My Husband, My Teacher

My Husband, My Teacher
Rinai Hujan..


__ADS_3

Hana menggeliat badannya terasa remuk, bayangannya teringat pada moment beberapa jam kebelakang, wajahnya langsung memerah mengingat Farzan selalu mengungkapkan perasaannya.


Hana mendongak dan ternyata Farzan masih tertidur pulas, lalu Hana mencoba ingin duduk, "Akh.. " Pinggangnya benar benar sakit.


"Ehmm.. " Farzan melenguh mengeratkan pelukannya.


"Aw.. " Hana memekik membuat Farzan terbangun.


"Sayang masih sakit?" Suara serak Farzan khas bangun tidur menggelitik telinganya.


Farzan membuka matanya dan langsung menemukan wajah Hana yang memerah, Farzan mengecup kening Hana mesra.


"Terimakasih dan maaf sayang.. " Ucap Farzan.


Hana mengangguk dan tersenyum pada Farzan.


"Aku siapin air hangat.. Kamu tunggu sebentar.. " Farzan berusaha merai boxernya lalu memakainya didepan Hana.


Hana memejamkan matanya meskipun sudah melihatnya tetap saja masih merasa malu. Farzan terkekeh melihat reaksi Hana lalu berjalan ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Hana berendam.


Lalu Farzan kembali lagi dan memungut pakaian mereka berdua yang berserakan, "Mas.. " Hana memekik lagi saat Farzan memegang pakaian dalamnya.


"Kenapa?? Aku mau masukin ke keranjang.. " Ucap Farzan sambil mengangkat semua pakaian yang dia ambil.


"M-malu tau.. " Jawab Hana menyembunyikan wajahnya dengan selimut.


"Kenapa malu sayang??" Farzan menghampiri Hana lalu berjongkok setelah memasukan semua pakaiannya ke dalam keranjang khusus pakaian kotor. "Padahak aku sudah melihat semuanya.. Bahkan merasakannya.. " Lanjut Farzan berbisik.


Sontak Hana membuka selimut yang menghalangi wajahnya lalu melotot pada Farzan, "Maas ih.. " Hana mencubit gemas pipi Farzan. Pria itu hanya terkekeh.


"Kyaaa.... " Hana terkejut saat Farzan langsung menggendongnya tanpa bilang apapun. "Mas kaget aku.. " Hana menepuk dada Farzan yang tidak terhalang kain.


"Ayo kita berendam bersama.. " Hana membulatkan matanya mendengar itu, bahkan Farzan memberikan senyum jahilnya.


Astaga..


Dan benar saja Farzan ikut berendam bersamanya dalam bathup, namun Farzan hanya benar benar berendam dan membantu menggosokkan punggung Hana dan tidak melakukan hal lebih.


Tidak tau saja Hana, sebenarnya Farzan mati matian menahan keinginannya. Setelah tau rasanya Farzan jadi kecanduan dan ingin lagi dan lagi.


Setelah selesai acara berendam bersama Hana bisa berjalan meskipun terlihat aneh saat melangkah dan masih berjalan pelan.


"Kamu gak usah masak sayang biar aku pesen online ya.. " Ucap Farzan yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Ya udah Mas jangan terlalu banyak kaya waktu itu.. " Jawab Hana yang juga sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Hana terlihat cantik dengan rambut panjang itu apalagi melihatnya seperti sekarang yang basah rasanya Farzan menjadi mesum.


Pria itu mengusap wajahnya, tidak habis pikir dirinya bisa menjadi seperti sekarang.


"Sayang rambutnya masih basah gak papa jangan pake hijab dulu.. Cuma ada Mas aja kok.. " Ucap Farzan menghampiri sang istri.


Hana memandang Farzan, "Boleh, Mas?" Tanya Hana karena emang rambutnya masih sedikit basah.

__ADS_1


Farzan menganggukkan kepalanya lalu mengusap rambut Hana yang panjang dan mencium kening Hana.


"Nunggu dibawah yu sayang.. Kalo ada kurir pengantar biar Mas aja yang kedepan." Farzan berdiri dan mengulurkan tangannya. "Aku bantuin jalannya.. " Farzan terkekeh melihat Hana yang mendengus.


Namun Hana tetap menerima bantuan Farzan dan menggandeng lengan Farzan lalu turun kelantai bawah.


🌸


🌸


Dilain tempat gadis blasteran sedang duduk di sebuah cafe ditemani dengan sepotong strawberry cake sambil menopang dagu.


"Sorry.. Lo nunggu lama ya?" Seseorang duduk di kursi depannya.


"Ohh.. Gak kok! Gue juga gak lama.." Jawab Caca, "Mau dipesenin gak?" Tanya Caca.


"Boleh dehh .." Jawab Vino.


Ya, Caca dan Vino janjian bertemu diluar, tentunya ini Vino yanh ajak duluan. Awalnya Caca tidak percaya namun Vino menghubunginya lagi dan memberitahukan cafe tempatnya bertemu saat ini.


Ada rasa senang dan bingung sekaligus yang Caca rasakan, Caca tidak ingin terlalu berharap agar tidak saling menyakiti. Namun sikap Vino seperti membuatnya ingin terus berharap.


Sebenarnya ada apa dengan Vino?


Setelah memesan apa yang Vino mau Caca memilih menyuapi cakenya ke dalam mulut.


Caca yang selalu lemot namun peka dengan perasaan.


Caca membulatkan matanya tindakan Vino membuat jantungnya tidak sehat, buktinya sekarang jantungnya berdegup kencang dan Caca tau satu hal. Vino memakai sendok yang sama dengannya.


"Lo!!" Caca meletakan sendoknya lalu memandang Vino dan sendok bergantian.


"Kenapa?" Tanya Vino mengangkat satu alisnya.


Cowok ini apa benar tidak tau apa-apa??


Dan itu tidak mungkin.


"Lo gak tau?? Apa emang-"


"Permisi.. Ini pesanannya.." Ucapan Caca terpotong.


"Terimakasih mbak.. " Lalu Vino menyeruput minuman yang dia pesan.


"Tadi lo mau ngomong apa?" Tanya Vino.


"Gak jadi.. " Jawab Caca lalu memakan cakenya lagi, masa bodo disana ada bekas bibir Vino. Meskipun senang.


Vino mengangkat bahunya acuh.


"Ohh iya gue lupa.. Gue ajak ketemu lo itu-" Vino menjelaskan alasan mengajak Caca bertemu dan itu adalah rencana Dika pada saat bazar waktu lalu soal membuat cafe.


Vino menjelaskan apa yang Dika jelaskam padanya juga dan rencana ini tidak terlalu buruk memiliki usaha bersama teman temannya.

__ADS_1


Caca mengangguk-ngangguk disetiap celotehan Vino sambil mencuri pandangan pada mata Vino, entah sadar atau tidak apa yang dilakukan Caca cowok itu pura-pura tidak tau dan membiarkannya.


"Nah.. Gitu! Jadi lo mau gak?" Tanya Vino setelah menjelaskan panjang lebar.


"Bagus sih itu idenya.. Kalo gue sih kenapa engga.. Nanti coba bicarain sama bokap.. " Jawab Caca.


Lagi, Vino mencuri cake yang akan dia makan.


Jantung Caca benar benar tidak sehat, Vino membuatnya gila.


"Cukup!" Caca menggebrak meja pelan membuat Vini terkejut dan hampir tersedak.


"Lo kenapa?" Tanya cowok itu.


"Harusnya gue yang tanya itu.. Lo kenapa sih dari tadi bersikap seolah tidak tau apapun?" Tanya Caca menundukan kepalanya.


Bahkan Vino sudah tau isi hatinya, tapi kenapa cowok ini melakukan hal hal yang tidak seharusnya.


"Emang gue kenapa?? Gue salah??"


"Iya.. Salah banget.. Lo kan tau soal perasaab gue.. Harusnya lo bersikap biasa aja gak usah seperti kasih gue harapan.. Gue juga tau kok kalo lo suka sama Hana." Vino tidak bisa menyangkal.


Melihat Vino yang hanya diam sekarang Caca mengerti, "Ya udah gak papa.. Ini udah selesai kan bicara soal rencana Dika?" Tanya Caca dan Vino mengangguk, "Kalo gitu gue pulang duluan ya.. " Lanjut Caca dan memasukan ponselnya.


"Ehh, lo kan gak bawa mobil.. " Ucap Vino benar namun Caca hanya tersenyum lalu pergi.


Ya, Vino tidak melihat mobil milik Caca saat diparkiran tadi.


Caca berjalan sepanjang trotoar bahkan sekarang langit yang awalnya cerah menjadi gelap, seolah tau tentang perasaannya yang sedang kecewa.


Zraasssssshhh...


Hujan langsung turun begitu saja, Caca mendongak merasakan tetesan hujan langsung pada wajahnya, jika menangis pun tidak ada yang tau karena akan hilang bersamaan dengan air hujan.


Caca melanjutkan langkahnya.


"CACA... " Teriak Vino yang ternyata mengejarnya dengan motornya. "STOP CA.. " Caca mengentikan lamgkahnya tanpa menoleh.


Vino turun dari motor lalu menghampiri Caca, ternyata cowok itu juga basah.


"Sorry Ca! Gue gak maksud nyakitin lo.." Suara Vino terdengar samar ditelinganya karena suara hujan. Caca hanya diam dan menunduk.


Kenapa selalu bersamaan dengan hujan seperti waktu itu..


"Ca?" Vino menggengam tangan Caca namun cewek itu menolak. "Sorry, Ca.. Gue bakal berusaha buat sayang sama lo.. " Sontak Caca mendongak tidak percaya apa yang didengarnya.


Berusaha??


Caca menggelengkan kepalanya, " Gak usah.. " Jawab Caca yang terdengar serak. Cewek itu tersenyum lalu kembali berjalan namun lagi lagi Vino menghalangi jalannya.


"Gak Ca.. Sebenrnya gue juga masih belum ngerti perasaan asing ini terhadap lo.. Kasih gue waktu, Ca!"


Caca mengulum bibirnya berusaha untuk tetap tersenyum, " Lebih baik untuk saat ini kita gak usah ketemu aja.. Soal disekolah sewajarnya aja biar yang lain gak curiga.. Kalo emang Vino udah ngerti dan aku udah membaik.. Vino boleh bicara lagi sama aku.." Setelah mengatakan itu Caca benar benar pergi dan Vino tidak mengejarnya, cowok itu terpaku dengan perkataan Caca yang memanggilnya dengan nama lalu menyebut dirinya sendiri dengan 'aku'.

__ADS_1


__ADS_2