My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Kania Yg Mengalah


__ADS_3

Periksa Kalo Ada Typo!


Happy Reading❤


****


Kania baru saja menyelesaikan makan malam dengan perasaan kekenyangan. Ia menaiki anak tangga untuk sampai ke lantai atas. Lantai dimana kamarnya berada.


Kania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yg nyaman dan empuk. Ia bahkan sempat memejamkan matanya sebentar. Namun tak lama kemudian, ia kembali membuka kedua bola matanya.


"hp gue dimana, ya?" gumam Kania. Kemudian, ia beranjak dari tempat tidur untuk mencari letak dimana ponselnya berada.


Kania terus mencarinya di mulai dari meja nakas, di dalam laci, di dalam tas punggung yg ia pakai tadi siang dan di bawah tempat tidur.


"ck. hp gue mana, sih?" Kania berdecak sambil berkacak pinggang. Tatapannya tak berhenti untuk terus menjelajah seisi kamarnya. Namun, ia tidak menemukan benda pipih persegi tersebut.


"iih. kok gue bisa lupa sih? dimana ya?" Kania berdecak kesal. Pasalnya, sikap pelupanya ini sering sekali datang. Membuat kesabaran nya di uji untuk beberapa kali.


tok tok tok.


Sebuah ketukan pintu di sertai suara dorongan pintu, mengalihkan perhatian Kania.


Seolah mendapat pencerahan, Kania tersenyum manis pada sang mama yg baru saja memasuki kamarnya.


"ngapain kamu senyum-senyum begitu?" sahut Mama Andin, dengan alis mengerut.


"hehee... mama lihat hp aku gak?" tanya Kania dengan seulas cengiran dalam perkataan nya.


Mama Andin menghembuskan nafasnya di sertai gelengan kepala beberapa kali. Putrinya ini memang selalu menjadi yg terbaik untuk melupakan benda-benda di sampingnya.


"ya mana mama tahu! mama baru aja masuk kesini!" ketus Mama Andin, sembari mengangkat bahunya.


Kania mendengkus kesal. Ia meringis, mencoba mengingat kembali ingatannya yg hilang beberapa saat. Tak lama kemudian, sebuah ingatan melintasi pikirannya. Kania membulatkan mulutnya, kedua matanya juga membulat sempurna.


"di ruang tengah!" Teriak Kania, lalu berlari keluar dari kamarnya. Meninggalkan sang mama sendirian di tempat.


"kebiasaan!" gumam Mama Andin. Kemudian berjalan keluar dari ruang kamar putrinya.


****


"Bang Kesha!!!" teriak Kania, saat dirinya tengah berdiri di atas anak tangga terakhir.


Sang pemilik nama menoleh ke sumber teriakan. "Eh? Tumben lo ada di rumah! Bukannya anak kost ya?"


Kania mendengus kesal. Ia pun segera berjalan dengan langkah kaki yg sengaja di hentak-hentakan kasar. Raut wajahnya pun berubah menjadi kecut. Tak ada sebuah senyum yg menyungging di wajah cantiknya.


"Sejak kapan lo disini?" sahut Kania. Saat jarak keduanya sudah berhadapan.


"Sejak tadi sore! Tapi, gue pergi main sebentar ke klub malam!" ujarnya santai. Sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Cih. Masih sore ke klub malam. Gak ada kerjaan banget!" gerutu Kania jengah.


"Lo gak mau nanya-nanya gitu, gue ngapain aja di Swiss? atau apa kek?" tanya Kesha, mengubah topik pembicaraan. Sembari menatap layar ponsel milik Kania.


"Ngapain nanya-nanyain lo? Kayak gak ada kerjaan aja! oh iya, btw! Itu hp gue sini in dong!" jawab Kania malas. Kemudian, tangan nya mulai mencoba merebut ponsel yg sedari tadi berada di genggaman Kesha. Namun belum sempat Kania rebut, Kesha sudah lebih dahulu menariknya.


"Ih! Sini in gak!" protes Kania.


"Emang ini punya siapa sih?" tanya Kesha, seolah tidak tahu


"Ya, jelas itu punya gue lah! Sini in gak!" Kania berusaha meraih ponselnya yg berada di tangan Kakak Lelaki nya ini. Tapi tidak pernah berhasil, sampai-sampai, Kania menaiki sofa yg di duduki Kesha. Mencoba untuk merebut kembali ponselnya.


"sini in gak!" bentak Kania, mencoba meraih ponsel tersebut dengan segala cara.

__ADS_1


"gak mau! emang ada apaan sih di dalem, hm? pelit banget deh, kan cuma minjem!" protes Kesha. Mencoba untuk menjauhkan ponsel adiknya.


"kapan lo bilang minjem, hah? yg ada, lo tuh main nyosor aja! udah tahu itu hp orang, sembarangan mainin aja deh! balikin gak!!" celoteh Kania. Masih berusaha mengambil ponsel ditangan Kesha.


"KANIA!!! KESHA!!!" suara teriakan nyaring menghentikan kegiatan mereka berdua. Perhatian mereka pun beralih menatap sang mama, yg kini tengah berdiri sambil berkacak pinggang. Ia baru saja menuruni anak tangga.


"wadidaw!!! kanjeng mami ngamuk nih!"- Batin Kesha.


" ampun gusti!!! kalo tuh orangtua udah ngamuk begitu, yg ada pasti ujung-ujung nya belain Bang Kesha! dan pasti nyalahin gue lagi! apes dah! papa kesayangan gue dimana cobaaa!!!"- Batin Kania


Mama Andin berjalan mendekati keduanya dengan tatapan nyalang yg siap membunuh. Membuat suasana seakan di penuhi kabut hitam tebal yg menakutkan.


Kania menelan ludahnya susah payah. Sementara Kesha terlihat biasa-biasa saja.


Dasar Abang sialan!


Kini, letak Mama Andin sudah berada di hadapan kedua putra putrinya. Ia menghembuskan nafas panjang kemudian membuangnya sembarangan.


"Bisa gak, kalian ini sehari aja gak usah berantem? capek mama liatin nya!" Cerocos Mama Andin.


Kania meringis sambil terus menggigit bibir bawahnya. Dan Kesha? Ia malah terlihat sedang menggaruk belakang kepalanya yg sama sekali tidak terasa gatal.


"Kania yg mulai, ma!" sambar Kesha. Menyerahkan kesalahannya pada Adiknya.


Kania menoleh ke arah Kesha, "Kok jadi gue? bukan nya lo yg mulai, yah?" celoteh Kania, tidak terima.


Mama Andin terlihat mengerutkan keningnya sembari memejamkan kedua bola matanya. Satu kepalan di tangan kanannya terlihat, seakan sebentar lagi dirinya akan melayangkan sebuah pukulan.


"Enak aja! Kan gue bilang minjem! Gak denger atau emang tuli lo!"


"What? Gue gak tuli yah! emang elo nya aja yg main nyosor-nyosor aja sama barang orang! dasar gak tahu malu!"


"gue lo bilang gak tahu malu? lo yang—"


"Mama baruuuu aja bilang, bisa gak sih sehari aja jangan berantem' kalian udah nyosor aja! emang kalian gak capek apa? tiap ketemu, marah-marah, adu mulut, untung gak sampe ada kekerasan!" cerocos Mama Andin, membuat keduanya menudukan kepala ke lantai.


"Pake kekerasan juga gak masalah! Kan si Kania jago taekwondo!" gumam Kesha, yg sedikit terdengar oleh pendengaran mamanya.


Kania menyikut pinggang kakaknya, mencoba untuk memberhentikan ocehan yg jika diprediksi, sebentar lagi akan keluar lewat mulut pedas Kesha.


"Kamu bilang apa barusan, Kesh?" tanya Mama Andin. Menginterogasi putra sulungnya.


Kesha tunduk, tapi raut wajahnya datar. Seakan tak berdosa, ia hanya bisa terdiam seperti itu.


Menghembuskan nafas berat. Mama Andin mendudukan bokong nya di salah satu sofa di ruang tengah. Tatapannya lurus ke depan, tanpa melirik ke arah kedua putra putrinya.


"mama heran sama kalian! berantem mulu kayak anjing sama kucing. dulu waktu kecil aja saling menjaga, sekarang?! jadi musuhan gini! mama benar-benar heran!" ujar Mama Andin, sambil berdecak di akhir kalimatnya.


Kania dan Kesha menoleh ke arah diri mereka bersamaan. Kemudian, mereka saling membuang muka tanpa mengeluarkan suara pembelaan apapun.


"Kamu juga, Kan! kamu itu cewek, dulu aja suka lemah lembut sama kakak kamu! sekarang? kok hobinya ngelawan?" Kania terjengit, mendengar penuturan mamanya yg seakan tengah menyalahkan dirinya.


Yap. Belum selesai Kania bergumam dalam hatinya tadi, ucapan yg seharusnya hanya menjadi ekspektasinya belaka, kini diucap dengan lantang oleh mamanya.


"tuh dengerin!" Kesha unjuk bicara. Kania mendelik tajam menatap dirinya. Deru nafasnya tidak teratur. Sebuah amarah berusaha ia pendam sendirian di dalam hatinya. Ia mencoba setenang mungkin, untuk menghadapi sikap mamanya yg selalu menyalahkan dirinya ketimbang Kesha.


"Mama tuh berharap kamu jadi anak cewek yg baik, berpenampilan baik, bermulut sopan, bukannya begini! Gaya fashion aja udah kayak cowok, ke kampus pake motor gede, semua pakaian kamu di lemari gak ada satupun rok atau pakaian feminim lainnya. Kamu tuh harus menjaga sikap kamu, Kan! Kamu itu udah dewasa, masa kamu mau terus-menerus kayak gini? gak berubah? terus gimana caranya nanti kamu cari calon suami, sedangkan kamu sendiri udah kayak anak laki!"


Kania memandangi raut wajah Mama Andin tanpa ekspresi. Namun itu mampu membuat rasa sakit di hatinya ini muncul. Kata-kata menyakitkan yg keluar dari mulut mamanya begitu menusuk sampai ke ulu hati. Mau bagaimana pun, Kania begini juga karena sikap mamanya yg lebih mementingkan Kesha.


Ok!


Jika di ingat-ingat, mamanya tadi sedang mengoceh tentang bisakah mereka berdamai, tapi lihatlah! Mama Andin malah berbicara kemana-mana. Menyangkut pautkan kehidupan yg ia jalani tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


Baiklah! Kesabaran manusia itu ada batasnya, sama seperti kesabaran yg dimiliki Kania saat ini. Dari pada menjawab semua celotehan mamanya dengan ungkapan kasar, Kania lebih baik menjawabnya dengan seulas senyum.


"oke. kalo mama emang gak suka sama Kania dengan keadaan Kania yg seperti ini. Okey, Fine!"


Kania melenggang meninggalkan ruang tengah, yg di ketahui adalah ruang keluarga. Kesha yg melihat adiknya yg berlalu begitu saja, mencoba untuk menarik pergelangan tangan Kania.


"lo mau kemana, Kan?" tanya Kesha, khawatir.


"apaan sih lo, so care banget deh sama gue!" ketus Kania, sembari menepis cengkeraman dari tangan Kesha.


"ya, emang gue care sama lo! lo adek gue, Kania!" teriak Kesha nyaring. Kania nampak tidak peduli.


"kalo gitu, makasih! karena udah care sama gue, tapi sorry! gue mau ke kamar, mau ambil kunci motor gue!" ucap Kania. Lalu melenggang menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa.


Mama Andin hanya menghembuskan nafasnya gusar. Ia juga terlihat tengah memijit panggal hidungnya sambil meringis sesekali.


Kania kembali menuruni anak tangga, tanpa membawa apa-apa. Terkecuali sebuah kunci motor di tangan nya. Kania tidak menoleh ke arah mama atau pun kakaknya. Ia lebih baik melenggang meninggalkan keduanya.


"Kania, lo mau kemana?" sahut Kesha, tanpa merubah posisi berdirinya.


Kania tidak menjawab sahutan dari Kesha. Ia sibuk berjalan sampai-sampai, ia menghiraukan kebaradaan papanya yg baru akan menyapa Kania.


"Lho? kamu mau kemana malem-malem gini? ke kost-an?" tanya Papa Hendra kebingungan.


"bukan urusan kalian!" ketus Kania. Lalu menghidupkan mesin motor dan menjalankan nya keluar area halaman rumah.


Pintu gerbang yg terbuka, memudahkan Kania untuk melancarkan acara pelariannya.


"KANIAAA!!!" Kesha mengejar Kania sampai di balik pintu. Namun nyatanya, Kania sudah pergi lebih dahulu meninggalkan kediaman rumah tersebut.


Papa Hendra menoleh ke arah Kesha dengan tatapan bertanya-tanya.


"Kamu marahan lagi sama Kania?" tanya Papa Hendra, Kesha melirik sekilas.


"Bukan Kesha, tapi kali ini mama!" jawab Kesha, sontak membuat raut wajah Papa Hendra menegang.


****


Kania terus menjalankan motor sportnya, menjauh dari suasana perkotaan. Ia bahkan lupa membawa dompetnya, hanya selembar uang seratus ribuan yg mungkin tidak sengaja berada dalam saku celananya.


Kedua bola matanya tak merasa perih sedikitpun, mengingat ia memakai helm dan membuka bagian kacanya.


Kania tidak berniat untuk pergi ke kost-an, ia tahu betul. Keluarganya pasti akan mencarinya disana. Atau mungkin tidak. Tapi kali ini, Kania ingin suasana yg berbeda. Ia akan pergi ke perkampungan untuk mencari udara segar. Atau jika tidak ke perkampungan, ia akan pergi ke pantai. Tempat dimana dirinya akan menghabiskan waktu untuk menenangkan pikiran.


"Mama tuh berharap kamu jadi anak cewek yg baik, berpenampilan baik, bermulut sopan, bukannya begini! Gaya fashion aja udah kayak cowok, ke kampus pake motor gede, semua pakaian kamu di lemari gak ada satupun rok atau pakaian feminim lainnya..."


Kania masih mengingat ucapan yg seakan adalah sebuah penghinaan tentang dirinya. Seburuk itukah Kania, yg memiliki kepribadian tomboy dan cuek di mata sang mama?


"Astaga, Kania! lo gak usah cengeng! lo itu badan aja yg cewek, tapi ingat! jiwa lo tuh laki!" gumam Kania, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Ia mencoba menyangkal air mata yg sedikit menuruni wajah cantiknya. Kania bertekad untuk tidak menangis, apapun yg terjadi! Kania itu jago dalam segala hal! Kania bisa melewati ini semua! Hanya kabur seberapa hari, tidak akan ada masalah kan?


To be continue...


Helo guys!!


maaf bgt, up nya selalu lama!


awalnya sih mau kemarin malem, tapi malah ketiduran! jadi hari ini deh, di tambahin kok up nya! tuh, ini juga udah 1800 kata lebih aku ketiknya. jan marah plis!!


kalo gitu, aku pamit dulu!


Bye Bye:*

__ADS_1


__ADS_2