
Hampir sore hari Elga sampai di mansion Maurer, gadis itu sedikit takut jika ada anggota keluarganya yang mengetahui kepergiannya secara diam-diam. Meksipun baginya mustahil jika diantara tiga pria itu tidak akan ada yang tahu, tapi setidaknya Elga tidak ketahuan sebelum bertemu Edgar. Dan untuk saat ini dirinya cuma harus menyiapkan mental untuk menghadapi Daddy dan juga kakak-kakak nya.
"Sudah pulang."
Suara bariton yang sangat familiar dan tegas membuat langkah kaki Elga berhenti, gadis itu menoleh ke samping dan melihat Daddy-nya duduk sambil bertopang kaki.
Elga menelan ludah dengan susah payah, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Baru kali ini Elga begitu takut untuk menghadapi ayahnya sendiri, dan semua karena Edgar. Pria yang tiba-tiba datang dalam hidupnya.
"Daddy." Lirih Elga dengan wajah sendu.
Mario menghela napas, dan merubah posisi duduknya menjadi tegak. "Duduklah, Daddy ingin mendengar kamu bicara." Katanya dengan nada biasa saja, tapi begitu cukup membuat Elga merasa takut.
Dengan pasrah Elga duduk di sofa depan Mario, keadaan rumah masih cukup sepi, mungkin kedua kakaknya belum pulang, lalu kemana Ibunya yang selalu membelanya di depan sang ayah.
__ADS_1
"Untuk apa kau menemui laki-laki itu?" Tanya Mario sambil menatap Elga intens.
Jantung Elga berdebar kencang, meskipun sudah sebisa mungkin menyiapkan jawaban apa, tapi ketika ditanya langsung seperti tetap saja dirinya merasa takut.
"Hanya untuk meminta maaf." Cicit Elga dengan pelan.
Mario menaikan satu alisnya mendengar jawaban Elga. Minta maaf? minta maaf apa?
Karena Mario masih diam, Elga kembali bicara. "Aku tahu Daddy yang melakukannya, Daddy melakukan hal yang membuat perusahaan dia terpuruk." Elga menatap Mario dengan kedua mata yang kian memanas. "Sudah Dad, jangan Daddy lakukan itu lagi, Elga sudah meminta maaf. Karena Elga tidak tega melihat dia terpuruk, apalagi dengan kesalahan yang tidak seberapa dia lakukan." Air mata Elga pun turun, dirinya tidak bisa membendungnya lagi.
"Aku mohon Dad, cukup jangan membuatnya semakin hancur." Katanya lagi dengan derai air mata.
Elga menangis dengan dada yang begitu sesak, apalagi saat bertemu Edgar, penampilan pria itu sangat jauh berbeda saat mereka terakhir ketemu. Melihat Edgar seperti itu hatinya ikut merasakan ngilu.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak tahu maksud Daddy melakukan itu?" Mario yang melihat Elga mengais merasakan dadanya seperti di peras, untuk pertama kali Mario melihat putri yang di cintanya menangis untuk seorang pria yang sama sekali tidak pantas untuk nya.
Elga menatap wajah Mario dengan sorot mengiba, memohon agar daddy-nya menyudahi apa yang dia lakukan terhadap Edgar.
"Jika saja dia bukan pria beristri dan melakukan hal yang bisa membahayakan dirimu, mungkin Daddy tidak akan melakukan hal seperti ini. Tapi lihatlah pria itu tidak mendengarkan apa yang Daddy katakan. Sebagai seorang ayah, Daddy akan melindungi anak-anaknya dari orang-orang yang bisa menyakiti kalian tanpa kalian sadari, dan apa kamu tidak pernah berpikir jika wanita yang dia nikahi tidak terima jika suaminya mengejar gadis lain, dan sebelum itu terjadi, maka Daddy tidak akan tinggal diam." Tukas Mario dengan nada tegas.
Elga hanya bisa semakin terisak mendengar penuturan Mario, dirinya melupakan apa yang seharusnya dia ingat dan hindari, karena rasa hatinya yang bergejolak Elga tidak mengetahui apa yang di takutkan orang tuanya.
"Daddy pikir kamu adalah gadis yang cerdas, tidak akan menjadi pelakor untuk rumah tangga orang. Karena sumpah demi apapun, Daddy tidak akan terima jika kamu mendapatkan cap seperti itu." Mario yang sejak tadi menahan amarahnya memilih pergi setelah bicara, dirinya frustasi melihat putrinya yang ternyata juga menyimpan perasaan untuk pria yang sudah beristri itu.
Sungguh Mario berada di titik rendahnya, ketika melihat putrinya bersedih hanya karena seorang pria beristri.
.
__ADS_1
TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😘😘😘