My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Sesuatu Terjadi..


__ADS_3

🌸MHMT🌸


.


,


Hari libur yang menyenangkan bersama teman-teman dan suami tersayang, sekarang hari-hari Hana sudah sangat baik dari sebelumnya, dan soal kecelakan saat di gedung olahraga indoor saat itu masih belum ada bukti yang nyata.


Meskipun Farzan sudah menjelaskan apa yang dia lihat tetap saja pihak sekolah tidak bisa memberikan Melisa hukuman karena tidak ada rekaman cctv yang menangkap kejadian itu.


Meski pihak sekolah tau mereka berurusan dengan seorang anak dari keluarga Mahardika tetap saja tidak bisa seenaknya tanpa bukti nyata.


Farzan berusaha mencari cara untuk mendapatkan bukti saat Melisa mendorong Hana namun nihil tidak ada yang melihatnya jelas jika itu perbuatan Melisa.


Hana sudah membicarakan ini dengan Farzan agar tidak di perpanjang lagi, dan Hana sudah melupakan semua kejadian itu. Dirinya berjanji akan berhati-hati lagi jika bertemu dengan Melisa.


Satu yang belum Hana katakan pada Farzan tentang ancaman Melisa, jika soal perasaan Melisa. Hana yakin Farzan tau soal itu karena Melisa mengejarnya secara terang terangan.


Apa semuanya akan baik baik saja??


Apa tidak akan ada sesuatu hal terjadi lagi??


Namun, sejauh ini semua berjalan normal disekolah Hana kembali seperti siswi biasanya meskipun terkadang jika berpapasan dengan Melisa, cewek itu selalu menatapnya tajam.


Sempat merasa khawatir tapi ternyata tidak terjadi apa pun setelah beberapa minggu terlewati setelah acara sekolah waktu itu.


Hari ini sudah mulai percobaan ujian semester satu dan sampai tiga hari kedepan, dan soal makan malam bersama keluarga Rudi masih belum dijadwalkan ulang akibat kecelakaan saat itu.


Jam istirahat pertama berbunyi semua murid berhamburan keluar kelas untuk menghilangkan rasa pusing yang sedari tadi bergelud dengan soal soal.


"Hahh.. Otak gue ngebul, Na.." Bunga menelungkupkan wajahnya diatas meja dan menoleh kesamping pada Hana.


Gadis yang sedang di tatap hanya bersikap biasa saja terkadang meregangkan otornya, "Lo gak pusing apa, Na?? Gue aja berasa otak gue kudu di service.. "


Hana mengangguk, "Pusing kok sama.."


"Lah.. Enak bener lu jawabnya.. " Bunga bangun dan menggekitiki pinggang Hana.


"Haha.. Ampun Nga.. Jangan hahah.. Geli ini.. Hahaa.. " Hana tidak bisa menahan rasa gelinya gara gara Bunga.


"Seru banget cewek-cewek.. " Tiba tiba Dika duduk di kursi depan menghadap kebangku Hana dan Bunga.


"Apa sih ganggu.. " Ketus Bunga dan menghentikan tingkah jahilnya pada Hana.


Gadis itu ngosh ngoshan sampai merebahkan kepalanya diatas meja.


"Capek bangey bu.. Itu dikelitikin loh.. Belum dienakin.. Hahahah" Dika terbahak dengan ucapannya sendiri berbeda dengan Hana yang mengerti maksud Dika terkejut dan membulatkan matanya.


Plak..


Hana memukul lengan Dika meski tidak kencang, "Ehh mulutnya. ." Pria itu hanya menyengir saja.


"Ehh.. Caca mana?" Tanya Hana.


"Kayanya ketoilet deh.. Soalnya tadi buru buru gitu.. Kan Caca emang gak bisa nahan.. " Jawan Bunga yang tadi sempat melihat Caca keluar kelas.


"Nahan apa tuh.. "

__ADS_1


Plak..


Lagi.. Dika kena pukul namun kali ini di kepalanya dan itu perbuatan Bunga.


"Sakit ogeb.. " Dika mengusap kepala yang merasa sakit karena pukulan Bunga tidak seperti Hana yang hanya main main.


"Biarin.. Bleee.." Cewek bar bar ini merasa bodo amat, Hana tertawa melihat mereka berdua selalu ada saja yang mereka rebutkan.


"Haii.. " Tiba tiba Caca datang lalu menggeser kursinya untuk merapat di meja Bunga.


"Lo abis dari toilet ya?" Tebak Bunga dan Caca hanya menyengir.


"Lo cebok gak.. " Tanya Dika yang langsung dapat geblakan lagi dari Bunga, "Gila lo maen geblak mulu tuh tangan.. Kalo jadi suami lo gue laporin lo KDRT.. " Dika lagi lagi meringis.


"Siapa juga yang mau lo jadi suami gue.. Mending gue jomblo sendirian.. " Jawab Bunga seolah jijik.


Sebenarnya Caca tidak bisa menjawab pertanyaan Bunga, tadi itu bukan toilet tujuan Caca keluar kelas dengan buru buru tapi~ untuk menemui Vino.


Caca tidak bisa mengatakan ini pada mereka, mereka akan melihatnya aneh jika sering terlihat bersama Vino meskipun sudah berteman sejak lama, dan Caca juga belum bisa bilang jika dirinya menyukai Vino.


Menyukai seseorang itu benar tidak tau tempat dam waktu, terkadang rasa suka itu muncul disaat yang salah.


🌸


🌸


Mas Farzan Message..


"Assalamualaikum sayang.. Mas jemput di tempat biasa ya?? Hari ini Mas juga pulang cepat.."


Tuk..


"Kenapa senyum senyum??" Hana terkejut saat pipinya disentuh oleh seseorang saat menoleh ternyata itu Vino.


"Vino?? Ngapain?" Sudah menjadi kebiasaan jika ditanya Hana selalu balik nanya. -_-


"Hah.. Kebiasaan aku nanya malah balik nanya.. " Vino duduk disamping Hana.


Mereka sekarang berada di depan kelas Hana, "Yang lain belum pada keluar?" Vino mengalihkan pembicaraan.


"Belum.. Ini lagi nungguin mereka.. " Vino mengangguk, ya Vino yakin jika Hana selalu bisa menyelesaikan soal soal ujian. Buktinya gadis itu sudah ada diluar.


Seperti biasa jika jam terakhir setelah selesai mengerjakan para murid langsung keluar kelas.


"Kamu sendiri udah selesai?" Tanya balik Hana.


"Udah! Makanya aku disini.. "


Hening.. Vino tidak tau harus bicara apa lagi dengan Hana, rasanya akhir akhir ini jika mengobrol dengan gadis disampingnya terasa canggung tidak seperti dulu lagi.


Apa karena status kita yang berbeda??


Gue berasa sekarang lo gak nyaman saat bersama gue..


Hah...


Vino menghela nafas dan menyugar rambutnya, "Kalo gitu gue duluan.. Salam buat yang lain.. " Pamit Vino.

__ADS_1


"Gak nunggu yang la.. in??" Ucapan Hana menggantung karena Vino sudah berlalu menjauh dan hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikit pun.


"Ahhhh.. Akhirnya gue keluar dari guha hiro.. "Ucap Bunga dengan lesu diikuti Caca di sampingnya yang mengibas kelapanya.


"Lo kenapa?" Tanya Bunga heran.


"Otak gue berasap, Nga.. " Sontak Bunga dan Hana tertawa melihat Caca, "Ehh.. Kenapa?"


Caca ini lucu sekali, gadis blasteran manis ini ingin meniru Bunga namun malah terlihat kocak.


"Lo gak bisa niru gue haha.. " Bunga menepuk nepuk punggung Caca yang sekarang cemberut.


"Ihh.. Kalian mah.. " Gadis itu menghentakan kakinya.


"Udah yu pulang.. " Ajak Hana dan mereka berdua mengangguk.


Sepanjang jalan di koridor kelas mereka melepaskan penat dengan saling menertawakan meskipun itu hanya candaan.


"Aku ke arah sini.. Kalian hati hati pulangnya.. Bye.. " Hana menghentikan langkahnya dan pamit pada mereka.


"Oke.. Bye Hana.. " Jawab Caca dan Bunga melambaikan tangannya.


Hana berbelok ke arah kanan saat keluar dari gerbang dan bisa Hana lihat dari kejauhan mobil milik suaminya sudah ada disana, dengan tergesa Hana kesana.


Tuk.. Tuk..


Hana mengetuk kaca mobilnya.


Ceklek..


Pintu mobilnya langsung terbuka, Hana membuka sedikit lagi lalu masuk dan duduk. Matanya menangkap wajah tampan sang suami sedang tersenyum namun.. Gelisah?


Farzan mendekat lalu mencium kening Hana setelah pintu sebelah sang istri tertutup.


"Mas kenapa?" Tanya Hana sambil memasang seatbel.


"Hemm.. Aku gak kenapa-kenapa.. Kangen istri sendiri." Jawab Farzan memiringkan kepalanya.


Tidak tau saja saat ini Farzan menahan sesuatu yang sesak, "Idih.. Gombalnya tambah pinte.. " Hana mencubit pelan lengan Farzan.


"Gak papa gombalin istri sendiri kok.. " Farzan melajukan mobilnya.


"Ssttt.."


Hana memperhatikan Farzan yang terus meringis, "Mas? Apa terjadi sesuatu?"


Farzan menggelengkan kepalanya, "Ekhem... Aku gak papa sayang.. " Suara Farzan sangat jelas berbeda.


"Mas.?"


"Arghsst.. " Hana menyentuh pahanya membuat Farzan hampir gila menahan rasa sakit ini.


"Mas kenapa?" Farzan hanya menggeleng lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, "Kyaaa.... Mas... " Hana terkejut dengan yang dilakukan Farzan, gadis itu memegang kuat seatbelnya sendiri.


Dan terus bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya, ini seperti bukan Farzan. Hana khawatir dan takut terjadi sesuatu namun Farzan tidak menjawab pertanyaannya.


Sebenarnya kamu kenapa Mas...

__ADS_1


__ADS_2