
Sesuai rencana setelah pengumuman yang Heri berikan dan sekarang hari selasa waktunya diskusi pada setiap kelompok. Dan sesuai yang di katakan Heri bagi yang memgikuti eekstrakurikuler pulang sekolah kumpul.
Disini, dirumah Hana.
Setelah selesai sekolah mereka bertiga langsung menuju rumah Hana, kekompakan Dika dan Bunga memilih rumah Hana karena, "Kalo di rumah Hana banyak makanan."
Tapi, Hana pun tidak melarangnya malah merasa senang karena rumahnya ramai.
"Lo udah izin?" Tanya Bunga pada Hana.
"Hmm, udah kok." Jawab Hana meletakan nampan berisi minum dan banyak camilan.
Iya, saat di sekolah tadi Hana pergi ke ruangan Farzan dan meminta izin jika kedua temannya akan kerumah dan berdiskusi tentang acara sekolah.
Farzan pun mengizinkan itu membuat Hana replek memeluk pria bertubuh tegap ini. Membuat Farzan kesenangan, dan malah mencuri ciuam dibibir mungil Hana yang langsung cemberut.
Sekarang tugas Hana mencatat, sedangkan Dika mencari referensi dari leptop Hana dan Bunga dari ponselnya.
Hana menulis 'TEMA' di buku kosongnya.
"Jadi kita mau ambil tema apa?" Tanyanya.
"Waktu itu Heri bilang kan temanya adat apa saja.. Gimana kalo kita pake adat yang jarang sekali terpikirkan?" Usul Dika.
"Adat mana?" Tanya Bunga.
"Bentar gue lupa.. Cari dulu di internet." Jawab Dika yang dapat lemparan bantal sofa dari Bunga, membuat pria itu mendengus tidak membalas. Hana hanya terkekeh, belum apa apa satu bantal sofa nya sudah melayang.
"Papua mau gak?" Tanya Dika yang membuat Bunga melotot.
"Gak masalah kalo lo yang pake baju adatnya.." Jawab Bunga mulai geregetan.
"Haha siapa tau lo mau gitu.." Dika ini memang senang membuat Bunga darah tinggi. Haha.
"Kan tadi ada dua pilihan lagi yang belum dipilih sama kelompok lain.. Gimana kalo yang itu aja?" Hana menyahut diantara perang dingin Dika dan Bunga.
Bunga menoleh dan seolah berpikir, "Bener juga ya, tadi kan ada adat sunda sama adat sulawesi.. Mau pilih mana?? " Sambung Bunga.
"Kalo menurut gue sih lebih gambang adat sunda.. Terus makanan khas sunda juga banyak ditemui.." Ucap Dika.
"Tapi, bukannya karena banyak di temuin jadi terlalu mudah.. Kita kasih yang belum mereka tau.." Bunga memberi saran lagi.
Hana dan Dika jadi diam berpikir, yang dikatakan Bunga ada benarnya juga. Dika mulai mencari informasi di internet perbandingan yang menurutnya menarik.
Dan Hana mulai mencatat apa yang dikatakan Bunga dan Dika, lalu berdiskusi bersama. Sampai beberapa hal sudah mereka dapatkan dari diskusi ini.
Tak terasa waktu sudah menjelang larut dan mendekati waktu makan malam, tak lama Farzan pun akan segera pulang.
"Aku siapin makan malam dulu ya.. Kalian ikut makan malam disini juga ya.." Ucap Hana lalu berdiri.
__ADS_1
"Gue bantu ya, Na?" Sahut Bunga yang ikut berdiri.
"Gak papa kok aku bisa."
"Gak mau.. Pokoknya gue mau bantu." Putus Bunga yang langsung ke dapur mendahului pemiliknya.
Hana terkekeh, "Dik, gak papa tunggu disini ya?"
"Oke, gak masalah sekalian beresin ini dulu." Jawab Dika.
Lalu Hana menyusul ke dapur melihat Bunga yang celingukan sambil menggaruk kepalanya.
"Ngapain?" Tanya Hana menghampiri Bunga.
"Gak tau, haha.. " Cewek itu malah cengengesan.
Hana mengeluarkan bahan bahannya di dalam kulkas, "Gue bantu cuci sama potong ya.." Sahut Bunga.
"Iya boleh kok." Kedua gadis ini fokus dengan apa yang mereka lakukan.
Derum mobil milik Farzan terdengar oleh Hana, gadis itu izin untuk menyambut sang suami pada Bunga. Hana berlari ke depan lalu membuka pintu untuk Farzan.
"Assalamualaikum.." Ucap Farzan melihat istri kecilnya yang berada di ambang pintu.
"Walaikumsalam.." Jawab Hana menyalimi Farzan dan juga mendapatkan kecupan di keningnya.
"Temen kamu masih ada?" Tanya Farzan menyerahkan tas kerjanya. Karena setelah selesai dari sekolah Farzan langsung ke kantor.
"Gak papa dong.." Jawab Farzan mengusap kepala Hana. "Aku mandi dulu ya.." Lanjut Farzan yang di angguki Hana.
Hana pun kembali ke dapur dan melanjutkan masaknya yang dibantu Bunga, Farzan melihat Dika yang sedang membereskan ruang tengah.
"Hai, Dik!" Sapa Farzan membuat Dika terkejut.
"Ehh.. Halo Pak!" Jawab Dika tersenyum kikuk. Entah kenapa Dika selalu terkejut jika mendengar suara Farzan. Haha.
Dika dan Farzan tiba tiba diam mendengar keseruan kedua gadis yang ada di dapur, lalu kedua pria itu berniat untuk mengintip.
Dika jongkok di bawah Farzan, sedangkan Farzan hanya setengah badan mencondong. Memperhatikan.
"Pak.. Seneng ya dimasakin tiap hari kaya gitu?" Tanya Dika absurd.
"Hmm.. Ya bisa dibilang begitu." Jawab Farzan tanpa saling menoleh, pandangannya terfokus ke depan melihat istri kecilnya yang selalu mahir dengan alat masak.
Sedangkan Dika melihat Bunga yang ternyata, cewek bar bar itu bisa masak juga.
"Kamu jangan lihatin istri saya.." Ucap Farzan menunduk menatap Dika.
"Tenang Pak.. Saya gak liat Hana kok.. Heheh" Jawab muridnya sambil cengengesan.
__ADS_1
Farzan pun ikut tersenyum.
Sampai seseorang menyadari tingkah mereka, "Pada ngapain kalian?" Tanya Bunga yang berkacak pinggang.
"Ehh.. Anu.. Itu, Saya liat istri saya.." Bahkan seorang Farzan yang notabennya guru mereka gugup ditanya Bunga begitu.
"Nah, kalo lo ngapain jongkok begitu?? Lo mesum yaa??" Tuding Bunga yang membuat Dika langsung berdiri.
"Ehhh.. Enak banget lo ngomong.. Gue, gue cuma liat yang masak doang." Jawab Dika yang gugup juga.
"Lah.. Tadi katanya gak liatin istri saya."Sekarang Farzan yang marah ke Dika.
"Ehh.. Bukan begitu Pak.." Dika mengibaskan kedua tangannya, "Aduhh.. Salah wae.." Gerutunya mengacak rambut.
Mereka semua menjadi tertawa melihat Dika jadi yang kena getahnya..
Makan malam pun dimulai, melihat situasi sekarang seperti sedang couple date hanya saja di dalam rumah.
Entahlah siapa tau Bunga dan Dika berjodoh??
Hanya mereka yang tau perasaan masing masing.
Setelah selesai makan malam Dika dan Bunga pamit pulang, tinggallah Hana dan Farzan sekarang.
Setelah sholat isya berjamaah, Farzan langsung duduk di kursi kerjanya, dan Hana menggeser kursinya agar duduk di dekat Farzan.
"Kenapa bawa kursi?" Tanya Farzan.
"Kan mau liat Mas kerja." Jawab Hana sekenanya.
"Maksudnya kalo mau duduk, sini aja.. " Farzan menepuk kedua pahanya.
Hana melotot, dia mengerti apa yang Farzan maksud "Gak mau ya.. " Tolak Hana membuat Farzan mangun.
Tidak secepat itu untuk terlalu intim meski sudah saling menyatakan perasaan, tetap saja merasa belum siap.
Farzan pasrah dengan penolakan Hana dan membiarkan istri kecilnya itu melihatnya bekerja.
"Kenapa selalu dibawa pulang kerjaannya?" Tanya Hana yang bosan karena keheningan dan hanya suara keyboard saja.
"Sama halnya dengan PR di sekolah.. Pekerjaan dikantor sangat banyak jadi aku bawa pulang untuk meringankan besok.." Jelas Farzan yang masih tidak mengerti oleh Hana.
Sebanyak itukah pekerjaan sang suami, lalu kenapa harus membebani diri sendiri jika pekerjaan ini banyak, Farzan bisa berhenti menjadi guru magang kan??
Tapi, Hana tidak bisa mengatakan itu pada Farzan karena dia tau olahraga itu kesukaan Tuan Suami.
"Mas jangan kecapean ya.." Hana memegang punggung tangan Farzan yang bergerak lincah di atas keyboard.
Farzan menatap Hana dan tersenyum, "Gak akan kalo ada kamu disini.. " Jawaban Farzan membuat hidung Hana terbang seketika.
__ADS_1
Pria ini lama kelamaan jadi terlalu manis, besok lusa bisa terkena diabetes.