
Pagi ini Hana ikut bersiap karena kan ke sekolah, Farzan sudah rapih dengan setelan jasnya dan Hana dengan seragam putih abu-abunya.
Hana dan Farzan turun menuju dapur, disana sudah tersaji sarapan roti panggang, tentu saja bibi yang menyiapkannya. Farzan membatasi aktivitas Hana di rumah, karena memang disarankan pula oleh dokter Vanya saat cek-up.
Usia Hana yang masih muda dan harus mengandung dua janin, membuat Hana harus lebih ekstra hati-hati dan tidak terlalu banyak aktivitas. Sarapan mereka sudah selesai dan langsung pamit berangkat pada bibi.
Farzan membukakan pintu mobilnya untuk Hana, Hana baru sadar mobil Farzan bukan yang biasa, "Mas ini mobil siapa?" Tanya Hana saat Farzan sudah duduk di kursi kemudi.
"Ohh, ini punya Mas yang jarang di pake," Jawab Farzan dan melajukan mobilnya.
"Kok baru liat?"
"Iya, Mas simpen di rumah Mama, pas kemarin aku mampir ke rumah dan liat mobil ini, udah lama juga gak pake, ya udah mobil kemarin mas simpen di rumah Mama dan pake yang ini." Jawab Farzan panjang.
Mobil Farzan warnanya masih sama putih, hanya saja typenya berbeda, ini lebih kelihatan simpel namun tetap mewah. Farzan memang suka dengan tidak terlalu mencolok, tapi jika orang-orang tertentu pasti tau mobil semahal apa yang Farzan pakai.
Hana mengangguk sebagai tanda dirinya mengerti dari jawaban Farzan, tidak lama mereka pun tiba di depan sekolah. Farzan sengaja berhenti di depan, karena memang tidak ada yang mengenali mobilnya yang ini.
Farzan mencegah Hana saat hendak membuka pintu, calon papa itu memegang jemari Hana dan membawanya ke depan bibir lalu di kecup. Hana mengerutkan keningnya melihat sikap Farzan.
"Sayang.. Kamu jangan kecapean ya, kalo ada apa-apa hubungi aku, jangan lari-larian juga, jangan berkerumun, banyak minum air putih, jangan makan pedes juga, jangan kemana mana sendiri minta temenin Caca atau Bunga kalo mau ke toilet, kalo nanti udah selesai di sekolah hubungi aku, biar nanti aku jemput," Petuah panjang dari Farzan membuat Hana memutar bola matanya.
"Iya Mas sayang.. Aku bakal baik-baik aja, percaya sama aku, oke?" Hana memegang kedua pipi Farzan. Wajah Farzan lucu sekali jika di himpit oleh kedua tangannya, bibirnya menjadi maju. "Lalu, pulang nanti aku ikut mobil Caca sama Bunga, mereka mau ajak aku hangout dulu, boleh kan?" Hana menggerakan kepala Farzan agar mengangguk dan membuat Farzan menjadi membulatkan matanya. "Ah, makasih papanya anak-anak," Hana mengecup singkat bibir Farzan yang maju itu karena ulahnya. "Kalo begitu aku pamit ya, Mas hati-hati juga, i love you calon papa.." Terakhir Hana mengecup kening Farzan lalu bergegas keluar mobil sebelum Farzan menahannya.
Farzan menatap Hana yanh sudah berjalan menjauhi mobilnya dengan terbengong, Farzan terasa terhipnotis oleh Hana barusan sampai tidak menyadari dan tidak bisa berkata apa pun. Farzan mengusap wajahnya dan menyandarkan tubuhnya.
Hana memang selalu membuatnya frustrasi agar tidak selalu menerkamnya dimana pun, tingah Hana barusan yang hanya seperti itu saja membuat sesuatu bangun tanpa sebab. Farzan menutup matanya dan menghela nafas berat.
Farzan pun membuka matanya dan kembali melajukan mobilnya menuju tempat kerja, lebih baik di sibukan dengan pekerjaan agar tidak mengingat dan tidak tegak lagi.
🌸
🌸
Setelah melewati gerbang, Hana mengeluarkan ponselnya dan melihat isi chat grup yang sudah ada beberapa pesan masuk. Ternyata teman temannya ada di kantin, Hana langsung berbelok menuju kantin.
Benar saja, dari kejauhan Hana bisa melihat Bunga dan Caca disana, tentu saja Dika dan Vino juga ada. Hana melihat sekeliling lingkungan sekolah masih banyak aktivitas dari adik kelas yang belajar normal. Hana jadi mengingat saas-saat pertama masuk ke sekolah ini dan langsung bertemu Caca dan Bunga, kenangan itu tidak akan pernah terlupakan sampai kapan pun.
"Hana..!" Teriak Bunga yang melihat Hana ada di pintu barat kantin.
Hana melambaikan tangannya sebagai jawaban lalu berjalan menuju meja dimana teman-teman sedang berkumpul.
__ADS_1
"Hai, selamat pagi.." Sapa Hana dan duduk di samping Caca.
"Pagiii..." Jawab mereka bersamaan, lalu mereka pun jadi tertawa.
"Kalian udah pada liat belum pengumumannya?" Tanya Hana.
"Belum sih, rencananya biar liat barengan gitu," Jawab Dika lalu menyeruput teh hangatnya.
"Na, lo sarapan belum? mau gue pesenin gak?" Sahut Bunga.
"Udah sih, tapi roti doang.. Terus sekarang laper lagi, heheh." Jawab Hana cengengesan.
"Ya udah gue beliin bubur mau?"
"Hmm, boleh deh jangan pake bawang ya," Kening Bunga mengerut mendengar jawaban Hana.
"Kok tumben?"
"Gak tau, lagi gak mau makan yang ada bawangnya," Lanjut Hana sambil mengangkat bahunya.
"Ya udah, gue aja yang beliin, lo tunggu sini aja," Timbal Dika lalu berdiri. "Gak pake bawang kan?" Tanyanya lagi memastikan.
Hana menganggukkan kepalanya, "Makasih om Dika," Jawab Hana meniru suara anak kecil, namun Dika hanya membalas dengan senyuman lalu pergi memesan bubur.
Hana kembali mengangguk, "Iya, maklum di dalem ada dua, hehe. Aku mau ini ya?" Hana menyomot gorengan yang tadi Vino beli.
"Boleh dong, makan aja," Ucap Vino sambil menggeser piring yang berisi gorengan.
"Mau aku beliin yang lain gak,Na?" Tanya Caca sambil curi-curi mengusap perut Hana, "Na udah mulai keliatan ya?" Hana menganggukkan kepalanya dengan mulut yang mengunyah.
"Sorry lama ya, ini buburnya Han," Dika datang membawa satu mangkuk bubur untuk Hana, lalu meletakannya di depan Hana.
"Makasih lagi om Dika," Ucap Hana.
"Iya, sama-sama.." Jawab Dika lalu duduk lagi di kursi semula, "Lo gak mual-mual?" Lanjut Dika.
Hana menggeleng dan mengangguk, "Lah jadi apa jawabannya?" Sahut Vino.
"Hehe, kadang-kadang sih, kadang aku atau M-mas eh Pak Farzan yang mual," Jawab Hana setelah menelan buburnya.
"Ohh ya?" Hana mengangguk lagi.
__ADS_1
"Ya udah makan dulu aja, nanti kita liat pengumuman bareng-bareng," Ucap Bunga, agar tidak ada yang bertanya lagi pada Hana saat sedang makan.
Mereka pun membahas yang lain, tentu membahas tentang cafe yang sebentar lagi akan segera selesai 100%, dan mungkin setelah kelulusan bakal langsung dibuka. Mereka mungkin akan mengurus cafe sambil kuliah.
Setelah cukup lama di kantin dan Hana juga sudah selesai makannya, mereka semua beranjak untuk melihat pengumuman kelulusan, sudah banyak story chat yang menunjukan dirinya lulus. Hana dan yang lain jadi penasaran dengan hasil ujian kemarin.
Jika berharap juara umum tentu saja pasti, tapi mereka tidak terlalu juga untuk berada di posisi itu karena yakin pasti bukan di antara mereka yang ada di posisi pertama, tentu saja. Mereka mulai mencari nama masing-masing saat melihat daftar kelulusan di mading.
"Ahhh, gue lulus.." Teriak Bunga sambil meloncat-loncat.
"Anjir.. Gue lulus MAMIHH.." Teriak Dika juga sambil bawa-bawa mamih lagi.
"Ahhh, lulus.. " Hana juga tak kalah teriak lalu memeluk Bunga.
"Kalian gimana?" Tanya Bunga pada Caca dan Vino, mereka berdua mengangguk bersamaan.
"YEEEE.. KITA LULUS.." Ucap mereka bersamaan lalu saling berpelukan, bahkan sampai menitihkan air mata saking terharu.
Mereka berteman sejak awal masuk sekolah ini, banyak sekali lika liku yang terjadi selama tiga tahun ini. Lalu mendapatkan teman baru 'Dika', pertemanan mereka menjadi lebih sempurna, bahkan sampai merencanakan untuk masa depan juga.
Rasanya masih seperti mimpi memiliki mereka yang selalu menyayangi, membantu dan selalu setia. Hana hanya meminta do'a agar kami semua bisa di berikan kesehatan agar selalu bisa berkumpul sampai tua nanti.
"Okee, kita ke Mall XXX buat rayain kelulusan, pake mobil gue, lets gooo.." Ucap Dika, dan mereka semua kembali tersenyum bahagia, menghapus jejak air mata.
"Oke, brangkaatt.." Sahut Bunga, lalu menggandeng lengan Hana.
Mereka semua berjalan bersamaan menuju parkiran.
Hana, Caca dan Bunga berjalan lebih dulu, lalu di belakang ada Dika dan Vino saling merangkul. Terlihat jelas raut wajah mereka bahagia.
Mungkin ini adalah hari terakhir memakai seragam putih abu-abu bersama teman-teman,
Hana mengusap perutnya.
Waktu begitu cepat berlalu ternyata.
Hari ini, kemarin, besok dan seterusnya tidak akan pernah terlupakan.
.
.
__ADS_1
.
TBC.