
Pagi yang cerah secerah dua manusia yang sedang di mabuk asmara. Hana merasa nyaman berada didalam pelukan Farzan dan mengabaikan cahaya matahari yang menyorot dari jendela kaca.
Setelah sholat subuh berjamaah tadi Farzan tidak biasanya mengajak tidur lagi karena masih ada waktu cukup lumayan. Jadi beginilah pasutri baru ini bergelut dengan selimut.
Begitu juga Farzan, untuk kali pertamanya tidur sangat nyenyak bahkan bermimpi lebih dari indah. Farzan juga tidak mau melepaskan pelukannya dan membuka matanya. Rasanya sayang untuk dilewati hanya satu detik saja.
Tapi kenyataan tidak bisa begitu, Hana langsung membuka matanya. "Mas, bangun." Ucap Hana mencoba melepaskan tangan Farzan, tapi pria ini malah mempererat pelukannya.
Wajah Hana menjadi merah jika mengingat malam tadi setelah acara ungkapan perasaan lalu bunyi perut Farzan dan menemani Farzan makan, sebelum tidur Farzan menciumnya dengan dalam dan lembut, membuat Hana hampir lupa dengan kenyataan.
Hana menyembunyikan wajahnya didada Farzan, dan itu membuat Farzan merasa senang.
"Izin satu hari gak masuk sekolah gak papa kan." Suara berat Farzan membuatnya merinding karena telalu dekat dengan telinganya.
"Kok ajarin yang gak bener sih." Hana mendongak, Farzan masih menutup matanya. Wajah bantal Farzan tetap terlihat tampan ini curang.
"Gak mau lepasin kamu soalnya." Farzan membuat Hana bersembunyi di dadanya dan mengeratkan lagi pelukannya.
"A-aku sesak, Mas. " Ucap Hana menepuk punggung Farzan.
Farzan membuka matanya dan mengucek sebentar setelah melepaskan pelukannya, Hana bisa bernafas lega sekarang. Farzan benar benar kuat.
Hana melirik jam yang berada di dinding kamarnya, "Astaghfirulloh, Mas udah siang ihhh.." Hana terkejut saat melihatnya ternyata sudah pukul 6.30. "Mas bangun ihh.. Aku kesiangan ini." Hana kesusahan karena badannya di timpa kaki Farzan.
"Izin ya.. Aku izinin.. Eh engga biar Bima yang telepon ke wali kelas kamu." Ya ampun ada suami yang kaya begini.
"Tapi kan-" Perkataan Hana terputus karena Farzan menariknya kedalam pelukan membungkam bibir mungil yang menjadi candunya.
"Nurut sayang sama suami.. Kalo engga kamu dosa loh." Farzan dengan santainya menutup matanya kembali.
"Masa nurut sama hal yang gak bener sih." Hana bener bener tidak habis fikir dengan tingkah Farzan yang semakin hari semakin membuatnya terkejut.
"Berisik deh nanti aku cium loh." Sahut Farzan membuat Hana melotot dan seketika bungkam. "Nahh gini nurut aja ya.." Farzan mengusap kepaka Hana dengan hijab yang sudah tidak tau bentukannya gimana.
Hana menghela nafas pasrah tidak bisa melawan Farzan lagi, hari ini terpaksa Hana bolos dan harus melewati materi pelajaran.
Lebih baik Hana ikut menyusul Farzan tidur lagi, padahal yang Hana tau pria yang memeluknya sekarang ini sedang banyak kerjaan tapi sisi malasnya juga ada ternyata. Hana pun membalas pelukan Farzan lalu tertidur lagi.
Bibir tebal Farzan tersenyum karena dia berhasil menjerat Hana untuk tetap disini, Farzan memang iseng tapi kelewat seneng juga jika berduaan bersama Hana di atas kasur. Iseng Farzan karena ulah istri kecilnya yang semalam tiba tiba cuekin jadi sekarang Farzan ingin manja manja berdua.
Dua jam berlalu Hana membuka matanya dan melihat tidak ada Farzan disampingnya, gadis itu segera duduk dan melihat sekelilingnya.
Sepi.
"Apa aku di tinggalin?" Gumam Hana.
Hana melihat jam ternyata sudah jam 9 saja, gadis itu langsung turun dari ranjang dan membereskannya. Hana berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Hana belum menyiapkan sarapan untuk Farzan jadi waktu mandi Hana di persingkat.
Masa bodolah. Pikir Hana.
Setelah berganti pakaian dan memakai hijabnya Hana langsung turun untuk mencari Farzan, namun langkahnya terhenti karena melihat pemandangan yang tidak biasa disana.
__ADS_1
Ada Farzan yang sedang sibuk di dapur dengan memakai celemek bergambar bunga kesukaan Hana. Gadis itu terkekeh melihat penampilan Farzan dan kondisi dapur yang tidak beraturan.
Terlihat Farzan berbalik dan tersenyum ke padanya, "Sudah bangun?" Tanya Farzan yang di angguki Hana, sekarang Hana berjalan pelan menuruni anak tangga untuk menghampiri Farzan.
"Tunggu sebentar ya.. Aku lagi bikin sarapan." Ucap Farzan sambil mengangkat spatula di tangan kanannya.
Hana semakin mendekat untuk melihat apa yang di buat Farzan, "Eitss.. No! Gak boleh kesini.. Duduk disitu nanti aku siapin." Farzan menghalangi Hana dan menyuruh Hana untuk duduk di kuris yang ada di mini bar.
Hana menghela nafasnya, akhir akhir ini jila beraama Farzan Hana menjadi sering menghela nafas.
Hana memperhatikan suaminya ini yang terlihat fokus meski terkadang ada beberapa tragedi yang membuatnya khawatir, seperti barusan Farzan lupa tidak memakai lap saat memegang alat penggoreng membuat pria itu teriak.
Hana akan menolongnya namun lagi lagi di tahan, padahal terlihat jelas telapak tangan pria itu memerah. Hana merasa khawatir, gadis itu memilih berdiri dan berjalan keruang tengah mengambil kotak p3k lalu kembali menghampiri Farzan.
Hana mematikan kompornya terlebih dahulu, "Duduk sini.. Dan diam." Ucap Hana terlihat galak.
Farzan menjadi ciut dan menurut, "Gak usah sok sokan deh kalo gak bisa masak.. Lihat? Tangannya jadi merahkan?" Hana mengelap telapak tangan dengan kain yang sudah di basahi lalu mengeringkannya.
Meniup niup tangan Farzan, membuat Farzan tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Hana.
Hana menholeskan salep lalu melilit perban untuk menutupi luka Farzan agar tidak terinfeksi.
"Jadi Tuan Suami biar aku saja yang buat oke." Hana berdiri setelah membereskan kotak p3k dan berkacak pinggang depam Farzan.
Farzan mengangguk sambil cemberut lalu melepaskan celemeknya dan menyerahkan pada Hana. Rencana Farzan ingin membuat sarapan special untuk Hana gagal total. Sekarang dapur yang berantakan karena ulahnya di ambil alih oleh istri kecilnya.
Farzan duduk di kursi tadi yang Hana duduki memandang Hana masih terus cemberut.
Mereka berdua pun memakan sarapan yang di buat Hana, Hana yang memperhatikan Farzan sedari tadi hanya diam meletakan sendoknya lalu memegang tangan Farzan.
"Gak papa.. Lain kali aku ajarin cara masak yang rapih mau?" Ucapan Hana mampu membuat senyum Farzan mengembang.
Farzan mengangguk, "Janji?"
"Janji." Jawab Hana.
Sekarang Farzan makan dengan semangat.
Ada ada saja Farzan ini.
Siang ini Hana dan Farzan bersantai di sofa dengan Farzan yang memangku leptop dan bukan Hana. Tiba tiba bel rumahnya berbunyi.
Hana dan Farzan saling pandang, "Mas,?" Tanya Hana namun Farzan menggeleng mengerti apa yang mau Hana sampaikan.
"Aku yang bukain ya." Hana berdiri setelah dapat anggukan dari Farzan, terdengar sangat berisik diluar rumahnya.
Bener gak ini rumahnya??
Benerlah masa gue salah..
Tapi kaya gak ada orang ini, lo nipu ya!!
Dihh kalo gak ada orang tuh mobil kenapa ngejugrug..
__ADS_1
Yeee.. Biasa aja kali gak usah ngegas..
Udah ihh diem berisik..
Begitulah kerusuhan yang Hana dengar di balik pintu, Hana sudah yakin siapa mereka semua.
Ceklek.
Hana membuka pintu rumahnya.
"Nah kan bener tuh Hana keluar." Ucap Bunga dan bukannya mengucapkan salam.
"Walaikumsalam.. Ada apa ribut ribut depan rumah orang?" Sahut Hana dan mereka semua hanya menyengir.
"Ehh.. Assalamualaikum Neng Hana." Ucap Dika yang ternyata ikut.
"Walaikumsalam." Jawab Hana.
Hana tegang, Dika belum tau kebenaran tentang dirinya dan Farzan, jadi jika Dika tau Farzan satu rumah dengannya apa yang akan terjadi.
Hana memandang Caca dan Bunga bergantian seolah bertanya dengan isyarat tatapan mata, namun kedua temannya ini entah terlalu polos atau bego, mereka berdua tidak mengerti dengan isyarat Hana.
"Kenapa kita gak di suruh masuk sih, Han?" Tanya Dika yang merangkuk bahu Vino.
"Apaan sih lo." Vino menepis tangan Dika.
"Ehh.. Mmm, kenapa kalian bisa ke sini?" Hana malah bertanya pada ke empat temannya dan bukan menyuruhnya masuk.
"Lo pikir kita kenapa?? Tiba tiba gak masuk terus dapat kabar lo sakit." Jawab Caca berkacak pinggang.
Lah, kok jadi Caca yang marah.
"Sakit?" Beo Hana yang di angguki keempatnya.
Setau Hana tadi Farzan hanya menyuruh Bima untuk memberitahu jika Hana izin, tapi ternyata Bima membuat izin sakit.
Hadeuhh...
"Kenapa pada diluar?? Gak disuruh masuk??" Tiba tiba Farzan muncul dari belakang Hana membuat gadis itu semakin menegang.
"Loh.. Pak Farzan?" Ucap Dika yang terkejut.
.
.
.TBC.
Nah lohh begimana???
Terus like yaa sayang..
komen banyak dongs..
__ADS_1