
Tidak mendapat uluran tangan, Edgar "Kenapa kamu menangis." Edgar merogoh saku celana dan memberikan sapu tangan untuk Elga.
Terlihat kedua mata sembab dengan hidung mungilnya yang memerah.
Elga hanya menatap sapu tangan yang disodorkan tanpa ingin mengambilnya.
Edgar yang melihat reaksi Elga yang hanya diam, kembali menyodorkan tangannya. "Ini bersih tidak ada apapun di sini, hm." Edgar kembali menyodorkan sapu tangannya, menyakinkan jika sapu tangan yang dia beri bersih.
Perlahan Elga mengambil sapu tangan itu, dan mengusap pipinya hingga hidung.
Sroot...
Srott...
Edgar hanya memejamkan matanya saat melihat Elga membuang ingusnya menggunakan sapu tangannya dengan begitu keras tanpa rasa malu.
"Nih.." Elga kembali memberikannya pada Edgar ke tangannya langsung.
"Terima kasih tuan." Elga berdiri dan menunduk sebentar memberi rasa hormat.
"Eh, mau kemana?" Tanpa ragu Edgar mencekal lengan Elga yang ingin pergi.
"Saya mau masuk sekolah." Katanya sambil mendelikkan mata bulatnya.
Edgar langsung melepaskan cekalan ditangan Elga. "Tunggu dulu, aku tanya kamu kenapa menangis di sini?" tanya Edgar pemuda yang sekitar usianya 20 tahun itu.
Elga menautkan kedua alisnya. "Kenapa?" Tanya balik Elga.
"Tidak, hanya saja-" Edgar berjalan menuju mobilnya dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini, apa ini milikmu." Edgar memberikan sesuatu pada Elga.
Elga yang melihat sesuatu di tangan Edgar matanya langsung membulat sempurna, bibirnya langung melengkungkan senyum dengan binar bahagia terlihat begitu jelas di matanya.
"Bubu.." Elga langsung merebut bonekanya dari tangan Edgar.
"Bubu.. You're back..I miss you.." Elga memeluk dan mencium bonekanya layaknya seorang bayi kecil. Bahkan kedua matanya kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Edgar yang melihatnya hanya bisa tersenyum sambil menatap bagaimana gadis kecil itu begitu bahagia.
.
.
.
After 8 Years...
"Elga..!!"
Kedua orang yang sedang duduk berhadapan di sebuah kafe menoleh bersama.
"Kakak..!" Elga langsung berdiri begitu juga seorang pemuda yang duduk depan Elga.
Enrico menatap tajam seorang pemuda yang juga memakai seragam yang sama dengan adiknya, hanya saja tidak dari sekolah yang sama.
"How dare you approach my sister." Enrico menarik lengan Elga untuk berdiri di belakangnya.
"Ayoo." Enrico menarik Elga keluar dari cafe yang tadi mereka duduki.
"Maaf, kami sedang berkencan. Kenapa kau membawanya pergi." Ucap pemuda yang bersama Elga.
Enrico menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan pemuda itu.
"She is mine." Tatapan tajam Enrico berikan pada pemuda itu.
Elga membulatkan matanya mendengar ucapan Enrico.
Sedangkan pemuda itu hanya menatap keduanya dengan alis berkerut.
"Heh, mana mungkin Elga mau dengan pria seperti kau." Pemuda itu melirik penampilan Enrico dari atas sampai bawah. Dimana Enrico memakai setelan jas lengkap dengan dasinya. "Apa kau sugar Daddy-nya."
Bugh
"Damn it, you bastard." Enrico memberikan bogem di wajah pemuda itu.
__ADS_1
"Stop En, Don't make trouble." Elga menarik lengan Enrico saat lagi-lagi ingin menghajar temannya itu.
"Don't go near him anymore. Tunjuk Enrico pada pemuda itu dengan tatapan mata tajamnya.
Enrico menarik Elga keluar dari kafe dengan perasaan marah.
"Damn it." Pemuda itu mengusap sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan dari Enrico. "Dasar gila." Umpatnya yang merasakan sakit di bagian sudut bibirnya.
"Masuk..!" Enrico mendorong tubuh Elga untuk masuk ke dalam mobil.
Brak
Enrico duduk dikursi balik kemudi dan langsung menjalankan mobilnya.
"En, you always interrupt my dates." Kata Elga dengan kesal menatap kakaknya yang sedang mengemudi.
Enrico tidak menggubrisnya, pria itu terus menatap kedepan.
"Peeve." Ucap Elga sambil menatap kejendela mobil.
Elga mengigit kukunya dengan perasaan kesal dan dongkol, bukan pertama kali Enrico maupun Enzio melakukan hal yang sama, statusnya yang tidak diketahui banyak orang membuat Elga merasa bebas tanpa harus takut-takut untuk memilih teman.
Sudah banyak hal yang Elga alami karena para pria kelurga Maurer begitu posesif padanya. Sampai-sampai umurnya yang sudah masuk 17 tahun Elga tidak pernah merasakan kencan apalagi ciuman. Baru dekat saja sudah ada Enrico dan Enzio yang membuat semuanya berantakan. Membuat Elga merasa terkekang Karena pergaulannya di batasi.
"You are ours, I won't let a jerk get near you."
("Kau milik kami, aku tidak akan membiarkan pria brengsek mendekatimu.")
Terang Enrico dengan tegas.
Elga hanya menatap kakaknya dengan hati berdenyut. "I'm not a child anymore, why do you guys treat me like a baby.
(Aku bukan anak kecil lagi, kenapa kalian memperlakukan ku seperti bayi.)
Elga membuang wajah, tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.
Umurnya yang sudah 17 tahun, ternyata tidaklah seindah apa yang dia bayangkan, dimana ketiga pria yang tinggal di masion membuatnya serasa hidup seperti anak-anak. Tidak boleh melakukan apa yang dia inginkan. Sejak menginjak remaja Elga diperlakukan seperti seorang layaknya putri yang tidak bisa melakukan hal bebas. Dimana semua kedua kakaknya yang begitu posesif tidak membiarkan nya dekat dengan siapa pun. Dan hal itu membuat Elga terasa hidup terkekang.
__ADS_1