My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Bukti cinta Edgar


__ADS_3

Bugh...


Bugh...


Bugh...


"Berani kau menyentuh putriku!!"


Bugh


Mario kembali mendaratkan pukulannya di wajah Edgar yang sudah babak belur.


"Daddy...!"


"Elga...!"


Elga keluar dari dalam ruangannya setelah meronta pada ibunya, sedangkan Hawa mengejar Elga agar tidak melihat bagaimana Mario menghajar Edgar.


"Dad.. hentikan!" Elga langsung memeluk Mario ketika Mario ingin kembali menghajar Edgar.


Napas Mario memburu dengan kilatan amarah yang begitu kentara.


Sedangkan Edgar tersungkur dilantai rumah sakit tidak ada yang menolongnya.


Hawa yang melihat Edgar tersungkur ingin menolong, tapi kata-kata Mario membuat Hawa tidak bergerak.


"Jangan kau sentuh dia, jika kau menyentuhnya maka jangan salahkan aku."


"By..." Hawa menggelengkan kepala, apalagi melihat Elga yang memeluk Mario erat dengan tubuh bergetar.


Edgar merasakan perih disekitar wajahnya, pria itu hanya diam tanpa ingin membalas ataupun melawan pukulan Mario. Karena memang dirinya yang salah.


"Dengar bajin**gan! jangan kau berani muncul didepan putriku. Jika itu terjadi, maka bersiaplah akan menerima kehancuran mu." Mario berkata dengan penuh penekanan dan ancaman.


Kemarahan sang ayah yang membuat Elga tidak berani menatap wajah Mario, apalagi menatap Edgar yang pasti sudah babak belur.


"Dan saya tidak akan perduli!" Jawab Edgar menatap Mario dengan menantang.

__ADS_1


"Bede**bah!!" Mario kembali ingin menghajar Edgar, tapi tidak Elga dan Hawa dengan cepat menahanya.


"Daddy..!!" Keduanya sama-sama memeluk Mario.


"Hentikan By.." Hawa menangis melihat bagaimana Mario murka untuk pertama kali.


Sejak puluhan tahun hidup dengan Mario, Hawa tidak pernah melihat Mario semarah ini, apalagi Mario begitu menakutkan jika sedang lepas kendali.


"Sudah hentikan."


Hawa membawa Mario masuk kembali keruangan Elga, sesaat Elga terdiam dengan tubuh yang masih membelakangi Edgar.


Edgar menatap punggung Elga, yang masih membelakanginya, Edgar berharap Elga akan mengulurkan tangannya.


Elga berbalik dan menatap Edgar yang masih terduduk di lantai. Tatapan keduanya bertemu dan saat itu juga bibir Elga berkata.


"Aku hanya tidak ingin melihat kemarahan Daddy lagi, jadi aku harap Uncle mendengar apa yang Daddy katakan." Elga berkata sambil menahan dadanya yang terasa sesak.


Matanya membendung aliran kristal yang sudah menggenang. Sekuat tenaga Elga menahanya agar tidak terjatuh.


Elga langsung berjalan meninggalkan Edgar yang ingin mengatakan sesuatu, gadis itu masuk kedalam ruang rawatnya di mana didalam ada kedua orang tuanya.


Flashback


"Daddy aku meninggalkan Elga sendiri dirumah sakit, karena ada keperluan penting." Enzio menghubungi Mario ketika dirinya keluar dari ruangan Elga.


"Baiklah, Daddy akan kesana."


Mario yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan putrinya, segera menyuruh Hawa untuk cepat. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang.


Sampainya di rumah sakit, Mario melihat bagaimana Edgar memperlakukan putrinya, keduanya berciuman dengan begitu intens, membuat Mario begitu meradang melihatnya.


Dan saat itu juga Mario menarik Edgar paksa keluar dan menghajarnya habis-habisan tanpa perlawanan.


Flashback off


"Daddy tidak tahu apa yang akan kalian lakukan jika Daddy tidak datang."

__ADS_1


Mario memijit keningnya yang terasa pusing. Elga hanya bisa tertunduk takut, dirinya juga bersalah.


"By, Elga tidak akan melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan." Hawa tidak terima dengan apa yang Mario katakan.


"Elga tidak melakukan, tapi apa kau bisa menjamin jika pria bajin**gan itu tidak akan melakukannya." Mario menatap Hawa tidak mengerti.


"Aku kenal putriku, dan aku bisa melihat jika Edgar benar-benar mencintai putri kita." Hawa masih bicara dengan apa yang dia lihat.


"Terus saja kau bela pria sialan itu, tidak masalah jika dia belum menikah. Apa kau sadar Awa, jika dia pria sudah beristri, dan putrimu akan disebut pelakor jika berdekatan dengannya!" Mario menatap Hawa tajam dengan napas memburu, dirinya tidak suka istrinya membela Edgar yang jelas-jelas buruk dimatanya, karena Edgar memang pria beristri.


"Tapi-"


"Sudah Mom, Dad hentikan..!" Elga mengintrupsi.


Mario membuang napas kasar dengan memalingkan wajahnya.


"Kalian membuatku pusing." Mario memilih pergi untuk menenangkan hatinya yang sedang meluap-luap. Amarahnya belum reda kepada Edgar, dan istrinya kembali memancing. Karena tidak ingin terjadi hal yang akan membuat mereka bertengkar Mario memilih untuk meninggalkan keduanya.


"Mom." Elga memeluk Hawa dengan tangis terisak, gadis itu akhirnya memiliki alasan untuk mengeluarkan air matanya. "Mom jangan bertengkar, Elga tidak mau melihat Daddy dan Mommy bertengkar." Kata Elga sambil menangis.


"Kami tidak bertengkar nak, hanya saja Daddy mu tidak melihat ketulusan Edgar." Hawa mengusap punggung Elga.


"Mom jangan ungkit dia lagi, Daddy benar jika dia pria sudah beristri dan aku tidak mau disebut pelakor." Kembali Elga menangis tersedu-sedu.


Hatinya merasa sakit, sakit yang Elga tidak tahu karena apa. Rasanya begitu sakit melihat Edgar dipukuli Daddy-nya dan kata-kata Mario yang benar adanya membuatnya merasa tidak tahu diri.


Edgar menatap langit sore malam yang gelap gulita, tidak ada pancaran cahaya dari bintang ataupun bulan, sama seperti hatinya yang sedang kalut. Edgar merasa sesak.


"Aku tidak akan menyerah Elga, mekipun harus melawan Daddy mu." Tekad Edgar untuk mendapatkan Elga.


Jika saja rasa yang di miliki tidak sebesar ini, mungkin Edgar tidak akan sudi mengejar Elga. Tapi yang Edgar rasakan cintanya yang tidak mau pergi dan selama ini hanya Elga yang Edgar inginkan.


Banyak wanita cantik yang memiliki tubuh indah lebih dari Elga yang mengantri untuknya, tapi Edgar hanya menginginkan Elga seorang, mekipun ada Chelsea yang tergolong wanita cantik dan sempurna.


"Cinta memang buta, tidak pandang usia. Tapi itulah yang aku rasakan Elga, dan kamu adalah gadis yang membuatku buta." Edgar tersenyum, dan saat itu juga dirinya merintih merasakan bibirnya yang sakit.


"Shh, ini adalah bukti jika aku tidak main-main." Katanya sambil menyentuh bibirnya yang robek akibat pukulan Mario.

__ADS_1


__ADS_2