My Husband Om-Om SEASON 2

My Husband Om-Om SEASON 2
Bubu


__ADS_3

Setiap pagi selalu memiliki waktu bersama untuk sarapan pagi. Tidak ada yang tidak ikut sarapan pagi kecuali saat sedang ada diluar kota.


Mario menatap satu persatu anak-anaknya. Dan terakhir Elga yang tengah asik menikmati sarapan paginya.


"Elga, biar Daddy yang antar kamu sekolah."


Ucapan Mario membuat Elga yang sedang mengunyah makanan, berhenti sejenak.


"Hm, apa Daddy tidak sibuk?" Katanya bertanya.


"No, sudah lama Daddy tidak mengantar mu." Jawab Mario sambil tersenyum.


Elga menggaguk dan terseyum. "Oke."


Hawa tersenyum menatap suami dan putrinya. Dirinya tahu apa yang membuat suaminya khawatir.


"Em, Zio siang nanti Mama akan datang ke kantor papa, kita makan siang bersama." Ucap Hawa setelah melihat kedua putranya meyelesaikan sarapannya.


"Oh Mommy.. I'm really waiting for you." Enzio berjalan mendekati Hawa dan mengecup pipi Ibunya.


Mario memutar bola matanya malas. Sedangkan Enrico hanya tersenyum melihat reaksi Daddy-nya.


"Uhh, kak Zio kau membuat Daddy ku kesal." Elga melirik Daddy-nya yang kesal.


Mario menatap putrinya sambil mendelik. "Daddy kau tetap aku cintai." Rayu Elga sambil mengecup pipi Mario.


"You disgust me." Enrico terkekeh sambil berdiri untuk bersiap berangkat kerja.


"Is, dia itu kaku sekali." Dengus Elga yang malah membuat Mario terkekeh.


"Sayang pergi dulu." Mario merangkul pinggang Hawa, dan mencium kening serta bibirnya sekilas.


"Hati-hati By, jangan terlalu khawatir." Katanya sambil mengelus dada sang suami.


"Hm, tapi dia punya Istri sayang." Mario menatap Hawa dengan wajah frustasi.


"Belum tentu dia ada maksud dengan putri kita, jadi jangan terlalu dipikirkan." Hawa menyentuh wajah Mario sambil tersenyum. "Ok, Daddy Everything will be fine." Hawa mengecup sudut bibir Mario.


Didalam mobil Elga bercerita soal pesta tadi malam yang membuatnya bosan.

__ADS_1


"Lain kali, Daddy tidak usah mengajakku jika pestanya seperti itu." Katanya sambil bersungut. "Membosankan." Tambahnya lagi.


Mario menatap putrinya sekilas dan kembali memfokuskan lurus kedepan.


"Tapi kamu mendapatkan kenalan kan di sana." Ucapan Mario sontak membuat Elga mengerutkan kening.


"Maksud Daddy - Oh may good." Elga mengusap keningnya. "Daddy, sangat hebat." Elga tertawa sumbang.


Sedangkan Mario tersenyum. "Apapun tidak ada yang luput dari Daddy, mekipun kamu bersembunyi di lubang semut." Ucap Mario sambil terkekeh.


"Oh, Daddy. Come on, aku juga ingin memiliki privasi." Kata Elga dengan wajah masam.


"Hm, nanti jika kamu sudah menikah."


Elga menatap Mario tidak percaya. Menikah katanya?


.


.


Sampainya di sekolah Elga berjalan masuk kedalam kelas, karena sifatnya yang humbel dan wajahnya yang cantik teman-temannya tidak akan sungkan untuk menyapanya.


"Hay putri Maurer." Tiba-tiba seseorang merangkul Elga dari belakang.


"Of course I'm very good"


Keduanya memasukkan kelas bersama, "Kau tahu aku seperti gadis bodoh ketika kamu tidak masuk." Elga menaruh tas nya di atas meja.


Emeli tertawa. "Yes I know, Karena kamu tidak memiliki siapa pun selain aku." Ledek Emeli.


"Ish, kau ini." Elga sedikit meninju lengan Emeli.


"Elga, kau di panggil keruang kepala sekolah." Seseorang memanggil Elga di ambang pintu.


"I, are you not wrong?" Elga menujuk dirinya sendiri.


"No, kau di panggil." Orang itupun pergi.


"It's Oke, aku pergi dulu." Elga tersenyum kepada Emeli.

__ADS_1


"Have a nice day." Emeli tersenyum dan melambaikan tangan.


Tok...


Tok..


Tok...


Elga mengetuk pintu saat sampai di depan ruang kepala sekolah.


"Masuk.."


Seruan dari dalam membuat Elga mendorong pintu dari luar.


"Teacher, call me." Tanya Elga saat sudah masuk.


"Ya Elga, kemarilah." Kepala sekolah menyuruh Elga masuk.


Elga melihat seseorang yang sudah lebih dulu duduk, dirinya hanya bisa melihat dari belakang.


"Mr, Aldofo ingin bicara denganmu."


Elga mengerutkan keningnya, dan dirinya baru menatap seorang pria yang duduk di sampingnya.


"How are you, Elga?" Sapa Edgar Aldofo dengan senyum khasnya.


Elga menatap pria yang menyapanya itu.


"Baiklah, saya tinggal dulu." Kepala sekolah ijin meninggalkan ruanganya untuk memberi ruang keduanya berbicara.


"Em, apa saya mengenal anda?" Elga menatap Edgar dengan wajah memindai.


Edgar tersenyum dengan kedua tangan yang bertautan.


"No, kita belum kenalan." Edgar mengulurkan tangannya.


Elga menatap tangan Edgar, dirinya sudah tiga tiga kali dalam posisi seperti ini.


"Sorry, I'm in class." Elga ingin berdiri tapi ucapan Edgar membuat Elga membeku.

__ADS_1


"Bubu, the doll I gave you when you were a baby little lady." (Bubu, boneka yang aku beri saat kau masih bayi, little Lady)


Deg


__ADS_2