
Subah berbagai macam permainan di mulai dan waktu pun sudah hampir tengah malam, kini anggota setiap kelompok tinggal tersisa lima orang dan game tersisa dua lagi. Dika dam Bunga gugur di permaiman ke empat, game tersebut beradu bantal di atas sepeda berboncengan.
Game yang memang tak pernah terpikirkan, bahkan Farzan pun kalah di game yang dia mainkan, mencapit bantal sebanyak mungkin. Namun kalian harus tau yang tercapit oleh Farzan hanya tiga bantal, hal itu sontak membuat semua yang menyaksikan tertawa terbahak. Seorang Farzan yang terlihat sempurna, namun tetap saja ada kurangnya.
Sekarang giliran Hana untuk mengikuti game yang dikiranya tidak terlalu berbahaya, yaitu game cari bantal di punggung para peserta di lapangan ini. Hana sembat terbelalak, lapangan ini sangat luas dan banyak orang sedangkan ukuran bantalnya ternyata kecil. Tentu tidak akan terlihat jelas di punggung orang-orang, tapi Hana juga ingin ikut berpartisipasi game ini dan meminta izin lewat tatapan mata pada sang suami.
Farzan sempat menggelengkan kepalanya, karena memang peserta harus berlarian dan mencari dengan cepat. Pria ini khawatir dengan kondisi kehamilan sang istri, tapi tatapan Hana sungguh tidak bisa membuatnya menolak dan akhirnya luluh juga.
Hana sudah berada di posisinya bersama salah satu anggota di kelompoknya juga, dan anggota di kelompok lain juga sudah bersiap pada posisinya. Adit pun menyuruh para panitia untuk mengawasi di sekitar lapangan untuk berjaga jaga, sampai peluit pertanda game di mulai berbunyi.
Hana menoleh pada anggota timnya lalu menganggukan kepalanya, mereka berdua mulai berlarian mencari bantal di setiap orang yang berdempetan. Hingga beberapa bantal kecil dia dapatkan dengan timnya, Hana sempat berkunang-kunang. Hana terdiam beberapa detik untuk menormalkan penglihatannya, tidak terlalu berharap untuk menang, sudah mengikuti acara ini saja senang.
Bantal sudah terkumpul banyak dan Adit sudah menghentikan gamenya, Hana langsung jongkok karena terlalu banyak berlari. Hal itu membuat Farzan langsung berlari ke tengah lapang menghampiri Hana.
"Sayang.." Farzan berjongkok dan memegang bahu Hana, suaranya pelan yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua. Meski tingkah Farzan ini sudah menjadi fokus perhatian yang melihat.
"Aku gak papa kok," Ucap Hana yang melihat raut wajah Farzan yang khawatir.
"Besok kita ketemu dokter Vanya, oke?" Hana menganggukkan kepalanya, dirinya juga khawatir dengan baby twins.
Bunga dan Dika pun ikut berlari menghampiri mereka, saat melihat orang-orang mulai terdengar berasumsi lain.
"Lo gak papa?" Tanya Bunga yang membuat Hana dan Farzan mendongak.
"Iya, gak papa kok.." Jawab Hana lalu di bantu berdiri oleh Bunga.
"Ke pinggir lapangan yuk," Ajak Bunga yang di angguki Hana.
"Thanks.." Farzan menepuk punggung Dika, pria ini menyadari tatapan semua orang yang tadi melihatnya, dan berhasil di alihkan karena kedatangan Dika dan Bunga.
Dika mengacungkan jembolnya, "Kalem Pak, tapi.. Ya biasa lah, Hahah..." Farzan memutar bola matanya jengah.
Mantan murid yang satu ini memang beda dari yang lain, menolong yang selalu meminta imbalan dengan bermain PS di rumah Farzan.
Ada ada saja kan Mas Dika ini..
Ada yang mau bungkusin gak??
__ADS_1
Ternyata kelompok Hana masuk ke peringkat kedua, lumayan karena masih mendapatkan hadiah. Dan benar saja beberapa panitia membawa bingkisan untuk anggota yang bermain tadi.
"Makasih ya.. " Ucap Hana pada panitia tersebut.
"Iya Kak.." Panitia itu pun pamit dan kembali ke lapangan.
Hana menerima air minum dari Bunga dan menegaknya hingga hampir habis setengah.
Haus banget bumil..
"Udah yuk, kita pulang aja.." Ajak Farzan yang masih mengkhawatirkan Hana.
"Tapi, tanggung sebentar lagi udahan loh.." Jawab Hana memelas.
"Iya sih, bentar lagi juga udahan.. Katanya penutupan bakal ada yang di omongin katanya.." Sahut Bunga yang duduk di samping Hana.
Acara ini sampai juga di akhir, dan sepanjang game ini mereka tidak melihat Caca dan Vino berada dimana. Meskipun Bunga sudah kirim chat, dan Caca membalas di lapangan. Namun tidak terlihat sampe sekarang.
"Halo para Kakak, kita kumpul lagi di tengah lapangan yuk.." Adit mengintruksi lewat mik, lalu semuanya berkumpul di lapangan setelah barang-barang tadi di bereskan oleh panitia. "Gak kerasa waktu sudah tengah malam, dan saat ini sudah di ujung acara.. Saya mengucapkan banyak terimakasih yang sudah berpartisipasi untuk hadir mengikuti game yang kami buat.. Tentu juga memberikan kenangan yang tidak kan dilupakan sampai kalian dewasa nanti.. Kami para anggota osis hanya bisa memberikan segini adanya untuk kenang kenangan kalian, mohon maaf jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan.. Adit disini mewakili para anggota osis dan para adik kelas mengucapkan selamat dan sukses untuk Kakak-Kakak semuanya.. Selamat atas kelulusan kalian, jangan pernah melupakan kami dan sekolah ini.."
Lalu tiba-tiba muncul suara petasan kecil di sekeliling lapangan, dan itu para panitia yang melakukannya.
"Waawww..."
"Keren banget.."
"Gue terharu sumpah.."
"Gak nyangka acara perpisahan ini sangat berkesan.."
Semuanya saling berteriak karena rasa bahagia sekaligus sedih, karena mulai esok hari mereka sudah melangkah menuju tujuannya masing-masing. Masih beruntung jika mereka bertemu di universitas atau lingkungan kerja yang sama.
Lalu beberapa balon berwarna putih pun di terbangkan juga, dan ada tulisan SELAMAT KELULUSAN DAN SUKSES SELALU..
ini bener-bener terharu, Hana memegang erat tangan Farzan, tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Sekarang sudah tidak ada gelar siswi lagi untuk Hana dan seutuhnya seorang istri dan ibu untuk Farzan dan anak-anaknya.
Hana terus mengusap air mata yang mengalir di pipinya, dengan bibir yang melengkung tersenyum indah. Farzan mengusap tangan Hana yang memegang tangan satunya, mereka saling pandang dan saling melontarkan senyum hangat.
__ADS_1
Perjalanan mereka masih sangat panjang, Farzan selalu berharap bisa membuat keluarga kecilnya bahagia. Begitu pun Hana ingin yang terbaik dalam keluarga kecilnya meskipun pasti akan ada rintangan lainnya menanti mereka.
Acara ditutup oleh do'a dan semuanya boleh beristirahat dulu sebelum pulang, saat semuanya meninggalkan lapangan, Caca dan Vino berlari ke arah mereka. Akhirnya mereka berkumpul lagi, Bima juga sudah ada di sampinh Bunga lagi setelah izin tadi keluar dulu karena ada telepon dari perusahaan.
Padahal bosnya aja ikutan main game di sekolah..
-_-
"Kalian dari mana aja sih?" Tanya Bunga.
"Ada.. Kita di lapangan juga, tapi gak liat kalian.." Jawab Caca lalu duduk di samping kiri Hana.
"Gue liat kalian main sih.." Lanjut Vino.
"Lo tadi diem sebelah mana sih?" Timbal Dika yang juga penasaran, karena mencari mereka berdua tidak ketemu.
"Ada, kita di deket kelas IPA satu," Jawab Caca.
"Lah pantesan, jauh dodol.." Sewot Dika menepuk punggung Vino lumayan kenceng.
"Sakit onta.." Pekik Vino memegang punggungnya.
"Ya udah, ini semuanya juga udah pada bubar, kita pulang dulu aja.." Sahut Farzan. Mereka semua menganggukan kepalanya, memang mereka juga sudah merasa lelah dan mengantuk.
"Ya udah kalo gitu, hati-hati kalian pulangnya.." Lanjut Farzan lalu memapah Hana menuju parkiran mobil.
Semuanya juga pun menuju mobil masing-masing, hal yang paling menyedihkan adalah Dika yang pulang sendirian 😭😭
Mas Dika author temenin yaa..
.
.
.
.TBC.
__ADS_1