My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Kejujuran Edgar


__ADS_3

Sehari sebelum kembali...


"Elga, ini aku Edgar.. bisakah kita bertemu?"


Elga membaca pesan masuk dengan nomor baru, tapi dipesan itu Elga melihat nama Edgar.


"Maaf uncle, aku tidak bisa."


Balasan Elga untuk Edgar.


Karena tidak bisa bertemu dengan janji, siang ini Edgar berdiri di samping pintu mobil Elga, kebetulan Elga kesekolah membawa mobil dan Edgar tidak kesulitan untuk mengenali mobil Elga.


Kehadiran Edgar cukup menyita perhatian seluruh siswa dan siswi yang ada, Edgar dengan tubuh tegapnya memakai kaca mata hitam dengan kemeja putih yang melekat di tubuhnya.


Pria itu sengaja menunggu Elga pulang sekolah.


Melihat para murid sudah keluar, Edgar menunggu Elga yang sudah terlihat dari jarak belasan meter.


"El, bukankah dia Uncle tampan." Kata Emeli yang melihat Edgar yang bersandar di body mobil Elga.


"Em." Elga hanya mengagguk saja.


"Lihatlah para gadis sok pada kecantikan." Emeli menunjuk dan melirik para gadis sekolah yang berdiri berkerumun di sekitar Edgar.


"Biarkan saja, mereka tidak pernah melihat pria tampan." Kata Elga tanpa berpikir.


"Oo..hoo... jadi kamu juga mengakui jika dia juga tampan." Emeli meledek Elga sambil merangkul lenganya dan menunjuk wajah Elga.


"Ck, apaan sih." Elga menepis tangan Emeli.


Edgar berdiri tegak setelah Elga semakin dekat, hingga Elga Greta berdiri tepat dihadapan Elga.


"Hay uncle tampan, apa kabar?" Bukan Elga, melainkan Emeli yang melambikan tangan dan tersenyum manis.


"Baik." Edgar tersenyum pada Emeli, lalu menatap Elga. "Elga, aku ingin bicara." Edgar bicara dengan serius.


"Tapi-"


"Hanya sebentar, sebelum aku kembali ke Inggris."

__ADS_1


.


.


Edgar mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota Zurich, siang itu udara cukup dingin membuat semua orang memakai pakaian tebal. Elga duduk dengan menatap pemandangan dari kaca, entah kemana Edgar akan membawanya.


Tak lama mobil Edgar berhenti di sebuah tempat yang Elga belum pernah kunjungi. Elga tampak enggan untuk turun tapi Edgar sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Ayoo." Edgar mengulurkan tangannya, tapi Elga tidak membalas dan memilih keluar sendiri.


Edgar tersenyum simpul, lalu mengikuti langkah Elga dari belakang.


"Disini banyak makanan anak-anak remaja, kamu pasti menyukainya." Edgar mengajak Elga untuk duduk di bangku pinggir kaca yang bisa melihat pemandangan luar.


Suasana hangat Elga rasakan ketika masuk ketempat itu.


"Elga, boleh aku tanya sesuatu?" Edgar memulai pembicaraan ketika Elga hanya diam.


Elga menatap Edgar dengan tatapan biasa. "Katakan saja uncle, aku tidak punya waktu banyak."


Edgar mengagguk samar. "Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Edgar menatap Elga.


"Em, kamu benar. Kita tidak saling kenal dan terlibat pembicaraan, hanya saja aku melibatkan hatiku untuk mu."


Elga membuang wajahnya dengan tawa hambar. "Uncle seharunya ingat jika ada Istri yang setia menanti uncle."


Edgar menatap Elga tajam. "Dan Uncle mungkin sedang tersesat karena masalah boneka, jadi -" Elga membuka tas yang dia bawa, dan mengeluarkan bubu dari dalam tasnya. "Aku kembalikan kepada Uncle, dan aku harap Uncle tidak pernah mencari ku, karena aku tidak akan melihat pria yang sudah memiliki istri, seperti Uncle.' Elga menaruh bonekanya di atas meja didepan Edgar.


Gadis itu tersenyum sebelum beranjak dari duduknya. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan memiliki bubu." Katanya yang hendak berdiri, tapi tangan Edgar mencekal tangan Elga.


"Elga, bukan seperti ini yang aku maksud." Edgar menatap Elga intens. "Dengar, aku menyukaimu sejak kau kecil hingga sekarang. Meskipun usia kita sangat jauh aku tidak perduli, apalagi soal istri aku tidak perduli dan aku akan bercerai. Elga percayalah aku mencintaimu."


Elga tersenyum hambar. "Aku rasa Uncle sedang tidak baik-baik saja. Apa Uncle merindukan istri Uncle? hm."


"Cukup Elga..!!" Edgar mengeraskan suaranya, membuat beberapa orang menatap mereka.


Elga meremat tangannya yang masih dicekal Edgar, dan Edgar melihat reaksi Elga membuatnya memejamkan mata sekilas.


"Maaf." Tatapan Edgar berubah menjadi lembut, Edgar menyadari apa yang baru saja dia lakukan membuat Elga takut. "Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, mungkin kamu masih 17 tahun dan aku yang sudah dewasa tidak pantas atau sangat mustahil jika aku menaruh hati pada gadis belia seperti kamu. Tapi masalah hati, siapa yang tahu jika hatiku memiliki perasaan padamu." Edgar menatap Elga dengan lembut, tatapan tajam Edgar meluap begitu saja ketika berhadapan dengan Elga.

__ADS_1


"Elga, aku hanya butuh keyakinan dirimu, agar aku bisa melanjutkan apa yang seharusnya aku lakukan."


Elga menatap langit sore dari balkon kamarnya, gadis itu belum keluar dari kamar setelah pulang sekolah, lebih tepatnya pulang dari bertemu Edgar.


"Aku akan kembali ke Inggris, jaga diri baik-baik. percayalah cintaku akan meluluhkan hatimu."


Elga mengingat kata-kata yang terakhir Edgar ucapkan sebelum pergi, Elga tidak pernah bicara intens dengan seorang pria kecuali Xavier, dan kata-kata Xavier begitu jauh berbeda dengan kata-kata yang Edgar ucapkan, dan tidak Elga tidak bisa membalas apa yang Edgar katakan.


"Kenapa rasakan berbeda." Elga mengingat-ingat perbedaan Xavier dan Edgar, jelas berbeda karena mereka memiliki perbedaan usia yang sangat jauh. Apalagi Edgar yang sudah memiliki Istri, dan mengingat itu entah kenapa dirinya menjadi kesal.


"Dasar Om-Om mes*um, udah punya istri masih saja berulah." Gerutunya kesal.


Beruntung si kembar sedang berada diluar kota, sehingga Edgar tidak begitu kesulitan untuk menemui Elga. Jika tidak jangan harap Edgar bisa bicara dengan Elga, karena kembar seperti hantu yang tiba-tiba datang.


Edgar kembali ke negaranya, pria itu sampai di rumahnya setelah satu jam perjalanan udara. Edgar memasuki rumah yang dia tinggali bersama Chelsea setelah menikah. Hanya saja keduanya hidup seperti dua orang asing.


"Edgar kamu sudah pulang." Chelsea menyambut kedatangan suaminya saat mendengar suara mesin mobil datang.


"Berhenti di tempat mu Chelsea." Suara rendah Edgar membuat Chelsea tidak lagi maju, wanita itu berhenti di tempat menatap Edgar yang menatapnya tajam.


"Sayang, ada apa? apa kau but-"


"Aku ingin kita bercerai."


Duaaarr..


Bagaikan disambar petir di siang bolong z Chelsea tidak percaya mendengar ucapan Edgar.


"A-apa? Edgar kamu bicara apa?" tubuh Chelsea menegang dengan kedua matanya yang melotot terkejut.


Edgar menaruh tangan kiri di pinggang, dengan tangan kanan mengusap wajahnya kasar.


"Chelsea.. lebih baik kita bercerai, aku tidak akan pernah menerima pernikahan ini. Dan aku yakin setelah ini kamu akan mendapatkan kebahagiaan mu, dan itu bukan bersamaku."


.


.


Mak Otor punya karya BARU... udah mampir belum 🤣🤣

__ADS_1



__ADS_2