
Kania berlari memasuki rumah sakit. Ia terus berlari sampai akhirnya, ia berhenti di depan ruang perawatan yang di sebut Mama Andin tadi di dalam pesan.
Hatinya sedikit ragu untuk membuka pintu ruang perawatan tersebut. Namun, ia juga khawatir dengan kondisi papanya saat ini.
Dengan perasaan yang berkecamuk, Kania memegang knop pintu kemudian mendorongnya perlahan.
Ketika pintu terbuka sepenuhnya, sebuah pemandangan langka terlihat oleh indera penglihatannya. Mama Andin dan Papa Hendra tengah saling diam tanpa suara sedikit pun.
"Papa!" Kania berteriak sambil berlari ke arah sang papa. Membuat yang terpanggil namanya, hanya bisa menoleh seketika.
"Kania!? Kamu pulang, nak!" Papa Hendra mencoba bangun dari tempat tidur dan merubah posisinya menjadi terduduk. Kedua lengannya pun ia renggangkan untuk menyambut putri kesayangan yang selama beberapa hari tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Kamu baik-baik aja, kan? Putri kesayangan papa baik-baik aja, kan?" Papa Hendra memeluk Kania dengan erat. Kedua tangannya pun mengelus-elus punggung serta rambut Kania dengan penuh kasih sayang.
"Kania baik-baik aja, pa. Justru, papa! Kenapa papa malah sakit kayak gini, sih? Papa udah gak sayang, sama diri papa sendiri?" ucap Kania dengan air mata sedikit bercucuran.
"Papa gak pa-pa. Papa cuma kangen sama kamu. Kamu pulang, ya? Papa gak mau kamu ngekost di luar lagi. Papa takut kamu terluka di luar sana. Papa janji, gak bakal ngelarang kamu buat bawa motor sport kamu ke kampus. Asal kamu mau pulang, papa bakal kasih apapun itu."
Kania tidak menjawab. Ia memilih diam setelah mendengar permohonan dari papanya barusan. Membuat Papa Hendra menatap dirinya penuh tanya.
"Kamu gak mau, hm?" tanya Papa Hendra, sembari mengelus puncak kepala Kania.
"Enggak. Bukan itu. Kania cuman... Belum bisa aja."
Ucapan Kania barusan sukses mengalihkan perhatian Mama Andin. Wanita paruh baya itu seolah mengerti dengan perkataan Kania barusan. Mama Andin tidak berkutik. Ia hanya bisa menunduk dengan berbagai racauan dalam hatinya.
Menghela nafas, Papa Hendra beralih menundukkan wajahnya, menghadap kedua tangan dengan selang infus yang terpasang di salah satu tangannya.
"Papa harap, kamu bisa cepat pulang ke rumah, Kania. Bagaimana pun, rumah kami adalah rumah kamu juga. Kamu sudah tinggal disana hampir dua puluh satu tahun. Kamu gak boleh dendam hanya karena sedikit ke salah pahaman."
"Ke salah pahaman?!" tanya Kania, merasa kurang mengerti dengan ucapan papanya barusan.
Papa Hendra menarik nafas terlebih dahulu sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Kamu memang bukan anak kandung mama. Tapi, kamu adalah anak kandung papa, Kania. Kamu jangan salah paham. Tolong jangan beranggapan bahwa kamu itu bukan siapa-siapa di keluarga kita. Kamu dan papa itu sedarah. Kamu anak papa."
Kania tersenyum miris. Baiklah. Hari ini ia tahu satu hal. Ia memiliki papa yang ternyata sedarah dengannya.
"Kamu... Mau papa temuin sama mama kandung kamu?"
__ADS_1
Kania yang awalnya tengah sibuk dengan pemikirannya, teralihkan oleh sahutan dari Papa Hendra.
"Mama kandung aku?" tanya Kania, mencoba memasang kembali pendengaran nya.
Papa Hendra mengangguk perlahan. Senyum di wajah Kania terbit seketika.
"Tapi..." sebuah ucapan menggantung, mampu membuat senyum manis di wajah Kania menghilang. Wajahnya berubah menjadi sayu. Tatapannya terlihat sedikit memelas.
"Mama kamu sudah tidak ada. Mama kamu meninggal setelah melahirkan kamu"
****
"KANIAAA!!!" sebuah suara sahutan cempreng dari arah belakang, mampu menghentikan langkah kaki sang pemilik nama.
Kania menoleh ke belakang dan dilihatnya, Vanya tengah berlari kearahnya dengan langkah terburu-buru.
"Barengan." ujar Vanya dengan deru nafas tersengal-sengal, saat tubuh keduanya sudah berhadapan.
Kania tersenyum tipis menanggapi. Tak lama kemudian, ia mengangguk dan menarik pergelangan tangan Vanya dengan lembut.
****
Saat ini, Kania masih setia berada di dalam kelas tanpa ditemani Vanya. Tidak seperti biasanya. Gadis itu terdiam sambil memainkan pena yang ia mainkan sedari tadi. Tatapannya begitu kosong, seolah tidak ada kehidupan disana.
Dari kejauhan, Raka tengah menatap punggung gadis itu dengan penuh perasaan iba. Ia ingin kesana dan menghiburnya. Namun, Raka juga tahu. Kania bukan orang yang butuh hiburan disaat ia tengah menghadapi berbagai macam kesedihan. Kania hanya butuh satu, yaitu pelarian. Pelarian dalam arti mencari udara segar dan ketenangan untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja, Raka memiliki sebuah ide dalam otaknya. Ia ingin mengajak gadis itu untuk lari bersamanya. Untuk mencari ketenangan semata.
Raka melangkahkan kakinya mendekat kearah Kania. Ketika tubuhnya sudah berdekatan dengan gadis itu, sebuah tangamnya terangkat untuk mrnyentuh bahu Kania, hingga akhirnya gadis itu pun terlihat sedikit terlonjak. Mungkin ia kaget.
Kania menoleh ke belakang. Dilihatnya, Raka tengah tersenyum tipis sambil menatap lekat kearahnya.
"Lo... Ngapain kesini?" sahut Kania, dingin.
"Mau ngajakin kamu kesuatu tempat. Ikut, ya?"
Tanpa aba-aba atau bahkan meminta persetujuan Kania terlebih dahulu, Raka langsung menarik pergelangan tangan gadis itu. Menyuruhnya untuk mengikuti langkahnya kemana pun ia pergi.
__ADS_1
Kania yang merasa bingung, tak dapat berkata apa-apa. Ia ingin protes, tapi bibirnya seolah lumpuh untuk bergerak mengucapkak kalimat pemberontakan.
Kania hanya bertanya-tanya dalam hati. Namun sedetik kemudian, ia tersenyum disela-sela ia melangkah. Ia merasa bahwa kali ini, Raka ingin menghibur dirinya yang hancur seperti ini.
Tanpa sadar, mereka berdua kini sudah berada diparkiran kampus.
"Kita... Mau kemana?" sahut Kania, saat melihat Raka tengah berjalan uring-uringan di hadapannya.
"Saya lupa gak bawa kunci mobil. Pake motor kamu aja, gimana?"
Kania mengerutkan kening, saat mendengar ucapan Raka yang terbilang aneh itu. Kania bertanya apa, dan dijawab apa!?
"I-iya, boleh. Tapi kita mau kemana?" tanya Kania lagi, sambil menyerahkan kunci motor pada Raka.
"Nanti kamu juga tahu." jawab Raka, menggantung. Membuat rasa penasaran pada jiwa Kania, membeludak.
"Ya udah. Lo parkirin, gih motor gue! Lo sendiri yang ngajakin gue entah kemana, berarti lo juga yang bertanggung jawab atas motor gue ini." Kania berujar sambil bertolak pinggang. Membuat senyum di wajah Raka mengembang.
Nah, ini dia Kania yang aku kenal. Kania yang jutek, dingin, pemarah, udah balik lagi perlahan-lahan.- gerutu Raka dalam hati.
Raka mulai memarkirkan terlebih dahulu motor sport milik Kania. Setelah motor itu terparkir, ia mulai menaiki motor itu kemudian menghidupkan mesin motor.
Sedetik setelah menyalakan mesin motor, tatapannya kini beralih menatap Kania yang tengah cemberut sambil menautkan alisnya.
"Buruan naik!"
Kania yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya, kini mulai menatap kearah Raka dengan bibir yang masih terlihat cemberut.
Kania mengembuskan nafas kasar, kemudian berjalan kearah Raka dan sedetik kemudian mulai menaiki jok motor di bagian belakang.
"Helm nya cuma ada satu?" tanya Raka.
"Iya. Lo aja yang pake, lo kan yang kemudiin motor gue."
"Oke." kata Raka, tanpa basa-basi.
To be continue...
__ADS_1
Ada yang udah lupa sama alurnya?!