
Kania POV
Sejak kejadian di mana aku kembali dipertemukan dengan Kesha lalu Raka. Ehm, Kak Raka maksudnya, kehidupanku yang semula membosankan dan jenuh, kini perlahan berangsur membaik.
Apalagi ketika mengetahui bahwa Kak Raka ternyata datang kembali ke Jakarta itu untuk melamarku. Bukan untuk wanita lain yang sempat aku pikirkan sebelum-sebelumnya.
Rasanya, aku begitu bodoh waktu itu. Kak Raka pernah mengutarakan perasaannya padaku ketika dirinya hendak pergi menaiki pesawat. Namun, aku belum sempat menjawabnya waktu itu.
Haah...
Rasanya, aku sudah tidak sabar ingin mengakhiri masa lajangku dan mengganti statusku dengan menikah.
Ahaha. Kenapa rasanya terdengar begitu menggelikan ya?
Oh ya. Hari ini adalah hari di mana aku baru saja menyelesaikan kuliahku. Sudah hampir setengah tahun aku menjalani hidupku dengan adanya Kak Raka di sampingku. Adanya Bang Kesha yang juga sudah mulai kembali pada Mama dan mulai kembali membuka hatinya untuk Mama.
Benar-benar diluar dugaan.
"Kania!" Suara teriakkan dari jarak yang lumayan jauh itu membuatku seketika menolehkan kapala ke belakang.
"Kak Raka!" Teriakku lantas berlari ke arahnya, lalu memeluk tubuhnya erat.
Aku tidak peduli dengan seragam kelulusanku dan topi togaku yang sudah terjatuh ke tanah. Dan aku juga tidak memedulikan pandangan-pandangan berbeda dari orang-orang lain yang ikut diwisuda.
Kak Raka yang mengenakan kemeja lengan panjang kotak-kotak berwarna abu-abu yang digulung sampai sikut, dengan dipadukan kaos putih polos di dalamnya, ditambah dengan celana jeans warna hitam yang dia kenakan, membuat siapa saja akan memujinya tampan.
Ditambah lagi dengan postur bahunya yang cukup lebar dengan tinggi badan seratus delapan puluh tiga, membuat dirinya terlihat begitu sempurna.
Sial. Banyak perempuan-perempuan aneh yang menatap ke arah Kak Raka dengan pandangan memuja. Aku pun lantas melepas pelukan kami dan beralih menatap Kak Raka yang tampak tersenyum hanya padaku.
"Kok cemberut? Bukannya barusan kayak orang kesetanan gitu, ya?" Ucapnya yang terdengar begitu menyebalkan di telingaku.
"Ih, apaan sih? Siapa yang kesetanan!" Ucapku lantas semakin merengut sebal.
Aku sedikit mendengar Kak Raka terkekeh geli. Membuatku semakin kesal saja dibuatnya.
"Marah, nih?" Sahutnya. Aku hanya diam tidak menjawab.
"Oke." Katanya. Aku masih bisa mendengar suara langkah kakinya yang perlahan mulai mendekat ke arahku. Namun, aku tidak peduli. Aku memilih menatap sekitar sembari bersedekap di tempat.
"Kyaaa!" Aku sontak terlonjak, ketika mengetahui bahwa tubuhku terasa melayang ke udara.
Oh, bukan! Ternyata seseorang tengah mengangkat tubuhku ala bridal style yang membuatku spontan mengalungkan kedua lenganku di lehernya.
Dan orang yang tengah mengangkat tubuhku ini adalah Kak Raka. Cogan nyebelin yang membuatku jatuh hati dan sulit untuk berpaling darinya.
"Kyaa! Turuniiinnn!!!" Aku bergerak-gerak dalam gendongannya. Tapi dia malah tersenyum menyeringai sembari melangkah menjauh dari tempat kelulusanku.
"Aaaa, maluuuu..." aku berucap kecil sembari menutupi wajahku yang terasa mulai panas tepat di dada bidangnya.
Gila kali, jika aku terus berteriak! Bisa-bisa orang-orang akan mengataiku gila! Apa-apaan!?
Ini semua salah Kak Raka!
"Kenap diem, Sayang?"
Sial. Kak Raka barusan menganggilku apa? Dan, suaranya terdengar begitu keras seperti baru saja berteriak!
Arghhh... Kak Rakaaaa....
Spontan, aku memukul dadanya cukup keras membuat dia sontak memekik tertahan. Dan aku juga merasakan bahwa langkah kakinya ikut terhenti, membuatku langsung mengangkat wajahku.
"Sakit, Sayang. Jangan dipukulin gitu," ucap Kak Raka. Bukan dengan suara kecil, bukan juga dengan suara yang lantang. Namun sanggup membuat beberapa orang senyam-senyum iri menatap ke arah kami.
"Iih! Kaakk!!!" Teriakan frustasi dariku sembari kembali menyembunyikan wajahku di dada bidangnya membuat Kak Raka lantas terkekeh, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sial!
Hari ini aku benar-benar malu sekaligus senang bukan main. Perlakuan manis sekaligus ucapan yang juga tak kalah manis dari bibirnya membuatku lupa, sedang di mana aku saat ini.
****
"Eh? Raka! Kania! Kalian romantis-romantisan dulu, toh. Pantesan aja lama." Itu adalah suara Mama.
Aku dan Kak Raka yang baru saja tiba di dekat mereka, tepatnya di lapangan luas gedung tempatku wisuda.
__ADS_1
Di sana sudah ada Mama, Papa, dan Bang Kesha. Oh, ada Tante Riyanti dan Om Bram juga. Ehm, calon mertua ehehee.
"Wah! Kalian berdua kayaknya udah pada enggak sabar, ya?" Suara mekengking dari Tante Riyanti membuatku yang baru saja diturunkan dari gendongan Kak Raka tersipu.
Cup
"Haahh!"
Kedua bola mataku lantas membulat sempurna. Sesuatu dengan secepat kilat sudah menyentuh sebelah pipiku. Dan aku tambah kaget, ketika respon kedua keluargaku yang berteriak tertahan ketika menyaksikan Raka yang baru saja dengan frontal mengecup pipi kiriku.
"Kaakkk! Ini di tempat umum, iiih!" Aku berteriak malu sembari memukul sebelah lengannya.
Dia bukannya marah, malah senyam-senyum sendiri sembari menatap ke arahku.
"Wah! Parah! Lo berdua minta dikawinin sekarang, ya?" Suara frontal dari Bang Kesha, membuat kami spontan beralih pandang pada lelaki yang hampir seumuran dengan Kak Raka.
Plak
"Awh!" Bang Kesha memekik kaget sekaligus sakit ketika dengan gemasya, Mama memukul lengan atasnya itu yang hanya terlapisi kaos pendek berwarna putih polos.
"Kalo ngomong tuh yang bener, atau enggak difilter dulu, kek!" Ucapan dari Mama membuat kami lantas tertawa kecil.
"Emang kenapa?" Bang Kesha menatap sok polos ke arah Mama.
"Ck. Yang benar itu 'nikah'! Bukan 'kawin', Keshaa! Kamu ini gimana, sih?"
"Lha? Emang nikah sama kawin, beda yah?" Bang Kesha tampak beralih menatap Kak Raka yang membuat perhatkanku pun ikut menatap ke arahnya.
"Gak usah sok polos!" Ucap Kak Raka terdengar ketus.
Lantas kami semua kembali tertawa. Sungguh, saat ini kami benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga besar.
Ada kedua orangtuaku dan kedua orangtua Kak Raka, juga ada Bang Kesha. Lalu aku dan Kak Raka, kami terlihat seperti pengantin baru yang masih anget-angetnya.
"Duhhh! Kalian bikin iri Mama, deh." Ucap Tante Riyanti, sembari memeluk erat lengan Om Bram yang berada di sebelahnya.
"Daripada iri-irian, mending kita selfi aja! Buat kenang-kenangan!" Seruan dari Bang Kesha membuat kami spontan berucap setuju secara bersamaan.
Bang Kesha lantas mengeluarkan kamera miliknya yang dia ambil dari dalam tas Mama. Dia lalu mulai memposisikan diri sebagai fotografer dadakan. Kami pun dengan tergesa langsung mencari posisi masing-masing agar mendapatkan hasil jepretan foto yang bagus.
"Dasar Adek Sialan lo!" Ucapnya, sembari menatap galak ke arahku.
"Berani lo!" Kak Raka yang berdiri di sampingku bersuara dengan nada yang terdengar tidak suka.
"Omongannya dijaga, Abaaangg..." perkataan panjang dari Mama, membuat Bang Kesha lantas menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
Kami yang melihatnya pun lantas kembali tertawa.
"Maaf, Ma! Enggak sengaja! Tiba-tiba aja meluncur gak bisa dikondisikan, hehe,"
"Huuh... makanya punya mulut tuh dijaga!" Aku kembali berteriak pada Bang Kesha, yang membuat lelaki itu kembali berdecak sebal.
"Iye-iye, bawel! Mau difotoin enggak nih?" Teriaknya yang langsung dibalas ya oleh kami semua.
Lantas kami pun mulai mencari posisi kami untuk berfoto.
Ckrek
Bunyi jepretan pertama dari kamera itu membuat kami mengubah pose kami. Senyum lebar tak henti-hentinya terus terpancar dari wajah kami semua.
"Woe, Rak! Gantian! Masa iya, gue gak ada di foto?" Seru Bang Kesha, menghentikan sejenak aksi memotretnya yang membuat kami serentak berseloroh.
"Cari orang lain aja, gih! Kak Raka enggak boleh enggak ada di foto, ya," ucapku sembari menggandeng mesra lengannya, yang membuat semua orang meneriaki kami berdua.
"Cari orang sana!" Ucapan berat dari Kak Raka membuat Bang Kesha mau tidak mau menyuruh seorang fotografer yang untungnya sangat banyak di area lapangan gedung kelulusan ini.
Bang Kesha pun lantas berjalan ke arah kami dan memutuskan untuk berdiri diantara aku dan Kak Raka. Benar-benar menyebalkan.
"Bisa cari tempat lain aja?" Ucapan kesal dari Kak Raka membuatku was-was. Takut jika dia dan juga Bang Kesha bertengkar memperebutkan tempat.
"Enggak! Gue mau di sini sama Adek kesayangan gue," Bang Kesha lantas memeluk lenganku erat layaknya seorang pasangan.
Aku sedikit takut ketika pandangan mataku tidak sengaja tertuju pada Kak Raka. Tatapannya berubah nyalang bak seekor elang yang sudah siap menyerang mangsanya.
"Oke, semua! Kita hitung dari satu sampai tiga!" Aba-aba dari seorang pria yang tak lain adalah seorang fotografer yang disewa Bang Kesha, membuat kami semua langsung mencari pose yang bagus.
__ADS_1
Namun sebelum si fotografer itu mulai mengambil gambar, Bang Kesha menyempatkan dirinya untuk untuk berbisik pada telinga Kak Raka. Suaranya pun sedikit terdengar oleh pendengaranku.
"Satu jepretan doang! Setelah ini, lo bebas mau pose kek gimanapun sama Adek gue."
"Satu!" Suara aba-aba dari si fotografer membuat perhatianku lantas kembali terarah ke depan.
"Dua!" Senyuman kami lantas semakin mengembang saja mendengar aba-aba terakhir itu.
"Tiga!"
Ckrek
Foto keluarga besar dan lengkap kami akhirnya selesai juga. Sekarang adalah saatnya kami berpose dengan gaya bebas sebebas-bebasnya.
"Nih. Gue serahin Adek gue lagi," Bang Kesha lantas mendorongku ke arah Kak Raka yang disambut senyuman penuh kemenangan dari lelaki itu.
"Sekali lagi ya, Mas!" Ucapan antusias itu terdengar dari bibir Papa. Sontak, aku beralih menatapnya yang berada di sudut tempat bersama Mama yang juga tampak antusias di sana.
Perhatianku kemudian kembali ke depan, karena mendengar aba-aba lagi dari Mas Fotografer itu.
Ckrek
Cup
Bertepatan dengan suara jepretan itu, aku langsung mengecup cepat sebelah pipi Kak Raka dan membuat dia membeku di tempat.
Satu kata yang menggambarkan aku dan kami semua saat ini. Bahagia.
Selain bahagia karena diriku yang telah menyeselaikan bidang studiku, kami juga bahagia karena ternyata Bang Kesha mau memaafkan Mama yang waktu beberapa bulan yang lalu sempat membuatku terjatuh. Dan kebahagiaan kami bertambah ketika Kak Raka pulang untuk melamarku.
Sial. Aku ingin menangis saat ini juga. Namun, aku takut riasanku luntur dan membiat semua orang menertawakan wajahku.
Untuk kalian keluargaku, aku bangga memiliki kalian semua.
Dan untuk kamu, Kak Raka, dosen tampanku, I love you...
—TAMAT—
Thanks for case...
Raka a.k.a Cha Eunwoo ASTRO
Kania a.k.a Ryujin ITZY
Kesha a.k.a Wonwoo SEVENTEEN
Fadil a.k.a Sanha ASTRO
Vanya a.k.a Lia ITZY
Kayla a.k.a Chaeryeong ITZY
Veera a.k.a Yeji ITZY
Sasha a.k.a Minju IZ*ONE
Reval
__ADS_1