My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Berita televisi


__ADS_3

Kesibukan Edgar mengurus perusahaan miliknya yang terancam bangkrut membuatnya melupakan segalanya. Edgar tidak ingin perusahaan yang dia kelola selama ini hancur tak tersisa. Karena perusahaan keluarganya semakin besar karena Edgar yang menjadi pemimpin.


Edgar pulang ke mansion setelah hampir dua minggu dirinya tidak pernah beranjak dari kantor. Penampilannya yang kacau dan bahkan tubuhnya yang semakin kurus. Pria itu berjalan gontai menuju kamar pribadinya, tapi belum sempat menaiki tangga suara Alice membuatnya berhenti.


"Edgar, apa yang terjadi dengan perusahaan? kenapa bisa saham semua turun, apa kamu tidak bekerja dengan benar!" Tanya Alice dengan suara yang sedikit tinggi.


Edgar menatap Alice datar. "Pasti itu semua karena kamu suka pergi sesuka hatimu, apalagi untuk menemui bocah remaja itu!" Alice bicara dengan nada menggebu-gebu. "Pasti gadis itu yang sudah membuat-"


Prang..!!!


"Akkhhh..!!" Alice menutup telinganya sambil berteriak, wanita itu terkejut dengan apa yang Edgar katakan.


"Pergilah jika kau sudah tidak mau tinggal di sini, jangan kotori mulut anda dengan ucapan yang bisa membuat anda tidak akan bisa bicara lagi." Ucap Edgar dengan tatapan tajam.


Alice menatap Edgar terkejut, kenapa bisa Edgar bicara seperti itu padanya.


"E-edgar apa yang-"

__ADS_1


"Mom, ada apa ini?" Tanya Chelsea yang tiba-tiba muncul.


Chelsea melihat pecahan guci berserakan di lantai, dan menatap Edgar yang begitu marah menatap Mommy Alice.


"Ed, ada apa?" Tanya Chelsea dengan memberanikan diri. Chelsea juga takut melihat kemarahan di wajah Edgar.


Alice menutup mulutnya sambil menatap Edgar.


"Edgar, Mommy-"


"Mommy ku sudah matii..!!!" Teriak Edgar dengan suara menggelegar.


"Kau." Edgar menunjukan wajah Alice dengan jari telunjuknya. "Jangan pernah ikut campur dengan urusanku, karena kau bukanlah seorang ibu yang harus aku hormati." Ucap Edgar dengan nada rendah namun terdengar mencekam. "Perlu anda ketahui nyonya Alice." Edgar menatap Alice dan Chelsea bergantian. "Kalian sangat cocok, karena memang darah kalian mengalir sama." Edgar tersenyum sinis. "Parasit." Gumamnya tapi masih sangat di dengar oleh keduanya.


Edgar langsung pergi untuk menuju kamarnya, kepalanya begitu sakit memikirkan nasib perusahaan miliknya. Di tambah mendengar ucapan ibu sambungnya yang semakin membuat kepalanya ingin meledak.


.

__ADS_1


.


Mario tersenyum melihat layar komputer yang menyala, pria itu mengusap dagunya yang ditumbuhi rambut halus.


"Untuk sekarang cukup, tapi jika kau masih berani. Maka-"


Mario hanya bisa tersenyum simpul, pria itu cukup puas dengan apa yang dia lakukan, memberi sedikit pelajaran untuk pria yang sudah berani mengabaikan ucapanya, dan inilah akibatnya yang akan di terima.


"Putriku sangat berharga, dan aku tidak akan membiarkannya terluka ataupun mendapat masalah sedikitpun." Gumamnya sambil melihat pergerakan saham Edgar yang menurun secara perlahan, tidak seperti di awal yang langung anjlok.


Mario yang marah karena Edgar tidak mengatakan ucapanya, apalagi pria itu tidak mengindahkan ancaman yang dia lontarkan, alhasil Mario memberikan sedikit pelajaran untuk Edgar. Bagi Mario sedikit, tapi bagi Edgar nyawanya sudah separuh di pertaruhkan.


Di dalam kamar Elga melihat siaran di televisi, gadis yang tidak pernah melihat acara berita kini duduk bersila dengan tatapan lurus kedepan.


Di depan sana Elga melihat sebuah perusahaan di Inggris terancam bangkrut. Elga menelan salivanya kasar saat pemilik perusahaan itu di sebutkan.


Bagaimana bisa perusahaan besar tiba-tiba bisa akan bangkrut, apalagi di sana dijelaskan jika ada pesaing dari pembisnis yang mengirimkan virus dalam sistem. Dan semua itu hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu.

__ADS_1


"Daddy..." Gumam Elga dengan jantung yang berdebar kencang.


__ADS_2