
Sesuai rencananya pagi tadi untuk mengabaikan Farzan saat pulang nanti. Hana menyiapkan makan malam terlebih dahulu untuk Farzan, setidaknya Hana sudah berbakti dulu sebelum menjahili Farzan.
Suara deruman mobil milik Farzan terdengar jelas dengan tergesa Hana menaiki anak tangga setelah menata makan malam di meja. Hana sengaja tidak menyambut Farzan dan memilih masuk kamar.
Hana membuka buku untuk pelajaran besok, meskipun tidak ada tugas tapi Hana mengerjakan soal yang ada di buku paket itu.
"Assalamualaikum.." Ucap Farzan saat membuka pintu. Namun tidak ada yang menjawab salamnya.
Farzan pun langsung naik menuju kamarnya setelah melepas sepatu untuk mengecek jika Hana ada di dalam kamar.
"Assalamualaikum.." Salam Farzan sekali lagi saat membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam." Jawab Hana pelan tanpa menoleh sedikit pun, kening Farzan mengerut melihat respon istri kecilnya ini.
Ada salah apa lagi?. Batin Farzan.
Farzan menyimpan tas kerjanya dan melepas jasnya, lalu menghampiri Hana yang terlalu fokus dengan buku padahal itu hanya di buat buat.
"Kamu gak nunggu aku dibawah?" Tanya Farzan yang sekarang berdiri di samping Hana yang tidak menoleh sedikit pun.
"Hana?" Panggil Farzan.
"Hhmm." Jawab Hana simpel dan itu membuat Farzan bingung.
"Kamu kenapa?" Tanya Farzan yang tidak dapat jawaban.
"Kyaaaa.... " Hana terkejut karena kursi yang dia duduki bergerak ditarik oleh Farzan agar menghadapnya.
Farzan duduk dengan lutut yang bertumpu lalu memegang di sisi kanan kiri kursi Hana dan menatap Hana dengan lekat. Terlihat jika Hana mengabaikan tatapannya.
Jantung Hana berdegup kencang karena syok akibat tadi dan karena tatapan Farzan yang seperti ini.
"Gak boleh luluh." Batin Hana.
"Kamu kenapa diemin aku lagi?" Tanya Farzan.
"Ekhem.. " Hana berdehem sebentar, "Aku gak papa.. Airnya udah aku siapin kalo mau mandi.. Terus makan malam juga udah di siapain.. Aku juga udah makan." Jawab Hana mengabaikan pertanyaan Farzan.
Farzan menggelengkan kepalanya, "Kamu kenapa gak jawab pertanyaan aku?" Pegangan Farzan semakin kuat di kursinya.
"Aku kan udah bilang gak papa.. Udah Mas mandi dulu terus makan ya.. Aku mau ngerjain tugas lagi." Hana melepas tangan Farzan yang menahan kursinya lalu berbalik dan kembali berpura pura fokus pada buku.
Sebenarnya dalam hati Hana tidak tega menjahili Farzan seperti ini, dan ada rasa bersalah juga.
Grepp..
__ADS_1
Tubuh Hana menegang kala Farzan memeluknya dari belakang, kepala pria itu bertumpu pada bahunya dan menyembunyikan wajahnya di leher Hana meski terhalang hijab.
"Jangan kaya gini.. Aku minta maaf kalo aku salah lagi.. Pliss." Lirih Farzan pelan terdengar jelas di telinga Hana.
Hati Hana tersentuh ternyata Farzan meresponnya seperti ini, Hana kira Farzan akan melakukan apa yang disuruhnya namun ternyata tidak.
Hana menjadi goyah dan tidak bisa melanjutkan rencananya.
Hana mengusap lengan kokoh Farzan yang melingkar di dadanya, lalu Hana terkekeh membuat Farzan melepaskan pelukannya.
Gadis itu menyengir saat kursinya di putar untuk menghadap Farzan lagi, "Kamu?" Hana menggelengkan kepalanya.
"Engga niat sihh.. Tapi aku kesel karena pagi tadi Mas langsung pergi gitu aja." Jelas Hana dengan pipi yang mengembung.
Farzan kembali memposisikan tubuhnya sejajar dengan Hana lalu memegang kedua tangan mungil dan lembut ini, "Gak maksud begitu kok.. Aku minta maaf." Ucap Farzan jujur.
Hana menghela nafasnya, "Ya udah aku maafin." Jawab Hana membuat Farzan merasa senang.
"Tapi, aku memang sayang kamu." Perkataan Farzan sukses membuat Hana cengo dengan mulut yang sedikit menganga.
Mata Hana membulat, "M-maksud Mas?" Tanya Hana dengan terbata tidak menyangka apa yang barusan dia dengar.
"Iya.. Aku sayang kamu Aqila Hanannia Darma." lanjut Farzan lalu membawa tangan kanan Hana untuk dikecupnya.
Hana semakin terkejut, "M-mas?" Hana tidak bisa berkata apa apa sekarang lidahnya terasa keluh.
Farzan mengangguk melihat pancaran mata Hana yang masih syok, "Sejak kapan?" Aneh memang Hana malah bertanya begitu.
"Entahlah.. Tapi aku yakin sama perasaan aku.. Kalo aku sayang kamu." Farzan mengutarakan perasaannya lagi.
Tanpa terasa dan entah sejak kapan kini air matanya menetes membasahi pipi putih Hana, Farzan langsung mengusap jejak air matanya Hana.
"Kamu udah sayang aku belum?" Tanya Farzan, yang membuat Hana merasa tergelitik.
Perkataan itu seperti seorang anak sd yang menanyakan cintanya terbalas atau tidak. Hana tersenyum membuat Farzan ikut tersenyum.
"Nah gini senyum kan cantik.. Aku ungkapin perasaan supaya kamu bahagia.. Tapi, ini kok malah nangis." Sahut Farzan.
Hana mengembangkan senyumannya, "Aku.. Cuma gak nyangka aja, aku kira hanya aku saja yang memiliki perasaan ini tapi ternyata perasaan aku tidak bertepuk sebelah tangan." Jawab Hana.
Farzan langsung memeluk Hana untuk pertama kalinya, mendapatkan pelukan seperti ini dari Farzan, padahal soal cium cium Farzan sudah sering lakukan. Hana pun membalas pelukan dari Farzan menyalurkan rasa sayangnya.
"Aku sayang kamu." Ucap Farzan.
"Aku juga sayang kamu Mas." Balas Hana.
__ADS_1
Farzan mempererat pelukannya rasa hangat dari Hana membuatnya nyaman.
Kruyuuuukkk ...
Kruyuuuukkk...
"Pfftt.." Hana menahan tawanya.
"Ahhh, aku malu." Farzan menyembunyikan wajahnya di bahu Hana.
"Hahaha. . ." Hana terkekeh. "Mas belum makan ya?" Hana sebisa mungkin memahan tawanya.
Farzan menganggukkan kepalanya, karena memang dirinya menahan lapar agar makan malam di rumah bersama Hana.
"Mau aku temenin?" Tawar Hana dan Farzan mengangguk lagi. "Ya udah lepas dulu peluknya." Lanjut Hana.
Farzan melepaskan pelukannya, Hana menahan tawanya dengan mengulum bibirnya karena melihat telinga Farzan yang memerah.
"Jangan seperti itu." Farzan menundukkan wajahnya.
"Mas mandi dulu ya.. Airnya udah aku siapin." Hana bangun dari duduknya dan menarik Farzan untuk berdiri.
Farzan lalu mengangguk dan masuk ke kamar mandi, Hana kembali terkekeh mengingat barusan itu adalah pengungkapan perasaan yang di luar ekspetasinya. Namun Hana tetap merasa bahagia karena Farzan memiliki perasaan yang sama.
Setelah Farzan selesai mandi dan berganti pakaian begitu juga Hana yang sudah merapihkan kembali buku bukunya. Sekarang mereka sudah berada di meja makan lalu Hana menyiapkannya untuk Farzan. "Kamu gak makan?" Tanya Farzan yang melihat hanya piringnya yang terisi.
Hana menggeleng, "Aku udah makan." Jawabnya.
"Jadi tadi niat banget ya buat cuekin aku?" Melihat ekspresi Farzan saat ini membuat Hana harus menahan tawanya lagi, sungguh Farzan benar benar seperti anak kucing yang minta di manja.
"Hehe.." Gadis itu hanya menyengir saja.
Farzan pun diam dan memakan apa yang Hana buat dengan wajah cemberut.
Apa sekarang dirinya sudah resmi saling mencintai dengan Farzan?? Hana harap itu iya.
.
.
.
TBC.
Idiihhh.... uwu uwuaannnn...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yaa..
See you :*:*