla dan geng alay nya itu terdiam memaku. Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.


Namun, saat keduanya sedang asyik mengobrol, tiba-tiba sebuah suara sahutan berat menghentikan aktifitas keduanya.


Suara sahutan itu terdengar seakan hanya meneriaki satu nama. Yaitu,


"KANIA!!!" Kania menoleh ke segala arah. Mencoba mencari-cari dimana letak seseorang yang baru saja menyahutinya.


Sama halnya dengan Kania, Vanya pun mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hingga akhirnya, tatapannya terkunci pada sesosok lelaki yang selama beberapa hari kebelakang ini, selalu menghantui isi pikirannya.


"Kak Raka!" Vanya tersenyum sumribgah ke arah Raka, yang tiba-tiba saja berjalan ke arah keduanya.


Raka membalas senyuman itu. Namun dengan segera, tatapan matanya beralih menatap Kania dengan sebuah senyuman yang sangat manis.

__ADS_1


Kania tidak membalas senyuman itu. Ia hanya menampilkan wajah datar, tanpa ekspresi.


Saat Raka sudah berada di hadapan keduanya, tak henti-hentinya Vanya **** senyuman. Gadis itu bahkan sesekali menggigit bibir bawahnya, saat melihat wajah Raka dari jarak dekat.


"Hai! Kalian abis dari mana?" Raka kembali menyahuti. Membuat kedua gadis itu tersadar dari lamunan mereka masing-masing.


"Kita—"


"Kita abis dari kafe. Habis makan siang. Kakak ngapain disini?" sambar Vanya. Tanpa memedulikan Kania yang sebentar lagi akan menyelesaikan ucapannya.


Kania menghembuskan nafasnya. Sepertinya... Vanya benar-benar menyukai Raka. Terlihat jelas dari raut wajah gembira plus malu-malu nya itu. Sungguh menggemaskan. Tapi sedikit menyakiti hatinya.


"Oh." hanya itu jawaban dari Raka. Sepertinya, ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Vanya barusan.


Vanya tersenyum kaku. Ia merasa sedikit canggung, saat mengetahui bahwa Raka tidak merespon pertanyaannya.


Ugh...


Sabar... Baru juga permulaan...


"Kamu habis dari kafe juga, Kan?"


Senyum di wajah Vanya menghilang, saat sebuah pertanyaan yang sangat asing terdengar oleh pendengaran nya. Ia barusan tidak salah dengar? Raka baru saja menanyai Kania? Padahal kan, Vanya sudah menjelaskan bahwa mereka baru saja habis dari kafe. Me-re-ka.


Tidak mengertikah, Raka dengan ucapan Vanya!?


"Eh? Iya. Kan tadi udah di sebutin sama Vanya." jawab Kania. Raka tersenyum menanggapi.


Vanya semakin tidak mengerti. Tingkah Raka barusan menunjukkan bahwa dirinya tidak nyaman dengan Vanya dan merasa nyaman jika itu bersama dengan Kania.


Vanya tahu itu. Tapi, ia berusaha menjauhkan rasa curiga nya jauh-jauh. Otaknya terus berpikir, Kania dan Raka tidak memiliki hubungan apapun. Mungkin Raka terlihat lebih banyak tersenyum pada Kania karena suatu kebetulan! Ya, pasti karena kebetulan.


Itulah yang berada dalam pikirannya saat ini.


To be continue...


Yaa!!


up nya bkl malem terus nih kayaknya.

__ADS_1


jangn lupa like sama komen nya ya. sampai jumpa di next chapter:*


__ADS_2