
Andres menatap gadis remaja di depannya, jika dilihat dari pakaian bawahnya. Gadis itu masih menggunakan rok sekolah. Siapa gadis didepanya ini? Kenapa mencari putranya.
"Sorry Sir. Gadis ini sedang mencari Sir Edgar." Ucap resepsionis wanita sambil menunduk.
"Maaf." Elga sedikit menunduk. "Saya hanya ingin bertemu Sir Edgar, hanya sebentar." Tutur Elga dengan sopan dan berani.
Andres masih menatap Elga pemindai, apakah gadis ini datang hanya untuk meminta pertanggung jawaban dari Edgar? sejak kapan putranya itu berhubungan dengan gadis belia seperti ini.
Andres hanya mengangguk, karena penasaran dengan Elga. Andres menyuruh Elga untuk mengikutinya.
"Biarkan saja." Ucap Andres pada resepsionis. "Ikutlah denganku." Andres berlalu dan Elga mengikutinya dari belakang.
Bukan hanya itu, Elga mengingat-ingat siapa pria paruh baya ini, kenapa auranya seperti Edgar.
Elga berpikir keras, sampai mereka masuk kedalam lift.
Elga memilih berdiri dibelakang Andres, gadis itu menautkan kedua tangannya dengan jantung berdebar kencang. Apakah dirinya akan bertemu Edgar?
Didalam lift, Andres ataupun Elga tidak ada yang bersuara, keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing, hingga lift berhenti dan pintunya terbuka di lantai yang Andres tuju.
Elga hanya bisa mengikuti Andres dari belakang, tanpa bicara apapun. Dirinya hanya berpikir menyiapkan mental dan keberanian untuk bicara dengan Edgar nanti.
"Siang Sir." Sekretaris Edgar berdiri dan menyapa pemilik perusahaan.
__ADS_1
"Silahkan.." Sang sekertaris membuka pintu ruangan Edgar.
Elga menarik napas dalam gadis itu tersenyum tipis pada sekertaris wanita yang membukakan pintu.
"Daddy.." Edgar langsung berdiri saat melihat Daddy-nya datang tiba-tiba. Bahkan dengan penampilannya yang berantakan karena Edgar memang tidak pernah pulang kerumah orang tuanya, ataupun rumahnya sendiri.
Edgar belum melihat jika dibelakang Andres berdiri seorang gadis, karena Elga sengaja untuk bersembunyi di belakang Andres.
"Lihatlah penampilanmu, sudah seperti gelandangan." Ucap Andres datar tanpa ekspresi.
"Masalah apa lagi yang kau perbuat, sehingga seorang gadis datang ke kantor mencari mu. Memalukan!"
Edgar tampak bergeming, memikirkan ucapan Andres.
Kurang istirahat dan selalu bergadang membuat Edgar terlihat seperti tidak terawat, pria itu terlihat kusut dengan wajah yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Edgar lupa untuk mengurus dirinya, sedangkan dirinya punya Istri tidak pernah menganggap Chelsea adalah istrinya.
Elga mengigit bibir bawahnya mendengar ucapan Andres, rasa hatinya juga tersentil. Dan saat Andres berjalan menuju sofa disitulah Edgar melihat seorang gadis sedang berdiri, sambil menunduk.
Edgar membulatkan matanya dengan bibir yang kelu.
"E-elga.." Sapanya dengan nada terbata.
Elga pun mendongak, dan terseyum tipis saat tatapan keduanya bertemu.
__ADS_1
"Kenapa kamu kesini?" Pertanyaan Edgar membuat Elga bingung.
Dirinya datang dengan cara nekat apalagi sudah membawa Emeli untuk membantunya, jika keluarganya tahu, pasti Emeli yang akan habis.
"A-aku."
Di Kota lain, Emeli menuduk dengan wajah pucat. Gadis itu begitu takut melihat tatapan tajam Enrico yang seakan ingin menelannya.
"Katakan, kenapa dia mendatangi pria itu!" Tanya Enrico dengan suara tegas dan tatapan intimidasi.
Bagaimana Emeli tidak ketakutan, meskipun Enrico tampan dan mempesona, tapi Emeli tetap saja merasa takut.
"Dia hanya ingin meminta maaf, karena-"
Elga meninggalkan ponselnya pada Emeli, dan meninggalkan rekaman suaranya kalau-kalau keluarganya mencarinya, jadi Emeli tinggal mengirimkan rekaman suaranya. Dan juga Elga pergi dengan membeli tiket dengan nama Emeli, jadi untuk itu Elga merasa aman.
Tapi siapa sangka jika kakak nya itu mengetahui apa yang dia lakukan, dan kini Emeli menjadi mangsa Enrico.
.
.
TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😘😘
__ADS_1