
Acara disekolah pun akhirnya selesai meskipun terjadi insiden yang tidak terduga, namun untuk acara pengumuman harus di undur karena waktu yang tidak memungkinkan dan osis memberitahukan acaranya di lanjut besok hari.
Caca keluar dari ruang ganti khusus perempuan yang ada di ruangan olahraga indoor, bertepatan Vino yang melintas didepannya.
"Lo belum pulang?" Tanya Vino yang kembali jalan mundur beberapa langkah.
Caca menggelengkan kepalanya, "Belum, lo sendiri Vin?" Tanya balik Caca.
"Ini baru mau pulang.. Lo mau bareng gue?"
Deg.. Deg..
Entahlah sejak kejadian hujan itu setiap bersama Vino jantung Caca berdegup tidak wajar.
Apa ini yang dinamakan suka??
Apa begini rasanya menyukai sepihak??
Caca yang bengong terkejut saat tangan Vino menariknya, "Lo lama bengong mulu.. " Vino yang terus berjalan menghiraukan jika saat ini bisa saja jantung Caca meledak akinat berdebar lebih kencang.
Caca menggelengkan kepalanya.
Tidak.. Ini salah! Kita cuma temen.. Gak boleh suka..
Batin Caca meyakinkan dirinya sendiri.
"Tunggu.. " Vino menghentikan langkahnya lalu memutar memandang Caca, "Lo bawa mobil gak?" Tanya Vino yang lupa tau tau ajak pulang bareng aja.
Caca menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Engga.. "
"Akhir akhir ini lo gak bawa mobil?" Lanjut Vino, lagi lagi Caca menggelengkan kepalanya. "Oke, bareng gue.. " Vino kembali melangkah dan tetap menarik tangan Caca.
Wajah Caca pasti sudah memerah saat ini merasakan panas yang menjalar dari sentuhan Vino ke tangannya, sepanjang perjalanan sampai parkiran mata Caca tak henti memandang tangannya yang di genggam.
Bolehkah dirinya berharap??
Berharap untuk dirinya sendiri saja tidak salah kan??
Lingkungan sekolah sudah tidak seramai tadi hanya sebagian yang sedang bersiap pulang dan sebagian bersih bersih, mungkin anggota osis.
Vino melepaskan tangannya lalu mengambil helm dan menyerahkannya pada Caca, "Pake ini.. " Caca pun mengambil dan memakainya.
__ADS_1
"Ortu lo masih belom balik?" Tanya Vino sambil memakai helmnya lalu membantu Caca naik.
"Belum.. Katanya sebulan.. " Jawab Caca heran karena tidak biasanya Vino seperti ini.
"Lo dirumah ngapain aja?? Gak kesepian di rumah segede itu??" Lanjut Vino yang benar benar membuat Caca tambah bingung.
"Udah biasa ditinggal pergi bisnis.. Resiko anak tunggal kan??" Caca melihat Vino yang mengangguk.
"Pegangan.. " Ucap Vino lalu melajukan motornya.
Ada keanehan dari sikap Vino sekarang ini, yang sering ngajak pulang bareng terus dan sering banyak tanya yang memang bukan sikap Vino sebenarnya.
Kenapa??
Caca takut menjadi serakah untuk mendapatkan Vino.
"Heii.. Gue panggil lo ngelamun?"
"Astagfirullah.. " Caca terkejut karena tanggannya dipukul namun pelan. "Kenapa, Vin?"
"Lo mau makan dulu gak??"
"Iya sama lo.. Emang gue nanya ke siapa lagi?? Kan gue ngomong sama elu.. " Vino menoleh Memandang Caca yang kebingungan, untung saja sedang lampu merah. "Lo kenapa kaya begitu ekpresinya??" Vino membuka kaca helm fullfacenya, sehingga mata mereka bertemu.
Caca langsung mengalihkan pandangannya, "B-boleh.. " Ucap Caca tanpa memandang Vino.
"Jadi? Mau makan apa?" Tanya Vino lagi.
"Apa aja deh ngikutin.. " Vino mengangguk, setelah lampu berubah hijau, Vino membelokkan motornya kearah kanan, jalam yang berbeda arah dengan rumahnya.
Memasuki kawasan dimana disetiap pinggir jalan banyak yang berjualan, untuk pertama kalinya Caca menemukan tempat seperti ini.
"Jam segini memang tamunya kalo makan disini.. " Seperti tau isi kepala Caca Vino menjelaskannya, "Disini tuh tempat kuliner berbagai macam makanan ada loh.. Meskipun pinggir jalan begini tetap bersih.. " Vino memelankan laju motornya. "Lo mau coba apa??"
"Gue mau di pilihin sama lo, boleh?" Tanya Caca yang sedari tak henti menoleh ke kanan dan kiri banyak orang berjalan kaki untuk memilih jajanan.
"Mau turun? Kita jalan kaki juga?" Tawar Vino yang di angguki Caca.
Vino memarkirkan motornya terlebih dahulu setelah Caca turun, " Pak titip ya.. " Ucap Vino pada tukang parkir disana.
"Siap Mas.. "
__ADS_1
"Ayo.. " Ajak Vino yang tanpa sadar mengulurkan tangannya dan respon Caca diam memandang tangan Vino.
Sadar karena Caca tidak menjawab atau menerima ulurannya Vino menoleh kesamping, "Ayo.. " Vino menggoyangkan tangannya memberi isyarat agar Caca memeganginya.
Dengan ragu Caca memegang tangan Vino, dan Vino mulai melangkahkan kakinya dan berceloteh menunjuk setiap jajanan yang berbeda beda.
Caca tidak fokus dengan ucapan Vino, gadis ini hanya fokus pada tangannya yang terus di genggam Vino hingga jantungnya kembali berdegup kencang.
Langit senja, keramaian orang di sekitar, suara bising orang orang dan kendaraan yang berlalu lalang seperti senyap begitu saja, tatapan matanya melihat punggung kokoh Vino yang berjalan di depannya.
Hei.. Jika waktu bisa berhenti satu menit saja aku ingin tetap seperti ini..
Bisik Caca dalam hati.
Langah Caca terhenti membuat Vino pun otomatis berhenti, Vino berbalik melihat Caca, "Kenapa? Ada yang mau lo beli?"
Caca diam tidak menjawab, jika ini waktu yang tepat dan jika mungkin saja Vino akan menganggapnya konyol, itu tidak masalah..
"Ca??" Vino bingung dengan sikap Caca yang selalu banyak diam.
"Gue suka sama lo."
"....."
Mereka berdua diam saling pandang.
Vino terkekeh, "Lo kenapa sih?? Hari ini lo aneh tau.. Haha" Namun Caca berekspresi serius membuat Vino menghentikan tawanya.
Kembali hening tidak ada yang mau bicara dari keduanya, begitu pun Caca tidak berniat menjelaskan apa yang dikatakannya.
Apapun yang terjadi setelah ini bakal gue terima..
Ucap Caca dalam hati.
Vino kembali menggenggam tangan Caca dan melanjutkan langkahnya menuju tempat jajanan favoritnya.
.TBC
Like ya sayangku...
Maaf kalo bakal telat up 🙏
__ADS_1