My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Masalah..


__ADS_3

Setelah kejadian semalam yang membingungkan untuk Hana, kini pagi yang cerah pun menyambutnya.


Aktifitas pagi hari seperti biasa sebelum berangkat, Hana memakai batik sekolah dan Farzan memakai setelan jas yang rapih.


Pasti ke kantor.


Setelah makan malam itu, Farzan tidak memarahinya dan bersikap seperti biasa namun Hana bisa merasakan jika Farzan menahan kekesalannya.


Apa dirinya harus minta maaf? Hana benar di buat bingung.


Gadis itu menyampirkan tasnya di bahu kiri lalu turun menyusul Farzan yang sudah dihalaman depan memanasi mobilnya.


"Udah siap?" Tanya Farzan, saat melihat Hana menghampirinya dengan seragam lengkap.


"Udah Pak!" Jawab Hana.


Mereka tidak sarapan karena Farzan harus berangkat pagi, dan menyuruh Hana sarapan disekolah.


"Ayo masuk!" Hana pun mengangguk lalu masuk kedalam mobil.


Didalam perjalanan, Farzan memang selalu diam tapi membuat Hana tidak nyaman.


"Ehmm.. Pak?" Hana memberanikan diri untuk bicara duluan.


"Hmm.. Kenapa?" Jawab Farzan dengan nada seperti biasa yang masih fokus kedepan.


"Aku mau minta maaf soal kemarin!" Ucap Hana dengan pelan namun tetap terdengar oleh Farzan.


Farzan diam untuk beberapa saat lalu mengangguk, "Hmmm.. Iya gak papa." Jawab Farzan singkat.


Huft..


Hana hanya bisa menghela nafas, dirinya belum sedewasa itu untuk mengerti perasaan pasangan apalagi suami. Hana pacaran saja tidak pernah, lalu tiba tiba menikah dengan gurunya tampa proses dulu.


Bahkan Hana belum mengenal Farzan lebih jauh lagi, Hana hanya bisa menangkap beberapa kebiasaan Farzan dan lalu malam tadi pun membuatnya tau hal baru lagi tentang Farzan.


"Udah sampai!" Ucap Farzan dan membuat Hana sadar dari lamunannya.


Hana jadi heran pada dirinya sendiri karena sering melamun.


"Iya.." Hana menyalimi tangan Farzan, "Aku sekolah dulu Pak, Assalamualaikum!" Pamit Hana.


"Walaikumsalam!"


Setelah Hana turun dari mobilnya, Farzan langsung menjalankannya dengan kecepatan tinggi.


Hana sempat terkejut dan berpikir yang macam macam.


"HANA!!" Teriak Bunga dan langsung merangkul Hana.


Hana terkejut, "Astaghfirulloh Nga! Bisa gak sih jangan ngagetin?" Tersangka hanya cengengesan saja.


"Lo gak dimarahin kan?? Semalem lo gak bales chat gue loh??" Belum apa apa Bunga sudah mencecar pertanyaan.


"Gak apa apa kok tenang aja! Dari semalem gak berani pegang hp sorry!" Hana menjawab dengan senyuman, padahal jantungnya dari semalam terus berdebar.


Bunga mengangguk, "It's oke lah.. Masuk yuk!"


Hana dan Bunga berjalan bersama melewati koridor dan memasuki kelas.

__ADS_1


Di tempat lain.


Kantor cabang Mahardika.


"BIMAAA!!!"Farzan datang satang sudah berteriak saat memasuki lobby perusahaannya memanggil asisten pribadinya sekaligus tangan kanannya.


Semua karyawan yang sedang berlalu lalang terkejut dan semua langsung terdiam menunduk.


Untuk kali pertamanya melihat bosnya marah seperti ini.


Bima dari kejauhan berlari tergesa gesa menghampiri Farzan.


"P-pak Farzan!" Dengan nafas yang ngosh ngoshan Bima berhadapan dengan Farzan.


"KENAPA BISA?? KERJAAN KALIAN APA? HAHH!!" Bima sampai terperanjat. Farzan menekan pelipisnya yang terasa nyeri.


Malam tadi Farzan mendapatkan kabar sebuah email yang membuatnya sakit kepala dan marah. Bahkan Farzan merasa Hana pun terkena imbasnya karena tadi dia diamkan.


Ternyata kabar buruk ini sudah sampai ke telinga Farzan.


Bima hanya menunduk.


"Hahh...!" Farzan menghela nafasnya berusaha menahan emosinya, "Kita bicara diruangan saya!" Bima mengangguk dan mengikuti Farzan dari belakang. Karena terlalu banyak orang jika bicara hal besar di lingkungan lobby.


Karyawan disana terus bisik bisik mengenai Farzan yang tiba tiba datang dan marah marah. Farzan yang terlihat tidak banyak bicara dan bersikap cuek hari ini menggelegarkan seisi kantornya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?? Kenapa bisa sampai kecolongan kaya gini?" Farzan memijit pangkal hidungnya.


Saat ini keduanya ada diruangan Farzan yang kedap suara, Bima bingung harus menjelaskan dari mana. Dan bagaimana Farzan bisa mengetahuinya?


"Bima?" Farzan menatap Bima yang hanya menunduk.


"B-baik Pak! Saya permisi!" Bima langsung keluar ruangan Farzan dan menelepon seseorang sesuai perintah Farzan.


Untuk pertama kalinya Bima melihat raut khawatir Farzan yang tertuju untuk seorang gadis yang baru bosnya itu halalkan.


Farzan terus menghela nafas, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Kemungkinan kejadian ini akan terjadi namun hal yang tidak terduga nominal dan sipelaku yang membuat Farzan sangat kesal dan marah, hingga Hana kemarin mendapatkan cipratannya.


Perusahaan yang sudah dibangun dengan susah payah oleh sang ayah kini orang itu dengan mudahnya menerobos dan hampir meruntuhkannya.


Dan itu membuat emosi Farzan sulit dikendalikan.


Siang ini Farzan ada kelas untuk mengajar dirinya bisa melihat Hana walau dari kejauhan.


Semoga tidak ada kejadian buruk.


.


.


Disekolah, Hana dan yang lainnya mengumpulkan tugas yang di berikan Bu Ai waktu lalu, meskipun Bu Ai izin tidak dapat mengajar namun tugas harus tetap dikumpulkan karena ada guru piket yang menyusul ke kelas.


"Hahhh.. Kirain gak bakal dikumpulin!" Lenguh Caca menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan diatas meja.


"Na! Lo beneran gak kenapa napa?? Muka lo pucet loh!" Bunga mengabaikan ucapan Caca dan mengkhawatirkan Hana yang duduk disebelahnya.


Hana menggeleng, "Gak papa kok beneran!" Hana tersenyum meyakinkan. Meskipun kepalanya terasa pusing dan bagian perutnya agak nyeri.


"Gue tau lo bohong! Ada yang sakit?" Yah.. Percuma jika mengelak pada Bunga yang akan terus bertanya. Nyatanya Bunga tidak akan pernah percaya dengan kebohongannya.

__ADS_1


"Kantin yu! Belum sarapan.." Hana hanya menyengir saja saat melihat mata Bunga yang melotot.


"Ayoo!! Ca bangun!" Bunga menarik lengan Hana dan juga menarik kerah baju Caca membuat Caca terkejut.


"Buset.. Bunga!" Kesal Caca namun diabaikan.


"Kenapa lo gak bilang kalo gak sarapan?? Muka lo pucet tau." Bunga gereget pada Hana yang kadang selalu menyembunyikan sesuatu hal jika tidak dia paksa maka tidak akan terungkap.


Lagi lagi Hana hanya menyengir saja tidak bisa mengelak jika itu Bunga, hanya Bunga yang bisa menebak apa yang dia sembunyikan dan itu selalu benar.


Setelah tiba dikantin Hana disuruh duduk, Bunga dan Caca yang memesankan makanan.


Hana hanya menurut saja dan bermain ponsel, tidak ada pesan dari Farzan.


Mungkin sibuk. Batin Hana.


Entah kenapa Hana seperti berharap Farzan mengabarinya.


Hana melihat kearah luar kantin, terlihat dari kejauhan mobil Farzan memasuki parkiran sekolah khusus guru.


Kemudian tatapannya tertuju pada gadis yang berlari ke arah suaminya itu, siapa lagi jika bukan Melisa.


Hana mengepalkan tangannya melihat tingkah Melisa saat Farzan keluar dari mobil, meskipun tidak ditanggapi oleh Farzan entah kenapa rasanya sesak.


Hana tidak ingin mencari masalah disekolah, beberapa bulan lagi ujian akhir Hana ingin lulus dengan tenang.


Seolah tau jika Hana memandangi keduanya, tatapan Melisa sangat jelas tertuju kearahnya dan tersenyum meremehkan.


Apa maksudnya itu??


"Na, ini makanannya! Sorry telat soalnya ngantri." Tatapan Hana kini teralih pada Bunga yang membawa nasi katsu untuknya.


"Terimakasih!" Balas Hana, saat Hana berbalik untuk melihat Farzan lagi ternyata mereka sudah tidak ada dan Hana melihat Farzan memasuki ruangannya tanpa Melisa.


Hah..


Hana bernafas lega..


Ehh.. Apa maksudnya dari kata lega ini??


Entahlah.


.TBC.


.


.


.


.


.


.


Haloo semuanyaa jangan lupa like, komen, dan vote juga...


Sampe part ini menurut kalian gimana??

__ADS_1


__ADS_2