My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Apa sudah disebut Cinta??


__ADS_3

Maaf hari ini up satu episode dulu 🙏🙏🙏🙏


🌸


🌸


"Halo, Assalamualaikum Mah?.. Ohh, iya gak papa Mah lagian Pak Farzan nya juga udah bangun kok!.. Iya Mah.. Iya hati hati dijalan mah.. Walaikumsalam!" Hana kembali meletakan ponselnya di nakas samping ranjang Farzan.


"Mamah?" Tanya Farzan yang diangguki Hana.


"Mamah langsung pulang katanya." Farzan mengangguk.


"Mamah tadi kesini?" Tanya Farzan.


"Iya, waktu aku sampe Mamah udah disini." Farzan kembali mengangguk.


Farzan sudah tau pasti itu ulah Bima, karena memang Farzan jarang sekali sakit mungkin terlalu khawatir jadi menghubungi Dinda setelah Hana, namun yang cepat sampe adalah Dinda.


Sekarang Hana tidak lagi diatas ranjang bareng Farzan, karena memang sempit susah bergerak.


Hana dengan telaten mengupas kulit buah apel untuk Farzan, satu hal baru lagi yang Hana tau tentang Farzan jika suaminya itu tidak suka memakan buah apel jika masih ada kulitnya.


"Makan ini dulu ya Pak!" Hana menyerahkan satu piring yang berisi potongan buah apel.


Farzan menerimanya, "Makasih!"


Kondisi Farzan membaik namun masih belum di perbolehkan untuk pulang.


"Kamu mau?" Tawar Farzan yang dapat gelengan dari Hana.


"Pak!" Panggil Hana yang membuat Farzan menoleh dengan mulut yang penuh dengan apel.


Lucu ya.


"Kenapa bisa lupa makan sih Pak- eh maksudnya Mas? Terus aku juga sering liat tengah malem masih kerja?"


"Uhuk.. Uhuk..!" Farzan terbatuk saat mendengar Hana memanggilnya 'Mas'.


"Pelan pelan Mas!" Hana mengabilkan air minum untuk Farzan.


Apa aku salah ngomong ya!. Batin Hana.


"Makasih!" Farzan memberikan gelasnya pada Hana dan piring berisi buah apel tadi.


"Gak di abisin Pak?" Tanya Hana dan dapat gelengan.


Farzan menghela nafas pelan merasa kecewa karena Hana kembali memanggilnya 'Pak'.


Tapi, Farzan tidak bisa memaksa biarkan Hana dengan keinginannya untuk mengganti nama panggilannya.

__ADS_1


"Jadi? Kenapa?" Gadis itu sudah duduk kembali.


"Hahh.." Farzan menghela nafas lagi menyandarkan tubuhnya, "Sedikit ada masalah di kantor!" Farzan melirik Hana yang mengerutkan keningnya, "Gak papa jangan di pikirin." Farzan mengusap kerutan kening Hana membuat gadis itu terkejut.


"Gak mungkin kan sampe bisa sakit kaya gini??" Farzan diam tidak menjawab. Tidak bisa menjelaskan masalah yang terjadi di perusahaannya.


Farzan tersenyum, "Gak papa kok.. Jangan khawatir ya!" Tangan Farzan beralih mengelus pipi Hana yang mengembung karena gadis itu kecewa tidak mendapatkan jawaban yang puas.


Farzan terkekeh melihat Hana yang terlihat menggemaskan.


Mereka saling mengobrol meskipun masih terasa kaku dan menjawab seadanya, hingga tak terasa langit diluar jendela sudah mulai menggelap.


"Kamu tidur di rumah aja! Aku gak papa kok." Ucap Farzan yang membuat Hana tiba tiba melotot.


"Gak begitu ya! Masa aku tidur enak di rumah tapi Bapak disini sendirian?" Hana menggelengkan kepalanya, "Engga, gak mau pulang!" Tegas Hana.


"Besok kan sekolah?" Farzan terus bersikap kekeh.


"Gak mau ihh! Kan bisa minta tolong Pak Toni gak papa kan?" Kini ekspresi Hana memelas, membuat Farzan tidak bisa mengelak lagi.


"Hahh.. Baiklah!" Farzan mengusap kepala Hana.


Perkembangan hubungan diantara keduanya sudah mulai berubah menuju kearah baik, dari keduanya sama sama berharap ingin terus seperti ini dan juga berharap cinta itu segera tumbuh.


Rasa khawatir dari satu sama lain sudah mulai terasa, bahkan rasa tidak ingin ditinggal pun sudah Hana rasakan tanpa dia sadari, saat dirinya meminta untuk tetap bersama Farzan dan tidak ingin pulang.


Apa itu sudah cukup untuk menggambarkan perasaannya??


🌸


🌸


"Mau ke kamar mandi?" Tanya Hana menghampiri Farzan.


"Bisa bantu aku?" Hana mengangguk lalu memegang pundak Farzan tak lupa mendorong tiang infusnya.


"Pelan pelan Pak!" Hana dengan telaten dan hati hati memapah Farzan. "Kalo aku tunggu disini gak papa kan?" Hana berdiri di ambang pintu.


Farzan mengangguk, "Iya gak papa.. Aku bisa ko dari sini."


"Pelan pelan saja ya Pak!" Sebenarnya Hana khawatir karena Farzan masih lemas, namun Hana belum berani untuk ikut masuk kedalam.


Hana menunggu di balik pintu kamar mandi tak selang lama Farzan membuka pintunya, dengan sigap Hana membantu Farzan.


"Bapak sekalian wudhu?" Tanya Hana yang di angguki Farzan.


"Kita berjamaah ya!" Hana pun mengangguki.


Farzan sholat di atas ranjang sambil duduk dan Hana berada dibelakangnya mengikuti setiap gerakan sholat. Suara Farzan sangat merdu mengalunkan ayat ayat suci itu.

__ADS_1


Setelah selesai Hana menghampiri Farzan dan mencium punggung tangannya, tak di sangka dengan bersmaan Farzan mencium kepalanya.


Hana merasa tersengat listrik, Farzan seperti mentransfer do'anya untuk Hana.


Jantungnya kembali berdegup kencang dengan cepat Hana berbalik dan melipat mukenanya, menyembunyikan rona merah pada wajahnya.


"Permisi!" Tiba tiba suster masuk dengan membawa sarapan untuk Farzan.


"Saya bawa sarapan buat Pak Farzan!" Suster itu meletakan piring makan di meja. "Apa yang sekarang dirasakan Pak? Ada mual tidak?" Tanya suster sambil mengecek infusan.


"Gak ada kok sus!" Jawab Farzan. Hana hanya memperhatikan saja.


"Alhamdulillah sudah membaik ya Pak! Semoga cepat sembuh!" Ucap Suster.


"Terimakasih Sus!" Jawab Farzan.


"Saya kembali permisi!" Hana mengangguk lalu menghampiri Farzan.


"Sarapan dulu ya!" Hana mengambil piring lalu membuka penutupnya.


Belum apa apa Farzan sudah menggeleng dan menutup mulutnya dengan tangan. "Gak mau!"


"Sarapan ya! Aku temenin makan ini juga." Hana tau pasti hambar makanan rumah sakit mah. Jadi Hana ingin berbagi rasa hambar itu.


Kening Farzan mengerut tidak mengerti yang di maksud Hana. Namun saat Hana menyuapkan bubur pada mulutnya sendiri lalu Hana akan menyuapi untuk Farzan.


Farzan tau sekarang yang Hana maksud, akhirnya Farzan membuka mulutnya menerima suapan dari Hana, terlihat senyuman manis Hana.


Berbagi rasa hambar.


Terus seperti itu yang Hana lakukan hingga sarapan Farzan habis tak tersisa.


"Minum dulu Pak!" Hana mengambil air minum dan meletakan piring tadi.


"Makasih!" Ucap Farzan, Hana mengangguk.


"Maaf gak bisa anterin kamu!" Farzan mengusap kepala Hana yang tertutup jilbab.


"Gak papa kok! Kan ada Pak Toni." Jawab Hana. "Hana pamit Ya! Nanti Mamah ke sini kan?" Farzan mengangguk.


"Assalamualaikum!" Hana menyalimi Farzan bersamaan Farzan mengecup kepalanya.


"Walaikumsalam!" Entah kenapa Farzan menjadi seperti ini.


.TBC.


Jangan lupa like dan komen yaa sayang sayangku..


Aku usahain up terus ya..

__ADS_1


Sehat selalu ❤


__ADS_2