
Kebetulan sekali sekarang hari minggu jadi Hana masih bisa istirahat dirumah, setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah seperti kebiasaan Hana selalu turun dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Farzan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah Farzan ingatkan berkali kali sampai dirinya kehausan untuk melarang Hana agar tidak terlalu cape, tapi istri kecilnya itu bersikeras untuk membuatkan sarapan.
Dan alhasil beginilah, Farzan hanya bersedekap dada memandang sang istri dari arah pintu dapur sambil bersandar. Hana menampakan senyum manisnya saat matanya bertatapan dengan Farzan.
Jurus jitu agar Farzan diam yaitu dirinya bersikap manis.
Jangan Farzan melulu yang selalu bersikap manis, dirinya pun bisa melakukan itu dan sangat ampuh untuk membuat Farzan diam.
Farzan mendengus pelan, dirinya mengaku kalah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Hari masih pagi Farzan memilih meninggalkan dapur dan menuju ruang olahraganya, susah lama Farzan belum menggunakan peralatan olahraga dirumah ini.
Lalu Farzan pun memilih treadmill olahraga kecil untuk menggerakan tubuhnya yang terasa sedikit kaku.
Tidak terasa sudah lima belas menit dan cukup untuk peregangan, tiba-tiba Hana datang membawa teh hangat kesukaannya.
"Mas.. " Panggil Hana.
Meskipun sudah sering melihat tubuh Farzan berkeringat entah kenapa saat ini terlihat sangat sexy, Hana menundukan pandangannya jantungnya mulai berdegup kencang lagi.
Farzan mematikan mesin treadmillnya dan berjalan menghampiri Hana, dengan sekuat tenaga Hana menahan dirinya agar tidak lari atau berteriak disini.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Farzan menerima teh yang Hana buatkan.
"Emm.. Gak kenapa-kenapa.. " Gadis itu masih tidak melihat kearah sang suami.
Farzan memegang dagu Hana dan membuat pandangan Hana kini pada Farzan, tatapan mereka saling bertemu, "Kamu tau?? Setiap kali seperti ini.. Disini! Kamu bisa merasakannya?" Farzan membawa satu tangan Hana untuk menyentuh dadanya setelah gelas yang tadi ditaruh diatas nakas.
Benar Hana merasakan debaran yang sama dengan jantungnya, gadis itu kira hanya dirinya saja yang selalu berdebar setiap berdekatan dengan Farzan, Tapi-
"Iya.. Aku juga sama.. Sama seperti yang kamu rasakan.. " Kini tangan Farzan yang memegang dagu beralih mengusap lembut pipi Hana.
"Debaran ini tidak salah dan bukan tipuan.. Tidak mungkin juga kan??" Hana mengangguk membenarkan. "Aku merasa jatuh cinta lagi jika didekatmu Aqila Hanannia Mahardika.."
"Eh.. " Hana terkejut dengan nama terakhirnya.
"Kenapa?? Sekarang kan kamu memang istri aku, Farzan Abqari Mahardika jadi kamu juga menjadi nyonya Mahardika.. Aqila Hanannia Mahardika.. "
Wajah Hana memanas karena perkataan Farzan, dan pria ini terkekeh, "Cantik.. " Puji Farzan untuk Hana.
Hana benar-benar ingin melompat, bahkan jantungnya saat ini sudah berada diujung untuk ikut melompat dengan dirinya.
Ya ampun..
__ADS_1
Gak kuat..
Farzan mengangkat dagu Hana yang kembali menunduk lalu mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka, Farzan menempelkan bibirnya diatas permukaan bibir Hana.
Awalnya Hana terkejut tapi selanjutnya Hana menutup mata merasakan bibir tebal milik Farzan menyapu bibir mungilnya.
Hangat..
Itu yang Hana rasakan disentuhan pertama, Farzan mulai memainkan bibirnya menggerakannya sangat lembut dan mengigit kecil bagian atas dan bawah bibir mungil ini.
Hana mulai melingkarkan kedua tangannya dileher Farzan, Farzan mulai melangkahkan kakinya perlahan tanpa melepaskan bibir mereka sampai punggung Hana terbentur pelan dengan tembok.
Dingin..
Yang menjalar dibagian punggungnya, kepalanya terasa pusing dengan permainan bibir Farzan yang lembut, isi kepala Hana sudah tidak terkontrol lagi sekarang, hanya menikmati ciuman yang Farzan berikan.
"aakh.. " Farzan mengigit bibir bawahnya sedikit kuat membuat Hana merasa sakit dan membuka mulutnya, hal itu tidak disia - siakan oleh Farzan untuk menerobos masuk.
Dan pagi itu pasangan suami istri muda ini diawali dengan yang manis bahkan terlalu manis hingga melupakan waktu juga sarapan paginya.
Mereka berdua hanyut dalam perasaan masing masing bahkan Hana di buat terlena oleh sentuhan bibir tebal Farzan, pagi yang sangat istimewa.
🌸
🌸
Hana menggaruk kepalanya bingung, namun Bima menjelaskan jika dirinya mengantarkan ponsel yang dipesan Farzan tempo hari.
Dan saat Bima pamit akan pergi Farzan dan Bunga bersamaan melarang Bima pulang.
Hal itu membuat Hana tambah bingung termasuk Farzan dan Bima.
"Ah.. Biar seru.. Iya! Kan jadi rame gitu maksud gue.. " Bodo amat Bunga tidak tau mau kasih alasan apa.
"Iya udah gak papa juga.. Pak Bima juga jarang bersantai selalu kerja terus.. Boleh kan Mas?" Hana menoleh pada Farzan.
"Iya bolehlah.. Kali-kali lo libur juga.. " Jawab Farzan.
"Tapi gak enak ya manggilnya 'Pak' berasa main sama bapak-bapak.." Sahut Dika yang membuat semuanya tertawa kecuali Bima yang merasa canggung.
"Iya juga sih.. Jadi manggil apa dong??" Ucap Bunga.
Brmm..
Semuanya teralihkan dengan suara motor dihalaman depan, "Biar aku yang liat.. " Sahut Hana lalu melangkah ke pintu depan.
__ADS_1
"Vino!" Ucap Hana saat membuka pintu, "Kirain aku siapa.. "
"Emang siapa? Mang paket?" Sahut Vino.
"Haha.. Gak gitu juga kali.. Kamu sendiri? Gak bareng Caca?" Tanya Hana sambil menyuruh Vino masuk.
"Gak tau.. Caca di telpon gak aktif.. " Jawab Vino membuat kening Hana mengerut.
"Tadi kata Bunga katanya mau nyusul kesini.. Kirain aku bareng sama kamu.. " Ucapan Hana membuat langkah Vino berhenti.
"Kok.. Kenapa pas gue telpon gak aktif?" Hana mengangkat bahunya tidak tau.
"Ya udah.. Masuk dulu aja gabung mereka mungkin Caca bentar lagi dateng.. "Entah kenapa hal itu menjadi kepikiran untuk Vino.
Namun Vino tetap masuk menuju ruang tamu dan melihat ada Dika yang melambaikan tangannya dan Bunga yang cuek seperti biasa, lalu ada wajah sing disana.
"Dia Bima.. Masih ingat?" Tiba tiba Farzan bicara seolah tau isi kepala Vino.
Apa Farzan bisa baca pikiran orang? Kalo iya takut dong.. Karena autho selalu mikirin dia.. Hahhaha
"Ohh.. Iya masih.. Halo apa kabar?" Sapa Vino pada Bima.
"Hai.. Baik alhamdulillah.. " Jawab Bima.
Bima masih merasa canggung karena tidak biasa hari liburnya bersantai bersama orang orang, meski terkadang menemani Farzan dinas luar.
"Bro..!" Sapa Dika bertos ria dengan Vino.
Dika dan Vino mulai mengobrol tentang tim basket kemarin dan Bunga pun menghampiri Hana yang ada didapur karena tidak nyaman hanya dirinya cewek sendiri di ruang tengah.
Meskipun Bunga cewek bar bar hatinya tetep hellokitty kok, kalo lebih mengenal Bunga kalian gak akan nyangka ada sisi manisnya dari gadis bar bar ini.
"Mau gue bantu?"Ucap Bunga membuat Hana terkejut dan itu sontak Bunga tertawa.
"Kaget ih.. Boleh kok sini.. Kamu yang ini aja sisanya aku ya.. " Hana pun langsung membagi tugas untuk membuat camilan bersama Bunga sambil menunggu Caca datang.
Mereka semua asik dengan pembicaraan dan kegiatan masing masing, Farzan pun membahas soal pekerjaan bersama Bima untuk melihat grafik pendapatan beberapa bulan ini.
"Kalo begini... Kita bisa liburan kan Bim?" Usul Farzan membuat Bima heran, Ya. Farzan tidak pernah berpikir untuk itu hanya kerja dan kerja.
"Kenapa?" Tanya Bima.
"Hemm.. Mau ajak Hana dan teman temannya liburan.. Lo cari jadwal gue yang kosong terus cocokin sama jadwal sekolah Hana.. Oke?? Lo juga harus ikut." Bima melongo.
Farzan sudah berubah sekarang, Bima mengangguk dan mereka larut dalam obrolan lain.
__ADS_1