My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Rasa Apa?


__ADS_3

Hati-hari for typo!!!


Happy Reading!!!


Kania berjalan dengan kesunyian ketika ia baru saja memasuki pintu rumah. Raut wajahnya terlihat gusar dan penuh dengan pertanyaan dalam pikirannya.


Pertanyaan tentang apa yang dikatakan seseorang tadi malam di restaurant padanya. Seseorang yang mengungkapkan perasaan yang terkesan buru-buru.


Haruskah Kania jawab ungkapan perasaan dari pria itu? Pria yang selama beberapa minggu ini menghiasi hari-harinya dengan penuh kesialan dan kekesalan.


Tapi enah kenapa. Kania perlahan menyukai kesialan itu. Walau terkadang ia harus menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak.


Namun, ada kalanya pria itu ada disaat ia tengah berada dalam keterpurukan. Seperti waktu itu, Kania hendak kabur dari rumah. Ingin melarikan diri dari tempat yang selama ini ia anggap sebagai tempat tinggal. Ia merasa tidak pantas lagi menumpang hidup di rumah itu. Ia bukanlah anak kandung dari Mama Andin yang selama ini selalu menemaninya selama bertahun-tahun.


Kenyataan yang lebih menyakitkan adalah, Kania adalah anak dari hasil perselingkuhan papanya dengan wanita lain-selain Mama Andin.


Sempat Kania merasa kecewa. Tapi harus bagaimana lagi? Ini sudah takdirnya! Tidak bisa lagi dirubah semau manusia. Kania hanya bisa menerima keadaan. Sampai pada akhirnya, ia mulai mencoba menerima Mama Andin kembali sebagai ibunya. Kania melupakan semua yang pernah terjadi sebelum ia menerima Mama Andin kembali. Ia bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. Berkat sikap pengertian dan berbagai penjelasan yang sempat dilontarkan oleh pria itu. Siapa lagi kalau bukan Raka?


Kania benar-benar merasa bebannya menghilang ketika ia menceritakan seluruh keluh kesahnya pada pria itu.


Namun saat ini, siapa yang akan mendengarkan keluh kesahnya lagi, jika pria itu akan pindah ke luar kota? Haruskah Kania senang atau ikut bersedih?


Kania bahkan bingung dengan perasaannya saat ini. Suka, cinta, sayang, ia tidak tahu arti dari semua perasaan itu. Yang ia tahu hanyalah perasaan cinta dan kasih sayang dari keluarga yang sangat Kania inginkan.


Dan dari Raka?


Entahlah. Kania tidak memikirkannya terlalu jauh. Ia sibuk dengan egonya. Benci dan terkadang sering merasa kesal.


Kania mendudukan diri diatas sofa panjang depan tv. Ia duduk sendirian disana tanpa ada seorang pun yang menemani. Kania kembali terdiam, kemudian melamun memikirkan sesuatu. Mungkin, sesuatu yang bersangkutan dengan sang dosen, atau mungkin tentang kehidupannya. Kania pun tidak tahu.


"Sudah pulang?"


Kania terlonjak dari lamunannya. Tatapannya yang semula kosong, kini berubah menjadi seperti biasa. Menatap kearah sumber suara yang didapati Mama Andin baru saja menuruni anak tangga.


"Mama belum tidur?" Kania hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun ditahan oleh Mama Andin. Mamanya menyuruh Kania kembali duduk di tempat semula. Dan Kania hanya bisa patuh.


"Mama punya insting, kalo kamu pulang malam ini." Mama Andin menatap lekat kearah manik mata Kania. Yang ditatap hanya membalasnya dengan tatapan kebingungan.


"Gimana hubungan kamu sama Raka?"

__ADS_1


Kania membulatkan mata, namun sedetik kemudian ia terkekeh sendiri. Seperti seseorang yang salah tingkah jika ditanya mengenai hubungan asmara.


"Apaan si, ma? Kita gak ada hubungan apa-apa, kok."


Mama Andin hanya mengangguk asal sembari tersenyum menggoda kearah Kania. Putrinya itu hanya bisa membuang muka dengan kedua pipi yang terasa memanas.


Sepertinya, wajahnya memerah saat ini?!


"Denger-denger, Raka besok mau berangkat ke bandara."


"Apa? Besok?" Kania berujar setengah berteriak, ketika ucapan sang mama mampu membuat dirinya terkejut.


Mama Andin ikut terkejut mendengar teriakan dari putrinya. Sedetik kemudian, Mama Andin mendelik kearah Kania dengan sorot mata yang tajam.


"Gak usah teriak-teriak."


Kania terlihat mengerutkan dahi sekaligus menggigit bibir bawahnya. Tidak menyangka bahwa Raka pergi setiba-tiba begini. Kenapa rasanya Kania merasa tidak rela?


"Lho, kok bengong?" sahutan Mama Andin mampu mengalihkan perhatian Kania yang semula tengah memikirkan Raka.


"Kamu gak dikasih tahu sama Raka, kalau dia berangkatnya besok?" tambah Mama Andin, Kania nampak menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa kamu gak nanya? Gengsi, hm?" Mama Andin lalu merubah posisinya lagi menjadi terduduk menghadap Kania.


"Siapa bilang gengsi? Orang dia cuma bilangnya mau ke Yogyakarta. Gak ngasih tahu kapan berangkatnya. Ya mana bisa Kania tahu, ma!"


"Ya udah. Sekarang udah mama kasih tahu," kata Mama Andin menjeda, "Besok, kamu pergi ke bandara. Jam setengah sembilan pagi, kamu harus udah ada disana. Penerbangan pesawatnya jam sembilan pagi. Inget itu!" lanjut Mama Andin, kemudian beranjak dari sofa dan kembali menaiki anak tangga.


Disisi lain, Kania nampak berpikir. Namun entah apa yang gadis itu pikirkan. Namun sedetik kemudian, ia juga ikut beranjak dari sofa untuk menuju kamar tidurnya yabg terletak di lantai dua di rumah ini.


****


Pagi harinya, pukul 08:30 WIB, Kania terlihat buru-buru keluar dari rumah. Ia keluar dengan memakai setelan celana jeans panjang berwarna hitam dengan jaket kulit berwarna senada dengan celana jeans nya. Gadis itu juga terlihat mengikat rambutnya yang sebahu keatas.


Kania kembali memasuki rumah dengan terburu-buru hanya untuk mengambil kunci motor yang berada diatas meja kecil di ruang tengah. Lalu, Kania pun kembali berlari keluar rumah.


Memasuki garasi yang terletak disamping kiri dinding rumahnya. Mengeluarkan motor sport yang selalu menjadi andalannya kapan saja dan dimana saja.


Kania lalu menghidupkan mesin motor, kemudian mengambil helm lalu memakainya. Tak selang berapa lama, Kania mulai menaiki motornya keluar dari area halaman rumah.

__ADS_1


Menjalankannya dengan kecepatan rata-rata.


****


"Sial. Kenapa pake macet segala, si?" Kania menggerutu kesal, ketika ditengah perjalanan menuju bandara, jalanan ibu kota terlihat macet.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08:40 WIB. Sebentar lagi, pesawat yang akan ditumpangi pria itu segera meluncur.


"Sialan." Kania kembali mengumpat, ketika satu persatu kendaraan mulai melaju sebagian dengan sangat pelan.


Karena kesal, Kania menatap sekeliling jalan hingga tatapan matanya tertuju pada celah-celah mobil yang ukurannya tidak terlalu kecil. Masih muat untuk mengendarai motornya melewati celah itu.


Kania tersenyum miring. Sedetik kemudian, ia dan motornya mulai melewati celah-celah tersebut hingga akhirnya, Kania dan motornya mulai terhindar dari kemacetan.


Dirasa jalanan yang ia lewati berbeda dengan yang sebelumnya, Kania pun menambah kecepatan hingga motornya bisa dikatakan melaju dengan sangat cepat. Seperti seorang pembalap.


"Tungguin gue! Gue pasti sampe kesana tepat waktu!"


****


Seorang pria dengan pakaian formal dengan sebuah koper besar dibelakangnya,



ia nampak terus menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


Ia tersenyum kecil, ketika waktu yang tertera pada jam tangannya adalah pukul 09:00 WIB.


"Jadi... Dia gai bakalan datang, ya?" gumamnya, kemudian menarik pegangan koper tersebut.


"TUNGGU!!!" suara sahutan yang sangat dikenali, mampu membuat tubuh pria itu memutar balik.


Ia terus mencari-cari orang yang baru saja menyahutinya. Hingga akhirnya, tatapannya terkunci panda seorang gadis bersetelan celana jeans dan jaket kulit, tengah berlari dengan tergesa-gesa kearahnya.


"Kania?" gumam pria itu yang bisa diketahui adalah Raka.


To be continue....


maaf up nya lama!

__ADS_1


sbrnya ini udh di up dari beberapa hari yg lalu, tpi msh di review aja. ini udh ku ganti tgl terbitnya. moga aja berhasil.


__ADS_2