
Tidak terasa liburan satu minggu sudah berlalu begitu saja, sangat disayangkan sekali karena terlalu keenakan untuk bersantai dirumah.
Hari senin yang terkadang membuat para murid enggan bangun pagi dan malas pergi kesekolah, namun apa boleh buat? Mereka tetap saja berangkat ke sekolah.
Ada yang mengekspresikan dirinya dengan gembira karena bisa bertemu dengan teman-teman dan ada juga yang malas-malasan karena akan bertemu dengan banyaknya tugas.
Jangan ditiru yang jeleknya oke..
Hana seperti biasa di antar Farzan kesekolah di tempat biasa, dan bersyukur tidak ada yang curiga padanya. Juga tidak ada yang menganggunya lagi.
Ternyata hidup tidak selalu sulit.
"Aku masuk dulu ya, Mas." Hana mencium punggung tangan Farzan dan pria ini mencium kepala Hana yang tertutup hijab.
Farzan juga mencium kening dan bibir Hana lalu mengusap pelan keningnya, "Hati-hati ya, kalo ada apa-apa kabarin aku." Farzan mengecup kening Hana sekali lagi.
Hana mengangguk, "Assalamualaikum." Pamitnya lalu membuka seatbelnya.
"Walaikumsalam." Jawab Farzan dan Hana keluar dari mobil.
Setelah mobil mewah Farzan melaju, tatapan Hana bertemu dengan Bunga yang di antar oleh Bima.
Ya, Hana tau karena Bima memberinya salam dari jauh. Sedangkan cewek bar-bar ini malah melambaikan tangannya dengan ceria.
Pasti ada sesuatu.
Batin Hana.
Hana menyebrang dan menghampiri Bunga.
"Kalo begitu saya pamit dulu," Bima membungkuk saat Hana datang lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Bunga menghampiri Bima sebentar lalu berbisik, "Hati-hati sayang, semangat kerjanya." Lalu Bunga terkekeh melihat kuping Bima yang memerah.
Pria itu langsung menjalankan mobilnya, jika berlama-lama bersama Bunga akan sulit untuk dikendalikan lagi.
"Ayo masuk." Bunga merangkul pundak Hana dan berjalan bersama untuk ke kelas.
"Ciee.. Seneng banget ya?" Ucap Hana yang melihat Bunga sedari tadi tersenyum.
"Iya dong seneng, bukan nona Hana saja, gue juga bisa, hahah."
"Iya, semoga langgeng,"
"Aminnn Bunda Hana, hahaha." Bunga tertawa saat melihat ekspresi Hana yang merasa geli.
Terbesit satu kalimat jika dirinya hamil dan menjadi seorang ibu, apa yang akan terjadi?
__ADS_1
Hana lalu teringat dengan apa yang Farzan lakukan selalu tanpa pengaman, apa mungin??
Hana tanpa sadar menyentuh perutnya.
"Lo kenapa? Sakit perut?" Lamunanya buyar karena pertanyaan Bunga.
"Ah, enggak kok, yuk bentar lagi upacara." Hana mengalihkan jawabannya lalu berjalan cepat menuju kelas untuk menyimpan tasnya.
Bunga menatap Hana bingung namun tetap mengikutinya.
Lapangan upacara sudah banyak murid yang berbaris disana, sebentar lagi akan dimulai. Caca juga sudah datang dan sudah ikut berbaris sesuai kelas.
Sampai pukul delapan upacara pun selesai, lalu semua murid melanjur aktivitas belajarnya seperti biasa. Ditengah kegiatan belajar mengajar ini tiba-tiba langit mendung dan hujan turun begitu saja tanpa basa basi.
-_-
Udara menjadi dingin, murid yang tidak membawa jaket merasa kedinginan. Saat jam istirahat berbunyi mereka berlarian menuju kantin untuk membeli makanan hangat.
Hana,Bunga dan Dika sudah berada di kantin duluan sedangkan Caca tadi mampir ke toilet dulu. Hujan malah semakin deras Caca memandang langit yang mendung mengingatkan beberapa moment bersama Vino karena hujan.
Tuk.
Caca terkejut karena tiba-tiba ada jaket yang menutup kepalanya, Caca mendongak dan disana ada Vino yang tersenyum padanya.
"Pake jaketnya dingin, aku tau kamu gak bawa jaket." Ucap Vino sambil mengacak poni Caca.
"Mau ke kantin?" Tanya Vino yang di angguki Caca, "Ayo, aku anterin." Vino membuat jaketnya menjadi payung mereka berdua, "Satu, dua, tiga, lari Ca." Caca yang belum siap pun hampir saja jatuh karena tersandung kakinya sendiri, namun Vino manahannya. "Hati-hati dong jalannya," Ucap Vino dan melanjutkan langkahnya.
"Gak apa-apa kan?" Tanya Vino saat mereka sudah tiba di kantin.
Caca menggelengkan kepalanya, "Iya gak papa kok, kamu basah ini." Caca memegang lengan seragam Vino yang basah.
"Gak papa sedikit, yuk cari mereka sebelah mana. Ah itu disana," Lanjut Vino yang melihat Dika melambaikan tangannya, "Ayo Ca." Caca mengangguk dan menghampiri meja dimana teman temannya berkumpul disana.
🌸
🌸
"Yoi broo.." Dika dan Vino bertos ria.
Caca dan Vino sudah dipesankan makanan jadi tidak perlu memesan lagi.
"Katanya bakal ada yang diomongin ya?" Tanya Hana membuka obrolan.
"Emang apaan?" Sahut Dika sambil menyomot cimol milik Bunga.
Bunga melotot pada Dika, "Lo!" Pekiknya yang hanya dibalas dengan cengiran. Sudah menjadi hal biasa Dika seperti ini, semenjak bergabung yang lain pun menjadi terbiasa.
__ADS_1
"Omongan apaan sih?" Caca juga ikut menyahut setelah meletakan teh hangat yang dipesankan Hana.
"Gini.. Gua dapet bocoran dari Kak Bima kalo suami lo," Ucap Bunga sambil menoleh Hana, "Katanya udah nyiapin gedung buat kita buka usaha caffe." Mata Hana membulat.
"Serius? Kok aku gak tau?" Sahut Hana.
"Iya emang belum diumumin sih, cuma Kak Bima bilang rencana yang kita buat itu gedungnya lagi di usahan sama suami lo." Lanjut Bunga.
"Wahh bagus dong kalo gitu, kita tinggal konsep doang kan?" Sahut Dika.
"Kalo emang udah ada gedungnya gue tinggal bilang sama mamih buat bantu yang lainnya, perusahaan Mahardika juga kerja sama kan sama keluarga gue." Pembicaraan ini mulai serius.
"Gue juga udah mahir bikin racikan kopi nih," Bangga Vino menyilangkan tangannya di dada.
"Idihh sombong," Sewot Bunga, namun mereka malah tertawa.
"Nanti deh pas di rumah aku tanyain sama Pak Farzan, kalo bener kita minta cek lokasinya baru bikin konsepnya."
"Setuju banget." Timbal Dika menjentikan tangannya. "Nanti gue bilang sama bokap gue setelah konsepnya selesai."
"Hemm.. Jadi kita sepakat buat buka usaha ini bareng-bareng oke?"
Bunga mengulurkan tangannya dan disambut oleh Caca, Hana, Vino dan Dika, "OKE.." Jawab semua serentak.
Mereka kembali tertawa, meski hujan masih terus saja turun dan udara semakin dingin namun suasana hati mereka menghangat. Tidak ada yang bisa menggantikan waktu berharga bersama teman dengan apapun itu.
Mereka melanjutkannya obrolan tentang rencana itu sambil menghabiskan makanan mereka karena jam istirahat masih ada beberapa menit lagi.
Dan suasana kantin sekarang ini juga cukup ramai, mungkin efek hujan ingin memakan makanan hangat seperti Hana dan kawan-kawan.
Di Kantor Cabang Mahardika.
Farzan sudah selesai menandatangani berkas yang menyetujui bahwa gedung itu sudah menjadi atas nama istrinya.
Farzan merasa setelah saling jujur dengan Hana semua urusanya menjadi mudah, saat mencari gedung untuk membantu sang istri pun dengan mudahnya ada seseorang yang juga rekan bisnisnya ingin menjual dengan harga yang tidak terlalu mahal.
Tentu saja Farzan langsung mengambilnya karena tempatnya juga cukuo strategis, dekat perkantoran, kampus bahkan perumahan juga dekat dengan jarak gedung itu.
Pulang nanti Farzan akan memberikan berkas ini pada sang istri, dan Farzan merasa tidak sabar untuk melihat wajah cantik istri kecilnya.
"Ekhemm.. Permisi Pak." Farzan tersadar karena Bima, Farzan mengusap wajahnya karena melupakan jika Bima masih berada diruangannya.
"Maaf, sekarang lo bisa keruangan lo." Ucap Farzan dan Bima pun pamit keluar dari ruangannya.
Farzan bersikap begini setelah tau jika Bima pacaran dengan sahabat istrinya, awalnya tidak percaya namun melihat saat liburan kemarin membuatnya percaya.
Farzan juga mendukung apa yang Bima putuskan, asalkan tidak mengganggu dalam pekerjaan. Karena memang Farzan masih sangat membutuhkan Bima untuk partner dalam pekerjaan.
__ADS_1