My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Kania Devanya POV


Aku dan Kak Raka turun dari mobil, hendak memasuki rumahku. Aku menyuruhnya untuk mampir terlebih dahulu sebelum ia memutuskan untuk pulang. Awalnya dia menolak, namun aku berhasil membujuknya dengan pesona tomboyku.


Ya. Aku akui, aku memang tomboy. Tapi, dia seolah menyukai dengan sifat ku yg begini.


Kami akhirnya berjalan ke arah ambang pintu. Saat hendak membuka pintu, aku mendengar suara kegaduhan yg aku tebak pasti itu suara Kak Kesha.


Aku juga menebak, pasti ia memarahi mama atau papa. Karena tidak ada satu pun yg mengejarku saat aku kabur tadi. Ku akui, Kak Kesha memang terlihat menyayangiku. Namun, karena sikapnya yg menyebalkan dan selalu paling di perhatikan mama, aku pun mulai sedikit menjauhinya. Membencinya.


"Kenapa kalian rahasiain ini begitu lama, hah? Kenapa? Kenapa gak kasih tahu dari awal kalau Kania itu bukan anak kandung mama!"


Tubuhku memaku seketika. Saat sebuah ungkapan mengejutkan memasuki indera pendengaranku. Kedua mataku serasa panas seketika. Tubuh ku bergetar. Air mata perlahan menuruni wajahku.


"Apa?" teriakku dan Kak Raka secara bersamaan.


Seolah terkejut, perhatian mereka teralihkan pada kami yg masih diam berdiri di ambang pintu.


"Kania!?"


Air mataku berjatuhan. Tak bisa lagi ku bendung. Jadi, inilah mengapa mama tidak pernah menganggapku? Karena aku... Bukan anaknya kah? Lalu... Apa aku juga bukan anak dari papa!?


Berbagai pertanyaan terbesit di pikiranku. Tubuhku rasanya akan goyah sebentar lagi. Jika saja Kak Raka tidak merengkuh tubuhku.


Dengan kasar, aku menepisnya. Berjalan ke arah kedua orangtua ku. Mencoba untuk meminta penjelasan.


"Maksud nya apa?"


Kania Devanya POV END


"Maksud nya apa?" tanya Kania dengan kedua mata yg sembab dan mata yg sudah memerah.


Kania terus mengalirkan cairan putih bening dari pelupuk matanya. Bibirnya juga bergetar. Menandakan bahwa dirinya tidak bisa berkata lain selain bertanya apa maksud dari perkataan mereka barusan.


"Kania! Mama—"


"Apa maksud dari AKU BUKAN ANAK MAMA!!!" teriak Kania, menekan beberapa kalimat.


Mereka semua terdiam. Tidak ada yg menjawab pertanyaan Kania. Hanya kesunyian dan suara isakan tangis yg sedari tadi Kania tahan.

__ADS_1


"PAPA!!! Apa maksud dari ucapan Kak Kesha tadi?" sahut Kania. Dengan nada suara serak dan terdengar sangat pelan.


Papa Hendra berjalan ke arah putrinya. Raut wajahnya terlihat kusut bagai pakaian yg belum di seterika. Kedua alisnya bertaut. Ia bingung, bagaimana dirinya harus memulai kata-katanya!?


"Kania... Maaf—"


"Aku gak butuh permintaan maaf! Aku hanya butuh PENJELASAN!" sela Kania, sebelum Papanya menyelesaikan ucapannya.


"Maafin papa, Kania! Kamu anak papa... Tapi... Kamu bukan darah daging mama kamu"


Kania mengepalkan kepalan di tangannya. Kedua matanya terpejam keras. Air matanya terus membasahi wajah cantiknya.


Kania melirik ke arah Mama Andin. Wanita paruh baya itu hanya diam, tidak bersuara. Bahkan setetes air mata pun tidak terlihat mengalir di wajah cantiknya.


Tak lama kemudian, Kania melirik ke arah kakaknya. Terlihat raut wajah penuh kekesalan memenuhi wajahnya. Kusut dan memerah padam.


"Berarti... Kania disini bukan siapa-siapa kan?" sahut Kania. Semua orang disana mulai menatap ke arahnya.


"Karena Kania udah tahu semuanya, lebih baik Kania pergi. Gak ganggu kalian lagi. Gak bebanin kalian lagi" Kania menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum ia menyelesaikan ucapannya. "Terutama mama!"


Kedua bola mata Mama Andin membuat sempurna. Tatapannya kini beralih menatap ke arah Kania. Dengan tatapan berkaca-kaca.


Papa Hendra terlihat frustasi. Ia terlihat mengacak rambutnya dibarengi dengan erangan penuh penyesalan.


"Puas kamu buat anakku menderita?" teriak papa Hendra sambil terus meneguk saliva.


Mama Andin hanya diam menunduk. Air matanya kini mengalir membasahi wajahnya.


Ia baru merasa sadar, bahwa dulu dirinya selalu membuat gadis itu menderita. Padahal, gadis itu tidak bersalah. Ia tidak tahu apa-apa. Tapi kenapa dirinya harus jahat begini?


"Apa benar, Kania bukan anak kalian?" suara sahutan berat milik seorang laki-laki yg berada di ambang pintu.


Kedua orang tua itu mulai menatap Raka dengan tatapan berbeda.


"Dia anak saya! Anak kandung saya! Tapi seseorang sudah membuatnya salah paham" Papa Hendra membuka suaranya. Kedua bola matanya menyipit tajam menatap ke arah Mama Andin.


"Saya sudah pernah bilang sama kamu. Jika kamu punya masalah, jangan hancurkan perasaan anak saya. Katakan saja pada saya, biar saya yg merasakan akibat dari perbuatan saya di masa lalu. Anak saya tidak perlu!" ucap Papa Hendra, kemudian melenggang begitu saja menuju kamar utama yg berada di lantai satu.


Bersamaan dengan Papa Hendra yg meninggalkan ruang tengah, Kesha juga pergi ke kamarnya yg berada di lantai dua. Dan disitu juga, Raka berlari mencoba untuk mengejar Kania. Ia yakin, gadis itu pasti belum jauh. Mengingat bahwa kakinya baru saja sedikit terkilir.

__ADS_1


****


"Kenapa kalian rahasiain ini begitu lama, hah? Kenapa? Kenapa gak kasih tahu dari awal kalau Kania itu bukan anak kandung mama!"


"Maafin papa, Kania! Kamu anak papa... Tapi... Kamu bukan darah daging mama kamu"


Semua ucapan yg di lontarkan kedua lelaki yg usianya jauh berbeda itu, terus terngiang di pikiran Kania. Berarti selama ini, usahanya untuk menarik perhatian sang mama sudah hancur. Benar?


Begitu tahu Mama Andin bukanlah mamanya, Kania jadi merasa bersalah sudah memanggilnya dengan sebutan 'mama'.


Sepertinya Kania tidak berhak untuk memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan seperti itu.


Kamu bukan darah daging mama kamu...


Kamu bukan darah daging mama kamu...


Kamu bukan darah daging mama kamu...


Aaaghhhh...


Kalimat itu terus membayang-bayangi isi otaknya. Kania pusing demi apapun. Ia ingin kabur seperti tadi. Tapi rasanya tidak bisa. Motor kesayangannya kini sedang di perbaiki beberapa menit yg lalu.


Lalu... Kania harus berjalan kemana lagi? Kania lelah. Pergelangan kakinya kembali merasakan sakit, saat mengingat seberapa kuat ia berlari tadi.


"Gue harus gimana? Pulang kah? Tapi ngapain? Gue bukan siapa-siapa disana! Kayaknya gue itu anak pungut deh, pantesan aja Mama Andin gak seneng banget sama gue!" gerutu Kania dengan tatapannya yg kosong.


Jalanan yg sepi, menambah kekosongan di hatinya.


"Apa gue juga gak punya setetes darah pun yg sama dengan papa gue?" gerutu Kania lagi. Dengan seulas senyum pahit di wajahnya.


Air matanya kembali mengalir. Namun dengan cepat ia menyeka air matanya. Kania tidak boleh terlihat pengecut.


Jika dirinya benar-benar bukan anak kandung dari mama Andin, lalu siapa orang tua Kania yg sesungguhnya!?


To be continue...


Maaf telap up lagi🙏🙏🙏


authori punya kesulitan tersendiri, jadi gk bisa up cpt🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2