
"Kania-nya di mana, Tante?" tanya seorang lelaki berusia sekitar dua puluh enam tahunan pada seorang wanita paru baya yang sedari tadi terus berjalan mondar-mandir tidak tenang.
Mama Andin melirik ke arah lelaki itu, lalu tersenyum canggung. "Tunggu sebentar lagi ya, Ka! Tante yakin, Kania gak mungkin kabur, kok."
Lelaki itu tersenyum cukup manis, hingga membuat siapa saja akan tertegun melihatnya. Tampan.
Brakk
Pintu ruangan VVIP tiba-tiba saja terbuka cukup kencang. Beberapa orang di dalam, langsung mengalihkan perhatiannya menuju daun pintu itu yang terbuka.
"Awhh! Bang Kesha, jan dorong-dorong, ah. Malu sama yang di dalem!" Kania berceloteh marah pada Kesha yang berdiri sangat dekat di belakangnya. Dan Kesha, lelaki itu hanya tersenyum kikuk ke arah adiknya yang mengomel.
Gadis itu tidak sadar, bahwa seseorang di dalam sana baru saja memperhatikannya sembari tersenyum manis ke arah gadis itu.
Berbeda dengan yang lain. Mereka hanya menatap ke arah Kania dan Kesha sembari memegangi dada mereka. Masih kaget, atas apa yang baru saja mereka lakukan.
"Kania! Kesha! Mau masuk, atau tidak?" suara nyaring dari dalam, membuat Kania dan Kesha sontak tersadar. Keduanya langsung masuk ke dalam, sembari menunduk malu. Ehm, hanya Kania yang menunduk malu. Kesha?
Dia hanya santai. Berjalan ke arah kursi kosong di samping Raka, lalu mendudukinya.
"Apa kabar, Bro!" Kesha menjabat tangan Raka, jantan.
"Baik." balas Raka, dengan seulas senyum.
Kania yang mendengar balasan yang cukup tak asing ditelinganya pun mulai mendongakkan kepala. Tatapannya tertuju pada Kesha dan seseorang yang selama beberapa bulan ini dia rindukan.
Raka?
Dia ada di sini?
Sedang apa?
Kania terus bertanya dalam otaknya. Matanya masih setia memandangi lelaki itu yang juga tengah menatapnya dalam. Sebuah senyum manis pun terbit di wajah tampan nya.
"Ciee, bengong. Duduk dulu, sayang. Jan bengong gitu, ah. Malu dilihatin calon mertua," Sahut Mama Andin, membuyarkan lamunan Kania. Gadis itu pun melirik ke arah sang mama kikuk.
Saat Mama Andin menyuruhnya duduk di kursi samping dirinya, Kania hanya mengangguk nurut, tanpa protes sedikitpun.
Kania masih bengong di tempatnya. Tatapan matanya terus menatap ke arah Raka. Lelaki itu tengah tersenyum manis padanya. Oh, jangan lupakan tatapan teduh milik lelaki itu yang sangat Kania rindukan.
"Apa kabar, Kania?" Raka bertanya pada gadis itu. Senyum manis, seolah tak pernah luntur sedari tadi.
Kania tersadar dari lamunan. Lalu dia mulai menatap ke arah sekeliling. Dilihatnya, mereka sedang menahan tawa mereka.
Kenapa, sih? Batin Kania.
"Dek!" Kesha menyahut gadis itu.
"Eh? I-iya?" jawab Kania cepat. Kesha semakin tidak kuasa untuk menahan tawanya lebih lama.
"Itu Raka nanya, kabarnya katanya gimana? Masa gak dijawab, sih?" kekeh Kesha. Masih mencoba menahan senyumnya.
__ADS_1
Kania jadi salah tingkah. Lalu dia kembali menatap Raka.
Dan hal tak terduga pun terjadi. Kania malah cengengesan tidak jelas ke arah lelaki itu hingga menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. Lantas, semua orang di sana tertawa cukup kuat.
Kania yang bingung pun menatap mereka satu-persatu. Dimulai dari papa, mama, Bang Kesha, orangtua Raka dan lelaki itu. Raka.
Kania jadi malu sendiri. Sejak kapan dia jadi sosok perempuan yang malu-malu? Biasanya juga, frontal.
"Kania? Kamu gak mau jawab pertanyaan aku?" itu suara Raka.
Gilaaa!
Seksi bener suaranya!
Bikin Kania ngiler aja tahu gak!
"Eh? Maaf! Ka-kabar aku, baik kok." jawab Kania, gugup.
Mama Andin yang duduk di sebelahnya masih terkikik geli. "Sejak kapan kamu bicara pake bahasa manusia? Aku-kamu, lagi? Biasanya juga, lo-gue!" celetuk Mama Andin, dengan suara pelan.
Kania memberengut sebal. Wajahnya memerah malu. Mamanya yang satu ini memang jago membuat dia seperti ini.
"Nah. Karena Kania sama Raka sudah bertemu lagi, lebih baik kita langsung nikmati makan malam kita malam ini. Setelah itu, kita langsung bicara ke intinya." ucap seorang pria paru baya yang tak lain adalah ayah dari Raka.
Semuanya setuju. Lalu mereka memilih menikmati acara makan malam mereka dengan dibumbui obrolah hangat khas para orangtua. Sedangkan Kania dan Raka, mereka diam-diam saling tatap muka sembari menahan senyum mereka. Ah, yang menahan senyum hanya Kania.
Raka?
Setelah hampir setengah jam kedua keluarga itu menikmati acara makan malamnya, pada akhirnya mereka selesai juga. Dan saat ini adalah saat yang tepat bagi kedua orangtua untuk membicarakan soal pernikahan Kania dan Raka.
Ya. Keduanya sudah dijodohkan sedari dulu. Hanya saja mereka sengaja tidak membeberkannya pada kedua insan itu. Mereka tidak ingin jika hubungan kedua anak mereka nanti berakhir seperti di novel-novel yang mengisahkan tentang 'Pernikahan Kontrak'.
"Jadi, Kania," ucapan seorang wanita paru baya yang tak lain adalah ibunya Raka, sontak mengalihkan perhatian semua orang yang berada satu meja dengannya. Termasuk Kania.
"Kami di sini mau minang kamu. Raka katanya udah gak sabar pengen segera miliki kamu." Ucap Riyanti. Mamanya Raka.
Kania terlihat salah tingkah. Kedua matanya juga memelotot tidak percaya. Dia kira, orang yang akan Raka jadikan tunangan itu bukan dirinya. Padahal 'kan, Kania sudah capek-capek menangis tak bersuara.
Perhatian Kania yang semula menatap Riyanti, kini beralih pada Raka.
"Bener?" Sahut Kania pada Raka.
"Ya, benerlah. Ngapain aku bohong." Kata Raka, diakhiri dengan kekehan kecil.
"Katanya udah punya pacar." Ucap Kania, random. Lalu tatapan matanya beralih pada sang mama yang terlihat pura-pura tidak melihatnya.
"Emang udah." Ucap Raka tiba-tiba. Sontak, Kania kembali menatap pada lelaki itu.
Kania tidak berucap lagi. Dia hanya diam dan membeku. Hatinya sudah hancur. Raka sudah punya pacar, tapi masih ingin menikahinya? Sial. Semua cowok emang sama aja! Brengsek!
"Pacarnya lagi didepan aku, nih. Lagi marah. Mukanya ditekuk gitu," Raka melanjutkan ucapan yang sebelumnya dia lontarkan.
__ADS_1
Kembali, Kania lagi-lagi dibuat terkejut oleh ucapan lelaki itu. Mendadak, tubuhnya jadi lemas. Jantungnya juga sepertinya kembali merasakan yang namanya berdegup kencang setelah sekian lamanya tidak pernah seperti ini lagi.
"H-hah?" Kania cengo ditempat. Sedangkan yang lainnya hanya tertawa, lalu kembali mengobrol tanpa mengajak Kania dan Raka dalam pembicaraan mereka.
Berbeda dengan Kesha. Lelaki itu terlihat sangat antusias mengobrol bersama kedua orangtua Raka, seolah mereka adalah teman lama. Terlihat begitu akrab.
Haha, Kesha memang kolot.
Setelah sekian lamanya mengobrol, tanpa terasa kedua keluarga itu mengobrol sampai tiga jam lamanya. Dan saat ini, mereka sudah hampir akan kembali ke rumah. Namun, sebelum itu mereka membicarakan sesuatu dahulu yang belum sempat mereka bicarakan.
"Jadi, Kania, kamu mau 'kan, nikah sama Raka?" Pertanyaan dari Bram, ayahnya Raka.
Dalam hati, Kania begitu ingin mendumel saat itu juga. Apaan coba? Kenapa bicaranya to the point sekali? 'Kan, Kania jadi gugup.
Namun, entah pemikiran dari mana, Kania memiliki ide untuk menjahili Raka dan semua orang yang masih berada di ruang VVIP ini.
Dengan sebuah seringaian kecil di wajahnya, Kania akan memulai ide jahilnya.
"Nggak, Kania gak mau." Ucap Kania yang sontak membuat suasana di ruangan ini menjadi hening seketika.
"Kania 'kan belum lulus. Masa iya, nikah dulu baru lulus? Enggak. Kania gak mau." Kanjut Kania. Semua orang yang berada di sana langsung menghela napas mereka dengan kompak.
Apalagi Raka!? Dia sudah hampir jantungan tadi. Dia kira, Kania benar-benar tidak ingin menikah dengannya. Tapi ternyata, gadis itu sedang mencoba untuk main-main dengannya. Sial. Raka hampir saja tertipu.
"Ooh, jadi kamu maunya nikah sama aku pas udah lulus kuliah?"
"Iyalah. Eh!?" Kania menutup mulutnya yang bisa-bisanya berbicara begitu jujur.
Astaga!
Lihatlah, apa yang telah Kania lakukan? Semua orang tertawa menertawainya.
Kaniaaa...
Kenapa lo jadi begini, si? Batin Kania berteriak.
"Ya udah. Kamu lulusnya berapa bulan lagi?" Tanya Riyanti, mamanya Raka. Wanita paru baya itu beralih untuk bertanya pada calon menantunya.
"Mm... Satu semester lagi, Tante." Ucap Kania pelan.
Semua orang di sana kembali tertawa. Bukan apa-apa. Hanya saja, Kania itu sudah dikenal sebagai gadis yang frontal. Tapi sekarang? Lihatlah, dia terlihat lugu dan malu-malu.
"Ya sudah. Makan malam kita dicukupkan sampai di sini saja. Besok-besok, kita bisa kumpul lagi." Bram, ayahnya Raka bersuara.
"Benar, Bram. Kapan-kapan, kita bisa seperti ini lagi. Tentunya, setelah mereka menikah." Timpal Hendra. Lalu semuanya kembali tertawa.
Ehm, hanya Kania yang tidak. Gadis itu malah tertunduk dalam diam.
Entahlah. Apa pernikahannya nanti bersama Raka akan menjadi kebahagiaannya selamanya? Kania tidak tahu itu.
To be continue...
__ADS_1