My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Awal Baru(1)


__ADS_3

Kania keluar dari dalam mobil yang dikemudikan oleh seorang lelaki yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Kesha.


Awalnya... Kania akan manaiki motor sportnya saja. Namun Mama Andin tidak menyetujuinya. Dengan alasan, Kania mengenakan rok pendek. Tidak mungkin kan harus menaiki motor yang kemungkinan akan menyingkap lebih tinggi roknya.


"Gue ke kelas dulu, ya?" ucap Kania datar.


Menghela nafas, Kesha pun mengangguk kecil setelahnya. "Belajar yang bener. Awas, ntar cowok-cowok pada naksir lagi sama lo!"


"Maksudnya?" tanya Kania bingung.


Kembali menghela nafas, Kesha memandangi tubuh adiknya dari atas sampai bawah kemudian sebaliknya.


"Gak sadar, kalo sendiri udah makin kayak cewek?"


Kania membulatkan matanya, setelah mendengar apa yang di ucapkan Kesha benar-benar menyinggung perasaannya.


"Lah, emang dari dulu gue itu cewek!"


Kesha tertawa, lalu mengangguk mengiyakan.


"Iya, iya. Cewek... Gue balik dulu, ya," goda Kesha, membuat Kania semakin tersinggung.


"Balik sana! Dasar pengangguran!" celetuk Kania dengan nada suara meninggi.


"What? Lo bilang apa barusan?" Kesha yang awalnya memasuki mobil, ia kembali keluar dari sana lalu berdiri di hadapan Kania dengan tatapan tajam.


"PENGANGGURAAAAN!!!" teriak Kania tepat di depan wajah Kesha. Lalu Kania pun berlari meninggalkan Kesha yang tengah berdiri mematung sembari memejamkan kedua matanya.


Ketika kedua matanya mulai terbuka, ia tidak melihat keberadaan adiknya di depannya. Sial. Gadis itu kabur rupanya.


"Awas aja ntar di rumah, gue bikin lo berlutut di hadapan gue sambil terus memohon ampun." gumam Kesha, lalu kembali memasuki mobil dan meninggalkan halaman depan kampus.


****


"Wah! Gue punya abang gila juga, ya?" Kania mencoba menetralkan kembali deru nafasnya yang berantakan. Bagaimana bisa tidak teratur? Kania saja baru selesai berlari dari kejaran si 'pembuat masalah' alias Kesha.


Setelah deru nafasnya menormal, Kania kembali berjalan melewati lorong-lorong kampus untuk sampai ke kelas.


Meraih ponsel dan ear phone yang berada di dalam tas, kemudian memasangkan ear phone bluetooth tersebut di sebelah telinganya. Kemudian mencari musik yang pas dengan situasi saat ini.


"Itu siapa, si? Kek kenal, tapi siapa?"


"Kayak si cewek tomboy jurusan ekonomi yang itu deh?"

__ADS_1


"Yang mana?"


"Kok sekarang dia beda?"


"Lebih cantik dari biasanya."


"Kenapa gak dari dulu tuh cewek dandannya kayak gitu? Mungkin sekarang udah banyak yang ngantre kali sama dia!"


Samar-samar, Kania dapat mendengar beberapa orang tengah berbisik sembari menatapnya penuh tanya. Namun, ia menghiraukannya. Kania memilih untuk terus berjalan sampai ujung koridor, hingga kelas yang ia tuju pun kini sudah berada di hadapannya.


"Awal baru buat lo, Kan..." gumam Kania di ambang pintu kelas, kemudian meyakinkan dirinya untuk masuk kelas tersebut walau dalam hati ia sangatlah gugup.


Kosong


Kania menatap jam tangan yang sedari tadi melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul delapan pagi tertera disana.


"Masih ada setengah jam lagi. Ke perpus ah... Semoga aja, ada Kak Raka." gerutu Kania kemudian berbalik melangkah, hendak menuju perpustakaan.


Tanpa ia sadari, ia tengah tersenyum malu-malu saat ini. Semburat merah terlihat menghiasi kedua pipinya yang sedikit mengembung karena menahan senyum.


Kania menghentikan langkah kakinya ketika dari jarak yang tak terlalu jauh, ia melihat seseorang yang saat ini memenuhi pikirannya tengah berpelukan dengan seorang gadis yang sangat ia hafal siapa gadis itu.


"Kak Raka sama Vanya lagi ngapain?" gumam Kania dengan nada suara pelan.


Kania memilih untuk sembunyi di samping tembok perpustakaan. Ia ingin mengetahuinya lewat indera pendendengarannya. Kania akui, itu sangatlah tidak sopan. Tapi ia penasaran! Mohon maklumi lah dirinya saat ini.


"Kak... Hiks... Hiks... Aku takut, Kak..."


"Enggak ada apa-apa, Vanya... Kamu takut apa sih, hah? Disini gak ada apa-apa."


"Tapi tadi aku lihat ada cicak jalan gitu... Hiks... Aku takut..."


Kania tertawa meremehkan ketika mendengar pengaduan yang keluar dari bibir Vanya. Astaga! Payah sekali sahabatnya ini untuk mendekati seseorang saja! Cara yang terbilang sangat pasaran menurutnya.


"Hah. Mending gue ke kelas lagi aja deh." gumam Kania, lalu melenggang meninggalkan tempat itu.


****


Vanya tersenyum bangga ketika ia baru saja meninggalkan perpustakaan. Ia baru saja berhasil mendekatkan dirinya pada Raka, seolah ia memang sedang ketakutan. Rencana pertama untuk mendekati Raka, sukses. Lelaki itu tadi memeluknya sembari menepuk lembut punggungnya.


"Sekarang, tinggal rencana kedua. Singkirin Kania dari kehidupan Kak Raka!"


"Vanya!" sang pemilik nama tersentak, ketika sebuah sahutan tak asing memenuni pendengarannya. Vanya tahu betul siapa pemilik suara tersebut. Pasti Kania.

__ADS_1


Menoleh ke sumber suara, Vanya melihat raut wajah datar yang di tampilkan Kania. Membuat ia merasa sedikit gugup. Apa Kania barusan mendengar semua ucapannya?


"K-Kania? L-lo disini?"


"Ya terus kalo gak disini, gue harus dimana? Di kolong jembatan?" celetuk Kania dengan raut wajah dibuat seakan ia benar-benar tengah kesal.


"L-l-lo... Denger apa yang gue ucapin barusan?" tanya Vanya ragu.


Kania nampak mengerutkan dahi, lalu menatap penuh selidik kearah Vanya. "Emang, lo ngomong apaan barusan?"


Fyuuh....


Aman. Vanya aman saat ini. Kania tidak mendengar ucapannya tadi. Untung saja.


"Lo kenapa si? Kek habis ketahuan selingkuh aja tuh muka lo!"


"Yeeh... Enak aja. Emang gue selingkuh dari siapa? Pacar aja gue kagak punya!" ujar Vanya tidak terima.


"Heh. Terus tadi peluk-pelukan di depan perpus ngapain kalo bukan selingkuh?" Kania menjeda ucapannya, raut wajah Vanya berubah pucat. "Lo berani hianatin gue, hah? Lo sendiri yang bilang, gue itu pacar lo!"


Seketika itu juga, tawa Vanya pecah. Lalu dilanjut oleh Kania. Mereka berdua tertawa lepas.


"Gue kira apaan! Bikin gue takut aja, lo!"


Kania menghela nafas, lalu kemudian menatap wajah Vanya dengan tatapan serius.


"Apaan pandang-pandang?" merasa risih dengan tatapan Kania, Vanya berujar dengan nada jutek yang di buat-buat.


Menggeleng pelan, "Gak ada yang mau lo jelasin nih, ke gue?" tanya Kania sembari mengangkat dagunya keatas.


"Gak ada! Semuanya seperti yang lo lihat!" jawab Vanya tenang.


Kania merasa hatinya sedikit mencelos dengan pengakuan dari Vanya barusan. Benarkah seperti itu? Kania tidak percaya!


To be continue....


Judulnya di hanti jadi 'My Handsome Lecturer' dengan banyak pertimbangan pastinya. dan,


Maaf up nya lama!!!


Sengaja sih, soalnya mau ku langsungin upnya sampe tamat. Ini jga sebagian di simpen di draf. Tapi kayaknya aku terlalu keterlaluan deh, terlalu lama gak up. Jadi, satu dulu deh. Yang lainnya nyusul:)


Sampai jmpa di next chapter:*

__ADS_1


__ADS_2