My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Farzan Sakit..


__ADS_3

Kepala Farzan terus berdenyut nyeri sedari tadi, Farzan berusaha menahan rasa sakitnya itu dan memaksa terus bekerja.


Pekerjaannya menjadi bertambah, Farzan belum memberitahukan pada Papanya namun Farzan yakin beliau pasti sudah tau apa yang terjadi di salah satu perusahaannya.


Farzan melirik jam yang ternyata sudah melewati jam makan siang, Farzan menghentikan sejenak pekerjaannya lalu menatap ponselnya yang sedari tadi dia abaikan.


Ada pesan dari Hana disana, dengan segera Farzan membuka pesan itu.


Hana..


Assalamualaikum Mas..


Udah makan siang??


Farzan mengulum senyumnya saat membaca pesan Hana yang memanggilnya 'Mas'. Farzan jadi ingin mendengarkan suara Hana saat memanggilnya namun jika melihat jam lagi sekarang Hana sudah masuk kelas.


"Arghh..!" Farzan memegang kepalanya yang sekarang benar benar terasa nyeri.


Farzan tidak bisa menahannya lagi, dengan segera menekan tombol di teleponnya yang otomatis terhubung dengan Bima.


"Halo Pak?"


Sahut Bima dari sana.


"Tolong saya Bim!"


Lirih Farzan yang benar benar merasakan sakit di kepalanya.


"Pak..! Tunggu saya kesana sekarang pak!"


Bima mematikan sambungannya lalu segera berlari menuju ruangan Farzan.


Tok.. Tok..


Tidak ada sahutan dari dalam sana membuat Bima semakin cemas, dengan lancang Bima membuka pintu ruangan Farzan lalu melihat Farzan yang menutup matanya.


"Pak! Pak Farzan!" Bima memanggil dan mengguncang pelan tubuh Farzan namun tidak ada pergerakan.


Keringat dingin membasahi wajah Farzan yang pucat. Bima segera menghubungi rumah sakit keluarga Mahardika agar mengirim ambulan dengan segera ke kantor.


Bima mengirim pesan Hana untuk memberi kabar keadaan Farzan.


Setelah anggota medis datang Farzan pun dibawa ke rumah sakit yang di ikuti Bima. Sebelum Bima benar benar pergi, Bima menyerahkan tugasnya pada Raisa Sekertaris kedua Farzan dan fatner kerja Bima.


Seketika suasana kantor menjadi riuh banyak bisik bisik tentang Farzan, ada yang menatapnya kasihan karena masalah perusahaannya ini sudah bukan menjadi rahasia bagi karyawan disini.


"Semuanya tenang! Kalian kembali saja bekerja.. Kita bantu Pak Farzan!" Teriak Raisa, yang selama ini selalu banyak dibantu oleh Farzan.


"Iya benar juga kata Bu Raisa, kita harus bantu."


"Iya kasihan Pak Farzan!"


"Ya sudah.. Kita sambung kerja lagi."

__ADS_1


Sahut sahutan yang terdengar dari para karyawan.


Semua bubar dan kembali pada pekerjaannya masing masing, Raisa pun begitu dia melanjutkan pekerjaannya.


Tiba tiba telponnya berbunyi.


"Halo selamat siang dengan Raisa disini!" Jawab Raisa, namun Raisa mendengar suara isakan pelan dari sebrang sana.


"Ehmm, maaf Mbak.. Pak Farzannya ada? Ini saya Hana.. Tadi saya dapat kabar dari Pak Bima kalo Pak Farzan sakit." Ucap Hana dengan suara bergetar.


Ya, Hana tidak sengaja membaca notif pesan yang tidak ada namanya namun isi pesan yang memberitahukan jika Farzan sakit dan tidak sadarkan diri. Dan Hana yakin jika yang mengirim pesan itu adalah Bima.


Dengan cepat Hana izin ke toilet pada guru yang sedang mengajar di kelasnya, Hana berlari keluar bukan untuk benar benar ke toilet tapi untuk menghubungi Farzan, tapi sayang tidak ada jawaban.


Hana sangat khawatir, lalu menghubungi nomor perusahaan Farzan dan Hana bersyukur karena sambungannya terhubung.


Raisa tau siapa Hana karena saat pernikahan Farzan dirinya hadir disana.


"Iya Mbak Hana.. Pak Farzan sudah di bawa ke rumah sakit.. Biar saya suruh supir Pak Farzan untuk menjemput Mbak Hana ya! Mbak Hana jangan khawatir." Jelas Raisa.


"Makasih Mbak! Nanti hubungi nomor ini ya Mbak.. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!" Raisa lalu beralih menghubungi supir Farzan untuk ke sekolah Hana.


Meskipun baru satu minggu dirinya menjadi istri Farzan, tidak di pungkiri jika Hana mengkhawatirkan Farzan.


Hana kembali ke kelas dengan wajah yang sulit di artikan, Bunga yang melihat itu langsung memegang tangan Hana.


"Pak Farzan sakit Nga, terus dia di bawa ke rumah sakit." Jawab Hana dengan suara menahan tangisan.


Bunga mengusap pelan tangan Hana memberi kekuatan, Hana ingin cepat cepat  supir suaminya itu segera menjemputnya, isi kepala Hana terus saja di penuhi oleh Farzan.


"Sabar ya!" Bisik Bunga lagi.


Hana mengigit kukunya bahkan penjelasan yang di berikan Bu Fika tidak masuk satu kata pun pada otaknya.


Beberapa menit kemudian pintu ruangan kelasnya di ketuk.


Tok.. Tok..


"Iya sebentar!" Sahut Bu Fika lalu berjalan keluar kelas.


Hana yakin jika itu Pak Toni supir yang di kirim oleh Raisa.


Bu Fika terlihat kembali masuk kelas, "Aqila! Ada yang jemput kamu diluar.. Kamu boleh izin pelajaran saya, nanti kamu minjam buku teman sebangku kamu!" Ucap Bu Fika membuat Hana mengangguk lalu membereskan bukunya.


"Na, hati hati ya!" Ucap Bunga mengusap tangan Hana sebelum gadis itu berdiri dan berjalan untuk menyalimi Bu Fika.


"Makasih ya Bu! Hana izin dulu assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!"


Hana segera keluar dan di sambut oleh Pak Toni.

__ADS_1


"Non mau langsung ke rumah sakit?" Tanya Pak Toni yang di angguki Hana. "Mari non!"


Hana berjalan tergesa yang di ikuti oleh Pak Toni, di setiap langkah Hana selalu berdo'a untuk Farzan agar pria itu baik baik saja.


"Silahkan Non!" Pak Toni membuka pintu mobil untuk Hana.


"Makasih Pak!" Hana beruntung saat keluar kelas tidak ada orang yang berlalu lalang di sekitaran sekolah dan tidak akan menimbulkan bisik bisikan sayton.


Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang cukup ramai karena jam siang ini benar benar waktu sibuk.


Hana hanya meremas jari jemarinya dan terkadang mengusap air matanya yang jatuh begitu saja.


Sangat memakan waktu lama untuk tiba di rumah sakit Mahardika, Hana menanyakan pasien atas nama suaminya pada suster saat sudah berada di resepsionis.


Hana di beri tahu jika Farzan sudah di pindahkan ke ruangan VIP di lantai tiga, gadis itu segera berlari menuju lift, namun sayang lift itu sudah tertutup dan jika menunggu pasti memakan waktu.


Hana segera berlari mencari tangga untuk ke lantai tiga, gadis itu terus berlari menaiki setiap anak tangga hingga peluh di dahinya dia abaikan.


Hana bernafas lega saat tiba dilantai tiga dan segera mencari ruangan Farzan yang berada di ruangan 24.


Hana mendorong pelan pintunya, "Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam.. Hana?"


"Mamah!"


.


.


.


TBC.


Kasian Mas akunya kecapean jadi sakit nihh..


Do'ain Farzan biar cepet sembuh ya..


Amiinnn..


Biar bisi uwu uwuan sama Hana..


.


.


Jangan lupa like komen sama vote ya sayang sayangku..


Salam sehat selalu..


Tetap jaga kesehatan, oke..


See you...

__ADS_1


__ADS_2