
**Aku tuh mau lohhh up double tapi liat yang likenya sedikit lohh..
aku jadi sedihh '( '( '(
Terus, aku juga nyari materi sama kata kata yang pas buat nulisnya.. biar kalian pada suka sama tulisan aku..
Tapi sedihh yg likenya dikit banget.. huhuhuuuuu :(:(:(:(
Kan malah curhat**..
🌸
🌸
"Kamu kenapa dari tadi cuma diem?? Terus celingukan kaya gitu.. Ada yang ngikutin kamu?" Pertanyaan terakhir Farzan sangat tepat dengan yang Hana takutkan.
Semua ini karena Melisa yang meracuni otaknya, Hana jadi tidak tenang saat mau pulang sekolah tadi. Setelah keluar kelas dirinya selalu celingukan takut takut Melisa mengikutinya.
Sekarang ini jadwal Farzan tidak banyak dan bisa pulang bersama dengan Hana, dan itu juga membuat Hana khawatir.
"Eh.. E-engga kok.. Gak papa.. Hehe" Jawab Hana.
Farzan mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh dengan istri kecilnya. Farzan tidak bertanya lagi lalu mulai melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
Hana bernafas lega karena Farzan tidak mencurigainya, atau mungkin hanya pura pura. Tapi, untuk saat ini Hana tidak tau harus menjawab apa jika Farzan terus bertanya lagi. Isi dalam otaknya benar benar kacau hanya karena ancaman Melisa.
Ingin hidup dengan tentram dan sejahtera saja susah.. Kehidupan remajanya.. Dan sekarang? Masa sekolahnya juga.
Mobil yang di kendarai mereka sudah memasuki gerbang rumah mereka, Farzan dan Hana keluar dan masuk kedalam rumah.
"Mas mau mandi duluan atau aku?" Tanya Hana setelah mereka masuk ke kamar.
"Kamu dulu aja.. Aku mau kirim email dulu bentar." Jawan Farzan yang langsung duduk di kursi kerjanya.
Hana mengangguk lalu masuk kedalam kamar mandi setelah meletakan tas sekolahnya.
Di dalam kamar mandi Hana berpikir bagaimana memulai pembicaraan dengan Farzan tentang ini? Sampai akhirnya Hana selesai mandi dan melihat Farzan masih fokus dengan leptopnya.
"Mas mandi dulu gih.. Aku buatin makan malam ya.. " Ucap Hana membuat mata Farzan teralihkan dari leptop ke Hana.
"Iya.. Ini juga udah ko." Farzan berdiri lalu menghampiri Hana.
Hana bengong dan bertanya kenapa Farzan malah menghampirinya bukan ke kamar mandi.
Cup..
Tiba tiba Farzan mengecup kepalanya.
Hana terkejut karena itu "M-mas!!!"
"Jangan apa pun di pendam sendiri ya.. Sekarang kan ada aku.. Kamu bisa andalkan aku kok.. Kapan pun itu." Ucap Farzan membuat Hana terharu.
Pria ini ternyata cukup peka, Ah tidak. Farzan memang orang yang peka setelah hidup bersama sampai saat ini.
Hana mengangguk dengan mata yang berkaca kaca, "Makasih, Mas.." Farzan mengusap kepala Hana lalu mengangguk dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Hana menyiapkan baju ganti untuk Farzan terlebih dahulu lalu turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam mereka.
Tak lama Farzan pun terlihat sedang menuruni tangga dan berjalan ke arahnya.
Farzan memegang kedua pundak Hana, "Masak apa, hemm?" Tanya pria dengan mata sipit ini.
"Aku masak tumis tempe, sambal sama sayur asem.. Mas suka?" Tanya balik Hana sesekali menoleh pada Farzan yang sekarang berdiri di sampingnya.
"Suka kok.. Suka juga sama kamu.." Perkataan Farzan membuat pergerakan Hana berhenti.
Gadis ini mematikan kompornya lalu menghadap Farzan sambil berkacak pinggang.
"Udah pinter banget sihh gombalnya..." Ucap Hana yang membuat Farzan cengengesan.
"Engga kok.. Kata siapa?? Masih pinter anak anam imsta lohh gombalnya keren keren.." Farzan malah menjawab seperti ini.
"Ohhhh.. Udah main imsta ya sekarang??" Hana melangkah mendekat Farzan.
Pria ini panik dan mundur.
Kenapa sekarang terbalik.. Kenaoa jadi dirinya yang gugup begini sih..
Namun senyum jahil Farzan muncul, pria ini membiarkan Hana terus mendekat sampai punggungnya sudah terbentur kulkas.
Kyaaaaa....
Hana berteriak karena kaget, Farzan dengan mudahnya mengubah posisi dan sekarang malah Hana yang terkukung oleh sang suami.
"Ng-ngapain??" Tanya Hana gugup, matanya berkedip beberapa kali.
"Tadi kamu mau ngapain?" Farzan malah balik tanya membuat Hana kelagapan tidak bisa menjawab.
Ohh.. Astaga..
Gak kuat..
Hana memejamkan matanya saat wajah Farzan semakin mendekat, bahkan deru nafas Farzan yang tercium aroma mint sangat jelas di indra penciumannya.
Cup..
Cup..
Cup..
Cup..
Farzan mengecuk area wajah Hana kening, kedua matanya lalu hidungnya dan terakhir di bibir mungil seperti cery.
"Kamu bau minyak sayang..." Farzan berbisik lalu sedetik kemudian berlari menjauhi Hana.
"Aaaaaaa... MAS FARZAANN NYEBELIINNN....!!" teriak Hana yang terkejut lagi dengan ucapan Farzan.
Hana merasa sudah berada di atas awan di pelakukan manis namun seketika jatuh karena ledekan Farzan yang memang fakta. Tentu saja akan bau minya.. Kan dirinya sedang masak.
Farzan ini minta di geblak sama spatula bekas sambal baru tau rasa.
__ADS_1
🌸
🌸
Setelah acara menganggunya masak dan makan malam yang hening karena kesal akibat tuan suami yang menyebalkan. Sekarang Hana memilih duduk di kursi belakang rumah dengan pemandangan kolam renang yang tidak terlalu besar dan tidak dalam.
Dari awal pindah ke rumah ini sampai sekarang Hana belum pernah berenang dikolam itu, karena Hana punya trauma tentang air.
Awalnya Farzan pun sempat menanyakan dirinya yang tidak pernah terlihat main air dikolam atau mandi dikolam renang, dan Hana pun menjelaskan tentang rasa takutnya terhadap kolam renang, apa lagi saat melihat kolam renang disekolah yang sangat luas dan dalam.
Untuk setiap praktek Hana dan orang tuanya berbicara pada guru olahraga sebelum Farzan, jadi Hana selalu ditugaskan untuk mengumpulkan materi tentang olahraga pada saat praktek.
Ketenangan air itu belum tentu aman.. Hana pernah tercebur kedalam kolam yang tenang namun ternyata dalam, disaat itu Hana belum bisa berenang dan hampir tenggelam.
Dan sekarang Hana menjadi takut dengan air yang tenang itu, namun untuk beberapa saat pikiran tentang ancaman Melisa teralihkan karena mengingat masa lalu yang menakutkan.
Tuk.
Hana terkejut karena merasakan hangat pada pipinya yang cuby, dan melihat Farzan yang memegang dua cangkir berisi coklat hangat.
"Mas.." Sahut Hana dengan cemberut.
"Ngapain kamu disini ngelamun sendirian?? Emang kamu gak dingin apa?" Tanya Farzan lalu duduk disamping Hana dan memberikan satu cangir coklat hangat untuk Hana.
Hana menerimanya lalu menggelengkan kepalanya menjawab kedua pertanyaan Farzan.
"Aku tau, kalo kamu banya diem pasti ada sesuatu kan?? Apa aku ada salah lagi??" Hana menggelengkan kepalanya lagi, "Lalu kenapa?" Lanjut Farzan.
Hana meletakan cangkirnya dimeja sebelah kiri lalu duduk bersila menghadap Farzan, Farzan menaikan satu alisnya meminta Hana agar menjelaskan apa yang terjadi.
"Sebenarnya.. Aku gak tau harus bilang dari mana, Mas." Ucap Hana pelan, dan sekarang terlihat sedih.
Farzan mengusap kepala Hana, "Kenapa bingung.. Kamu tinggal bilang semuanya sama aku?" Farzan memandang lekat manik mata Hana yang jernih.
Hana pun dengan perlahan menceritakan apa yang terjadi barusan disekolah tentang ancaman Melisa dan tentang Melisa yang memiliki bukti tentangnya.
Farzan membawa tubuh mungil Hana kedalam pelukannya dan mengusap lembut kepalanya, "Kamu gak usah khawatir.. Aku akan selalu ada untuk kamu.." Hana membalas pelukan Farzan dengan erat.
Setelah menceritakan semuanya pada Farzan ada sedikit kelegaan, bahkan Farzan membuatnya merasa tenang didalam dekapan sang suami.
"Apa pun yang terjadi, kamu harus kasih tau aku.. Oke??" Hana mengangguk dalam pelukan Farzan.
Hana tidak ingin melepaskan pelukan ini.. Tapi jika terlalu lama begini dirinya jadi sesak.
"Mas.." Hana menepuk nepuk punggung Farzan.
"Kenapa, hemm?" Tanya pria itu yang malah menikmati sesi berpelukan ini.
"Aku sesak.." Suara Hana bahkan terdengar pelan.
Farzan langsung melepaskan pelukannya lalu menyengir, "Maaf.." Menampilkan deretan giginya yang putih dan rapih.
Berkat Farzan sekarang Hana bisa tersenyum kembali, dan menikmati malam ini dengan kehangatan dari rangkulan Farzan dan coklat hangat yang dibuat Farzan.
.
__ADS_1
.
TBC