
Pagi hari dan rutinitas seperti biasa tidak ada kendala apapun, setelah mengantarkan Hana sampai disekolah, Farzan langsung ke kantor sebentar karena memang jam sembilan nanti ada kelas olahraga.
Hana berjalan melewati koridor yang sudah ramai seperti biasanya, namun langkah Hana terhenti saat melihat Melisa dengan gengnya berada di ujung koridor yang akan ke kelasnya.
Apa lagi? Batin Hana.
Hana menghela nafas lalu kembali berjala berharap makhluk tuhan yang paling sexy itu tidak mengganggunya.
Tapi..
"Eitss.. Gak bisa lewat gitu aja!!" Melisa merentangkan tangannya yang di ikuti kedua temannya hingga tidak celah untuk Hana lewat.
"Kenapa?" Tanya Hana sebiasa mungkin.
"Kenapa?? Lo nanya ke gue kenapa??" Tunjuk Melisa pada dirinya.
Langkah Melisa semakin mendekat mengikis jarak dan sekarang wajah Melisa berada disamping telinga Hana.
"Gue tau lo sering antar jemput sama Pak Farzan.. " Tubuh Hana langsung menegang, "Melihat dari reaksi lo, ternyata benar.. " Hana sampai sulit untuk menelan ludahnya sendiri,, "Gue peringatin sama lo.. Kalo lo gak mau berurusan sama gue jauhin Pak Farzan.. Dia milik gue." Hana memejamkan matanya, sakit rasanya saat Melisa mengatakan seperti itu. "Gue bahkan bunya bukti poto kalian berdua.. Jangan pernah main main sama gue.. " Ucapan terakhir Melisa penuh penekanan, "Ayo girls.. " Melisa pun pergi dengan antek anteknya meliwati Hana dan menyenggol Hana.
Hana terhuyung kebelakang, kakinya lemas dengan segera Hana bertumpu pada dinding kelas disampingnya, apa yang dikatakan Melisa membuatnya takut.
"Hana!" Panggil seseorang yang langsung menghampirinya, "Lo kenapa?" Tanya Dika saat melihat wajah Hana pucat.
"Ehh.. Gak papa kok." Jawab Hana bohong.
Sumpah mau bagaimana pun Hana berbohong tidak akan ada yang percaya, Hana tidak bisa berbohong meskipun dengan orang baru.
"Mau ke UKS?? Gue anterin?" Tawar Dika yang apat gelengan.
Hana mencoba berdiri dengan benar, "Kita masuk kelas aja bentar lagi bel masuk.." Jawab Hana lalu berjalan mendahului Dika yang masih diam memperhatikan langkah Hana dengan berpegangan pada dinding.
Sebenarnya Dika sempat melihat Melisa dan Hana tadi namun tidak tau apa yang dibicarakanan hanya sebentar juga, karena tatapan matanya bertemu dengan tatapan Melisa.
Mungkin karena itu juga Melisa langsung pergi sebab ada Dika.
"Na, lo kenapa? Wajah lo pucet banget??" Bunga yang memang sudah datang lebih awal khawatir melihat Hana terlihat lemas. "Ke UKS ya? Gue anter?"
"Gue juga udah nawarin tapi dianya gak mau.." Sahut Dika. "Gue liat Hana ngomong sama Melisa cuma gue gak tau kalian ngapain.. " Lanjunya.
Hana langsung duduk menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan atas meja.
__ADS_1
"Hah.. Emang ada apa lo sama Melisa?" Hana hanya diam saja.
"Waktu tempo hari pas gue sama Hana ke perpus tiba tibs Hana di senggol Melisa, keliatan banget sengaja tapi dia yang dapet perhatian dari Pak Farzan.. "Tiba tiba Caca muncul masih mengenakan tasnya.
"Hah.. Serius? Perasaan lo gak ada urusan deh sama geng cunguk mereka?" Timbal Bunga.
Hana memiringkan kepalanya lalu mengangguk pada Bunga, dirinya memang tidak punya urusan dengan Melisa. Namun, karena Melisa mengincar Farzan dan dirinya kepergok diantat jemput Farzan menjadi masalahnya sekarang.
Hana tidak tau harus bagaimana, jika dirinya bilang tidak mau berangkat bareng atau pulang bersama tentu saja Farzan akan curiga. Lalu jika dirinya cerita soal Melisa itu namanya mengadu kan?
Apa yang harus dilakukan...?
Bel masuk sudah berbunyi, dengan terpaksa Dika dan Caca kembali ke bangku masing masing lalu Bunga kembali duduk di kursinya.
Pelajaran hari ini sama sekali tidak ada yang masuk ke dalam otaknya. Perkataan Melisa terus berputar putar dan membuatnya hilang fokus.
"Na?" Bunga berbisik dan memegang tangan Hana.
Hana menoleh dan memberikan senyumannya memberitahu jika dirinya baik baik saja.
Tidak.
Hana terkejut saat genggeman tangannya oleh Bunga semakin kencang.
"Lo percaya kita kan?? Kita ada buat lo." Lanjut Bunga yang membuat Hana terharu.
"Baiklah materi dari saya sampai disini.. Buku catatan kalian kumpulkan lalu simpan di ruangan Ibu.. Terimakasih anak anak sampai bertemu di hari berikutnya.. " Pamit Bu Guru karena jamnya sudah selesai.
"Baik Bu..." Jawab seisi kelas kompak.
Hana menyerahkan buku catatannya pada Irene yang bertugas mengumpulkan.
"Pokoknya lo harus jelasin ke kita.." Hana mengangguk ragu sebagai jawaban.
Apa ini tindakan benar??
Entahlah..
🌸🌸
Akhirnya jam istrahat yang di nanti nantikan pun tiba semua murid berbondong bondong untuk ke kantin. Namun, seperti biasa di meja Hana sekarang selalu ramai setiap jam istirahat, entah karena Caca selalu bawa bekal atau karena mau mendengarkan penjelasan dari Hana.
__ADS_1
"Sekarang cuma ada kita doang.. Dan disini semuanya tau tentang status lo.. Jadi lo gak usah takut lagi.. Inget lo ada gue, ada Caca, ada Vino dan ada Dika juga.. " Bunga memulai pembicaraan.
Hana ragu untuk menjelaskan tapi dirinya tau sifat Bunga yang pemaksa, "Melisa tau kalo aku di antar jemput sama Pak Farzan.." Ucap Hana pelan namun membuat ketiga orang ini syok.
"APAAA....!" Hana menutup matanya meringis mendengar teriakan mereka bertiga.
"Kok bisa?? Lo turun di depan gerbang?" Tanya Bunga yang langsung dapat gelengan.
"Lah terus??" Sahut Dika yang juga penasaran.
Memang Dika juga tidak pernah tau jika Hana selalu di antar jemput Farsan, juga tidak pernah melihat mobil yang selalu mengantar Hana.
"Gak tau.. Terus Melisa punya bukti soal itu." Lanjut Hana.
"Bukti?" Beo mereka bertiga.
Hana mengangguk.
"Lo liat buktinya?" Tanya Bunga dan Hana menggelengkan kepalanya.
"Kalian kan udah sah, gak masalah kan kalo antar jemut?" Sahut Caca yang sedari tadi memperhatikan.
"Astaga Caca.. Kan emang gak salah.. Tapi orang lain kan gak tau status mereka berdua.. Dan pastinya itu bakalan jadi gosip jelek.. Dodol!!!" Bunga geregetan sendiri, karena kesal juga dengan sikap Melisa yang mengancam seperti itu.
"Pokoknya lo gak perlu takut.. Disini ada kita yang bakal belain lo.." Lanjut Bunga memberikan suport.
"Gue.. Gue juga bisa diandalkan.. Lo tau keluarga gue kan?? Kalo mereka berani berulah.. Gampang gue depak mereka.." Sahut Dika membanggakan dirinya.
Ya, tidak semua orang tau latar belakang Dika tapi keluarga pria jangkung ini sangat berpengaruh disekolah.
"Caca.. Caca juga bakal bantu kok.." Sambung Caca yang dapat senyuman dari Hana.
"Makasih semuanya.. Kalian emang sahabat terbaik.." Ucap Hana dan langsung dapat pelukan dari Bunga.
"Mau peluk jugaa.. " Rengek Caca dan juga langsung nempel.
"Aduhh gue mau.. Tapi gue takut di sentak macan.. " Sahut Dika dengan wajah memelas namun langsung takut saat melihat mata Bunga yang melotot seakan mau keluar dari tempatnya.
Suasana hati Hana sedikit membaik karena terhibur oleh ketiha sahabatnya, namun rasa cemas masih ada.
Lalu Hana harus bilang apa pada Farzan??
__ADS_1