
Elga mengigit bibir bawahnya saat melihat rahang Edgar mengeras, Elga bisa merasakan apa yang Edgar rasakan.
Amarah, tentu saja. Edgar tidak akan terima apa yang sudah keluarganya lakukan, Elga tidak bisa melihat Edgar semakin terpuruk dengan apa yang menimpa perusahaan Edgar.
"Maaf Uncle." Ucap Elga dengan lirih.
Kedua tangannya saling meremat satu sama lain dengan rasa campur aduk.
Edgar mengusap wajahnya kasar sambil menghembuskan napas keras.
Tidak di sangka apa yang terjadi padanya adalah sesuatu yang di sengaja oleh seseorang, dan orang itu adalah ayah dari gadis yang dia inginkan.
Entah kenapa Mario sampai tega berbuat sejauh itu, Edgar merasa ini tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan.
"Sudah makan?" tanya Edgar mengalihkan pembicaraan yang begitu menguras pikiranya, sebisa mungkin Edgar bersikap biasa saja.
Elga menatap wajah Edgar, dan tatapan keduanya saling bertemu.
Elga kembali menunduk dengan kepala menggeleng. "Aku hanya ingin menyampaikan itu, dan atas nama Daddy aku minta maaf." Katanya lagi dengan nada lirih.
"Untuk selanjutnya, aku tidak tahu apa yang akan Daddy lakukan, jadi lebih baik-" Elga mengigit bibirnya dan kembali menatap wajah Edgar yang sejak tadi menatapnya.
"Uncle jangan lagi menemui ku, semua demi kebaikan uncle." Katanya dengan wajah sendu.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Elga berniat untuk pamit. Gadis itu merasa sudah tidak ada lagi yang ingin dia sampaikan.
"Elga.." Panggil Edgar saat Elga hendak keluar dari ruangan yang sejak tadi hanya ada mereka berdua.
"Hati-hati."
Elga hanya tersenyum tipis, meskipun ada rasa sesak dan nyeri di hatinya, saat melihat pria yang dulu begitu antusias saat mendekatinya, tapi sekarang seperti ada jurang yang membuat pria itu menjauh darinya.
"Baik." Balas Elga dengan senyum paksa.
Edgar menebuskan napas kasar, saat Elga menghilang dibalik pintu. Kepalanya berdenyut sakit begitu juga perasaanya.
Kenapa harus Elga, kenapa harus orang tua gadis itu yang membuat dirinya hancur perlahan.
Elga menatap sendu pintu yang tertutup itu, hatinya terasa ngilu melihat pintu itu tidak terbuka. Bibirnya tersenyum getir, mana ada pria yang baik-baik saja setelah kenyataan yang dia dapatkan sudah menghancurkan hidup pria itu.
Elga mengusap sudut matanya yang basah, dan berlalu pergi dari perusahaan Edgar. Dirinya berjanji tidak akan membuat daddy-nya bertindak lebih yang akan membuat Edgar semakin terpuruk.
Elga menaiki taksi yang akan membawanya ke bandara, dirinya mengabaikan rasa laparnya yang melanda perutnya.
Rasanya suguh membuat Elga begitu sesak untuk bernapas, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Edgar.
Citttt
__ADS_1
Mobil yang di tumpangi Elga tiba-tiba berhenti mendadak, membuat Elga memekik terkejut.
"Sorry." Ucap sopir taksi tersebut. "Ada mobil yang memotong jalan dan berhenti mendadak nona." Tambahnya lagi.
Elga mengigit bibirnya saat melihat seseorang turun dari mobil di depan sana, kedua matanya kembali merasa panas melihat orang itu.
"Buka..!"
Seru orang itu dari luar. Elga membuka pintu taksi yang dia tumpangi, dan keluar begitu saja dengan jantung berdebar kencang.
"Uncle- Emph."
Elga membelalakkan matanya saat tiba-tiba Edgar mencium bibirnya, seluruh sarafnya tiba-tiba berhenti bekerja begitu saja.
Edgar meraup bibir Elga, melumatt dengan lembut dan penuh rasa menggebu-gebu.
Dada keduanya saling bergemuruh hebat, rasa marah, kecewa dan cinta menjadi satu. Hanya Edgar yang merasa dilema, dirinya tidak bisa mengabaikan rasa cintanya yang memang tumbuh begitu besar pada Elga. Rasa kecewa dan amarahnya masih terasa, tapi rasa cintanya mengalahkan logikanya hingga hatinya yang megambil alih.
.
.
TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😘😘😘
__ADS_1