My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Tidak Sengaja Bertemu..


__ADS_3

Kondisi Hana semakin membaik di rawat beberapa hari dan sekarang Hana sudah bisa pulang, orangtua dan mertuanya datang untuk menjemput Hana.


"Pakaian menantuku sudah dibereskan??"


"Tentu saja, Mama tidak usah khawatir.. " Jawab Farzan.


"Sayang jaketnya mana?? Suamimu tidak memakaikan jaket??" Sedari tadi Dinda terus mencerocos membuat Farzan pusing.


"Sayang, kamu benar sudah baikan??" Tanya Laras duduk samping Hana.


"Aku baik baik saja Bunda.." Hana memeluk Laras dan di balas elusan dibahunya.


"Bukan begitu, Ma.. " Farzan juga sama saja.


"Hei.. Kalian berdua bisa berhenti?? Semuanya sudah beres tinggal berangkat pulang.. Duhh kok Papah jadi malu.. " Bram menutup wajahnya melihat sang istri dan anaknya.


"PAPA.. " Bram merinding mereka bersamaan memanggilnya.


"Haha.. Sudah sudah! Ayo kita berangkat.. " Ucap Darma merelai semuanya.


Hana hanya tertawa didalam pelukan Laras, ternyata dirinya masih bisa menemukan kebahagiaan walau menikah Farzan. Dan Hana juga masih bisa saling berkomunikasi dengan Ayah dan Bundanya.


Barang barang Hana dibawa Bima dan asisten yang Papah Bram ajak dari rumahnya, mereka semua keluar dari ruangan rawat ini dan kebetulan Reza sedang melintas.


"Sudah mau pulang?" Tanya Reza.


"Iya dok alhamdulillah.. " Jawab Hana sambil tersenyum.


"Syukurlah.. Harus banyak minum air putih dan kurangi bucin dari suaminya, oke.. " Reza mengedipkan sebelah matanya.


"Heii Kak.. Aku denger loh.. " Pekik Farzan.


"Baguslah kalo denger.. Kalo begitu hati hati dijalan.. Saya harus periksa pasien .."


"Iya.. Terimakasih Dokter Reza.. "


Farzan menatap sengit saat Reza melewatinya namun dokter itu melah meledeknya lagi membuat Farzan kesal.


Ternyata keluarga Mahardika diluarnya terlihat serius dan berwibawa namun tetap ada sisi humorisnya.


Lalu mereka pun pulang dalam satu mobil karena Bram membawa mobil yang seperti mini bus yang dikendarai oleh Bima.


Hana yang duduk disamping Farzan karena pria itu yang memintanya.


-_-


Tiga puluh menit berlalu mereka tiba dikediaman Farzan dan Hana, cukup lumayan perjalanan pulang ini karena sedikit macet tadi.


"Hati hati.. " Farzan membantu Hana keluar dari mobil.


"Aku gak papa kok, Mas.. Aku bisa sendiri.. " Jawab Hana yang sudah keluar dan tetap di bantu Farzan.


Mereka semua duduk di ruang tengah untung saja Bram membawa benerapa asisten jadi bisa membantu Hana menyajikan minum dan makanan.


Sebenarnya Hana benar benar sudah merasa membaik dan tidak lagi memikirkan kejadian disekolah hari lalu, karena semua itu berkat Farzan yang selalu mengalihkan pikirannya.

__ADS_1


Setelah perbincangan yang nyambung kemana saja kini satu persatu mulai pamit, Laras dan Darma pamit lebih dulu meskipun Dinda menawarkan untuk pulang bersama tapi Darma menolak karena harus mampir ke kantor.


Lalu Dinda dan Bram pun juka pamit tak selang berapa lami dari besannya, diikuti oleh semua asistennya karena Farzan tidak mau mereka ada disini.


Dinda yang mengerti maksud Farzan pun akhirnya membawa mereka kembali ke mansionnya.


Sekarang tinggal mereka berdua dirumah ini, Farzan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa lalu menoleh kesamping dimana istri kecilnya yang juga sedang melihatnya.


Farzan membawa Hana kedalam pelukannya, "Aku bakal jagain kamu dan gak akan terulang lagi hal kemarin.. " Ucap Farzan dan Hana mengangguk membalas pelukan Farzan.


"Makasih.. "


Namun Farzan menggelengkan kepalanya, "Tidak.. Jangan berterimakasih karena memang ini sudah kewajiban aku menjaga kamu.. " Farzan melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pipi Hana, tatapan mereka saling bertemu bisa Hana rasakan dari mata Farzan pancaran rasa sayang dan cintanya.


Hana tersenyum lalu mengangguk dan Farzan kembali memeluk Hana, "Aku sayang kamu.. " Ucap Farzan.


"Aku juga sayang kamu Mas.." Balas Hana.


🌸


🌸


Ternyata ungkapan dunia itu sempit memang benar adanya, terbukti dengan ketidaksengajaan pertemuan ini.


"Non Bunga?"


"Loh.. Pak Bima?" Mereka saling tunjuk dengan wajah terkejut.


Ya, Bunga tidak menyangka akan bertemu Bima ditempat umum seperti ini, bahkan Bima memakai pakaian bebas terlihat aneh.


Bunga memutar bola matanya, semuanya pasti tau kalo di supermarket ya pasti belanja.


"Ah.. Maksud saya- Anda sendirian?" Bima terlihat salah tingkah.


"Hmm.. Iya saya sendirian.. Bapa sama istrinya??"


"Uhuk.. Uhuk.. " Bima tersedak air liurnya syok dengan pertanyaan Bunga.


"Loh Pak kenapa??"


Bima menutup mulutnya dengan tangan dan satu lagi melambai tanda tidak apa apa.


"Mau saya ambilkan minum Pak?" Bunga disini pun merasa bingung kenapa sampai bisa tersedak.


"Tidak.. Tidak usah! Ehemm.. Saya kesini sama seperti anda, sendirian.. Dan saya belum menikah."


"Ohh.. " Bunga menutup mulutnya lalu mengangguk dan mengalihkan pandangannya.


Malu, itu yang Bunga rasakan.


"Kalo begitu.. Mau bareng?" Tawar Bima.


Heii.. Jangan seenaknya mengajak orang belanja bareng..


Kita gak ada hubungan apa pun..

__ADS_1


Bunga melotot mendengar ajakan Bima ini tapi entah kenapa kakinya malah tidak sejalan dengan otak dan hatinya, sekarang Bunga bersampingan memegang keranjang belanja bersama Bima.


Bima mengikuti langkah gadis yang dia ajak, Bima pun diam diam mengusap wajahnya.


Kenapa gue ajak dia bareng??


Batin Bima.


Melihat Bunga tidak memakai seragam dan memakai pakaian bebas terlihat seperti gadis dewasa, bahkan gadis ini terlihat berbeda dari gadis gadis lainnya, entahlah ada ketertarikan yang sulit di jelaskan.


"Pak Bima kalo belum nikah terus tinggal sama siapa?" Lamunan Bima buyar karena Bunga.


"Ah.. Emm, saya tinggal di apartemen yang diberikan oleh kelurga Mahardika.. " Jawab Bima.


"Maksudnya.. " Bunga bingung dengan jawaban Bima.


"Saya.. Yatim piatu.. Dan Pak Farzan yang mengulurkan tangannya untuk orang seperti saya.. Saya seperti ini berkat keluarga Mahardika.. Jadi saya hanya bisa membalasnya dengan mengabdi seperti ini.. "


Bunga tertegun dengan penjelasan Bima, tidak menyangka orang selempeng Bima ternyata masa lalunya sangat menyedihkan, "M-maaf Pak.. Saya tidak bermaksud -"


"Tidak.. Tidak apa apa.. Saya tidak harus terus menerus merasa sedih karena ada keluarga Mahardika yang saya anggap keluarga saya sendiri.. " Bima mendorong trolinya yang di ikuti Bunga.


"Apa Pak Bima punya pacar??" Pertanyaan kekanakan sekali.


Bima menggelengkan kepalanya, "Tidak.. Saya masih tidak berani untuk menjalin hubungan karena merasa belum cukup untuk membalas kebaikan keluarga Mahardika.. "


"Tapi kan bisa kalo Pak Bima bicara sama Pak Farzan??" Bima mengangguk membenarkan ucapan Bunga.


"Tidak, entahlah saya merasa belum bisa.. "


"Lalu?? Mau sampai kapan Pak Bima hidup sendiri seperti ini?? Meskipun ada mereka belum tentu setiap waktu ada kan??" Bima diam tidak bisa menjawab pertanyaan Bunga.


Otaknya tidak sempat memikirkan sampai seperti itu, yang Bima lakukan saat ini menurutnya itu lebih baik untuk membalas kebaikan Mahardika.


"Apa belanjanya sudah selesai??" Tanya Bima mengalihkan pembicaraan.


"Hmmm.. Kayanya sudah deh, Pak.. Kalo ada yang lupa paling balik lagi hahah.. " Bunga tertawa tidak memedulikan imagenya yang seorang gadis.


Memang inilah Bunga yang apa adanya.


"Kalo begitu ayo ke kasir.. Saya juga sudah selesai.. "Bunga mengangguk lalu mengikuti Bima yang mengarah ke kasir.


Pertemuan yang tidak sengaja bahkan Bunga menjadi tau hal yang tidak pernah dia bayangkan sama sekali soal pribadi Bima, gadis berani ini menjadi ingin lebih tau lagi tentang kehidupan Bima.


Bagaimana pria itu saat di apartemen..


Bagaimana pria itu jika sedang sendiri..


Bagaimana pria itu mengeluhkan hari harinya yang melelahkan..


Entahlah kenapa ada rasa penasaran yang kuat dalam dirinya tentang Bima..


"Mau makan ice cream?? Saya yang belikan??"


Tentu saja Bunga menerima ajakan itu, meskipun cewek bar bar jika soal ice cream dan makanan Bunga nomor satu.

__ADS_1


"Tentu saja mau apa lagi Pak Bima yang belanjain.. " Jawab Bunga penuh semangat membuat Bima terkekeh.


__ADS_2