
Sore pun tiba, Vanya memasuki pintu rumah mewahnya dengan langkah yang lesu. Gadis itu terlihat tidak bersemangat. Raut wajahnya memucat, menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
"Lho? Non Vanya udah pulang?" sebuah sahutan milik seorang wanita paruh baya, mengalihkan perhatian Vanya. Bi Asri.
Vanya hanya tersenyum sambil terus berjalan memasuki ruangan. "Vanya, gak pa-pa kok, bi. Cuma capek aja! Kalo gitu, Vanya mau langsung istirahat ya, bi" Vanya melengos setelah menyelesaikan ucapannya. Ia tidak memberikan kesempatan pada Bi Asri yang di ketahui adalah pembantu di rumahnya ini untuk kembali menanyakan pertanyaan.
Bi Asri menghembuskan nafas panjang. "Mau bibi buatin sesuatu, Non?" sahutnya. Memberhentikan langkah Vanya sejenak, untuk menaiki anak tangga.
Vanya menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju pada Bi Asri. "Mm... Bikinin mie goreng kesukaan Vanya, ya Bi!"
Bi Asri tersenyum manis. Kemudian ia mengangguk sebagai jawaban. "Kalo begitu... Mau biasa aja, pedes atau super pedes?"
Vanya terkekeh pelan. "Mm... Yang sedang aja!"
Bi Asri pun mengangguk, tak lama kemudian, ia melenggang meninggalkan ruang tengah menuju dapur.
Vanya tersenyum tipis. Melihat bagaimana cara wanita paruh baya itu memanjakannya, ia jadi merasa melihat sosok IBU disana. Vanya tahu! Ia juga masih memiliki sosok Ibu di hidupnya. Namun, ibunya tidak pernah memanjakan dan memberikan kasih sayang selayaknya seorang ibu pada anaknya. Wanita yang menjadi ibunya itu hanya sibuk dengan pekerjaan. Ayahnya pun sama. Sama-sama sibuk, hingga tak ada waktu baginya untuk sekedar bercengkrama atau bahkan berkumpul bersama.
Vanya kembali menaiki anak tangga, menuju kamar yang terletak di lantai dua.
Sesampainya disana, ia mengunci pintu kamar kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Pikirannya penuh dengan bayangan Raka yang tengah tersenyum manis pada Kania tadi siang. Bahkan, lelaki yang menjadi dosennya itu hanya tersenyum simpul, ketika Vanya bertanya suatu hal padanya.
Lain halnya pada Kania. Gadis berwajah datar, berhati dingin itu yang tak pernah melontarkan pertanyaan pada Raka, hanya bisa diam. Ia selalu membungkam mulutnya, ketika Vanya berusaha mengajak Raka untuk mengobrol hangat dengan dirinya.
Namun, entah mengapa. Raka lah yang selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tidak terlalu penting itu. Kania yang awalnya bungkam, mulai menjawab beberapa pertanyaan yang sanggup ia jawab.
Sungguh demi apapun!
Vanya kesal ketika melihat kedekatan Kania dan Raka. Api cemburu yang berada di dalam tubuhnya ini pun mulai membara.
"Sebenarnya... Ada hubungan apa, Kania sama Kak Raka? Kok kayak dekat gitu, ya?" Vanya bergumam, sembari terus merebahkan tubuhnya tanpa berniat untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.
Tok tok tok
Sebuah suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Vanya dari berbagai pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Raka maupun Kania.
__ADS_1
"Mie goreng nya udah siap, Non. Tinggal di makan aja! Mau bibi anterin ke kamar, atau Non Vanya yang turun ke bawah?" suara teriakan khas dari Bi Asri, membuat Vanya segera merubah posisinya menjadi terduduk.
"Aku aja yang turun ke bawah, Bi!" balas Vanya, dengan teriakan yang sama.
"Oke, Non!"
Vanya segera beranjak dari tempat tidur, untuk menuju kamar mandi. Ia akan melakukan rutinitas mandi yang selalu ia lakukan sehari dua kali.
Sebelum ia memasuki kamar mandi, ia membuka lemari bajunya terlebih dahulu untuk mengambil beberapa handuk yang akan ia gunakan nanti setelah mandi. Setelah mendapatkan barang yang ia inginkan, Vanya pun mulai memasuki kamar mandi.
****
Kania terkekeh sendiri, saat sebuah bayangan manis melintasi isi pikirannya. Bayangan manis itu seolah tidak menghilang sedari tadi. Kania terus tersenyum, sampai sebuah suara dering telpon membuyarkan lamunan nya.
Kania menoleh ke arah ponsel yang kini tengah berada di atas meja nakas. Ia meraih ponsel itu, tanpa melirik siapa orang yang tengah menelponnya, langsung saja ia menggeser tombol hijau yang terletak pada layar ponsel.
"Halo?"
"Ka-Kania..." sebuah suara yang sangat Kania kenali. Suaranya terdengar gugup dan sedikit bergetar. Membuat Kania mengerutkan kening, tidak berniat menjawab sahutan itu.
"Ka-Kania... Kamu masih disana kan?" sahut nya lagi, saat Kania benar-benar tidak menjawab apa-apa.
Jleb.
Dadanya terasa sesak, saat mendengar sebuah balasan yang memanggil dirinya dengan senitan Tante!
Mama Andin terisak di seberang telpon. Ia merasa lebih bersalah, setelah apa yang ia lakukan pada Kania. Sebuah kesalahan yang mampu membuat panggilan Mama berubah menjadi Tante.
"Kok, kamu bilang nya tante, sih? Ini mama, Kania..." lirihnya. Membuat Kania menelan ludahnya susah payah.
"Bukannya... Aku bukan anak Mama Andin, ya?" sebuah panggilan tak asing, terucap oleh bibir Kania. Mama Andin sedikit menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Maksud aku, Tante Andin!" ralat Kania, sembari mendengus kecil.
Mama Andin merutuki dirinya sendiri. Ia ingin berucap kata Maaf, pada gadis itu. Namun terasa sangat sulit.
Maaf.
__ADS_1
Empat kata, satu arti, namun sangat sulit di ucapkan oleh Mama Andin.
Wanita paruh baya itu masih setia terdiam di seberang telpon. Membuat Kania, kembali mendengus kesal.
"Kalo gak ada yang lain, aku tutup telponnya" timpal Kania. Terdengar suara deru nafas tidak teratur dari seberang sana. Kania yang awalnya akan langsung mematikan sambungan telpon, hanya bisa menjeda sebentar.
"Jangan. Mama mau ngomong sama kamu, Kania. Kamu jangan tutup telpon nya, ya? Mama mohon" terdengar nada suara memelas di seberang sana.
Kania merasa tidak tega. Ia pun memilih untuk diam dan terus mendengarkan ucapan selanjutnya yang akan keluar dari mulut Mama Andin.
"Kania. Kamu pulang ke rumah, ya? Mama mohon... Papa kamu lagi sakit, kamu pulang ke rumah ya?"
Kedua bola mata Kania membulat sempurna. Tubuhnya pun berubah menjadi kaku dengan dari nafas yang sedikit tercekat.
Apa katanya tadi?
Papa sakit?
Kania tidak berniat untuk menjawab. Ia lebih baik diam dan terus mendengarkan ucapan selanjutnya yang akan terucap dari bibir Mama Andin.
"Sekarang papa kamu sedang di rawat di rumah sakit deket kampus kamu. Kalo kamu ada waktu, tolong jengukin papa kamu, ya! Mama mohon!"
Kania tertawa dalam hati. Rasa luluh di hatinya, hancur begitu saja ketika mendengar nada suara memohon namun memiliki arti terselubung di dalamnya.
Mama Andin, memohon padanya hanya demi Papa Hendra yang tengah di rawat. Kania sempat berpikir, mungkin Mama Andin akan mengatakan hal baik tentang dirinya atau mengatakan akan menganggap Kania sebagai putri kandungnya atau apalah itu yang mampu membuat Kania luluh.
Tapi, lihatlah!
Wanita paruh baya itu hanya memohon untuk meminta Kania menemui suami nya yang tengah terbaring lemah di rumah sakit.
"Oh. Bisa sebutin, di ruangan mana?" balasan yang dingin tanpa perasaan itu, Kania coba lontarkan. Ia ingin mencoba untuk bersikap kuat dan biasa saja. Namun, baru beberapa detik ia berkata demikian, setetes air mata menuruni wajah cantiknya.
"Nanti mama kirimin lewat pesan, ya? Kamu beneran mau ke rumah sakit, kan?" tanyanya antusias.
"Ya" hanya itu yang mampu terucap di bibirnya. Tak lama kemudian, Kania memutuskan panggilan itu dengan sepihak.
Kania tidak ingin terlalu memikirkan Mama Andin!
__ADS_1
To be continue...