
Harap perhatikan kalo banyak typo ya, guys! +1500 word, semoga syuka.
Happy reading!!!
*****
"Kepo!" bisik Raka, yang sukses membuat raut wajah gadis itu ditekuk seutuhnya.
"Terserah." ketus Kania, sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
****
Kania memanyunkan bibirnya. Ia kesal saat ini. Sudah hampir setengah jam gadis itu terduduk di kursi yang terletak di...
Entahlah!
Yang pasti, ia mendudukan dirinya di kursi depan toko pakaian yang berbeda dari tempat yang sebelumnya.
Kania sendirian? Kok bisa?
Tentu saja bisa. Gadis itu menyerah begitu saja di hadapan Raka. Ia sudah lelah, jika harus terus-menerus mengikuti langkah lelaki itu untuk membeli pakaian untuk dirinya sendiri.
"Katanya mau bantuin gue berubah! Tapi malah belanja. Dasar kembaran ibu-ibu sosialita." Kania menggerutu sendiri di kursi tersebut. Ia menopang dagunya menggunakan kedua telapak tangannya.
Bosan. Itu yang ia rasakan saat ini.
"Ck. Tuh dosen kemana, sih?" dengan penuh perasaan sebal, Kania bangkit dari kursi dengan kedua manik mata yang menjelajah seluruh area mall. Mencari sosok Raka yang seakan menghilang di telan ramainya orang-orang yang berlalu lalang.
"Nyariin siapa?"
Mendengar suara sahutan yang terdengar familiar, Kania pun memutuskan untuk menoleh ke belakang.
Dan benar saja. Orang yang baru saja menyahutinya adalah orang yang ia tunggu-tunggu selama hampir setengah jam.
"Kenapa mukanya di tekuk gitu?" tanya Raka dengan wajah tanpa dosa. Ia berjalan menghampiri Kania yang saat ini tengah menatap tajam sambil menekuk wajahnya.
"Lama banget, sih! Kayak ibu-ibu yang gak mau kehabisan potongan harga aja. Lo tahu gak? Gue capek nungguin lo disini! Gue juga bosen. Pengeeen... Banget gue tinggalin aja lo disini. Tapi gue gak bisa! Kenapa? Karena gue bingung harus pulang sama siapa di jam segini!" Kania berceloteh panjang di hadapan Raka. Membuat lelaki itu refleks mengusap sebelah telinganya yang terasa mulai memanas akibat celotehan dari Kania.
"Udah dong, ah! Telinga saya sakit dengernya. Saya juga belanja kayak gini juga demi kamu." ucap Raka, Kania hanya mengangkat bahu. Tidak peduli.
"Gue mau pulang!"
Kania beranjak dari hadapan Raka, kemudian meninggalkan lelaki itu yang masih terdiam di tempat.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, lengannya sudah di cekal kuat oleh seseorang di belakangnya.
"Eits... Tidak semudah itu." ujar Raka, masih mencekal lengan Kania.
Kania mendelik. "Apaan, sih! Mau lo apa, hah? Gue mau pulang. Saya mau istirahat, Pak Doseeen..." Kania menekan beberapa katanya. Sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bagus. Kalo gitu, ikut saya." putus Raka, lalu menarik lengan gadis itu ke suatu tempat.
Kania melongo dibuatnya. Lelaki ini begitu menyebalkan. Tidak bisakah ia mengerti maksud dari kata-katanya barusan?
****
Kania menatap datar sebuah pintu apartemen di hadapannya. Ia menghela nafas, kemudian menatap tajam kearah Raka yang saat ini tengah mencoba membuka kunci pintu apartemen tersebut.
Klik
Pintu apartemen pun terbuka. Raka mempersilakan Kania untuk memasuki apartemen tersebut. Namun, bukannya masuk. Ia malah mendelik sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Lo mau ngapain bawa gue ke apartemen? Lo mau apain gue?" panik Kania, sambil memelotot pada Raka.
Raka mendengus kesal ketika melihat Kania yang mulai berpikir macam-macam. Ternyata... Cewek ini normal juga! Raka kira, gadis ini akan bersikap seolah dirinya adalah anak laki-laki.
Raka berjalan mendekati Kania. Gadis itu yang panik malah memundurkan langkah kakinya, terus hingga akhirnya punggung Kania membentur dinding.
Jangan lupakan, kedua lengan Kania yang sengaja ia silangkan di depan.
__ADS_1
Raka terus berjalan mendekat kearah Kania. Hingga akhirnya, jarak keduanya sudah sangat dekat sampai hembusan nafas mereka pun saling bertubrukan.
Disisi lain, Kania memalingkan wajahnya kesamping. Ia tidak ingin menatap wajah Raka. Kania takut jadi salah tingkah. Toh, dosennya ini kelewat ganteng.
"Ck. Ck. Ck." Raka berdecak di hadapan Kania. Gadis itu pun sontak mendongak menatap wajah Raka.
Tuk
"Aduh..." Kania mengaduh, ketika jemari Raka, dengan jahilnya menyentil dahinya. Menyebalkan.
"Isi otak kamu itu apa aja, hm? Kotor banget! Mikirin apa?" tanya Raka, sambil mencondongkan wajahnya ke bawah. Mencoba untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kania.
"Apaan, sih! Gue gak mikir gitu, kok." elak Kania. Tak selang berapa lama, wajahnya memerah. Membuat senyum seringaian terbit di wajah Raka.
"Kalo emang bener gak mikir begituan, berani gak masuk apartemen saya?" tanya Raka, lalu menjauh perlahan dari hadapan Kania.
"Be-berani!" jawab Kania, ragu.
"Yakin...?" goda Raka, membuat semburat merah di wajah Kania, semakin terlihat jelas.
"Iih, apaan sih, lo! Jangan mancing-mancing, deh!"
Raka mengangguk-anggukan kepalanya. "Oke. Kalo beneran berani, kamu yang masuk duluan kesana! Cepetan!" titah Raka, Kania hanya menghela nafas kasar.
"Oke. Gue masuk duluan!" teriak Kania, lalu berjalan dengan penuh percaya diri.
Klik
Suara pintu apartemen di tutup, membuat gadis itu tersentak kaget. Suasananya terlihat mencekam. Seolah-olah, ia tengah berada di dalam sebuah rumah berhantu.
Namun, bukan hantu yang yang membuat suasana makin mencekam! Yang membuat suasana ini makin mencekam, tentu saja dosennya itu.
Berjalan kearah Kania dengan kedua mata yang menyipit tajam. Membuat Kania mau tidak mau harus menelan ludahnya susah payah. Ish. Apa, sih yang dilakukan Raka!?
"Nih. Coba kamu pake di dalem kamar mandi!"
Krik krik krik krik
"Ish." Kania meraih paper bag tersebut dengan kasar.
"Bikin salah paham aja, tahu gak!" sambar Kania, lalu berlalu meninggalkan Raka.
Eits...
Tapi tunggu!
Kania tidak tahu dimana kamar mandi lelaki itu! Dan lagi. Kenapa Kania harus menuruti perintah dari Raka? Ish. Ia merasa sudah gila!
Kania berbalik arah. Dengan wajah kikuk, ia mencoba membuka suaranya.
"Kenapa? Kok balik lagi?" tanya Raka, mulai bingung dengan tingkah Kania.
"Itu. Kenapa lo nyuruh gue pake ini!?" ujar Kania, sambil mengeluarkan isi paper bag di hadapan Raka.
"Katanya mau belajar berubah. Yah, saya bantuin kamu! Sekarang... Coba pake dulu gaun yang itu, setelah kamu pake di dalem langsung kasih lihat ke saya. Oke?"
"... Oh, atau saya bantuin kamu ganti baju di dalam. Mau?" tawar Raka, lalu menaik turunkan kedua alisnya.
Astaga!
Dasar dosen mesum!
Kania mendengus, "Kamar mandinya dimana?"
"Tuuh..." tunjuk Raka menggunakan bibirnya yang sengaja di manyunkan.
Kania mengikuti arah tunjuk dari bibir Raka. Setelah pandangan matanya terkunci pada sebuah pintu yang lebih terlihat seperti pintu kamar. Bukan pintu kamar mandi.
Menoleh kearah Raka, "Itu kayaknya bukan kamar mandi, deh!"
__ADS_1
"Lah, emang bukan!"
"Itu kamar saya. Di dalam kamar itu, ada kamar mandinya." ujar Raka menjelaskan. Sebelum gadis di hadapannya ini kembali salah menyimpulkan.
"Ooh. Oke." Kania pun berjalan memasuki kamar itu. Tanpa mengeluarkan basa-basi sama sekali.
Hah?
Dasar cewek aneh!
****
Cukup lama Raka menunggu gadis itu untuk menyelesaikan berganti pakaian. Hanya mengganti pakaian, lamanya sampai satu jam. Dasar cewek! Pikir Raka, sambil membuka layar ponselnya yang menyala.
"Itu."
Raka menoleh ke sumber suara, ketika sebuah sahutan tak asing melintasi indera pendengarannya.
"Bajunya... Cocok gak sama gue?" tanya Kania, ragu. Ia masih terdiam di depan pintu kamar Raka.
Raka tertegun dengan penampilan Kania yang terlihat banyak berubah. Gadis itu hanya menakai sebuah gaun yang panjangnya selutut, tapi sudah secantik ini? Bagaimana jika wajahnya dipoles dengan make-up? Di tambah lagi, rambutnya yang di tata sedemikian rupa? Ck, ck, ck. Nice!
"Woy! Jangan bengong dong! Gue malu..." Raka tersentak dengan sahutan dari Kania. Ia segera mengenyahkan pemikiran tentang gadis itu lebih lanjut. Dan memilih untuk berjalan mendekati Kania.
"Wah. Gak sia-sia saya beli baju ini. Bagus juga!" puji Raka, sambil berjalan mengitari Kania.
Mendengar seseorang memujinya, Kania merasa malu sekaligus senang. Senyumannya terbit seketika.
"Cantik." gumam Raka, yang terdengar oleh telinga Kania.
Kania jadi semakin malu sekaligus gugup. Wajahnya juga memerah. Ia bingung harus menjawab apa.
"Bener-bener cantik." puji Raka lagi, membuat senyum di wajah Kania terus-menerus terbit.
"Bajunya."
Jleb
Senyum di wajah gadis itu hilsng seketika. Ketika lelaki di hadapannya ini ternyata tengah memuji pakaian yang baru saja ia beli. Jadi, bukan memuji penampilan baru Kania?
Ah, sial.
Kan Kania jadi malu sendiri. Padahal, ia sudah baper tadi. Sangat!
Menyebalkan.
"Ya udah. Gue mau ganti baju lagi. Gak nyaman." ketus Kania, sambil mencebikkan bibirnya. Kesal.
Raka tersenyum menyeringai, ketika dirinya berhasil membuat gadis itu kesal dan marah di buatnya.
Tadi ia memang memuji Kania. Bukan memuji bajunya. Tapi, entah kenapa. Mulutnya ini susah sekali diajak jujur.
Tak lama kemudian, Kania kembali ke hadapan Raka dengan pakaian yang sebelumnya ia pakai. Raut wajahnya cemberut. Mungkin ia masih kesal.
"Gue mau pulang." Kania mengadu kepada Raka, dengan bibir yang sengaja ia cebikkan. Astaga. Gadis ini masih marah ternyata.
"Iya, iya. Jangan digituin dong bibirnya. Kelihatan jelek, lho!" ejek Raka. Dengan cepat, Kania langsung mengulum bibirnya dan membiarkannya seperti biasa.
"Huft."
Raka terkikik geli melihat tingkah Kania. Hanya karena tidak ingin disebut jelek, gadis itu langsung mengulumnya? Ahahah, lucu sekali.
"Iih. Kelamaan! Gue pulang sendiri." Karena merasa sebal, Kania akhirnya memutuskan untuk pulang tanpa diantar lelaki itu yang sibuk dengan menahan tawanya.
Tentu saja, hal itu membuat Raka langsung bungkam dan mengejat Kania. Tapi sebelum kembali mengejar Kania, ia menyambar beberapa paper bag yang ia taruh diatas sofa yang berada di ruang tengah apartemen.
"Kania, tunggu!" teriak Raka, tanpa di pedulikan gadis itu.
"Yah, ngambek." gumam Raka, lalu segera mengambil kunci mobil dan kunci apartemen. Setelah ia mengunci rapat-rapat apartemennya, ia berlari mengejar Kania.
__ADS_1
To be continue...