
Malam nanti acara perpisahan akan berlangsung, tidak terasa waktu sangat cepat berlalu. Acara perpisahan taun ini di urus sama anggota osis yang baru, dan mereka memilih mengadakannya di sekolah saja.
Dan hal yang paling tidak terduga adalah tema dari perpisahan ini, anggota osis yang sekarang benar-benar penuh dengan ide yang kreatif. Dari kartu undangan yang Farzan terima sebagai tamu, membaca tema yang tertera di kertas itu adalah PESTA BANTAL.
Kening Farzan mengerut dengan otang sekuat mungkin bekerja mencari alasan atau lebih tepatnya bagaimana bisa siswa menentukan tema seperti ini, di acara resmi?
Meskipun disana tertera acara pertama memang acara formal dengan sambutan dari kepala sekolah dan yayasan. Lalu di lanjut dengan penyerahan kelukusan untuk para murid, dan setelah acara formal selesai mereka mengadakan pesta bantal yang di haruskan memakai piama.
"Kenapa Mas? Tanya Hana yang melihat Farzan terus menatap kartu undangan dari sekolah.
"Masih gak habis pikir sama temanya," Jawab Farzan mengacak rambutnya merasa pening.
"Ya gak usah di pikirin aja kali," Hana duduk di meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya.
Hana baru saja mandi besar, tentu saja ini ulah Farzan yang minta menjenguk baby twinsnya. Padahal masih pagi dan ini mandi yang kedua kalinya bagi Hana. Bumil ini memutar bola matanya saat mengingat rayuan Farzan yang memintanya.
"Ah gak tau ah, mandi dulu aja," Ucap Farzan melempar kartu undangannya ke atas kasur lalu meraih handungnya dan masuk kedalam kamar mandi.
Hana memandang pintu kamar mandi dengan terkejut karena ulah Farzan, lalu mengedikan bahunya dan melanjutkan mengeringkan rambutnya.
Siang nanti bakal ada orang suruhan Mama dari butik untuk mengantar gaun Hana dan setelan jas milik Farzan untuk nanti malam. Hana juga sudah mempersiapkan piama dirinya dan Farzan juga topeng mereka untuk berganti nanti.
Entahlah dari pesan grup ketua osis mengumumkan harus membawa topeng, untung saja Hana tidak sulit mencari benda itu karena ada di butik Mama.
"Sayang.... " Teriak Farzan dari kamar mandi lalu membuka pintunya dan menyembulkan kepalanya.
Hana berbalik menatap Farzan dan mengangkat satu alisnya seolah bertanya 'Kenapa?'.
"Sampo aku abis, yang baru ada dimana?" Tanya Farzan, Hana ingin tertawa namun dia tahan kalo tidal Farzan akan cemberut menertawaknya yang seperti itu.
Hana berdiri dan berjalan menghampiri lemari lalu mengambil botol sampo baru untuk Farzan, Hana pun segera menyerahkan botolnya.
"Makasih sayangku.." Ucap Farzan setelah menerima botol samponya lalu menutup kembali pintu kamar mandinya.
Hana yakin jika barusan Farzan tidak memakai apapun, membayangkannya saja wajah Hana terasa panas. Hana menggelengkan kepalanya saat bayangan Farzan bugil terlintas di otaknya.
Sambil menunggu Farzan Hana mengambil ponselnya dan melihat ada pesan dari Bunga dan Caca.
Bunga Cantik..
*Hana cantik..
__ADS_1
Mau nanya dong, lo udah dapet gaunnya belooomm???
Gue belum dapet nihh..
Ada referensi gaakkk???
Jawab yee..
Gak pake lama loh..
Hana..
Hanaa*..
Hana terkekeh membaca pesan Bunga, belum di buka atau di bales pesannya tapi Bunga sudah memanggil manggilnya dalam satu pesan.
Sengaja, Hana tidak langsung membalas pesan Bunga dan malah membaca pesan dari Caca.
Cacamarica..
*Hana..
Kamu di anterin Pak Farzan apa mau bareng aku? Kalo mau bareng nanti aku jemput.
Aku juga gak bareng Vino, soalnya dia bakal bawa ibunya, jadi aku ajak kamu..
Gimana mau bareng aku*?
Nama kontak Bunga tentu saja cewek itu yang tulis, dan sedangkan Caca, dirinya lah yang menulis seperti itu, namun Caca tidak marah karena Hana mengganti nanya saat sudah hamil. Jadi di maklumi oleh Caca.
Hana membalas pesan Caca lebih dulu jika dirinya akan pergi bersama Farzan, entahlah pria ini ngotot pengen berangkat bersama. Padahal jika itu terjadi semua orang akan tau hubungan mereka, tapi Farzan menjawan tidak peduli dengan omongan orang. Bahkan bagus jika semuanya tau jika dirinya adalah suami sah Aqila Hanannia Mahardika.
"Sayang keringinin dong.." Farzan tiba-tiba duduk di bawah karpet bulu tepian kasur yang saat ini Hana duduki.
"Kaget loh Mas," Ucap Hana mengambil alih handung di tangan Farzan, lalu mulai mengeringkan rambutnya.
Membalas pesan untuk Bunga jadi terganggu lagi, Hana yakin cewek itu bakal mengirimnya pesan lagi.
"Lagian fokus banget sana ponselnya, suami sendiri baru selesai mandi aja gak diliatin," Protes Farzan yang merasa cemburu sama hp.
Hana lagi-lagi memutar matanya jengah, "Aku cuma bales chat dari Caca, terus mau bales chat Bunga juga tapi keburu Mas ngagetin sih.."
__ADS_1
"Aws.. Pelan-pelan ih sayang.." Ringis Farzan karena Hana terlalu menekan kepalanya.
"Udah kering.. Nih sayang," Hana kembali menyerahkan handuk kecil tadi pada Farzan lalu melanjutkan memainkan ponselnya berniat membalas chat Bunga.
Farzan mencebikan bibirnya melihat Hana yang begini, Farzan hari ini bela-belain cuti dan mengubah jadwal meetingnya cuma untuk sang istri. Meskipun sebenarnya Farzan bisa pulang cepat, tapi Farzan ingin menemani Hana dari bangun tidur. Namun lihatlah setelah acara jenguk menjenguk baby twinsnya mood Hana jadi berubah lagi.
Padahal tadi di tanya gak apa-apa kalo mau jenguk, giliran udah di jenguk malah bad mood. Farzan berjalan untuk menjemur handuknya di balkon kamar dan kembali melihat sang istri sudah mau keluar kamar aja.
"Sayang mau kemana?" Tanya Farzan saat Hana sudah membuka pintu kamarnya.
"Mau makan, aku laper." Jawab Hana dengan wajah datar, lalu pergi tanpa menutup pintu dan tanpa menunggu Farzan.
Farzan menghela nafasnya, sifat Hana jadi seperti awal-awal pernikahan yang terlihat jutek. Farzan pun ikut keluar kamar sambil membawa ponselnya, untuk menanyakan gaun dan setelan Farzan apakah sudah siap atau belum.
"Mas sini.." Hana melambaikan tangannya yang sedak duduk dikursi meja makan. Nada suaranya sudah tidak seperti tadi.
Farzan pun mengangguk dan menuruni anak tangga dengan cepat.
Cup..
Farzan mengecup kening Hana sekilas setelah tiba di meja makan, "Kamu makan sup nya juga ya.." Ucap Farzan yang seperti suruhan, sambil menuangkan sup ke mangkuk kecil.
"Ihh.. Lagi gak mau sup loh," Jawab Hana yang sekarang bibirnya maju tiga senti.
Farzan terkekeh melihat itu lalu menyomot bibir Hana yang tengah manyun itu, "Aku cium loh kalo gitu," Ancam Farzan.
"Dihh, gak malu apa diliatin bibi?"
"Buat apa? Kan udah halal juga," Jawab Farzan cepat lalu mendekatkan wajahnya.
"Ihh, Mas Farzan.." Hana mendorong wajah Farzan yang mendekat tadi.
Farzan terkekeh melihat wajah Hana yang memerah, lalu Farzan mengambil piring Hana dan menyuapinya.
Hana menaikan satu alisnya, "Kenapa gak ikut makan?" Tanya Hana namun tetap melahap suapan dari Farzan.
"Satu berdua aja ya, lagi gak enak makan soalnya." Jawab Farzan yang juga melahap makanannya dari sendok yang sama.
"Masih suka mual?" Tanya Hana lagi yang di angguki Farzan, Hana terus menerima suapan dari Farzan. Dan pria itu juga meski Farzan hanya memakannya sedikit.
Hana merasa kasihan pada Farzan yang sudah dua hari ini merasa mual, Farzan jadi harus mengalami ngidam yang sering muntah di tengah malam.
__ADS_1