
Kania berjalan dengan langkah pelan, ketika ia hendak berjalan menghampiri sosok pria yang kini tengah berdiri jauh dari hadapannya.
Raut wajah Kania nampak berseri-seri. Langkahnya yang pelan, menambahkan kesan keanggunan sosok gadis berpenampilan tomboy itu.
Ya. Gadis itu kembali berpenampilan seperti semula. Ia merasa tidak cocok dengan gaya nya yang waktu itu.
Terlalu bukan dirinya, menurut Kania.
Langkah Kania terhenti sesaat keduanya sudah saling berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter.
Mereka nampak saling pandang dengan raut wajah mereka yang terlihat sama-sama menampilkan raut wajah yang berbeda.
Kania nampak tersenyum, namun senyuman itu menyimpan sebuah rahasia yang tidak diketahui siapa pun.
Dan Raka nampak diam dengan raut wajah datar. Namun tatapan mata pria itu sangatlah dalam ketika ia menatap mata Kania.
"Saya harus pergi." sebuah ucapan to the point yang keluar dari mulut Raka, sukses membuyarkan lamunan Kania.
Ya. Gadis itu melamun dalam senyumannya. Jika boleh jujur, Kania merasa tidak rela jika harus ditinggal pergi begitu saja oleh Raka. Tapi mau bagaimana lagi? Sepertinya ini sudah takdir!
"Saya harus pergi sekarang juga. Saya sudah tidak punya waktu lagi, Kania. Dan... Saya tidak akan pulang dengan cepat ke Jakarta. Mungkin satu atau dua tahun lagi saya pulang. Jaga diri kamu baik-baik." setelah mengatakan hal demikian, Raka lalu memeluk tubuh Kania dengan erat. Membuat gadis itu terkejut sekaligus memaku di tempat. Bingung harus bereaksi seperti apa!?
Tak lama setelah selesai memeluk Kania, Raka lalu melepaskan pelukan itu dan beralih menatap wajah gadis yang menurutnya adalah gadis unik. Gadis unik yang mampu membuat dirinya menyukai tingkah serta kejutekan Kania dalam berbicara.
"Saya pergi. Selamat tinggal, Kania." lalu Raka pun berbalik meninggalkan Kania yang sedari tadi terus terdiam di tempat.
.
.
.
Kania tersadar dari lamunannya. Sial. Kenapa juga Kania harus melamun? Dan saat ia melihat sekeliling, ia sudah tidak menemukan siapa pun.
Tunggu! Dimana Kak Raka?
Seketika, tatapan matanya beralih menatap tempat landasan dengan salah satu pesawat yang terlihat akan segera meluncur.
"Enggak! Enggak mungkin! Selama apa si, gue ngelamun!" Kania bergerak gelisah. Melihat sebuah pesawat yang sudah terlihat bergerak, hendak terbang sebentar lagi.
Tidak! Kania belum mengatakan apa-apa pada Raka. Ini tidak boleh terjadi. Kania harus menyusulnya.
__ADS_1
Tring!
Nada dering pesan pada ponselnya berbunyi terus-menerus. Menampilkan deretan pesan yang dikirim seseorang dengan beruntun.
Tanpa ragu lagi, Kania pun membuka pesan tersebut dan membacanya.
Isi pesan itu mampu membuat tubuh seorang Kania tersungkur dan merosot ke tanah. Air matanya mengalir deras membaca isi pesan tersebut.
"Beberapa tahun lagi? Harus banget gitu, gue nunggu lo, hah? Dia gila kali!"
Tak lama kemudian, pesan itu kembali bermunculan. Kania pun kembali membacanya dengan saksama.
"Cih. Mau gue berubah? Jangan harap!" gerutu Kania, lalu beranjak dari posisinya dan meninggalkan bandara.
Tanpa ia ketahui, seseorang dari kejauhan nampak memerhatikan gerak-geriknya. Bahkan, orang yang memerhatikan nya itu sudah tiba disana sebelum Kania datang.
Ya. Orang itu datang hanya untuk melihat Raka. Hingga tak sadar, bahwa tibalah Kania disana.
****
Hari demi hari Kania lewati dengan membosankan. Ia selalu menghadapi kesehariannya di kampus dengan sendirian.
Vanya?
Gadis itu seolah menghilang di telan bumi. Tak memberi kabar. Tak ada tanda-tanda ia sakit atau semacamnya.
Namun, ada sebuah rumor mengatakan bahwa gadis bernama Vanya itu melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
Sempat Kania merasa kecewa karena sahabatnya yang satu itu meninggalkannya tanpa kabar. Setidaknya kirimi Kania pesan chat juga tidak masalah. Asalkan sahabatnya itu tidak menghilang begitu saja.
"Padahal tiga semester lagi juga lulus. Kenapa Vanya pindah tanpa sepengetahuan gue? Apa gue masih sahabatnya?" Kania bergumam sendiri ketika dirinya berada di salah satu kantin di kampus.
Ia terus bergumam tanpa berniat memakan makanannya. Tak ada nafsu sama sekali bagi Kania untuk mencoba memakan mie rebus yang ia pesan beberapa menit yang lalu.
"Ah... Kenapa juga gue beli mie rebus? Gak dimakan kan, ujungnya?" tanya Kania pada dirinya sendiri.
Kania lalu mengambil nafas panjang kemudian membuangnya perlahan. "Habisin, deh! Mubazir, kan?"
__ADS_1
****
.
.
.
.
Hari telah berganti minggu. Minggu telah berganti bulan. Dan bulan telah berganti tahun. Sudah setahun pula Kania mencoba untuk melupakan beberapa ingatan tentang sosok pria yang ia temui setahun yang lalu di bandara.
Namun, apa nyatanya? Kania tidak bisa melupakan pria itu. Seolah perkataannya waktu itu adalah sebuah pernyataan cinta yang menunggu seseorang untuk segera membalasnya.
"Lha, emang itu pernyataan cinta, kan?" Kania menutup mulutnya sendiri. Kedua matanya membulat ketika tidak sadar ia mengucapkan kalimat asing yang terucap begitu saja.
Kania lalu menggeleng cepat kepalanya sembari memejamkan kedua mata. Tidak. Apa-apaan itu?
"Udahlah! Ngapain mikirin yang begituan. Mending belajar buar persiapan KKN buat bulan depan. Ngapain mikir begituan!" gumam Kania, lalu mengemas buku mata pelajarannya ke dalam tas. Dan berjalan keluar dari dalam kelas.
Di perjalanan pulang, Kania sama sekali tidak menggunakan kendaraan bermotor nya lagi untuk alat transportasi pulang-pergi dari kampus ke rumah. Ia lebih sering menggunakan taksi ketimbang memakai motor sport nya.
Namun tidak berlaku sedikit pun untuk taksi saat ini. Ia lebih memilih berjalan kaki, karena saat ini ia tidak akan pulang ke rumah. Melainkan pergi ke kosan yang jaraknya tak terlalu jauh dari kampus.
Dan berpenampilan lah seperti seorang wanita. Pasti sangat cantik...
Kania menghentikan langkah kakinya. Ketika sebuah bayangan pesan dari seorang pria setahun yang lalu, melintasi otaknya.
"Astaga! Gue udah gila atau gimana? Masa iya, pesan chat setahun yang lalu aja keinget nya sampe sekarang?" Kania bergumam sendiri sembari terus berpikir keras dalam otaknya.
Namun, semakin Kania berpikir keras, semakin jelas bayangan pria itu ketika tengah bersamanya. Berbicara dengannya. Mengajaknya ke mall dan lain sebagainya.
Menghela nafas panjang, kemudian Kania memutuskan untuk berjalan mencari taksi. Ia tidak akan pulang ke rumah maupun pulang ke kosan. Ia akan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu.
Sesuatu untuk mengubah dirinya menjadi seorang wanita yang baik dan sempurna.
"Gue pasti bisa!"
To be continue....
Beberapa part menuju end:*
__ADS_1