My Handsome Lecturer

My Handsome Lecturer
Cowok Misterius


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dari kejadian dimana Kania pergi ke suatu tempat yang tak lain adalah mall.


Waktu itu, Kania pergi berbelanja pakaian-pakaian yang menurutnya sangat cocok untuknya. Bukan setelan kaos dan celana jeans lagi. Melainkan pakaian feminin yang sering dipakai para wanita muda. Seperti rok dan pakaian trendi lainnya.


Kania ingin mengikuti fashion perkembangan jaman. Ia membeli pakaian bukan hanya sekedar satu atau dua setelan. Melainkan lima sampai sepuluh setelan pakaian yang berbeda.


Dan semenjak kejadian itu, Kania jadi hobi berbelanja seperti belanja baju, tas, make-up, dan peralatan kecantikan lainnya.


Kania tahu bermake-up?


Sejujurnya, tidak. Dia hanya belajar lewat konten youtube tentang tatacara bermake-up yang baik dan benar. Sampai akhirnya, Kania mampu melakukannya sendiri tanpa melihat layar ponselnya.


Dan saat ini, Kania baru saja menyelesaikan kuliah. Ia tengah berjalan-jalan di tepian trotoar sembari mendengarkan musik merdu lewat earphone. Sesekali, Kania bersenandung kecil menikmati lantunan indah seorang penyanyi di lagu tersebut.


"Aduh!" Kania mengaduh ketika ia tidak sengaja menendang sebuah batu besar yang entah sejak kapan sudah berada disana. Tubuh gadis itu sampai tersungkur ke tanah, karena tidak bisa menopang berat tubuhnya. Ditambah lagi, heels yang ia pakai saat ini membuatnya semakin kesusahan untuk berdiri dengan benar.


"Aakhh... Lutut gue lecet, kan?" Kania mengerang sembari membersihkan lututnya yang terkena sedikit tanah. Ia juga mulai melepas earphone, menaruh tas diatas trotoar jalan dan mencari tisu yang kemungkinan ada di dalam tasnya.


"Lo gak pa-pa?"


"Gue gak pa—" mendengar ada yang menyahutinya, Kania langsung mendongak menatap kearah sumber suara yang sama sekali tidak ia kenali.


Bodoh. Kenapa tadi Kania langsung menjawab 'tidak apa-apa'? Bagaimana kalau itu orang jahat!?


"Lo siapa?" panik Kania. Seorang pemuda tampan bersetelan santai tengah menatapnya datar. Kemudian pemuda itu berjongkok dihadapan Kania. Memeriksa lutut gadis itu yang terlihat sedikit lecet namun tidak mengeluarkan darah.


Kania terus menatap pemuda itu yang sedari tadi menatap lututnya.


Karena merasa ada yang tengah menatapnya, pemuda itu beralih memandangi wajah Kania, sampai gadis itu langsung membuang muka ketika ditatap olehnya.


"Lo punya plester?" pemuda itu nampak kembali menatap lutut Kania.


Menghela nafas, Kania kemudian menggelengkan kepala sebagai jawaban 'tidak' dari pertanyaan pemuda asing itu.


Pemuda itu nampak mengangguk beberapa kali. Kemudian melepas tas yang sedari tadi ia gendong di pundaknya. Mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Lo nyari apaan?" Kania bertanya, saat pemuda itu tidak juga menemukan barang yang dia cari. Raut wajahnya berubah menjadi lebih serius setelah ditanya oleh Kania. Tangannya semakin gencar mencari sesuatu di dalam tasnya.


"Nah, ketemu." pemuda itu nampak tersenyum tipis setelah menemukan apa yang ia cari. Plester? Kania berucap dalam hatinya.


Ooh. Rupanya, pemuda itu ingin mengobati luka Kania. Terlihat raut wajah serius ketika pemuda itu membuka plester dengan hati-hati lalu menempelkannya di lutut Kania.

__ADS_1


"Nanti kalo udah sampe rumah, lepas aja plesternya. Terus bersihin lagi. Jangan lupa pake obat merah juga." pemuda itu berucap dingin pada Kania. Lalu berdiri dari berjongkok di hadapan gadis itu sembari menggendong tasnya kembali.


Kania memberusahakan diri untuk berdiri sembari mengambil tasnya dan earphone yang tadi ia taruh diatas trotoar.


"Makasih, ya." Kania lalu tersenyum pada pemuda itu. Dan dibalas anggukan serta senyuman tipis dari sang pemuda.


"Lo anak kuliahan juga?" tanya Kania. Pemuda itu mengangguk tanpa menjawab.


"Jurusan apa?" Kania kembali bertanya basa-basi. Sungguh, ia ingin pemuda di hadapannya ini berbicara padanya. Seperti tadi.


"Jurusan ekonomi." pemuda itu menjawab cepat. Kania lalu mengangguk.


"Eh? Ekonomi?" ulang Kania. Merasa ada yang tidak beres saat ini.


Lalu pemuda itu kembali menganggukan kepalanya.


"Gue juga! Lo semester berapa?" tanya Kania lagi. Pemuda itu nampak berpikir.


"Semester tujuh. Satu semester lagi lulus. Lo?" kali ini, pemuda itu menjawab dengan sedikit panjang. Ia juga terlihat bertanya pada Kania.


"Wah! Gue juga!" jawab Kania antusias. Senyum di wajahnya nampak mengembang, membuat pemuda di hadapannya terpaku dengan senyuman manis dari gadis itu. Pemuda itu lalu ikut tersenyum kearah Kania.


"Gue Reval. Lo?" pemuda bernama Reval itu memberikan tangannya, memperkenalkan diri pada gadis yang berada di hadapannya.


****


Kania terus tersenyum sedari ia pulang dari kampus. Ia tengah berada di ruang keluarga di rumahnya saat ini. Dan sepasang mata dari kejauhan nampak terus memperhatikan gerak-gerik Kania seperti, tersenyum sendiri pada layar ponselnya dan juga menatap langit-langit rumah dengan senyum yang masih mengembang.


Sang mama yang menyaksikan itupun ikut menatap langit-langit di ruangan tersebut.


"Emang disini ada apaan, ya? Kok tuh anak senyum-senyum sendiri?" Mama Andin bergumam sembari berjalan kearah salah satu sofa yang kosong. Mencoba untuk mendekati putrinya yang masih terlihat sibuk dengan dunianya sendiri.


"Lagi ngapain kamu?"


Kania berjengit dari lamunannya sampai-sampai ponsel yang ia pegang pun jatuh ke lantai. Untungnya, lantai di ruangan ini dilapisi karpet beludru yang empuk. Jadi, ponselnya tidak apa-apa.


"Mama ngagetin, ih!" Kania berceloteh sebal pada sang mama sembari meraih ponselnya yang sempat terjatuh.


Membuka layar ponsel lalu menghela nafas ketika tidak terjadi apa pun pada benda persegi panjang itu.


"Lagi chattan sama siapa?" tanya Mama Andin, menginterogasi anaknya.

__ADS_1


Kania nampak salah tingkah dengan pertanyaan dari mamanya. Ia lalu terkekeh sembari menggeleng cepat kepalanya. Dengan tergagap, Kania menjawab,


"E-enggak! A-ak-ku gak lagi chattan sama ssiapa-siapa kok!,"


Mama Andin hanya geleng-geleng kepala atas sikap putrinya yang terlihat sangat gugup itu.


"Terserah kamu, deh. Oh iya, mama mau ngasih tahu sesuatu nih sama kamu." ujar Mama Andin mengalihkan topik. Kania nampak mengganti raut wajah gugupnya dengan raut wajah serius.


"Mau ngasih tahu sesuatu apa, ma?" tanya Kania, dengan raut wajah bertanya-tanya.


"Raka sebentar lagi mau pulang ke Jakarta. Katanya... Pas dia pulang mau langsung lamar pacarnya."


Raut wajah serius Kania lalu terganti dengan raut wajah lesu. Pikiran tenangnya berubah kacau ketika ia kembali mendengar nama cinta pertamanya.


Cinta pertama?


Ya, Raka adalah cinta pertamanya setelah cintanya pada sang ayah. Selama ini, Kania tidak pernah berdekatan dengan pria manapun. Ia juga tidak pernah mencintai lawan jenis seperti kebanyakan gadis seumurannya. Hingga Kania bertemu Raka. Dosen menyebalkan yang entah sejak kapan namanya bahkan wajahnya sudah tertanam di hatinya. Hingga pria itu akhirnya pergi dan tak pernah kembali setelah hampir dua tahun. Pria itu pernah berjanji akan kembali lagi. Namun ia tidak berjanji untuk kapan ia kembali.


Hingga sekarang, sebuah kabar mengenai kepulangan pria itu mampu membuat Kania terkejut dan bingung dengan perasaannya ketika sang mama mengatakan; Raka akan pulang lalu melamar kekasihnya.


Haruskah Kania bahagia atas kepulangan Raka?


Tapi, Raka akan melamar seseorang. Itu artinya, pria itu sudah memiliki hubungan dengan orang lain. Jadi, Kania sudah di lupakan?


"Sayang? Kamu gak pa-pa?" perkataan dari Mama Andin, mampu membuyarkan lamunan Kania.


Gadis itu mendongak, lalu tersenyum manis menutupi luka.


"Kania gak pa-pa, ma. Emang kania keliatan gimana-gimana, gitu?"


Menghela nafas, Mama Andin hanya mengangguk lemah. "Enggak, kok! Kania baik-baik aja. Mungkin Kania kayak gini, faktor laper kali ya, ma?" Kania mengelus perut datarnya sembari menampilkan raut wajah sedih yang dibuat-buat.


Terkekeh, Mama Andin lalu menepuk kecil paha putrinya yang hanya terlapisi celana pendek.


"Kalo laper, ya makan! Bukan malah curhat!" cetus sang mama. Kania hanya mampu memanyunkan bibir bawahnya, kesal.


"Emang mama masak apaan?" tanya Kania, memasang raut wajah sok sedih.


"Lihat aja sana di dapur! Dari pada nanya-nanya begituan, ntar keburu dingin lagi!" jawaban dari Mama Andin sontak membuat Kania langsung beranjak dari sofa, lalu berlari menuju dapur.


Mama Andin yang menyaksikan tingkah putrinya hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


To be continue...


setelah sekian lamanya, ku blik lgi:) satu eps aja dulu. ntar klo like plus views nya nambah, ku tambahin jdi 2 atau 3 eps deh, hihii... msh mau lnjut?!


__ADS_2