
Selama dua minggu di Jakarta membuat Elga merasa tidak betah, entah kenapa rasanya lama sekali. Meskipun Mahira sering mengajaknya jalan-jalan tapi pikiranya hanya ingin pulang ke Zurich.
"Elga, lihat itu." Mahira menunjuk sebuah meja yang tidak jauh darinya.
Elga mengikuti arah telunjuk Mahira. "Kenapa?" Tanya Elga yang menatap Mahira.
"Aku ingin punya kekasih seperti itu, kamu lihat." Mahira begitu antusias. "Tatapan yang tajam, tubuhnya yang tinggi dan pasti berotot, apalagi uhh anunya pasti besar." Ucap Mahira sambil membayangkan bagaimana besarnya milik pria dewasa itu.
"Hey..." Elga melempar buntalan tisu pada Mahira. "Kau sehat, dia itu Om-Om yang pantas jadi papamu, dasar gadis gila." Umpat Elga kesal dengan ulah saudarinya itu.
"Ish kau ini." Mahira melepar tisu yang dilempar padanya. "Tapi aku bosan dengan pemuda seumuran, mereka lembek dan hanya bisa bermanja-manjaan, bahkan aku ingin menjadi sugar Baby saja."
"Mahira..!" Geram Elga sambil geleng kepala.
Sedangkan Mahira hanya tertawa, sambil kembali memperhatikan pria yang dia taksir.
"Sayang apa kau tidak ingin tinggal di sini bersama Oma." Tanya Oma Ayana pada cucunya Elga.
"Oma, Elga suka disini. Tapi entah kenapa Elga selalu tidak merasa betah." Elga menghembuskan napas kasar.
Gadis itu mengemas barang pribadinya yang penting untuk di bawa kembali.
__ADS_1
"Apa kami tidak membuatmu betah." Tanya Oma Ayana lagi dengan tatapan sendu.
Elga yang sedang memasukkan keperluannya berhenti sejenak, menatap Oma Ayana yang terlihat sedih.
"Oma, tidak begitu." Elga meraih kedua tangan Oma Ayana. "Mungkin karena Elga terlahir di sana, jadi Elga terasa tidak betah disini, Elga senang dan bahagia di sini. Hanya saja-" Elga menatap Oma Ayana dengan tatapan sendu.
Oma Ayana mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Cucunya. "Oma mengerti, hanya saja Oma masih rindu sama kamu."Katanya dengan senyum.
Elga ikut tersenyum dan mengambil tangan Oma Ayana untuk dirinya cium.
"Elga juga Oma, nanti Elga akan datang kesini lagi."
Kini Elga sudah ada di bandara. Semua ikut mengantarkan keberangkatan Elga ke bandara.
"Iya Mah." Elga tersenyum dan membalas mencium pipi Disya.
"Apa kamu tidak ingin tinggal di sini, sepertinya disini lebih aman jika ingin bertemu-"
"Papa..!" Elga memukul lengan Adam yang berniat menggodanya.
Adam tertawa dan menangkup tubuh keponakanya untuk di peluk. "Tapi papa tahu dia pria baik." Bisik Adam di telinga Elga.
__ADS_1
Elga hanya tersenyum di pelukan Adam.
"Papa nanti akan lebih pusing ngurusin anak gadis papa." Elga melirik Mahira yang sedang fokus dengan ponselnya.
Adam ikut melirik. "Kenapa?" tanya Adam.
Elga tersenyum tipis. "Anak gadis papa, pengen jadi sugar Baby." Bisik Elga pada Adam.
Adam membulatkan kedua matanya. "Sembarangan kalau ngomong." Adam mendelik pada Elga.
Elga hanya tertawa. "Kalian kenapa?" Mahira yang merasa terusik bersaksi.
"Tidak apa, aku pulang dulu ya. Ingat jangan nakal sama Om-Om." Ledek Elga ketika memeluk Mahira.
"Hiss, Om-Om itu enak tau. Gede dan panjang." Ucap Mahira tanpa malu di telinga Elga.
Elga membulatkan kedua matanya. "Otak mu sudah kotor Mahira." Kesalnya yang malah membuat Mahira tertawa.
Setelah berpamitan Elga meninggalkan keluarganya untuk masuk kedalam. Dirinya tampak menoleh kebelakang dan melambaikan tangan pada keluarganya.
Didalam pesawat Elga tampak duduk tidak tenang, sejak tadi dirinya mengedar dan seperti mecari seseorang.
__ADS_1
"Apa dia tidak datang." Katanya sambil menghela napas.
Elga pun memilih untuk tidak perduli, dirinya sudah bertekad untuk menjaga jarak pada Edgar. Tapi hati kecilnya entah kenapa mengharapkan pria itu datang seperti pesan yang dia kirim.