
Mobil Dika melaju keluar gerbang sekolah, Hana juga tak lupa mengabari Farzan kalo dirinya akan pergi bersama teman-teman.
Dika dan Vino di depam sedangkan para cewek duduk di kursi tengah, Vino menyetel lagu dengan volume cukup keras, mereka bernyanyi bersama, bahkan hampir berteriak.
Hari ini harus menjadi hari yang bener-bener bahagia, Hana juga ikut bernyanyi dan berjoget namun tetap hati-hati.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di tempat tujuan, mobil terparkir di basment Mall. Semua nya turun dari mobil Pajero milik Dika itu.
"Mau ngapain dulu nih kita?" Tanya Bunga yang selalu menggandeng lengan Hana.
"Foto dulu gimana? Mumpung belum kucel nih," Usul Caca.
"Boleh tuh, setuju." Hana mengangguk dan yang lain juga mengangguk.
"Oke, kita foto studio dulu," Mereka pun memasuki Mall dan langsung mencari studio foto, mereka beruntung karena tidak terlalu ramai didalam studio saat mereka sampai.
Dika pun memesan paket foto untuk lima orang dengan tema bebas dan clasik, dan mendapatkan nomer antrian ke enam.
"Kita dapet antrian enam, nunggu bentar sih, kita liat-liat aja dulu," Ucap Dika saat menghampiri mereka.
Semuanya mengangguk, Caca dan Vino berkeliling melihat-lihat hasil foto yang di pajang, sedangkan Bunga dan Hana hanya duduk di kursi tunggu sambil lihat-lihat majalah. Dan ternyata Dika juga ikut duduk di samping Hana.
Vino dan Caca beralih melihat beberapa aksesoris yang ada di sebelah studio, Vino mengambil bando berkatakter kelinci dan memasangnya di Caca.
"Eh," Caca terkejut karena tindakan Vino tiba-tiba.
Lalu dirinya pun memakai bando dengan tanduk rusa, "Sini sayang kita foto," Ajak Vino mengeluarkan ponselnya dan menekan ikon kamera.
"Dihh, ngapain coba?"Caca terkekeh melihat Vino, namun Vino merangkul bahu Caca agar mendekat.
"Oke, hitungan ketiga bergaya ya."
Caca merapihkan sebentar poninya lalu Vino mulai menghitung sampai tiga.
Cekrek..
__ADS_1
Cekrek..
"Bagus loh, mau lagi." Ucap Caca yang melihat hasilnya malah ketagihan.
"Haha, gemes banget sih.." Vino mengacak gemas rambut Caca yang membuat gadis ini malah blushing dan menutup wajahnya oleh satu tangan.
"Ayo kita foto lagi sayang," Vino mengajak kembali berfoto besama Caca dengan berganti acc yang ada disana, dan terakhir Vino membelikan boneka beruang coklat muda ukuran sedang disana untuk Caca.
Caca merasa senang diperlakukan seperti ini oleh Vino, ternyata ucapan Vino saat itu benar-benar membuktikannya. Masih tidak menyangka perasaannya terbalas oleh Vino, perasaan yang hanya sepihak selama hampir satu taun terakhir, sekarang Vino membalasnya.
Namun masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Caca.
Pasangan baru itu sudah kembali ke studio dan bertepatan dengan giliran mereka masuk ruangan,
"Oke semuanya.. Kita pake gaya formal dulu lalu gaya bebas," Intruksi dari fotografernya.
"Oke siaplah," Jawab Dika yang dapat kekehan dari yang lain.
Abang fotografer terus mengarahkan beberapa gaya setelah sesi foto formal, ruangan ini jadi riuh karena ulah usil Dika saat kamera sudah siap, tapi hasilnya malah bagus. Kini posisi berganti, Vino dan Caca di depan sedangkan Dika berada di tengah antara Bunga dan Hana, gaya mereka seolah seperti mafia yang menggunakan seragam putih abu-abu. Setelah melakukan gaya tersebut semuanya hampir tidak bisa menahan tawa karena geli dengan ide Dika yang terakhir ini.
"Oke semuanya, sesi fotonya udah selesai, kalian boleh liat didepan terus pilih mana yang mau di cetak, makasih ya.." Ucap Abang tersebut.
"Hah.. Haus," Ucap Caca sambil mengipasi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Sama gue juga," Sahut Bunga yang di angguki Hana.
"Gue beli minum dulu kalo gitu, kalian yang pilih potonya ya," Usul Vino yang di balas anggukan semuanya, Dika tidak ikut karena harus menjaga keempat cewek ini, takut-takut ada hal yang tidak di inginkan.
Setelah memilih poto yang akan di cetak dan menunggu satu minggu baru bisa di ambil, Vino datang membawa beberapa minuman, untuk Hana tentu saja air putih jika bukan nanto Vino di tebas oleh Farzan.
Tentu saja tidak mau hal itu terjadi, karena Vino belum merasakan nikmatnya surga dunia yang pernah dia intip di film blue teman basketnya.
Mereka semua langsung menuju lantai atas dimana tempatnya atau dunianya bermain ada disana, Bunga mendorong Dika untuk mengisi saldo kartu game yang dimiliki pria itu, Dika menghembuskan nafasnya dan menuruti kemauan Bunga.
Mereka semua mencoba satu persatu permainan yang ada disana, kecuali mainan anak-anak yang tidak bisa didudukin orang dewasa seperti mereka. Sampai-sampai mereka berburu tiket yang keluar dari mesin permainan, dan taruhan jika dapet dibawah lima harus gendong atau di jetak keningnya.
__ADS_1
Mereka semua dapat girilan kalah termasuk Hana, namun terkecuali bagi bumil ini hukumannya yang ringan-ringan saja, seperti naik odong-odong boneka yang bisa gerak. Hana terpaksa menerima hukuman itu karena tidak ada lagi yang ringan, meskipun di tertawakan oleh mereka dan orang lain, Hana tetap merasa bahagia.
Sampai tiket itu sudah hampir memenuhi tas ransel milik Dika yang cuma bawa buku satu biji doang, bahkan Dika entah lima kali atau bahkan lebih mengisi ulang saldo kartu game tersebut karena saking asik dan lupa waktu. Dompet Dika bener-bener dibobol.
"Makan yuk, laper." Ajak Hana mengusap perutnya.
"Boleh, tapi gue tuker tiket dulu, ntar nyusul kalian, chat gue kalian makan dimana." Jawab Dika di angguki yang lain.
Sementara Dika menukar tiket, yang lain mencari restoran yang bisa membuat perut mereka kencang. Bermain bersama mereka memang suka melupakan waktu dan status untuk Hana yang sebagai istri Farzan.
Di kantor sana Farzan bahkan setiap detiknya mengkhawatirkan sang istri setelah mendapatkan chat jika Hana akan main bersama sahabatnya, Farzan yang tau jika Hana tidak suka jika diganggu, semenjak kehamilan trimester awal yang berubah ubah moodnya, Farzan tidak bisa melakukan apapun selain menunggu kabar dari sang istri.
Pria ini selalu melirik ponselnya selang beberapa detik dari layar komputer didepannya, pekerjaannya jadi terhambat memikirkan sang istri. Bahkan kini berpindah menjadi bekerja di ruangan Farzan karena menguras waktu jika harus bolak-balok ke ruangannya, karena pekerjaan Farzan sangat lelet.
Tiba-tiba ponsel Bima berbunyi, dan itu pesan dari Bunga yang mengirimnya gambar. Bima membuka pesan itu dan terlihat foto kelima orang yang sedang bergaya mafia.
"Ppfftt.." Bima menutup mulutnya menahan ingin ketawa.
Farzan menoleh pada Bima, "Kenapa?" Tanya Farzan mencurigakan, dan sedikit tersinggung jika Bima bisa saja menertawakan dirinya.
"Ah, bukan apa-apa Pak, saya hanya melihat pesan," Jawab Bima lalu kembali memasukan ponselnya.
"Siapa?" Kepo Farzan.
"Ekhem.. Bunga Pak," Jawab Bima.
"Mana saya liat? Kok cuma dia yang bisa kirim pesan sama kamu.. Kenapa istri saya enggak?" Tanya Farzan yang tidak bisa Bima jawab, namun tetap menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan isi pesan Bunga.
"A-ap apa-apaan ini? Pftt.." Bahkan Farzan sendiri terkejut dan juga ingin tertawa melihat pose anak SMA ini sungguh tidak ada faedahnya.
Farzan kembali memberikan ponsel itu pada Bima dan kembali duduk di kursinya, bibir Farzan jadi senyum-senyum karena melihat ekspresi wajah sang istri yang menggemaskan tadi. Perasaannya kini menjadi sedikit terhibur karena foto itu dan mengalihkan perasaan cemas yang sedari tadi dia rasakan.
Farzan mengusap wajahnya, dan memikirkan hal jail apa yang akan dia berikan pada sang istri karena sudah membuatnya merasa cemas saat pulang nanti.
.
__ADS_1
.
TBC.