
Kehidupan bak seorang putri dan berlimpahan kasih sayang ternyata tidak sanggup untuk membuat Elga hidup bahagia. Jika dulu saat kecil dirinya begitu senang selalu dilindungi. Tapi tidak seperti sekarang, Elga seperti putri yang terkurung dan keterbatasan dalam bermain. Apalagi usianya remanja yang membuat Elga ingin menikmati dan merasakan bagaimana indahnya masa remaja. Tapi lagi-lagi ketiga pria posesif Maurer tidak memberinya celah untuk bergaul dan bermain bebas.
Ting
"El, apa kamu bisa keluar, tunggu di tempat biasa."
Pesan yang Elga baca dari teman pria tadi siang yang mengajaknya berkencan, pria yang juga Elga taksir sejak melihat pria itu bertanding basket di sekolahnya.
Elga menatap jam di ponselnya, sudah menujukan pukul delapan lewat waktu setempat.
Jika jam segini kedua kakaknya sedang berada di ruang kerja, Daddy dan Mommy-nya pasti sedang berada di kamar setelah makan malam.
Elga yang masih kesal dengan kejadian tadi siang membuatnya ingin sekali pergi, mekipun tidak pernah sekalipun dirinya keluar rumah sendiri, tapi Elga yang kesal memilih untuk pergi mengendap-endap.
Meraih mantel, Elga langsung memakainya. "Hanya ingin menghirup udara malam tidak lebih." Ucapnya meyakinkan untuk nekat pergi.
Keluar kamar Elga tidak melihat siapapun, langkah kakinya pelan tanpa suara membuatnya sambil menoleh kanan dan kiri. "Sepi.." Katanya bergumam.
Elga kambali berjalan menuruni tangga dengan pelan, tidak membunyikan suara langkah kaki yang bisa membuat orang rumah akan tahu.
"All right, 15 minutes."
Elga segera bersembunyi di bawah tangga saat mendengar suara Enzio yang keluar dari kamar.
Enzio menuruni tangga dengan tergesa-gesa, sepertinya pria itu ada keperluan penting.
"Ah, sial." Enzio mengumpat saat sampai didepan pintu, pria itu begitu tergesa untuk segera pergi.
__ADS_1
Elga mengusap dadanya lega. "Hampir saja." Katanya sambil menghela napas.
Dirinya segara keluar dari rumah, Elga berlari menuju pintu samping saat pera penjaga sibuk dengan Enzio yang ingin keluar.
"Huh.. akhirnya." Dirinya merasa lega saat berhasil melewati pintu gerbang samping.
Elga berjalan dengan kedua tangan memeluk boneka miliknya. Walaupun tinggal di kota yang aman dan bebas, tapi Elga tidak pernah keluyuran sendiri.
Tanganya merogoh ponsel yang ada di saku mantel yang dia pakai.
"Halo.."
.
.
Di sebuah kafe yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya, Elga duduk didepan pemuda yang tadi siang menemuinya.
"It's oke, no problem." Katanya sambil tersenyum tipis.
Xavier menatap wajah Elga seksama, wajah putih seputih kapas dan begitu cantik tidak membosankan, Xavier menyukai gadis cantik didepanya.
"Apa kau khawatir dengan ku?" Tanya Xavier sambil menatap wajah Elga yang terlihat begitu cemas.
"Hm, aku kahawatir." Kata Elga dengan kaku.
Dirinya cemas dan khawatir karena memikirkan dirinya sendiri yang berada di luar rumah. Elga menatap kesekiling tempat dirinya duduk, takut-takut kalau kakak nya berada disana.
__ADS_1
"Hey, kau lihat apa?" Xavier mengikuti arah mata Elga.
"It doesn't matter." Elga tersenyum tipis.
"El." Panggil Xavier saat Elga tidak melihat kearahnya.
"Hm.." Elga menatap pemuda di depannya.
"Do you want to be my girlfriend?" Apa kau mau jadi kekasihku?
Xavier menatap Elga intens, tangannya meraih tangan Elga yang berada di atas meja.
Sedangkan Elga, tentu saja terkejut mendengar perkataan Xavier. kali pertama dirinya mendengar seseorang mengatakan cinta padanya.
Jantungnya berdebar kencang, hatinya bahagia mendengar apa yang Xavier katakan. Ada rasa yang begitu membuncah tapi Elga tidak tahu itu apa.
"What do you want?"
Tanya Xavier lagi. Pria itu begitu menunggu jawaban Elga. Dirinya benar-benar menyukai gadis cantik didepannya ini.
"Em..aku-"
Ehem
Deheman keras membuat keduanya menoleh.
.
__ADS_1
.
Mak otor lagi mudik, belum bisa update rutin 🙏🙏