
Elga tersenyum getir mendengar ucapan Mario. Janji? janji macam apa yang menyerahkan dirinya untuk di lamar dan di nikahkan. Elga merayakan dadanya semakin sesak apalagi melihat tatapan seorang ayah yang menatapnya dengan rasa bersalah.
Salah? tentu saja salah. Karena bagi Elga pernikahan bukanlah untuk main-main, dirinya masih muda bahkan baru di nyatakan lulus tadi pagi, lalu bagaimana bisa daddy-nya langung merangkul menyuarakan hal semacam ini, untuk memiliki pacar saja Elga tidak berpikir, apalagi memiliki seorang suami.
"By, ada apa? kenapa kau melakukan ini pada putriku?" Hawa menatap suaminya dengan menuntut jawaban. "Dia putrimu By, putri kita satu-satunya kau tega merampas masa mudanya hanya dengan janji konyol mu itu!" Hawa semakin tidak bisa mengontrol emosinya, wanita itu terlihat begitu terpukul dengan apa yang suaminya sampaikan.
Acara makan malam untuk merayakan kelulusan Elga, nyatanya menjadi makan malam yang menegangkan. Tidak ada raut bahagia yang terpancar seperti tadi siang. Kedua anak kembar hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa, karena keputusan Daddy mereka adalah keputusan yang tidak bisa di rubah cepat.
"Apa kamu tidak ingin tahu siapa laki-laki yang akan melamar mu." Ucap Mario tanpa mengindahkan ucapan istrinya, membuat Hawa semakin kesal.
"By!" Hawa memanggil dengan keras, membuat Mario menatap istrinya.
Baru kali ini Mario mendengar istri yang dia cintai memanggilnya dengan teriakan.
"Ini sudah keputusanku sayang, dan keputusanku tidak akan bisa di ubah, karena ini juga yang terbaik untuk Elga." Ucap Mario dengan santai, bahkan dirinya sedikit memberi penekanan dalam ucapanya.
"Kamu keterlaluan By, kali ini aku tidak akan sependapat dengan mu. Kamu sudah membuat putriku menderita, terbaik untuk mu bukan berarti terbaik untuk Elga, aku kecewa Mario, aku kecewa!!" Ungkapan seorang ibu dan istri yang begitu kecewa dengan suaminya, Hawa sampai berderai air matanya untuk menunjukan rasa protesnya.
Baginya tidak ada yang namanya perjodohan dan sebagainnya, Hawa dan Mario sudah sepakat untuk membebaskan anak-anaknya memilih pasangan hidup masing-masing meskipun tidak ada yang lepas dari pantauan Mario.
Elga yang melihat Mommy-nya menangis sesenggukan membuat nya merasa perih, kedua orang tuanya tidak sependapat, dan itu membuat mereka bertengkar untuk pertama kali didepan anak-anaknya.
"Mom, jagan menangis." Elga mendekati ibunya dan memeluk wanita yang sudah melahirkannya dan memberikan curahan kasih sayang dan cinta, tidak hanya ibunya, ayah dan juga kakak-kakaknya sama saja, mereka begitu menyayangi dan mencintainya.
"Daddy mu, keterlaluan Elga. Jika dia masih bersikeras, mommy akan pulang ke Indonesia." Isak Hawa dalam pelukan putrinya.
"Sayang, jangan berlebihan!" Mario memijit pelipisnya dan menatap Istrinya sendi, ucapan Hawa bagaikan bom yang bisa membuatnya tidak bisa hidup.
"Kalau kamu masih merasakan keinginan mu, maka aku tidak akan segan-segan meninggalkan mu!" Ucap Hawa sekali lagi.
"Mom..!!"
"Sayang..!!"
Anak berserta suaminya bersuara tidak setuju dengan apa yang di katakan Hawa, mereka protes.
"Kenapa? kenapa kalian menatapku seperti itu!" Hawa kesal mendapat tatapan ketiga pria yang seperti tidak terima. "Kalian juga kenapa hanya diam saja, apa kalian juga tahu hal ini!" Hawa menelisik kedua wajah putranya yang hanya menghela napas panjang, tatapan keduanya terlihat sendu. "Kalian semua sama saja!" Pekik Hawa kesal.
"Mom, aku yakin Elga pasti setuju dengan apa yang Daddy katakan dan-"
"Kalau begitu kau juga akan Mommy jodohkan!"
__ADS_1
"Eh, kenapa aku juga ikut kena." Enzio mendengus kesal, pria itu membuang wajah.
Enrico hanya menahan senyum melihat Enzio yang yang kesal, sedangkan Mario memijit pelipisnya yang sedikit terasa sakit.
Elga sendiri menjadi bingung, kenapa semua malah jadi seperti ini. "Mom, sudah." Katanya sambil mengusap wajah basah Mommy nya.
Hatinya sendiri tidak sedang baik-baik saja, tapi melihat Ibunya yang sedih membuat Elga harus menenangkan nya.
"Awalnya aku hanya ingin memberikan sedikit tantangan untuk pria itu, tapi siapa sangka jika dia memiliki syarat." Mario menghela napas.
Bagi Mario ini memang tidak mudah tapi, janjinya juga tidak bisa dia ingkari begitu saja, pantang baginya untuk mengingkari janji.
"Siapa dia Dad?" Mekipun hatinya berkecamuk, Elga juga memiliki rasa penasaran.
Tak lama semua lampu yang tadinya terang benderang kini menjadi gelap, hanya ada cahaya remang-remang dari lampu hias yang begitu tamaran.
Elga menatap kesekiling, padam tidak ada penerangan yang bisa membuatnya melihat dengan jelas.
Di ujung tenda yang katanya seperti acara lamaran, berdiri sosok seseorang yang Elga sendiri tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu.
Elga berdiri dari duduknya, gadis itu menatap lamat-lamat siapa seseorang itu.
Mario sendiri memilih untuk merangkul bahu istrinya, meskipun sempat mendapat penolakan, tapi saat Mario membisikkan sesuatu membuat Hawa diam.
"Mendekat lah dan kamu akan tahu." jawab Mario.
Elga menelan ludah, jantungnya berdebar tidak karuan, rasa penasaran semakin besar membuat dirinya memutuskan untuk berjalan menghampiri seseorang itu.
"Jika dia bukan seleraku, maka aku akan membuat penolakan tegas, bila perlu aku juga akan mengancam Daddy dan ikut dengan Mommy." Gumamnya yang merasa ragu dengan seseorang yang masih berdiri di sana.
Selama ini Elga menjadi gadis penurut, meskipun sempat membuat daddy-nya kalang kabut karena nekat mendatangai Edgar. Tapi semua itu Elga lakukan agar perselisihan diantara mereka tidak ada lagi.
Elga berdiri di depan seorang pria yang sejak tadi berdiri, Elga memindai pria itu dalam cahaya yang tamaran, tidak seberapa jelas tapi Elga bisa melihat bentuk wajah pria itu yang terlihat tegas.
Dan setelah beberapa detik mengamati pria itu, tiba-tiba lampu menyala dengan terang membuat semua tampak begitu jelas.
Elga membulatkan kedua matanya, hampir saja terlepas jika itu mata buatan, gadis itu memekik sampai tubuhnya terhuyung kebelakang membuat Elga hampir saja terjengkang, jika pria itu tidak gerak cepat untuk meraih pinggang Elga.
"Uncle." Gumam Elga dengan wajah syok, dan detik itu juga tiba-tiba pandanganya berubah gelap.
Flashback
__ADS_1
Mario menatap pria yang baru saja masuk kedalam ruanganya, seorang pria dari Inggris yang memiliki janji dengan-nya. Perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang yang sama membuat Edgar dengan penuh keberanian mendatangi perusahaan Mario. Pria yang sudah membuat perusahaan miliknya hampir gulung tikar.
"Mau apa kau?" Tanya Mario saat keduanya duduk saling berhadapan.
Edgar duduk dengan santai, memupuk keberanian dalam dirinya. Sungguh jika dia mau, Edgar bisa saja balas dendam pada pria didepanya itu. Tapi demi cintanya yang begitu besar pada putri pria itu membuat Edgar memilih untuk mencari jalan lain.
"Saya ingin mengajukan proposal kerja sama dengan anda tuan." Ucap Edgar sopan, tidak ada tatapan dendam ataupun amarah di wajah pria itu.
Mario menatap wajah Edgar dengan tatapan datar. "Alasannya?" tanya Mario lagi yang masih betah pada posisi semula. "Untuk apa saya menerima kerja sama dengan perusahaan yang hampir bangkrut." Ucapnya lagi dengan nada biasa tapi ketara dengan nada meremehkan.
Edgar hanya bisa menahan rasa sesak yang menyeruak dalam hatinya, padahal pria didepanya yang membuat dirinya hancur tapi Edgar tidak bisa meluapkan rasa marahnya.
"Ya saya tahu. Tapi saya punya penawaran terbaik jika anda menerima kerja sama ini."
Edgar berbicara dengan lancar didepan Mario, menjelaskan poin penting dan inti dari presentasi yang dia sampaikan. Tidak ada rasa canggung ataupun gugup, layaknya seorang CEO yang memang harus tampil profesional.
Mario sendiri sempat takjub mendengar ide-ide apa saja yang Edgar sampaikan, dia mengakui jika pria didepanya gambaran dirinya saat masih muda, di mana mampu mendirikan perusahaan sendiri untuk menjamin hidupnya dan bisa menunjukan tangung jawab nya di depan calon mertuanya dulu.
Sekitar hampir satu jam Edgar berbicara didepan Mario, dan sedikit menjawab apa saja yang Mario tanya. Dan hasil dari semua itu membuat Edgar kembali mendapatkan angin segar.
"Saya beri kamu waktu 6 bulan, jika penawaran yang kamu janjikan bisa tercapai, maka kamu patut untuk saya pertimbangkan." Ucap Mario dengan tubuh bersandar di kursi.
Edgar yang tidak mengerti ucapan Mario di bagian akhir membuatnya bertanya.
"Maksud anda pertimbangkan apa Tuan?" tanya Edgar.
"Jika kamu berhasil dalam satu tahun, maka kamu bisa meminta apapun yang kamu mau." Mario berucap.
Mendengar ucapan Mario, seperti ada kehidupan yang lebih membuatnya bersemangat kembali. Edgar tidak menyia-nyiakan untuk membuat kesepakatan.
"Baiklah, jika itu sebuah hadiah dari anda tuan. Saya tidak akan minta banyak, tapi saya akan meminta satu harta yang paling berharga untuk anda, yaitu putri anda." Ucap Edgar dengan tegas tanpa ada rasa takut meksipun kedua mata Mario sudah melotot dengan tatapan tajam.
Tapi setelah itu Mario terseyum sinis, perusahaan Edgar sudah diambang kehancuran. Dan Mario tidak yakin jika Edgar mampu mengembalikan semua dalam waktu 6 bulan.
Dan siapa sangka jika waktu yang Mario berikan mempu membuat Edgar berdiri kembali dengan membuat gempuran di dunia bisnis, pria itu kembali mencuat dipermukaan dengan perusahaan yang kembali berjaya, tidak bisa dipungkiri jika Mario juga merasa takjub dengan apa yang dilakukan Edgar. Tapi semua itu sudah cukup untuk Mario membuktikan siapa Edgar yang sebenarnya, dan untuk menepati janjinya Mario membolehkan Edgar untuk datang setelah Elga selesai dengan sekolahnya. Itulah janji Mario yang diberikan kepada Edgar.
Flashback off
.
.
__ADS_1
SAAT PUASA, KESIBUKAN DUNIA RL, TIDAK BISA DIKENDALIKAN SAYANG 😩