My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Malas..


__ADS_3

Sore itu menjadi moment berharga lagi bagi Hana, masih tidak menyangka dengan kehidupannya sekarang. Mendapatkan Farzan, bahkan mengandung anak Farzan. Lalu teman-teman yang juga selalu ada untuknya.


Kebahagiaan yang sempurna, Hana bersyukur mendapatkan itu semuanya.


Farzan memeluk Hana dari belakang, "Sayang, masuk ya dingin.." Saat ini Hana berdiri di balkon kamar memandangi bintang malam yang berkelip indah.


Setelah acara sederhana tadi, yang awalnya menegangkan akibat Caca dan Vino. Namun setelahnya berjalan dengan lancar.


Pasangan itu sampai akhir tidak memberitahukan apa yang terjadi pada mereka, namun Hana bisa menangkap jika itu adalah kebahagiaan untuk mereka, karena Hana melihat tatapan Caca dan Vino yang membara karena cinta.


Ya, pada akhirnya Vino memilih cinta yang seharusnya dia berikan pada orang yang tepat. Dan tentu itu adalah Caca.


"Sayang.. Masuk ya, kasian baby pasti kedinginan," Hana pun mengangguk dan masuk ke kamar.


Farzan mengunci pintu balkonnya, lalu menghampiri Hana yang duduk di tepi ranjang.


"Kamu kenapa?? Aku liat setelah selesai jadi banyak berpikir, apa yang dipikirin?" Tanya Farzan yang duduk disebelah Hana.


"Hmm, gak ada Mas.. Cuma masih gak nyangka aja aku bisa sampai seperti ini.." Hana tersenyum pada Farzan.


Cowok itu mengusap lembut pipi Hana, "Tentu, aku akan selalu membahagiakan kalian.. Apapun caranya.." Farzan mengecup kening Hana lalu memeluknya.


"Aku mencintaimu Mas," Ucap Hana pelan karena tertahan dalam pelukan Farzan, namun tetap terdengar.


Farzan lebih mencintai Hana dan kedua calon bayi mereka.


"Istirahat ya, kamu pasti lelah," Farzan menuntun Hana berbaring.


"T-tapi.. B-bukannya Mas.."


Farzan tersenyum melihat Hana yang gugup untuk membahas hal tadi siang, "Gak papa kok, kamu lebih penting.." Farzan mencium kening Hana lagi namun lebih lama.


"Istirahat ya sayang.. I love you.." Farzan mengecup bibir Hana yang selalu menjadi candunya.


"I love you more.." Balas Hana dan mengubah posisi tidurnya agar bisa memeluk Farzan.


Malam itu tidak terjadi apapun pada mereka, dan tertidur saling berpelukan melepaskan penat karena acara tadi.


Setelah beberapa hari berlalu dari acara sederhana itu, Hana selalu berdiam di rumah. Meskipun ada bibi yang menemani, tetap saja Hana merasa bosan.

__ADS_1


Semenjak hamil mood Hana selalu berubah dengan tiba-tiba, Farzan juga sedang bekerja di kantor. Sempat dua hari lalu Hana di ajak ke kantornya agar tidak merasa bisan dirumah.


Perlakuan karyawan Farzan cukup baik dan ramah, meski pun pada awalnya merka heran kenapa ada anak kecil bersama bosnya. Namun Farzan mengumumkan siapa dirinya dan memberitahukan Hana sebagai istrinya, lalu Farzan juga mengatakan agar mereka harus memperlakukan Hana dengan baik.


Tapi lagi-lagi Hana merasa bosan diruangan Farzan yang hanya melihat sang suami sibuk bekerja, Hana ingin mengajak teman-temannya namun mereka memiliki janji lain dan tidak bisa menemani Hana.


Dan saat itu Hana tidak ingin sering-sering mampir ke kantor Farzan, Hana merebahkan tubuhnya diatas sofa lalu menghela nafas.


"Hah... Bosan." Hana menyalakan tv berharap ada siaran yang cukup mengobati bosannya, namun sayang siaran di jam seperti ini tidak ada yang menarik.


Hana kembali mematikannya lalu mengambil gelas berisi jus buah di atas meja dan meminumnya, segar. Hana melihat piring yang tadi terisi penuh camilan sekarang sudah kosong, Hana tidak menyadari sudah menghabiskannya.


Bumil muda ini beranjak dan mengambil piring dan gelas menuju dapur, disana ada bibi yang sedang beres-beres piring juga.


"Neng, mau kemana? Biar bibi aja," Bibi langsung mengambil alih piring dan gelas yang di pegang Hana.


"Bibi masak apa?" Tanya Hana lalu duduk di kursi meja makan.


"Bibi masak seadanya neng, karena bahan di kulkas udah habis, paling besok pagi bibi kepasar." Jawab Bibi sambil mencuci piring tadi.


Hana mengangguk dan berohria.


"Bi, Hana mandi dulu ya." Pamit Hana yang di angguki bibi.


Seperti biasa jika sudah di kamar mandi Hana selalu lama, bermain dengan sabun di dalam bathup. Hingga ditasa tangannya sudah mengerut Hana mengakhiri mandinya lalu berpakaian.


Ponselnya berbunyi, Hana segera mengambil dan membuka pesan masuk itu.


"Ohh.. Dari grup," Beo Hana.


Disana Hana membaca pesan dari Dika di dalam grup yang mengajak besok kesekolah, karena pengumuman kelulusan katanya sudah ditempel di mading.


Hana sedikit terkejut, pengumuman kelulusan sudah keluar dan sebentar lagi dirinya juga keluar dari sekolah ini. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Hana membalas pesan Dika dan menyetujui ajakan untuk kesekolah besok. Bahkan yang lainnya juga merespon sama.


Oke, besok bisa bertemu dengan teman-teman lagi, dan tidak merasa bosan lagi di rumah.


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, Hana segera turun ke bawah karena sebentar lagi Farzan pulang. Dan benar saja suara mobil Farzan terdengar begitu jelas, Hana segera membuka pintu rumah dan menghampiri Farzan yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Hai sayang.. Kenapa keluar hemm?" Farzan merangkul Hana dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"Hmmm, aku kangen Mas," Jawab Hana memeluk lengan Farzan dan menyandarkan kepalanya juga di lengan kekar suaminya.


"Kamu ini.." Farzan mengusap kepala Hana dengam tangan satunya lagi.


"Kamu baik-baik saja dirumah?" Tanya Farzan, mereka sudah berada di dalam rumah. Hana membantu mengamb tas kerja Farzan dan melepaskan dasi yang sudah tidak beraturan itu.


Hana mengangguk, "Iya, aku baik-baik saja.. Tapi aku bosan dirumah," Jawab Hana dengan cemberut.


"Hmm, bosan?" Hana menganggukkan kepalanya, "Kenapa gak main ke rumah mama?" Tanya Farzan duduk di sofa dan menepuk pahanya agar Hana duduk disana.


Hana menurut untuk duduk diatas paha Farzan, "Malas kemana-mana," Jawab Hana tidak bersemangat. Padahal tadi Hana sangat senang saat menyambutnya pulang, tapi tiba-tiba moodnya sudah berubah lagi.


Farzan mengecup kening Hana lalu mengusap perut Hana yang terasa membuncit ditangannya, "Sayang perutnya udah lumayan terlihat ya." Ucap Farzan mengalihkan pembicaraan, dan mencoba mengembalikan mood Hana.


Hana mengangguk dan juga mengusap perutnya, "Iya Mas, kalo udah mandi suka bercermin dan ngeliat perutnya udah mulai buncit, gak sabar pengen ngerasain tendangan pertama dari mereka." Jawab Hana ceria kembali.


Farzan bernafas lega, usahanya berhasil. Farzan tersenyum dengan tangan yang masih mengusap perut Hana, "Hmmm, nyaman sayang. Aku suka dielus begini," Ucap Hana sembari merebahkan kepalanya di bahu Farzan.


"Kamu ini.." Farzan mengecup bibir Hana sebentar, dan Hana hanya terkekeh membalasnya.


"Oh iya Mas, besok aku mau kesekolah," Hana membuka matanya dan menegakan kembali tubuhnya, "Kata Dika pengumuman kelulusan udah di pajang di mading, jadi besok pada mau kesekolah," Lanjut Hana menjelaskan.


Farzan mengangguk, "Iya, besok Mas anterin.. Sekarang makan yuk, Mas udah laper nih," Ajak Farzan mengusap pipi Hana.


"Yuk sayang, baby twins juga udah laper lagi katanya, hehe." Hana menyengir saat mendapatkan cubitan pada hidungnya, Farzan tidak benar-benar mencubit keras tapi mencubit karena Hana sang istri sangat menggemaskan.


"Ya udah ke kamar dulu yuk, mandi sama ganti baju dulu.." Hana berdiri yang diikuti Farzan sambil merangkulnya.


Setelah mereka masuk ke kamar, ternyata ada yang melihat mereka sedari tadi, beberapa maid yang ada dirumah ini. Mereka sangat senang jika melihat keharmonisan majikannya.


Bahkan bibi yang sudah lama bekerja di rumah Mahardika, baru sekarang ini melihat tingkah Farzan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Bibi hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk hubungan mereka.


Para maid kembali melakukan pekerjaannya, karena sebentar lagi Farzan dan Hana turun untuk makan malam dan tugas mereka selesai setelah itu. Lalu kembaki ke paviliun di belakang yang Farzan siapkan untuk mereka.


Sebenarnya itu rumah sebelah yang memang sudah lama tidak diisi, dan Farzan membelinya lalu merenov agar terhubung ke rumahnya untuk mempermudah orang-orang yang bekerja dirumah ini, dan juga untuk menjaga privasi tuannya, kenapa harus memikih rumah sebelah.


Farzan memang tidak suka banyak orang di dalam rumahnya dengan waktu yang lama, maka dari itu syarat dari Farzan untuk para maid yang di perintah sang mama harus tinggal di paviliun.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2